Senin, 26 Agustus 2013

You Can Go Wherever You Want

Ting nong!
Ting nong!

Bel berbunyi. Fajar merekah. Membuka pintu kamar dengan mata yang masih segaris. Menyusuri tangga. Sedikit mempercepat langkah. Membuka pintu kamar yang lainnya. Menyalakan lampu. Membuka resleting kelambu. Menuntun ke kamar mandi. Bersiap untuk membantu mandi dan menyiapkan tempat shalat. Menuntun lagi, lalu memastikan mukenah dan sarung terpakaikan dengan rapi. Menutup semua aurat yang harus tertutup. Selesai. Kembali ke kamar sendiri, berwudhu, lalu shalat pula.

Matahari, pelan-pelan mulai memancarkan sinarnya. Hangat, menembus kisi-kisi jendela. Membersamai setiap langkah yang menderap ke tempat tujuan mereka masing-masing, pagi itu. Ia sudah di sana. Diantara rak-rak berisi pil-pil dan tablet dalam kemasan. Belum nampak siapapun. Sepertinya masih terlalu pagi untuk melayani. Tidak ada salahnya memulai hari dengan menyapu lantai dan membersihkan debu-debu di rak-rak. Mengepel? Bukan pilihan yang buruk. Dalam hidup ini, banyak hal yang harus segera diselesaikan, tentu untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Perjalanan itu cukup panjang. Transit di ibukota, untungnya tidak kembali berhenti di kota yang lain. Tiba di bandar udara. Dari tempat para pesawat datang dan pergi, menuju tempat kapal-kapal melempar sauh dan berangkat. Manusia dimana-mana. Inikah tempat yang di sebut sebagai Serambi Makkah itu? Wajah-wajah khas dengan hidung mancung dan alis tebal, kepala-kepala yang tertutup jilbab. Gadis itu berjingkat-jingkat untuk naik ke kapal boat itu. Menuju pulau tempat titik nol negara itu berada. Menyamankan tempat duduknya, memperbaiki lipatan jilbabnya.



Makassar?”, tanya lelaki berkumis tebal itu sambil tersenyum. Matanya melebar pula. Gadis yang baru pertamakali ditemuinya itu mengangguk sambil tersenyum. Suara ombak yang diterobos badan kapal mulai terdengar berisik. “Makassar! Saudara jauh! Saudara jauh!”, ujar lelaki berkumis tebal, kini ia tertawa. Seolah bertemu dengan kerabat yang lama tidak berjumpa.

Kapal menyandar. Menghamparkan pemandangan pelabuhan sebelah. Wajah-wajah lelah, adapula yang sumringah. Pulau ini. Akhirnya ia tiba.

Salak Sabang? Salak Sabangnya, Dik?”, seorang bapak menenteng kerangjang penuh salak. Membetulkan letak kacamatanya, gadis itu kembali tersenyum. Ia sudah sampai.



Pulau ini tak tampak terlalu ramai. Tidak juga mewah. Rumah-rumah dan pekarangannya nampak sederhana saja. Di beberapa titik memang terlihat beberapa penginapan-penginapan tempat para wisatawan melepas lelah untuk kembali berjalan-jalan. Biasanya terletak di tempat yang lebih tinggi. Menyajikan pemandangan laut biru, bersanding dengan langitnya. Bapak walikota yang masih nampak sangat muda dan energik, tidak henti-henti memaparkan tentang kebanggaan pemadangan pantai dan bawah laut pulau itu. Pasir putih, laut biru dengan gradasi yang sempurna. Langit dengan warna serupa, dengan awan yang nampak seperti kapas halus, tertata dengan mengagumkan.

Hingga saat berpisah akan selalu datang. Ia kembali menumpang pada sebuah kapal boat. Bapak penjual salak itu kini berimprovisasi. Sebelum kapal benar-benar bertolak dari pulau itu, ia mencoba peruntungan dengan naik ke kapal dan menjajakan dagangannya. Seolah seseorang memberi komando, tidak satupun penumpang yang membeli salaknya, tidak ada sebutirpun yang berhasil terjual. Kapal sebentar lagi berangkat. Ia berjalan menuju pintu keluar. Tersenyum pada petugas kapal yang membalas senyumnya dengan bonus lesung pipi. Ingat, tidak ada dagangannya yang terbeli, tapi lamat-lamat suaranya masih bisa terdengar oleh gadis berkacamata itu. “Alhamdulillah...”, lirih penjual salak itu sambil melompat meninggalkan kapal.



Tanah yang diberkahi. Mereka menyekatnya bukan dengan apa-apa, tapi dengan syariat yang ditegakkan. Plus, sejarah panjang yang membentang tentang kemuliaan, kemenangan, juga duka dan trauma yang dikenang pada dinding-dinding monumen. Cerita itu akan selalu mengikut, tidak ada seorang pun yang akan melupakannya. Cara menceritakannya saja yang kini mulai berubah. Tidak ada lagi tangis. Ketegaran, mungkin itulah yang muncul kemudian.




Salah satu sultan paling dihormati di tanah ini, menikah dengan seorang gadis yang seasal denganmu. Sultan itu, sesuai kata dan tindakan. Bahkan menghukum sendiri anaknya yang bersalah dengan syariat Islam.”, ujar lelaki berpeci itu. Ia perantau. Lelaki di sampingnya, yang tetap berkonsentrasi pada kemudi juga seorang perantau, mengangguk-angguk membenarkan kawannya.

Di sini tidak ada uang panaik seperti di tempat kita. Mereka lebih mementingkan mahar, biasanya berupa emas. Biaya pernikahan ditanggung kedua belah pihak.”, lanjut lelaki berpeci. Hari itu, ia mengenakan jubah merah tua. Lelaki yang menyetir di sampingnya tersenyum. Ikut bercerita tentang pengalamannya menikah dengan gadis asli dari tanah itu.

“Semoga selamat sampai tujuan...”, lelaki berpeci itu menuntaskan bantuannya hingga memastikan semua tetek-bengek penerbangan telah tuntas. Gadis yang hari itu berjilbab biru tua, membetulkan letak kacamatanya, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sambil tersenyum. Senyum perpisahan.


Hawa dingin menyeruak seketika. Turun dari burung besi, lalu dibawa oleh roda empat menuju sebuah dataran yang lebih tinggi. Sebuah apel raksasa nampak dikeliling oleh kanak-kanak yang bermain di taman itu. Apel hijau besar. Dikelilingi hewan-hewan raksasa yang tersenyum –mereka terbut dari semacam semen, masih di lokasi yang sama. Mobil itu tidak singgah di sana. Ia segera melaju ke penginapan. Sebuah penginapan dengan pekarangan yang luas. Pemandangan yang indah. Dan udara sejuk yang berhembus sesekali. Kata orang di sana, sekarang ini sudah lebih kurang dingin dibanding dulu. Efek polusi? Global warming?

Ia membunuh waktu dengan berkeliling di taman. Duduk-duduk di kursi kayu. Berkeliaran kemana-mana. Hingga seorang ibu berjilbab dengan nametag yang terkalung di lehernya, menyapanya.



Sampeyan ini siapa?”, tanya ibu itu. Sedikit mendelik, ada kecurigaan pada nada bicaranya. Gadis itu mengusahakan senyuman; sebuah awal yang baik untuk memulai penjelasan apapun, menurutnya.

Kita seharusnya memulai perkembangan ilmu itu dari sini!,” lelaki bertubuh tambun namun kharismatik itu menyelesaikan penjelasannya. Telah tuntas ia memaparkan tentang ulul albab, sesuatu yang mendasari gerak dan tindakannya. Tidak ada yang mengantuk. Tidak ada yang bosan. Semua orang terkesima jika tidak disebut terhipnotis. Seolah sesegera mungkin menyusun rencana-rencana pembaharuan di tempatnya masing-masing. Hawa semangat berhamburan di udara.



Tidak banyak yang ia eksplorasi di kota dengan penduduk berbahasa halus itu. Dengan medhok yang khas dan seolah tidak bisa ketinggalan dari tiap ucapan mereka. Tapi, sepertinya ada keterkaitan yang saling berhubungan, antara suhu udara, cara bercakap, dan iklim belajar di sana. Ia menatap kantong kertas berisi oleh-oleh yang dijinjingnya. Memastikan bahwa keripik dari beraneka buah tidak alpa dari sana, juga oleh-oleh buku yang dibagi-bagikan oleh bapak kharismatik tadi. Ia akan menyusuri langit lagi; terbang.
Setiap pendaratan akan membawa kesan yang melegakan. Bahkan meski tersisa gendang telinga yang seolah menebal akibat perbedaan tekanan udara. Gadis itu menyusuri bandar udara yang nampak cantik itu. Kesana kemari, naik turun eskalator. Hingga tiba di gerbang kedatangan. Lalu langsung mendapati seorang ibu berbadan tinggi dengan kulit putih dan senyum manis. Kacamata bergagang tipis menumpang di atas hidungnya yang mancung. Menjabat tangannya, menyapanya dengan aksen melayu yang khas. Bajunya juga seirama, melayu sekali.

Ibu tak ikut?”, tanya ibu berkacamata saat mobil yang mereka kendarai mulai melaju. Perbincangan pun bergulir. “Saya dulu berobat di sana. Alhamdulillah Allah memberi kesembuhan”, ujarnya kemudian, lalu ia bertukar nomor ponsel dengan gadis di sampingnya, gadis itu berusaha menghilangkan raut lelah dari wajahnya. Menanggapi setiap informasi seantusias mungkin.

Lancang kuning menghias dimana-mana. Terutama pada bangunan-bangunan publik yang berdiri kokoh, sepanjang jalan raya yang nampak teratur dan tidak begitu sesak. Hotel yang berdiri megah itu pun tidak ketinggalan. Meski semuanya nampak modern, namun petugas yang berlalu lalang tidak ketinggalan dengan busana melayunya. Lengkap dengan ramah tamah yang tidak akan tertinggal. Ia ditempatkan di tingkat yang cukup tinggi untuk menangkap sepotong pemandangan kota itu dari atas. 



Tidak banyak pula tempat yang sempat gadis itu kunjungi di sana. Hanya saja, pada tempat-tempat umum, terutama wilayah-wilayah sarat aroma pendidikan, para ibu-ibu selalu nampak anggun dengan baju kurung dan bawahan dan jilbab yang senada. Meski mungkin menggunakan stelan dengan celana panjang akan terlihat lebih lincah dan tetap formal, tidak ada diantara mereka yang memilih menggunakannya. Mungkin, mereka sedang mencontohkan, kepada para anak didik yang juga mengenakan pakaian yang sama.

Dan setiap kedatangan akan diikuti dengan kepergian. Perpisahan adalah kawan karib dari setiap perjumpaan yang akan datang bergiliran, tanpa perlu saling mempermasalahkan, apalagi saling bertengkar. Ibu berbadan semampai dan berkacamata itu telah berjanji akan mengirimkannya informasi tentang tempat pengobatan itu. Janji yang kelak akan ia tunaikan begitu gadis itu tiba kembali ke tanah kelahirannya.
“Terima kasih ya, Dik, Kapan-kapan datanglah lagi ke sini...”, ucapnya sebagai salam perpisahan.
Saya yang harus berterima kasih, Bu.”, gadis itu menjabat tangan ibu berkacamata. Entah kapan mereka akan bertemu lagi.


Memandang langit dari ketinggian yang lebih. Tetap terlihat biru. Awan pun tetap saja putih. Rumah-rumah berderet dan semakin lama terlihat semakin serupa kotak-kotak kecil. Lama kelamaan tidak lagi dapat diindrai dengan mata. Hanya tersisa pemandangan biru saja, semakin lama semakin menua. Malam melahap hari, menggantikan tahta biru dengan kelam di langit. Gadis itu menghembuskan napas. Memastikan seat-belt terpasang dengan sempurna. Mencoba memejamkan mata sesaat.

Matahari sudah mulai meninggi, meski belum begitu menyengat sinarnya. Jalanan mulai hiruk pikuk. Kios penjual aneka makanan di depan sana nampak sudah siap pula menerima pelanggan. Seseorang memasuki pintu. Disambut dengan senyuman. Lalu tanpa merasa perlu membalasnya dengan hal yang sama, ia mengeluarkan secarik kertas dengan coretan-coretan di atasnya.

Ada?”, ia bertanya.

Lelaki yang menerima kertas itu mencermati tulisan yang ada di sana. Sejurus kemudian mengangguk dan mengiyakan pertanyaan tadi. Mengetik sesuatu di komputer di hadapannya, lalu melayangkan kertas tadi ke meja belakang. Gadis itu menerimanya segera.

Tolong disiapkan ya..”, ujar lelaki itu sambil mempersilakan pembelinya menunggu.

Tanpa harus mengatakan apa-apa, gadis itu mengambil sachet plastik di salah satu laci, lalu mulai mengedarkan matanya pada tiap rak obat.



Nak...”, suara lain memanggilnya. Ia tidak sedang berada diantara rak-rak, tidak pula sedang memegang selembar resep. Ia masih di sana. Tidak kemana-mana. Baru saja menyelesaikan shalat subuh dan singgah sebentar di depan layar TV yang memutar tayangan tentang sejarah. Ia sedang menatap derap kaki kuda di padang pasir.

“Tolong buatkan susu kedelai...”, lanjut suara itu.

Iya, bu..” Ia segera ke dapur, mengambil mug dan sendok. Mulai membuat susu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Jika kamu berkenan meninggalkan jejak di kolom komentar, lebih baik lagi :)