Kamis, 24 April 2014

The Power of Me Time

Apa yang kamu pikirkan akhir-akhir ini?

Ah, pertanyaan itu. Mengapa ia muncul di saat yang terlalu tepat? 

Kepala saya mencoba mencari-cari jawabannya. Lalu lisan saya dengan cepat menyebutkan beberapa diantaranya.

Ya, hanya beberapa. Sebab sejatinya, belakangan ini saya memikirkan begitu banyak hal. Entahlah. Rasanya ini mengarah kepada over-thinking. Saat saya tiba-tiba bisa merasa kepala saya akan pecah sendiri saking terlalu banyaknya hal yang terputar-putar di dalamnya.

Tiba-tiba saya memikirkan tentang masa lalu; mengapa dulu tidak begini dan tidak begitu. Tentang masa kini; mengapa hari terlewati dan saya tidak melakukan sesuatu yang berarti. Tentang masa depan; apa nanti yang akan saya hadapi, bagaimana caranya, dan akan bagaimana akhirnya. Juga tentang banyak hal-hal remeh temeh yang ditangkap oleh kornea. Saat saya melihat botol sabun atau shampo, saya akan membaca tulisan-tulisan di labelnya dan seketika memikirkannya sambil menatap benda itu lamat-lamat. Saya melihat hal-hal lain dan kemudian memikirkannya dengan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Ya, separah itu.

 Juga perihal tentang buku baru yang seharusnya telah rampung, atau bahkan telah terkirim ke penerbit apapun yang setidaknya berkenan untuk me-review-nya. Kepastian macam apa yang sedang saya tunggu jika saya bahkan belum menyelesaikan apa-apa. ‘Masalah’ kapan buku berikutnya itu akan nongol, menjadi tranding-question yang hanya bersaingan dengan pertanyaan kapan menikah. Oh, betapa!

Saya pun mencoba mengusahakannya. Menangkap burung-burung ide. Menyaderanya di atas kertas dalam bentuk bulatan-bulatan yang terhubung dengan garis-garis menuju bulatan-bulatan lainnya. Hingga beberapa topik seperti itu. Lalu kemudian saya memikirkan lagi tentang langkah setelah langkah setelah langkah. Hingga akhirnya meninggalkan perangkap-perangkap burung ide itu begitu saja lalu malah membuat outline lainnya dan memulainya kembali dari awal. Begitu terus menerus.

Terkadang di pertengahan jalan saya malah sibuk berpikir-pikir lagi tentang warna apa yang sebaiknya muncul di cover majalah dua bulanan kecintaan kami. Apa hal baru yang perlu kamoi bahas lagi? Belum lagi bertemu dengan warna atau tema pembahasan yang tepat, pikiran ini malah meloncat lagi pada apa yang sebaiknya dilakukan agar distribusinya dapat merambah pada lebih banyak lagi pembaca. Saat telah stuck dengan itu, saya malah teralihkan untuk mengingat kembali kapan sebaiknya saya mengeksekusi outline buku berikutnya yang tengah berhamburan. Atau bagaimana bisa menyerap sebanyak-banyaknya ilmu kepeunulisan untuk kemudian menyiarkannya kembali kepada lebih banyak orang yang akhir-akhir ini terlihat membutuhkannya dan meminta kepada saya tanpa merasa perlu bertanya apakah saya punya cukup banyak hal untuk diberikan kepada mereka. Dan saat semua pikiran itu tidak jua selesai, saya masuk ke kamar mandi, melihat botol shampo, lalu teralihkan pada tulisan-tulisan di labelnya.

Lalu waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Saya harus segera tidur. Untuk besok bangun awal dan kembali melakukan rutinitas. Hingga malam tiba kembali dan saya bisa bertemu lagi dengan diri saya sendiri; komplit dengan semua pikiran-pikiran menggelayut yang tidak jelas juntrungannya dan tidak jelas penyelesaiannya itu. Saya telah teramat lelah seharian dengan pekerjaan dan juga dengan pikiran itu, lalu pada akhirnya memilih untuk membaca buku hingga tertidur. Tertidur dan tidak satu pun dari semua itu yang selesai.  

You need a break...”

Ya. Sepertinya begitu. Saya butuh waktu yang lebih panjang untuk bertemu dengan diri saya sendiri. Bukan lagi dalam keadaan tenaga yang sudah terkuras habis dan di saat seharusnya saya sudah tidur kembali.

Berjalan-jalanlah ke tempat yang kau suka. Seorang diri akan lebih baik...”

Ya. Sepertinya begitu. Saya butuh pandangan yang lebih luas. Saya butuh berada di dalam akuarium saya sendiri, sambil melihat orang-orang di sekeliling yang berada di luar dunia saya. Tidak harus sepi. Tidak harus benar-benar sendiri. Bisa jadi saya berada di tengah keramaian. Tapi saya tetap berada dalam akuarium, dalam dunia saya sendiri. Tanpa ada yang memanggil. Tanpa ada yang menganggu. Tanpa ada kekhawatiran bahwa orang-orang itu akan berpikir saya ini seperti ini atau seperti itu.

Konon, di dunia ini ada dua tipe manusia. Tipe ekstrovert dan yang introvert. Izinkan saya menyebutkan tipe yang pertama sebagai jenis ‘orang kebanyakan’. Sedangkan saya, jelas-jelas adalah tipe yang kedua. Saya membaca beberapa artikel tentang jenis kepribadian ini juga mitos-mitos yang dianggap oleh ‘orang kebanyakan’ tentang mereka; tentang kami.

Kami sering dianggap orang-orang yang kaku, bahkan sombong. Dan itu benar. Ya, benar bahwa banyak orang yang menganggap begitu, meski hal itu adalah sesuatu yang bisa jadi salah. Kami hanya butuh waktu yang lebih panjang untuk berusaha agar dapat akrab, terutama dengan orang-orang yang baru kami temui, atau jarang kami temui. Percayalah, kami selalu berusaha untuk bisa terlihat supel seperti ‘orang kebanyakan’, meski itu tak mudah. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kami butuh waktu yang lebih panjang. Sayangnya, tidak semua orang betah untuk menunggu. Dan nyatanya, lebih banyak orang yang lebih senang sesegera mungkin menempelkan cap itu pada kami; kaku dan sombong. Sekali lagi, tanpa berkenan memberi kami waktu. Dan itu, kukatakan padamu, sungguh tidak adil.

Manusia adalah makhluk sosial. Dan fakta bahwa kami tidak begitu piawai untuk bersosial ria bukanlah alasan untuk menganggap kami antisosial. Kami bahkan punya beberapa teman dekat, kami bercerita banyak hal pada mereka; bahkan yang remeh temeh, dalam waktu panjang, dengan cara yang sangat normal, bahkan dengan terlihat begitu cerewet. Ya, itu yang kami lakukan pada orang-orang yang sudah dekat dan sudah akrab dan sudah kami rasa nyaman untuk berkomunikasi dengannya. Mereka adalah orang-orang kebanyakan, namun mungkin punya kesabaran yang lebih besar untuk ‘menunggu’ kami untuk mencair, meski perlahan-lahan, bahkan mungkin sangat perlahan.

Kami cepat kehabisan energi di tengah keriuhan yang mengharuskan kami terlibat. Tidak seperti orang kebanyakan yang justru menyerap kekuatan dari kegiatan bergaulnya, kami tidak. Kami butuh charger bernama kesendirian. Saat kami hanya bersama diri kami sendiri. Bersama pikiran kami sendiri. Tanpa ketakutan untuk disebut kaku, disebut sombong, atau disebut antisosial; apalagi disebut televisi rusak. Kami sebenarnya manusia, sama seperti orang kebanyakan.  Dan menyebut kami seolah tidak jauh beda dengan benda mati adalah tindakan yang justru tidak manusiawi.

Dan saya pada titik ini, mulai merasa memerlukan me time itu. Berjalan sendiri. Pergi ke suatu tempat bukan untuk bertemu dengan siapa-siapa. Memesan makanan dan minuman kesukaan saya. Menikmatinya sambil  membaca sesuatu tanpa harus mengobrol dengan siapapun. Menghabiskan perjalanan dengan menatap keluar jendela sambil menatap langit atau memerhatikan jalanan yang sibuk tanpa harus menyapa atau berusaha mencari-cari topik perbincangan dengan siapapun. Menyusuri jalan seorang diri ditengah lalu lalang orang-orang tanpa perlu khawatir bertemu dengan seseorang atau ditatap oleh orang-orang yang akan bertanya-tanya di dalam hati, “Mengapa kau berjalan sendirian?”

Lalu, kembali ke rumah dengan tenaga penuh. Lalu, kembali ke rumah untuk menuliskan ini.

Bagaimana? Kau sudah lebih lega?

Sepertinya begitu.
Saya menatap botol shampo di kamar mandi. Tidak lagi berusaha untuk membaca tulisan di labelnya. 

Makassar, 24 April 2014

Sabtu, 19 April 2014

Lelaki Pertama

Biasanya, saya hanya punya satu alasan saat kemudian menangis sesunggukan sebelum tidur; karena ibu yang sakit. Tapi kali itu berbeda, saya menangis sebelum tidur saat memikirkannya. Memikirkan lelaki pertama.

Saya di masa kanak-kanak melihatnya sebagai seseorang yang tahu segalanya. Ia bisa menjawab dengan benar saat saya menanyakan perihal pe-er matematika. Atau saat saya bertanya tentang IPS atau IPA. Apalagi jika menyangkut pelajaran pendidikan agama Islam.

Dia yang merekam suara cadel saya yang bernyanyi-nyayi dan menceracau tidak jelas dan diselingi dengan hapalan surah-surah pendek dan bacaan-bacaan shalat.

Saya masih mengingat, saat ia ikut tidak tidur waktu saya sakit cacar di masa SD, hanya demi mengusap-usap penggung saya yang gatal.

Saya masih merasakan nyeri di hati, serta penyesalan yang dalam, waktu saya menolak menemaninya pergi ke dokter saat saya berusia SMP, hanya karena alasan 'malas'. Baru setelah saya menatap punggungnya yang pergi menjauh meninggalkan rumah, saya menangis sejadi-jadinya karena tersadar telah melakukan hal yang sangat buruk. Dan lebih buruknya lagi, dimasa-masa setelah itu saya kerap kali mengulangi kesalahan-kesalahan lain padanya. Kesalahan yang baru belakangan membuat saya menyesal setengah mati.

Tapi, seburuk apapun saya, lelaki itu tetap saja tidak beranjak. Meski mungkin raganya pergi ke sana kemari. Meski terkadang percakapan antara kami menjadi sedemikian beku dan semakin jarang seiring dengan kesibukan saya dan kesibukannya.

Kini, saya yang dulu harus memandang wajahnya sambil melongok ke atas, dapat melihat pancaran matanya tanpa harus mendongak seperti itu lagi. Pada titik itu saya sadar, bahwa saya terus bertumbuh, sementara ia tetap seperti itu. Saya mendaki kurva kehidupan, sementara ia menuruninya.

Mungkin, lelaki itu bukanlah manusia yang sempurna. Ia pun melakukan kesalahan dan kekhilafan di dalam hidupnya. Dia pun punya kekurangan dan mungkin nampak tidak perfect di mata orang lain.

Tapi saya tidak peduli dengan itu.
Dia tetap adalah nama yang selalu akan ada dalam doa saya.
Perjalanan ini telah mengajarkan bahwa saya tidak bisa tidak mencintai dan menyayanginya.

Lelaki pertama yang darahnya mengalir pada darah saya. Yang wajahnya ada pada wajah saya.

Bapak, terima kasih untuk selalu ada. 

Makassar, 19 April 2014
Bapak, maafkan anakmu ini...

Selasa, 08 April 2014

Yang Dirindukan, Yang Merindukan

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...”, demikian ucap lelaki itu.
 
Ia bukan sedang menghadapi sebuah musibah, atau baru saja mendengar kabar duka dari seseorang. Ucapan tadi, ia lirihkan justru saat ia resmi diangkat menjadi seorang pemimpin. Dinasti Umayyah kala itu, serta merta menjadi berada di bawah kekuasaannya. Namun, mengapa kalimat tersebut yang meluncur dari lisannya?

Kelak, namanya akan dikenal dalam sejarah, terpatri dengan tinta emas. Keadilannya tidak perlu dipertanyakan. Kemakmuran yang bertubi-tubi datang juga tidak usah diceritakan, bahkan hingga serigala pun enggan memangsa domba. Kezaliman ia hapuskan. Serta berderet cerita-cerita manis lainnya yang nyata pernah terjadi di atas bumi Allah. Ia, seorang pemimpin yang begitu memahami arti dari sebuah tanggung jawab. Ia tahu bahwa amanah begitu besar tengah dititipkan pada dirinya. Ia tentu sadar bahwa segala hal itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kita mengenang namanya dengan penuh haru dan rindu, Umar bin Abdul ‘Aziz. 

Mari melintas pada generasi sebelumnya. Maka kita akan dapati seorang lelaki lainnya, dengan nama yang sama. Terkenal dengan fisik yang tegap dan kepribadian yang keras. Namun, kita juga menjumpai riwayat perihal garis hitam di pipinya yang timbul akibat banyaknya ia menangis karena rasa takutnya kepada Allah. Ia pun seorang pemimpin yang hadir dalam sejarah Islam dalam kisah yang juga tak kalah gemilang. 

Dia adalah pemimpin kaum muslimin dengan 12 tambalan pada bajunya. Ia membuat heran orang yang mendapatinya membawa tempat air di atas pundaknya, lalu ia menjelaskan, “Aku terlalu kagum terhadap diriku sendiri oleh karena itu aku menghinakannya”. Kisah lainnya direkam oleh Ibnu Katsir juga dalam al Bidayah Wannihayah, saat musim paceklik tiba dan kulit sang Amirul Mukminin ini menghitam tersebab tak makan kecuali dengan roti dan minyak saja, tiada keluh dari lisannya. Bahkan ia berkata, “Akulah sejelek-jelek penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan...”. Kita mengenang namanya dengan penuh haru dan rindu, Umar bin Khattab.

Hari ini, kita tentu merindukan sosok-sosok seperti keduanya. Ah, bahkan yang mendekati sedikit pun rasanya sudah cukup membuat kita akan begitu mensyukurinya. Kita rindu pada pemimpin yang ingin turut menangis bersama kita, yang menyadari sepenuhnya bahwa jabatan bukan kebanggaan, tapi ujian. Kita rindu pada pemimpin yang menegakkan kebenaran serta menjaga kita tetap dalam ketakwaan, bukan malah memporak-porandakan barisan. Kita rindu pada pemimpin yang lurus tauhidnya, yang tidak menganggap Islam sebagai baju yang kekecilan baginya. Yang tidak perlu risih menyebut kebijakannya adalah bentuk interpretasi atas nilai-nilai Islam. Yang tak perlu sibuk mencitrakan dirinya toleran, tapi nyatanya justru diskriminatif pada hakekat yang sebenarnya. 

Kita mengenang dengan sepenuh haru dan rindu, sosok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pemimpin terbaik sepanjang masa. Dia, yang paling indah wajahnya, dan paling baik akhlaknya. Dia yang telah terluka untuk memperjuangkan kebenaran yang kini telah sampai kepada kita. Dia yang senang duduk bersama kaum yang papa, yang meneladankan sebaik-baik teladan. Ia yang begitu murah hatinya, sangat lemah lembut, dan sangat besar cintanya kepada orang-orang beriman. 

Pemimpin yang kita rindukan itu, semoga kelak bisa hadir di tengah-tengah kita. Dan kita, perlu selalu menatap diri kita untuk dipantaskan mendapatkan pemimpin yang kita rindukan. Adakah telah lurus aqidah kita? Adakah telah benar ibadah kita? Adakah telah indah akhlak kita? Adakah telah lembut hati kita? Adakah telah sepenuh ikhtiar kita mengumpulkan ilmu syar’i seperti berpeluh-peluhnya kita untuk ilmu duniawi? Adakah kita memang telah memandang barisan Islam ini sebagai satu kesatuan yang padu, tanpa harus melihat di bawah bendera apa kita bernaung dan jalan perjuangan apa yang kita pilih? Jangan-jangan, sebenarnya justru kita ini yang tidak siap untuk dipimpin oleh pemimpin shalih dengan sistem yang sesuai syari’at Allah? 

Sebab setiap kita akan bertanggung jawab atas pilihan kita masing-masing. Saat kita memilih untuk maju, atau untuk berdiam diri, atau bahkan untuk mengutuk dan mencela, ataukah kita membuka hati dan menelisik jalan yang akan kita tempuh, pada akhirnya semua kembali kepada diri kita masing-masing. Pada akhirnya Allah jua yang akan menilai apa yang ada di dalam hati dan apa yang tengah kita usahakan. 

Kita rindu, pada sosok-sosok yang mengingat kita dalam doanya, dan kita pun mendoakan atasnya. Mungkin, pemimpin yang kita rindukan itu, pun sedang merindukan kita. Wallahu a’lam.

Makassar, 8 April 2013

Mari mendoakan negeri kita, pemimpin kita, dan diri-diri kita..
Juga kaum muslimin di seluruh permukaan bumi Allah

Jumat, 04 April 2014

Dari Seorang Adik


Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, duhai lelaki yang hadir ke dunia dua tahun sebelum diriku. Tapi sebelumnya, mari kita dinginkan kepala kita sejenak, agar kata-kata yang keluar dari lisan pun menjadi lebih tertata. Bukan lagi menjadi seperti suara-suara bernada tinggi yang kebanyakannya minim makna; pesannya belum tentu sampai, tapi lebih nyata menorehkan luka. 

Kita bukan lagi kanak-kanak yang mempersoalkan perihal siapa yang memakai kamar mandi lebih dahulu. Kau bukan lagi bocah lelaki yang senang mengoleksi beragam mainan dari pelastik yang berbentuk tokoh kartun favoritmu. Aku juga bukan lagi gadis kecil yang saban hari mengikutimu bermain dengan sepeda roda tiga, berupaya agar tak ketahuan, agar kau tak usir pulang, sebab teman mainmu tentu lelaki semua. Aku bukan lagi si bodoh yang kau buat berhari-hari demam gara-gara ketakutan saat kau kagetkan dengan boneka bayi berwajah ngeri yang membuatku hingga kini menjadi phobia dengan jenis mainan macam itu. Ya, kita bukan anak-anak lagi. Usia kita sudah dua digit dengan angka dua di digit pertama. Seharusnya, kita telah bisa berpikir dewasa. 

Dan kau tahu, menjadi dewasa itu tidak mudah. Semakin banyak hal yang kita hadapi, dan semakin banyak pula tanggung jawab yang harus kita emban. Kita harus lebih sering bertanya pada diri kita sendiri; apa yang sebenarnya kita cari? Kita harus sudah bisa menentukan; apa yang seharusnya kita tuju? Kita pun mestinya mampu memutuskan; peran apa yang sedang berusaha kita lakonkan? Dan itu semua memang bukan hanya tentang diri kita sendiri. Kita, sebagai bagian dari masyarakat yang begitu luas, umat yang begitu besar, mau tidak mau akan selalu bersinggungan dengan orang lain yang ada di sekeliling kita. Banyak dari mereka yang akan memberikan manfaat kepada kita, bahkan akan sangat kita butuhkan kehadirannya. Tapi, tidak sedikit pula yang mungkin akan membuat kita sedikit tersentak, terkaget, bahkan terganggu. Tak mengapa, bukankah itu adalah konsekuensi menjadi manusia? 

Memasuki masa-masa seperti sekarang, memang ada beberapa hal yang memiliki persentasi lebih besar untuk dibicarakan. Ada beberapa pertanyaan yang lebih sering muncul dan menjadi begitu krusial untuk segera ditemukan jawabannya. Hei, lihatlah! Aku menghabiskan tiga paragraf untuk menuju poin utama yang sebenarnya ingin kutanyakan padamu! Err.., ini perihal masa depan. Tentang rencanamu dan mimpimu. Tentang dengan siapa kau ingin menghabiskan masa tuamu. Ah, aku sebenarnya hanya ingin menanyakan, pertanyaan yang mungkin telah satu juta kali ditanyakan orang-orang kepadamu –baik yang serius, maupun yang bercanda; kapan kau (berencana) akan menikah? Atau mari kubuat pertanyaan itu menjadi lebih berbobot dan lebih kompleks lagi; keluarga seperti apa yang hendak kau bangun kelak? 

Ya, sebab dapat kutebak bahwa telah banyak orang yang merasa heran denganmu. Kehidupanmu, jika dinilai dari nominal gaji yang kau terima setiap bulan, tentu sudah sangat mencukupi. Apalagi jika ditinjau dari segi usiamu yang sudah ideal, bahkan sudah matang sekali. Ditambah lagi dengan deadline tidak tertulis yang dikumandangkan oleh bapak dan mama perihal keinginan mereka untuk segera menimang cucu. Ah, berat sekali ya! Aku bahkan bisa turut merasakannya –anggap saja ini semacam solidaritas, hehe.. 

Aku sebenarnya ingin menanyakan langsung ini kepadamu. Bukan, bukan untuk membuatmu menjadi lebih terbebani. Tapi lebih kepada keinginan untuk mengetahui sebuah sudut pandang baru yang mungkin memang belum kumengerti. Ingin kutanyakan pula kepada bapak, tapi kau tahu, bapak terlalu pendiam dan aku pun terlalu pemalu untuk itu. 

Maka biar kucoba mengidentifikasinya sendiri. Bahwa perihal kemapanan memang tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan. Masalah meminang anak gadis orang memang bukan perkara sederhana seperti membalikkan telapak tangan atau membeli es jeruk di pinggir jalan, meski ia juga bukan hal yang terlalu kompleks sehingga menjadi mustahil untuk dilakukan. Jadi mungkin kau punya pertimbangan-pertimbangan lain yang luput dariku. Sesuatu yang mungkin menjadi bahan pikiranmu selain gaji dan persetujuan bapak dan mama. Sepertinya bukan pula tentang siapa-dan-bagaimana, sebab sepertinya kau belum melakukan ikhtiar apapun untuk menuju ke arah sana –maafkan jika kesimpulanku begitu menjengkelkan, salahmu sendiri kenapa tak pernah bercerita kepadaku tentang hal ini. 

Kau tahu, pikiranku tentangmu ini justru membuat semacam keinsyafan lain pada diriku pribadi; aku menjadi kian tersadar; betapa beruntungnya aku berada di pihak perempuan. Di salah satu sisi, nampaknya kaum kalian memiliki tugas yang lebih berat daripada kami. Ikhtiar kami sebagai wanita, terbatas pada menyiapkan diri, agar dipantaskan olehNya agar bisa bersama dengan lelaki yang shalih. Sementara kaummu, tidak boleh sepasif itu. Kalian harus memutuskan sebuah keputusan yang berat. Lebih dari itu, mempersiapkan kepercayaan diri yang besar, dan terakhir –dan ini yang sungguh sangat penting; perkara nyali. 

Yah, sebab percumalah segala macam kriteria yang terpenuhi jika tidak punya nyali. Langkah akan terhenti, lalu mundur, balik kanan, dan kabur. Kuharap kau bukan tipe yang ini. Sebab bagi kami, kaum wanita, yang seperti itu sungguh sama sekali tidak bisa diharapkan. Maksudku, entah dari siapa aku mendengar ini; bahwa pembeda antara lelaki dan perempuan adalah keberaniannya. Kaum kalian harus memiliki keberanian dalam kadar yang lebih tinggi dari kami. Sebab kalian adalah nahkhoda yang harus menentukan kemana arah batera akan berlayar. Dan menentukan segala keputusan itu, tentu membutuhkan keberanian yang besar. Nah, jika di awal saja keberanian itu tak ada, lalu mau jadi seperti apa perjalanan selanjutnya? Perjalanan yang tentu akan berhadapan dengan begitu banyak hal yang membutuhkan nyali yang jauh lebih ekstra. Maka mereka yang tidak bernyali memang sudah tepat jika undur diri, sebab memang mereka nampaknya belum benar-benar siap untuk memulai perjalanan ini. 

Kau bukan bagian dari mereka, bukan?

Kuharap alasanmu jauh lebih keren dan bernas dibandingkan yang terakhir kubicarakan di atas. Yah, sebab nyali akan menghindarkanmu dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab semisal memberikan pengharapan yang nyatanya tidak bisa kau tunaikan. Lebih baik kau tetap seperti itu. Kau tetaplah diam sambil mengenyahkan semua penghalang-penghalang yang membuatmu belum dapat menjalani ibadah seumur hidup itu. Lalu setelah kau siap, jadilah laki-laki sejati yang siap memilkul tanggung jawab di pundakmu. Yang memuliakan wanita yang akan mendampingimu hingga tua. Menyejahterakan anak-anakmu dan mendidik mereka menjadi generasi yang akan membanggakan umat ini. Sini kuberi tahu, meyakinkan hati perempuan memang tidak mudah, tapi kau tidak akan bisa menakar seberapa sulitnya jika kau tidak pernah mencoba. Kau tidak perlu kesal karena perempuan terlihat begitu teliti jika berbicara mengenai perkara ini, sebab menentukan lelaki yang akan hidup bersamanya bukanlah perkara sederhana. Sebab, saat ia telah menyetejui satu sosok sebagai pendamping hidup, maka kepada lelaki itulah ia akan mencurahkan segenap ketaatan sepanjang usia yang ia punya. Ia akan memberikan stir kehidupannya untuk dikendalikan oleh lelaki itu, selama itu bukan maksiat kepada Allah. Ia akan mendampinginya dan memberikan yang terbaik untuknya. Tahukah kau? Perempuan hanya bisa menyimpan satu nama di dalam hatinya. 

Maka jika kau memang belum siap, tetaplah diam, jangan menebar janji pada siapa-siapa, tapi teruslah mempersiapkan diri. Aku di sini akan membantumu menyabarkan mama dan bapak agar tidak mendesakmu. Aku mencoba memahami bahwa kau butuh proses, dan proses butuh waktu. Maka kami tidak akan memaksamu. Suatu waktu penyair favoritku berkata; pemaksaan adalah sikap para penjajah, dan aku benci penjajah. 

Dan setelah dua halaman ini habis kugunakan untuk menulis sejumlah kata yang mungkin tidak akan pernah kau baca, sebenarnya, intinya, hanya satu hal ini yang ingin kukatakan kepadamu, duhai yang lahir dari rahim yang sama denganku; Kak, jadilah lelaki yang shalih, maka insya Allah, Allah akan mempertemukanmu dengan wanita shalilah; bukankah itulah sebaik-baik perhiasan dunia? Dan syukur dalam bahagiamu, serta sabar dalam ujianmu, akan kau mulai dari dirinya. Percayalah. 

Makassar, di penghujung senja, di penghujung Maret 2014.

Kebenaran yang Mengancam, Kebenaran yang Terancam


Sosok itu memang tidak biasa. Ada beberapa keunikan yang berkumpul pada dirinya. Ia bukan seorang yang lahir dalam keadaan Islam. Ia bahkan menerima Islam dan menjadikannya sebagai jalan hidup, saat sudah melewati usia baligh. Selain itu, ia pun berasal dari etnis yang tergolong minoritas. Ditambah lagi, mayoritas etnisnya itu bukanlah seorang muslim. 
Tapi, fakta tersebut tidak membuatnya menjadi penganut Islam KTP. Islam merasuk pada dirinya. Lelaki itu, benar-benar menerima Islam sebagai identitasnya. Seutuhnya. Ia kagum pada salah satu sosok pejuang Islam yang namanya mengharu biru dalam sejarah. Mujahid yang ia kagumi itu adalah seorang tokoh yang gilang gemilang karena berhasil melakukan penaklukan yang fenomenal. Seorang panglima yang lihai. Sedangkan lelaki itu, mungkin memang tidak meneladaninya dengan jalan pedang. Namun, ia memiliki pena yang tajam. 
Setiap kata-katanya tersusun rapi dan mewujud menjadi karya. Ia membawakan kebenaran dengan jalan yang ringan dan indah, dan banyak yang menyukainya. Ia benar-benar mewakafkan dirinya sebagai penyampai kebajikan, yang nyatanya berhasil memikat berbagai pasang mata untuk menyimak perkataannya. Ia bukan hanya menyeru pada kebaikan, namun juga lantang untuk menyampaikan upaya mencegah dari hal-hal yang munkar. Bahkan meski kemunkaran itu sudah dianggap sesuatu yang biasa, atau meski kemungkaran itu bahkan dibenarkan oleh orang-orang yang mengaku punya ilmu agama pula. Dan fakta bahwa ia adalah seorang mualaf dari etnis minoritas adalah sebuah keunikan yang membuatnya piawai untuk berbicara tentang perbedaan, untuk menunjukkan bahwa apa yang dianggap tidak mungkin, bisa menjadi mungkin dengan keimanan. 

Tapi, cobalah mengetik namanya dengan mesin pencari di dunia maya. Maka, kita akan menemukan bahwa bukan hanya ‘pengikut’-nya yang banyak, tapi ternyata ada pula yang tidak menyenangi langkahnya. Yang tidak menyenangi itu bukan melulu berasal dari mereka yang memang sejak awal membenci Islam. Tapi, justru ada pula dari kalangan yang juga mengaku tengah berada di jalan Islam yang sama, namun memiliki pemikiran yang berseberangan dengannya. 

Namun, ia tetap terus berjalan. Seperti al-Fatih yang mengobsesikan takluknya Konstatinopel, lelaki itu memimpikan hal yang sama; tegaknya kalimat Allah di bawah bendera khilafah. Sebuah mimpi yang seharusnya berada di dalam dada setiap kaum muslimin. Sebuah mimpi yang dieksekusi dengan kadar yang berbeda, pun dengan cara yang berbeda oleh banyak orang. Keunikan dan fakta bahwa ia diterima oleh banyak kalangan membuat para pembencinya juga bermunculan. Entahlah, mungkin bagi mereka, lelaki itu adalah kebenaran yang mengancam

Di satu sisi, hari ini banyak sekali individu maupun pihak-pihak tertentu yang juga sedang memperjuangkan kebenaran, lewat cara-cara yang mereka yakini efektif. Cara itu mungkin akan terlihat tidak sama, bahkan ada pula yang nampak bertentangan. Namun sejatinya, itu semua bermuara pada satu tujuan yang serupa, yakni kemenangan Islam. 

Tegaknya syariat Islam sudah seharusnya tidak menjadi phobia bagi siapapun. Toh dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menegakkan agama ini sambil hidup berdampingan dengan damai dengan para penganut agama yang lain. Selama mereka taat pada pemerintahan Islam, maka mereka aman, bahkan memiliki hak-hak yang harus ditunaikan dengan sangat adil. Maka menjadi pertanyaan yang teramat aneh, saat ternyata kaum muslimin sendiri yang merasa takut dengan penegakan Islam. Ini jelas-jelas sebab mereka belum benar-benar menegerti, bagaimana manfaat dan kebaikan yang akan dibawa dengan diterapkannya aturan Allah. Seperti seorang bocah yang enggan makan sayur hanya karena belum mencobanya saja. Ia sudah terlanjur senang makan permen dan kue-kue manis padahal dikemudian hari, makanan itulah yang membuat giginya berlubang dan batuk datang.

Sebagian umat hari ini, memandang syariat sebagai sebuah jalan yang sulit, bahkan menganggapnya akan mengekang apa yang mereka sebut sebagai hak asasi. Mereka terus melakukan hal-hal yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai Islam, tanpa menyadari bahwa itu semua hanya membawa pada kehancuran, baik di dunia, terlebih lagi di akhirat kelak. Jelas saja, sebab nyatanya hari ini kita berada dalam keterasingan yang kedua. Ghurbatuts tsaani, saat kebenaran, penegakan al Qur’an dan as Sunnah itu dianggap sesuatu yang aneh dan tidak up to date. Persis seperti yang dialami oleh kaum kafir Quraisy yang kala itu sudah teramat jauh dari ajaran Nabi Ibrahim. Mereka sudah terlalu lama tidak mendengarkan ajaran yang shahih sebab terjadi masa dimana terputusnya para utusan, nabi dan rasul. Akhirnya, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam muncul di tengah-tengah mereka, membawa ajaran dengan inti yang sama persis dengan apa yang dulu didakwahkan oleh pendahulu mereka, Nabi Ibrahim dan Ismail, para kafir Quraisy itu, tidak bisa lagi menerimanya. Cahaya yang terang benderang itu mereka abaikan dan mereka anggap sebagai dongeng orang terdahulu belaka. Penyembahan berhala mereka sucikan dan mereka kira merupakan jalan untuk menyembah Tuhan. Khamr dan zina mereka lazimkan dan mereka anggap sebagai hal yang biasa. Saat ajaran Islam datang, mereka melongo, mereka terkaget. Mereka menertawakannya dan menganggapnya layaknya lelucon yang hanya akan diterima oleh para budak dan orang tertindas saja. 

Saat ini, masa dimana kebenaran juga tengah berada di jarak yang nampak begitu jauh. Maksiat menjadi leluasa menunjukkan diri. Sementara umat menjadi bingung dengan munculnya penyeru-penyeru dengan tampilan surban dan gamis, namun memelintir ayat; mengatakan yang bathil sebagai haq, dan mengatakan yang haq sebagai bathil. Mengatakan jilbab tidak wajib, dan menganggap pilihan membuka jilbab adalah hak asasi yang tidak sepatutnya dipertanyakan dan dipermasalahkan. Inilah zaman dimana bidang ilmu lain hanya akan didengarkan jika dibicarakan oleh pakarnya, kecuali tentang agama. Saat berbicara tentang agama, seolah-olah semua orang berhak, bahkan yang tidak berilmu sekalipun. Sungguh tidak adilnya... 

Saat itulah, kebenaran menjadi terancam. Mereka yang berupaya menegakkan al Qur’an dan as Sunnah dianggap berlebih-lebihan. Seolah surga begitu murah dan jadwal kematian bisa diatur kapan saja. Seolah hanya ampunan saja yang Allah punya, padahal adzab-Nya pun amat pedih. Seolah saat kita mati, kita akan berakhir seperti tanah yang tidak akan dimintai tanggung jawab atas tiap amalnya. Berbagai label disematkan kepada mereka yang membawa kebenaran. Para penyeru kebaikan dianggap patut diwaspadai karena dapat mengancam persatuan. Mereka lupa, bahwa Islam pernah menyatukan dua per tiga belahan bumi dalam tempo yang sama sekali tidak pernah bisa ditandingi oleh peradaban apapun. 

Kebenaran itu terancam, namun ia tidak akan pernah beranjak. Ia akan selalu ada. Dijaga oleh orang-orang yang bening hatinya. Mereka yang terpilih untuk terus berpendar meski kegelapan sudah begitu kelam. Mereka yang tidak akan pernah goyah dan meyakini bahwa Allah akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya, serta menegakkan kedudukannya di muka bumi ini. Mereka tidak lelah. Mereka tidak putus asa. Mereka tetap berjuang, meski dalam hening, meski lelah, meski harus meneteskan peluh bahkan darah. Mereka mengorbankan dirinya, mengorbankan dunianya, tersebab begitu yakin, bahwa akan ada hari dimana kita tersadar bahwa dunia ini hanya sekejap saja. Hanya serupa satu jenak masa di suatu pagi atau senja, jika dibandingkan dengan tempat akhir kelak, akhir yang tiada lagi akhirnya. Mereka itu para penjaga. Para penyala lentera. Adakah kita masuk di dalamnya?