Hari itu, perkuliahan akan
spesial. Sebab akan diisi oleh seseorang yang spesial. Beliau adalah orang
pertama di fakultas kami. Akan berhadapan dengan seorang pemimpin wanita
bergelar professor tentunya membuat ekspektasi kami sedemikian tinggi. Dan
benar, kami tidak kecewa.
Memang selalu menyenangkan
menyimak kata-kata dari orang yang berilmu dan punya banyak pengalaman.
Terkadang rasanya ia berucap dengan sedemikian cepat seolah takut apa yang akan
ia sampaikan akan terlupa atau terluput begitu saja. Seperti belajar dari kisah
nyata, terkadang ada hal-hal tertentu yang bisa kita maknai tentang hidup.
Untuk mengetahui bahwa di satu titik terdapat lubang, tidak harus dengan jatuh
dulu, khan?
Maka hari itu, sebagai
seorang yang sangat berpengalaman di bidangnya, wanita itu bercerita banyak
tentang pengalamannya juga tentang beberapa idenya yang ia akui terkadang
berseberangan dengan beberapa orang dan beberapa pemikiran lainnya.
saat hidup mengajarimu perihal menebak
warna apa yang akan kau jalin di langit yang luas
adakah telah tepat tambatan penantian
atau sauh harus kembali kau naikkan pada geladak
“Menurut kalian, apa yang paling kita takutkan sebagai seorang farmasis?” tanyanya sambil memandang sekeliling.
Anak-anak rambutnya bergerak mengikuti gerakan kepalanya. Para mahasiswa di
hadapannya mulai berpikir. Ada yang hanya sibuk dengan lamunannya sendiri, ada
pula yang mulai berbisik dengan kawan di sampingnya.
“Memangnya siapa yang tidak takut jika orang-orang mulai bertanya tentang
obat?,” ia mulai menjawab
pertanyaannya sendiri. Beberapa mata nampak membulat; sepakat. “Ada berapa banyak merek paten untuk satu
jenis obat saja. Dan bayangkan ada berapa jenis obat saat ini!” ujarnya
dengan nada meninggi. “Lalu datang orang
bertanya kepada kita tentang salah satunya, dan menganggap kita tahu semua hal
tentang satu jenis obat itu. Bukankah itu menakutkan?” lanjutnya dengan
penuh ekspresi. Mahasiswanya nampak mulai mengangguk-angguk. Beberapa terlihat
tersenyum kecut, mengiyakan.
saat perjalanan menjadi tak berujung
kau menatap horison yang seolah tak tergapai
sementara kembali ke dermaga bukanlah pilihan
pecahkan kacanya dan pastikan hatimu telah siap
ia telah menunggu di sana
Pengakuan dari seorang
profesor yang jago di bidang farmakokinetik ini tentu menjadi satu hal yang
unik. Apa yang dia katakan di awal itu merupakan satu titik yang membuat para
mahasiswa di hadapannya merasakan kedekatan. Merasakan kesamaan. Ketakutan yang
sama. Dan dengan cerdas, wanita itu memulai dari sana.
Selanjutnya ia bercerita
tentang sistem pendidikan farmasi di Indonesia. Tentang wacana akan dibuatnya
program spesialisasi apoteker dan internship
sebelum meraih gelar apoteker, serupa sistem untuk para calon dokter.
“Kenapa kita ingin disamakan dengan dokter? Kenapa kita harus ikut dengan
sistem mereka?” ujarnya
dengan nada tinggi.
“Kalian semua, saat berada di rumah sakit atau di manapun, saat ada orang
yang salah sangka dan mengira kalian dokter, kalian jangan bangga! Kalian harus
bangga dengan identitas kalian sendiri. Sebagai apoteker!” ucapnya dengan berapi-api.
“Itulah susahnya kita... kita selalu ingin bisa menyamai atau bahkan
mengalahkan posisi dokter. Padahal kita tahu setiap profesi itu punya tanggung
jawabnya masing-masing. Tidak perlu dipersaingkan. Tidak perlu dicari siapa
yang lebih hebat.”,
ucapnya. “Jika kita terus melakukan itu,
wajar jika kita terus menerus minder dengan profesi kita. Kenapa kita tidak
membuat puncak yang lain lalu mencoba mencapainya?” ia melemparkan pertanyaan
retoris. Entah dia tahu atau tidak bahwa sebagian mahasiswa yang ia hadapi
tengah tersengat semangatnya oleh kata-katanya tadi.
Mengapa kita tidak membuat puncak yang lain?
Pertanyaan itu menggema di
kepala saya. Cerdas sekali. Saya rasa, saya mulai menemukan benang merah,
sebab-akibat, mengapa wanita ini bisa begitu baja untuk memimpin sebuah
fakultas yang awalnya ‘hanya’ sebuah jurusan. Mengapa ia begitu terkenal dengan
keunggulan akademiknya di usia muda, di awal-awal sepak terjangnya sebagai
mahasiswa, lalu survive menuntut ilmu hingga Negeri Perancis sambil mengandung,
melahirkan, dan merawat bayinya di sana. Mengapa ia sehebat itu?
dan senja memintamu untuk berhenti
menikmati sejenak keseimbangan hari-hari
perihal teduh yang telah kau lupa
hanya karena menunggu lautan reda dari gemuruhnya
Sepertinya, sebab ia
memiliki pemikiran yang brilian tadi; ia
selalu membuat puncaknya sendiri. Ya, love-hate
relationship (jika saya bisa menyebutnya begitu) antara dokter dan apoteker
mungkin sudah menjadi rahasia umum. Jika ditanya tentang siapa yang lebih tahu
tentang obat, maka jawaban mungkin akan terpecah. Bisa saja ada oknum tertentu
yang mengklaim profesinya lebih berhak dalam penentuan obat ataupun dalam
pengubahannya (karena beberapa alasan atau pertimbangan), pun dalam penentuan
rasionalitasnya dalam sebuah terapi. Satu pihak dianggap arogan oleh pihak yang
lain. Sementara ada pula yang memandang bahwa pihak seberang yang seolah
menutup diri dan enggan untuk terus berkembang. Teori dikalahkan oleh bukti
empiris. Penetian di jurnal-jurnal ilmiah bisa terbantahkan atas nama jam
terbang. Semua itu sudah sering terjadi. Dan perang dingin ini entah kapan
berhenti. Saya menuliskan hal ini bukan bermaksud ingin menyulut api atau
menabuh genderang perang antara kedua kubu ini. Terus terang, saya tidak peduli
dengan itu. Masalah siapa yang lebih berkompeten, bagi saya tidak penting. Yang
terpenting bagi saya, tetaplah siapa yang menurut Nabi merupakan orang paling
baik di muka bumi; yang paling bermanfaat.
Apalah gunanya klaim kehebatan jika nyatanya tidak bisa memberi manfaat
apa-apa.
Hal yang sedang ingin saya
bahas adalah betapa seringnya kita membandingkan antara dua atau beberapa hal
yang pada dasarnya punya standar yang berbeda. Seperti yang biasa tertera di
kata-kata bijak; seekor ikan akan terus
dianggap bodoh hanya karena ia tidak tahu caranya memanjat pohon. Membandingkan
kesuksesan antara satu orang dengan jalan hidup, orientasi, dan prinsip yang
berbeda dengan orang lain, menurut saya adalah satu bentuk ketidakadilan.
Betapa banyak orang misalnya, yang menganggap anak-anaknya baru disebut sukses
jika ia lulus untuk berkuliah di bidang kesehatan, misalnya, padahal jiwanya
ada pada kelas-kelas seni. Kan ndak
nyambung toh...
Membandingkan antara
kesuksesan seorang penulis dengan seorang engineer
dengan seorang perawat, misalnya, tentu akan berbeda. Bahkan membandingkan
antara karya seorang penyair dengan seseorang yang ahli dalam karya tulis
ilmiah tentu pun tak sama. Jelas. Sebab mereka sedang menggapai puncak yang
berbeda.
Perbedaan tujuan dan hasil
ini juga harusnya menginsyafi kita bahwa akan ada selalu jenis ilmu yang kita
tidak ahli di dalamnya. Kita bukan ulama terdahulu yang menguasai tafsir,
sastra, astronomi, dan farmasi dalam waktu bersamaan. Kini, setidaknya
seseorang bisa menjadi pakar untuk satu bidang keilmuan saja. Mungkin ada yang
bisa beberapa, tapi tak banyak yang seperti itu. Maka, bahkan seorang profesor
di satu bidang, sebenarnya adalah awam di bidang yang lainnya. Nah, masih
adakah ruang untuk kesombongan?
Dan sepertinya, ini sama
juga dengan masalah jodoh. Kata orang, kecantikan atau kegantengan seseorang
itu relatif. Ya, sangat subjektif. Kebaikan pun seperti itu. Apalagi jika kita
bicara perihal kenyamanan. Standarnya akan sangat beragam dan berbeda antara
satu sama lain. Sama-sama baik saja tidak cukup, belum tentu cocok. Sama-sama
menyukai beberapa hal saja, belum tentu akan bertahan untuk hidup bersama
seumur hidup. Maka jangan paksakan. Jangan paksakan untuk menyukai seseorang,
betapapun orang lain banyak yang menyukainya. Mungkin, ini perkara kecocokan
jiwa. Jiwa yang sefrekuensi akan saling menemukan, tidak harus dalam perjumpaan
yang sering. Jiwa-jiwa itu akan selaras dengan sendirinya; jika keduanya memang
sedang menggapai puncak yang sama.
lepaskan, lepaskan, lepaskan pandangmu
jika debur ombak di lautan sudah teramat keras
mungkin memang saatnya kau memandang sekeliling
dan menemukan matahari atau hujan
untuk kau nikmati
Ruang tamu, 25 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung. Jika kamu berkenan meninggalkan jejak di kolom komentar, lebih baik lagi :)