Rabu, 13 Maret 2019

Sebuah Jalan: Aku di Sini, Kau di Seberang


Langkahnya tidak  berhenti meski matahari semakin menyengat. Peluh di dahinya menyerap pada jilbab panjang yang ia kenakan. Belum lagi haus yang sejak tadi ia rasa, berusaha ia lupakan sejenak, sebab uang yang tersisa di kantong memang hanya cukup untuk ongkos perjalanannya ke tempat itu. Setibanya di tujuan, beberapa muslimah berwajah polos nampak sudah menunggunya. Sebagian dari mereka sudah siap dengan mushaf alquran di tangan. Sebagiannya lagi nampak sudah sangat percaya diri ingin menyetorkan hapalan. Ada juga yang sudah tidak sabar menanti sesi curhat di majelis, atau ingin bercakap empat mata untuk bisa mencari solusi, atau sekadar menenangkan hati. Tak lama, lingkaran mereka telah terbentuk rapi. Mengeja ayat-ayat suci, mengkaji poin per poin ilmu syar'i, serta bernasihat untuk terus menyucikan hati. Pertemuan itu mereka sepakati setiap pekannya. Ialah majelis cahaya. Salah satu metode yang mereka pilih untuk menjalankan kewajiban menuntut ilmu agama. Satu momentum di mana mereka percaya, malaikat meneduhkan sayap-sayapnya, serta doa penduduk langit dan bumi untuk ampunan dosa-dosa. Ialah majelis cahaya. Mereka menyebutnya: tarbiyah.

Di tempat yang lain, ada yang sedang serius menyimak perkataan ustadz. Rapatnya duduk mereka terkondisikan agar semua yang hadir dapat menyamankan tempat. Terkadang masjid itu penuh sesak. Terkadang pula tak penuh seluruhnya. Ilmu yang mengalir, yang tercatat, yang terekam di kepala, adalah semangat baru yang bukan hanya mengisi otak, tapi juga ruhiyah. Beragam karakter, tua-muda, dari berbagai aktivitas dan kerja, yang sedang lapang maupun yang berusaha melapangkan, semuanya duduk bersama menyimak kajian. Inilah metode yang mereka pilih untuk menuntut ilmu agama. Satu momentum yang mereka percaya saat itulah tetes demi tetes hidayah masuk ke dalam hatinya. Menyejukkan yang tengah panas. Melapangkan yang sedang sempit. Dan senantiasa menghadirkan rasa takut kepadaNya.

Ya, sebab di sanalah substansinya. Sebab ulama-lah itu orang yang paling takut kepada Allah. Yang ilmunya berbuah adab dan akhlak yang paling jelita. Yang membuat husnudzan menjadi yang paling utama kepada saudara seiman. Yang membuat setiap celah mereka hanya tertahan di lisan, untuk kemudian nanti dirangkai menjadi nasihat di kala hening, dengan nada yang paling santun dan mesra. Yang membuat mencarikan udzur menjadi ringan, menghempaskan prasangka menjadi yang utama.

Dan akhlak serta adab itu rata dapat dirasa, kepada siapapun yang Islam ada di dadanya. Warna apapun jilbabnya, sepanjang apapun ukurannya. Baju koko atau jubah kah pilihan busananya. Terjuntai panjang, segenggaman, atau bahkan hanya sehelaian janggutnya. Bahkan kepadanya yang mungkin berada di dunia yang glamor nan hingar bingar, atau yang sudah terbiasa dengan tampilan tato dan motor besar. Tak ada beda .

Dan tujuan  utamanya adalah berbahagia bersama di atas hidayah Allah, lewat jalan apapun saudaranya mendapatkannya. Sebab siapapun berhak untuk selalu percaya, bahwa surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itu, tidak sejauh yang mereka kira.

Jangan sampai ukhuwah itu kandas hanya karena kita menatap mereka ada di seberang. Padahal kita sejatinya sedang melangkah di jalan yang sama. Hanya saja, mungkin caranya yang berbeda dan metodenya yang tidak serupa.

Bukankah kita selalu merindu, duduk bersama di atas dipan cahaya, dicemburui para nabi dan syuhada?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Jika kamu berkenan meninggalkan jejak di kolom komentar, lebih baik lagi :)