Selasa, 26 November 2013

Perempuan Itu Menangis Lagi

Perempuan itu menangis lagi. Ini untuk kesekian kalinya sejak sekitar delapan bulan yang lalu saat ia selesai menerima selembar ijazah dan sekali lagi menjadi peserta di gelaran wisuda. Perempuan itu menangis lagi di hadapannya. Sungguh, ia lebih rela ada ratusan orang lain yang menangis dan curhat kepadanya, lalu ia akan menasihatkan kata-kata bijak dan beberapa ayat atau hadits dan membuat orang-orang itu kembali tersenyum. Itu lebih baik daripada menghadapi perempuan yang kini berlinang air mata itu. Mulutnya terkunci. Matanya ia kerjap-kerjapkan untuk menghindari lapisan bening itu jatuh menjadi bulir-bulir. Perempuan itu berkata tentang masa depannya, harusnya ia bekerja sesuai profesinya, atau melanjutkan kuliah yang masih bisa perempuan itu biayai, bukan mengeram di rumah seperti sekarang. Papar perempuan itu, sesunggukan. 

Aku telah jadi penghalangmu, Nak...”, ujar perempuan itu. Ia harusnya tahu, anaknya sungguh merasa nyaman berada di rumah. Telah lama ia ingin menebus bertahun-tahun masa kuliah yang membuatnya hanya menjadi anak kost di rumahnya sendiri. Hanya pulang untuk singgah beristirahat dan mandi, lalu pergi lagi. Hanya bisa menatap sekilas pada wajah-wajah anggota keluarga kemudian kembali terbang pada rutinitas yang tiada habisnya. Telah lama ia ingin sebenar-benarnya pulang. Dan masa selepas studi panjang non stop hingga menambah dua gelar di belakang namanya itu, ingin ia bayar tunai, lalu Allah menunjukkannya cara seperti sekarang. 

Jangan sedih begitu. Aku baik-baik saja, Bu...” ucapnya sambil menyisir rambut perempuan yang baru saja selesai ia mandikan itu. Perempuan itu masih sibuk menghapus air matanya sambil berbicara tentang opname di rumah sakit atau tentang panti jompo. Ia juga sering berpikir untuk pulang ke kampungnya saja, berkumpul dengan sanak saudaranya yang lain. 

"Jangan bicara begitu, Bu..." lagi-lagi hanya itu yang bisa ia ucapkan sebagai tanggapan.

Perempuan itu seharusnya tahu, bahwa anaknya tidak lagi peduli atas komentar siapapun. Ia belajar untuk menyadari bahwa tidak semua perkataan harus didengarkan, bahkan tidak semua pertanyaan harus di jawab. Mengetahui fakta tentang sesuatu tidak membuat orang lain akan memahami. Dan tidak seorang pun berhak untuk menilai kehidupan orang lain. Ia sudah cukup piawai untuk hanya menjawab dengan senyuman atas setiap pertanyaan tentang peluang yang tidak ia ambil atau tentang kesempatan yang tidak ia hiraukan. Ia belajar bahwa salah satu cara menjalani hidup dengan tenang adalah dengan menerima segalanya. 

Di masa-masa sibuk dulu, kau selalu berdoa semoga Allah memberikanmu kemudahan. Doa itu dijawabNya sekarang. Allah bahkan memberikanmu pekerjaan bergaji surga. Surga yang paling tengah...” ujarnya kepada bayangan di cermin saat ia terkadang merasa sesak menatap tembok dan tembok dan tembok. 

Tapi jika keadaannya memungkinkan, mungkin kau butuh sekali-kali pergi melihat sesuatu yang luas. Laut, misalnya. Pergilah ke tempat itu kalau sempat, agar kau lebih segar. Wajahmu yang berseri mungkin akan membuat perempuan itu tidak menangis lagi”, jawab bayangan di cermin itu kepadanya. 

Perempuan itu seharusnya tahu, bahwa anaknya seperti apa yang selalu menjadi jawaban setiap ia menangis dan bertanya. Anaknya, baik-baik saja. 

Makassar, 27 November 2013

Senin, 25 November 2013

Nyinyir

"Sepertinya jadi orang nyinyir itu gampang, ya?", tanya saya suatu waktu pada adik saya. 
"Kamu baru tahu?", jawab adik saya dengan pertanyaan yang tidak perlu saya jawab. 

Nyinyir. Sebuah kata yang secara pribadi saya definisikan sebagai sebuah sikap dimana seseorang menanggapi sesuatu dengan nada negatif dan dengan cara yang negatif, tanpa ada solusi. Biasanya, dengan aroma-aroma membenarkan diri, pun dengan meletakkan dirinya secara langsung ataupun tidak sebagai orang yang paling benar, yang lainnya salah. 

Setiap manusia harus bisa bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat. Anjuran ini bukan tanpa tujuan, namun memang memiliki banyak manfaat. Diantara manfaat itu adalah sebab dengan bergaul, kita bisa belajar banyak hal dari tingkah laku manusia. Manusia sebagai makhluk sempurna, nyatanya memang perlu menyempurnakan dirinya dengan mengusahakan banyak hal, tanpa itu, maka manusia tidak lebih dari makhluk hidup yang dicipta seplanet dengan tumbuhan dan hewan, tanpa ada keistimewaan sama sekali. Dalam proses sosialisasi itu, kita akan mendapati bahwa begitu banyak karakter pada diri setiap individu. Karakter nyinyir ini salah satunya. 

Orang-orang nyinyir ini biasanya senang mengomentari sesuatu, diminta atau tidak diminta. Saat berkomentar itulah, ia akan mengeluarkan kenyinyirannya, sesuai dengan kadarnya masing-masing. Mengapa menjadi nyinyir saya sebut sebagai sesuatu yang mudah? Ya, sebab melakukannya memang cukup dengan: mengatakan semua hal yang ingin kamu katakan. Ya, semudah itu saja!

Kata-kata dalam bentuk ucapan adalah gambaran diri seseorang. Orang yang berpenampilan menarik, rapi, necis, wangi, cantik atau ganteng, bisa saja menjadi terjun bebas citranya jika ia tidak bisa menjaga bacot-nya dengan baik. Sembarangan berkata-kata tanpa mempertimbangkan lawan bicaranya, dan tanpa mempertimbangkan kapasitas dirinya, akan membuat seseorang menjadi kelihatan ke-nyinyir-annya. Kita harusnya paham, tidak mungkin perkataan menjadi sesuatu yang penting untuk kita jaga, jika ia bukan sesuatu yang kelak akan kita pertanggungjawabkan; di dunia dan akhirat. 

Orang-orang nyinyir ini akan nampak seperti orang yang mengira mati-ya-mati-aja, artinya ia tidak memperhitungkan pertanggungjawaban akhirat atas apa yang ia katakan. Ia tidak peduli perasaan orang lain ataupun dampak dari perkataannya yang buruk. Bahkan, perkataan yang baik pun berkemungkinan berdampak buruk jika dituturkan dengan cara nyinyir, apalagi yang memang sudah buruk dari sananya. Orang-orang seperti ini hadir dalam berbagai varian, bukan hanya yang dari sono-nya memang terlihat (maaf) brengsek, tapi bisa saja justru adalah kaum terdidik dengan titel berderet di belakang nama, bahkan ada juga yang penampakannya seperti orang yang religius dan sarat dengan ilmu agama. Semua itu bukanlah sebuah jaminan seseorang tidak jatuh dalam jurang kenyinyiran. 

Salah satu ciri lain dari orang nyinyir adalah, hanya mampu berkomentar, tanpa bisa bekerja, bahkan mengerjakan sesuatu yang bisa ia komentari tersebut. Artinya, ia berbicara tanpa menakar kapasitas dirinya, ia merasa tidak perlu ekspert di bidang yang ia komentari untuk menjadi pantas  berkomentar. Jangankan bisa memberikan solusi dan mengerjakan yang lebih baik dari orang yang ia komentari, memahami komentarnya sendiri saja belum tentu ia mampu. Maka wajar saja jika senjata orang nyinyir adalah perkataannya saja, sebab memang hanya itu yang ia bisa. Saya sarankan bagi yang merasa nyinyir, silakan segera asuransikan mulut Anda!

Sepertinya pepatah itu masih berkalu hingga kini, mungkin hingga seterusnya; tong kosong nyaring bunyinya. Sebaliknya, air yang tenang biasanya menghanyutkan. Kadang, jusru dari orang-orang yang tidak banyak bicaralah karya-karya bisa tercipta. Mereka, lebih senang berbuat sesuatu dalam keheningan. 

Makassar, 26 November 2013

Minggu, 03 November 2013

Tiga November

“Kenapa yah, aku bisa sayang padamu? Padahal, di saat aku bermain-main di pinggir jurang dan meminta pendapatmu tentang itu, kau bukannya menyelamatkanku, tapi malah mendorongku hingga aku terjatuh dan merasakan sakit. Hingga tersadarkan, betapa aku telah bersalah. Tapi nyatanya, kau selalu tetap berada di sana. Berdiri di bibir jurang, menungguku yang terseok-seok untuk bangkit kembali. Kau menungguku di sana, sambil melangitkan doa-doa. Mungkin karena itu, saat sesak ini bertambah-tambah, justru namamu yang kucari paling pertama.”

Kita harus setuju, bahwa hidup ini sederhana. Kita saja membuatnya terlalu kompleks. Hingga pada akhirnya kita tersadar, hanya mampu menilai segala sesuatu dari sisi luarnya saja. Apa yang tersimpan dalam hati orang lain, tidak akan pernah sanggup untuk kita benar-benar pahami. Dan bahwa ada terlalu banyak hal yang bisa dengan mudah untuk disembunyi.

Setiap senyuman tidak selalu berarti bahagia. Ia bisa saja menjadi benteng terakhir untuk menghalangi semua semburat duka. Tetapi tidak semua manusia bisa menyadarinya. Perlu pengetahuan yang menyeluruh tentang rangkaian perjalanan dan semua liku-liku yang telah dihadapi. Perlu kesabaran hati dan pikiran untuk menenangkan diri, dan tidak terlampau cepat menarik kesimpulan. Sayangnya, tidak semua orang punya waktu untuk itu. Sehingga setiap senyum akhirnya dimaknai sebagai bahagia dari hati, atau persetujuan atas keadaan yang ada. Lalu, itu digunakan sebagai bahan untuk menilai banyak hal.

Tapi apa peduli kita?

Seberapa penting kita memikirkan pendapat manusia selama itu hanya menunjuk pada pribadi kita saja?

Padahal pada akhirnya, hanya penilaian Allah saja yang akan paling berpengaruh untuk kita, di akhirat kelak, pun di dunia kini. Kedudukan kita, nyatanya hanya bergantung pada keimanan pada Allah. Tidak menjadi kurang karena dicela manusia, dan pujian pun tidak bisa menjadi sebab meningkatnya kemuliaan. Keimanan berimplikasi pada kedudukan di hadapan Allah, maka hanya Dia pula yang dapat valid dalam menilainya.

Begitu banyak hal yang terjadi, rangkaian peristiwa yang kita lalui, yang sungguh picik jika kita anggap begitu saja sebagai sebuah kebetulan. Sungguh tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Setiap perjumpaan menyimpan perhitungan yang konkret, kombinasi antara ketepatan waktu, keterarahan perasaan, kesesuaian kondisi, dan berbagai variabel penyusun lain yang menyebabkan sesuatu bisa terjadi. Ia, terancang bukan oleh semesta yang luas ini, bukan pula oleh konspirasi siapa-siapa atau apa-apa. Namun, semata-mata karena memang telah ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Kita bisa saja memiliki keinginan. Kita, bahkan telah dicekoki dengan anjuran untuk memiliki impian yang setinggi-tingginya. Kita, tentu harus mengikhtiarkannya. Sebab mimpi tanpa usaha tidak lebih dari bunga-bunga tidur yang tidak ada artinya. Kita harus meluruskan cara-cara yang kita pilih sebagai jalan terbaik untuk meraih apa yang kita inginkan. Namun, apakah setiap impian yang baik, yang juga pun telah diusahakan dengan baik, akan pasti memeroleh hasil yang baik? Tidak. Semuanya kembali lagi kepada kehendak Allah. Lalu, apakah dengan demikian segala usaha kita akan berarti sia-sia? Tidak juga. Sebab apa yang kita raih, memang tidak selalu dari apa yang kita usahakan. Layaknya Siti Hajar yang berlari-lari dari Shafa ke Marwa untuk mendapatkan air, ikhtiarnya berlari itu tidak mendatangkan hasil, air yang ia cari tak jua muncul pada lintasan tempat ia berlari. Namun, Allah memberikan karunianya justru dari hentakan kaki-kaki kecil bayi Ismail yang dari tanahnya muncul mata air. Maka kita berusaha, lalu tunggulah keajaiban atas kehendakNya. Kita tidak akan mati, sebelum menikmati semua jatah rezeki.

Maka atas apa yang Allah beri, sudah seharusnya kita ridha. Apa yang Allah beri adalah yang terbaik menurut ilmuNya, meski mungkin tidak menurut pendapat kita. Lalu apakah ridha atas takdirnya adalah akhir dari segalanya? Bukan. Ridha atas takdir justru adalah awal untuk sebuah ikhtiar yang baru. Saat kita kembali lagi memulai menjalani apa yang telah digariskanNya, dengan sebaik-baik cara.

Tidak ada yang salah dengan segala masalah dalam hidup. Seperti sedang mengikuti sebuah ujian, soal yang diberikan tidak pernah salah. Yang membuat runyam adalah jika jawaban kita yang tidak benar. Maka dalam hidup, yang salah bukanlah persoalan yang diujikan Allah kepada kita. Namun, yang harus kita perbaiki adalah cara kita dalam menyikapi persoalan tersebut. Ada dua kemungkinan di sana, kita dapat menghadapinya dengan cara yang benar. Atau justru dengan cara yang salah. Dan, keduanya adalah kemungkinan, yang kita menentukan pilihan atasnya.

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jka Dia mendatangkan kebaikan padamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas hambaNya. Dan Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al An’am:17-18)

Jika kita memang hidup hanya mencari ridha Allah, maka setiap celaan hanyalah sebuah evaluasi, betapa masih lebih banyak aib kita yang Allah tutupi. Lalu setiap pujian justru harus membuat kita semakin sadar diri, betapa besar prasangka baik orang lain kepada kita, dan betapa keliru kita jika menyalahgunakannya.  Jika memang hidup kita hanya untuk mencari ridhaNya, kita tidak akan peduli pada harta, jabatan, kedudukan, pandangan manusia, yang semuanya tiada guna untuk kehidupan akhirat kelak. Kembalilah kepada Allah. Allah itu dekat, hanya saja kita yang sering menjauh.  Kembalilah kepada Allah, dan serahkan setiap urusan hanya kepadaNya saja.

Yaa hayyu yaa qayyum, bi rahmatika astaghitsu, ashlihlii sya’ni kullahu wa la takilnii ila nafsi thar fata ‘ain ~  Wahai yang Maha Hidup, Yang Maha Terjaga, hanya kepada rahmatmu aku memohon keselamatan, perbaikilah seluruh urusanku, janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri, walau hanya sekejap mata.

“Sakinah itu bukan pada suami. Bukan pada istri. Bukan pada keluarga. Sakinah itu ada dalam hati, yang selalu dekat kepada Allah. Seperti saat Abu Bakar membersamai Rasulullah di dalam gua, lalu mereka yakin, Allah selalu bersamanya. Sakinah itu sesederhana hilangnya haus, setelah meneguk air nan sejuk."

Makassar, 3 November 2013 / 29 Dzulhijjah 1434 H  
.: A note to my self:..

Kamis, 31 Oktober 2013

Romi dan Yuli: Aku di Sini, Kau di Seberang

*tulisan ini telah diikutsertakan dalam lomba review film antidiskriminasi Denny JA dan Hanung Bramantyo*


Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah ia walau jalannya terjal berliku. Ketika cinta memelukmu, maka dekapilah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu. “Romi dan Yuli” pertama kali dipertemukan lewat puisi Kahlil Gibran tersebut. Dalam sebuah kesempatan pergelaran seni di halaman kampus mereka, Juleha, gadis cantik berjilbab asli Betawi itu membacakan puisi Kahlil Girbran. Bagian akhir puisi yang ia lupa liriknya ternyata disempurnakan oleh Rokhmat. Sejak saat itu, keduanya selalu bersama, berjumpa dimana saja, dan saling berbincang tentang apa saja. Awalnya, segalanya berjalan dengan begitu lancar. Hingga akhirnya kedua keluarga mereka saling bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan. Namun, apakah cerita ini sesederhana itu? Nyatanya tidak.

Juleha adalah seorang anak dari kyai pimpinan sebuah pondok pesantren dengan jama’ah yang begitu loyal. Sedangkan Rokhmat sebenarnya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang menjalani hari-harinya secara biasa pula. Sesekali ia berdiskusi tentang banyak hal dengan kawan-kawannya. Dari diskusi itu, terlihat betapa Rokhmat adalah sosok yang begitu menjunjung tinggi toleransi, termasuk antarumat beragama. Keduanya memadu kasih tanpa ada halangan yang berarti. Hingga kemudian hari itu tiba, 6 Februari 2011. Hari dimana televisi menyiarkan kabar tentang sebuah peristiwa di Cikeusik, kampung halaman Rakhmat. Tayangan itu tentang Jama’ah Ahmadiyah yang diserang oleh sekelompok massa yang menolak keberadaan mereka. Fakta itu membuat Rokhmat secara tidak sengaja menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Jati diri yang disembunyikannya, atau dianggapnya tidak begitu penting untuk disampaikan kepada kekasihnya. Rokhmat, ternyata adalah seorang ahmadi.

Kenyataan itu membuat keduanya pecah kongsi. Juleha tidak bisa menerima Rokhmat begitu saja. Tentu ini berkaitan erat dengan kedudukan ayahnya yang dikalangan jama’ah terkenal begitu menentang paham Ahmadiyah. Dalam pemahaman sang ayah, Ahmadiyah adalah golongan sesat yang keluar dari Islam. Akidahnya menyimpang.  Sebuah harga mati yang tidak bisa lagi ditawar. Maka membiarkan putrinya menikah dengan seorang ahmadi, tentu tidak masuk di akal.

Rokhmat menentang keras penolakan tersebut. Baginya, tidak ada yang salah dengan apa yang selama ini ia jalankan sebagai seorang Ahmadi, ia juga shalat, puasa, zakat, mengaji Al Qur’an, dan mengakui Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai nabi terakhir. Baginya, tiada beda antara ia dan Juleha. Nah, jika memang Rokhmat benar, maka logika pendeknya; Rokhmat sebenarnya bukanlah Ahmadi. Atau kemungkinan lainnya, Rokhmat tidak termasuk Ahmadi tulen. Ia ‘masuk’ dalam golongan itu hanya karena tumbuh dan besar dalam lingkungan Ahmadiyah saja.

Film ini menayangkan berita tentang aksi vandalis yang terjadi dimana-mana berkaitan dengan kontroversi Ahmadiyah. Pembantaian. Pengrusakan. Bahkan pembakaran masjid milik jama’ah Ahmadiyah menjadi seolah dibenarkan oleh oknum yang sedang berupaya menjaga kesucian agamanya. Sayangnya, bahkan meski mereka tengah meneriakkan takbir kebenaran, namun tidak semua pihak melihatnya sebagai sebuah keindahan. Berbagai respon pun bermunculan. Bukan hanya dari pengikut Ahmadiyah, termasuk ayah Rokhmat yang kini mempertanyakan keislaman dari orang-orang yang membantai mereka. Tapi juga dari Juleha, seorang gadis yang sedang dimabuk cinta dengan pemuda yang ternyata berseberangan dengan dia. Dengan keluarganya.

Juleha kemudian berusaha mengunjungi berbagai perpustakaan, membaca sebanyak mungkin buku, menemui para ustadz, demi menemukan kebenaran –atau mungkin pula hanya untuk sekadar mencari pembenaran? Dari penelusurannya itu, nyatanya Juleha semakin menemukan bahwa ia tidak bisa menutup mata pada sejarah dan fakta tentang Ahmadiyah. Namun di lain pihak, ia juga meyakini bahwa segalanya tidak bisa dipaksakan. Termasuk masalah keyakinan.

Film garapan Hanung Bramantyo ini menampilkan dengan nyata bagaimana kegundahan seorang Juleha yang diperankan dengan apik oleh Zaskia Adya Mecca dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Sebuah kegalauan yang sebenarnya tidak perlu dialami oleh seorang putri kyai yang seharusnya memahami betul prinsip-prinsip mendasar tentang agamanya, kecuali tentu jika masalah cinta dan perasaan turut berperan dalam hal ini. Tiap malam, Juleha bermunajat agar diberikan jalan keluar. Sementara Ben Kasyafani yang memerankan tokoh Rokhmat pun tidak usai bersujud untuk menemukan solusi atas cintanya. Pembacaan narasi sepanjang film oleh Agus Kuncoro begitu mendukung suasana gundah nan galau yang dirasakan oleh pasangan ini.

Hingga akhirnya pada sebuah kesempatan, Juleha terus berdoa sejak sepertiga malam terakhir hingga subuh tiba. Paginya, ibunya mendapati Juleha tertidur di atas sajadah. Bukan tidur biasa. Ini berkaitan dengan penyakit yang ia derita. Penyakit yang tidak bisa diterima oleh lelaki lain, selain pujaan hatinya, Rokhmat. Setelah itu, Juleha tidak pernah benar-benar sadar. Lewat bibirnya yang pucat ia hanya terus-terusan mengigau agar ayahnya bersedia merestui mereka. Maka gundalah kedua orang tua gadis ini.  Apakah sang kyai akan berubah pikiran demi menuruti keinginan anaknya? Mampukah ia meneladani kisah Nabi Ibrahim yang yang lebih memilih perintah Tuhan, ketimbang menolak menyembelih sang putra tercinta Ismail dalam ritus kurban? Ataukah kisah ini akan menjadi sepedih Romi dan Yuli yang sebenarnya?

Film yang terinspirasi dari esai puisi karya Denny J.A ini mengangkat sebuah tema kontroversial seputar keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Issu ini cukup menyita perhatian publik dan mendapatkan banyak tanggapan dari berbagai pihak. Baik pihak yang benar-benar memahami pokok permasalahannya, maupun yang sebenarnya tidak benar-benar paham dan hanya memandang perkara ini dari satu sisi saja.

Ahmadiyah sendiri adalah sebuah gerakan yang dipimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1900 M. Di depan pengikutinya, lelaki yang lahir di India pada 1839 ini mengaku sebagai nabi, sebelum awalnya menganggap dirinya sebagai mujaddid (pembaharu). Pemahaman ini bermula dari gerakan orientalis bawah tanah oleh Sayyid Ahmad Khan yang membuka jalan munculnya Ahmadiyah. Beberapa poin keyakinan yang menyimpang bahkan hingga menyerempet akidah, membuat jama’ah ini oleh Rabithah Alam Islami di Mekkah pada April 1974 dihukumi telah kufur, keluar dari Islam. Kelompok ini didukung oleh pemerintah Inggris pada masa itu, sebab mereka meyakini wajibnya ketaatan pada Ingrris yang kala itu melakukan penjajahan. Paham ini menyebar ke berbagai negara di dunia hingga saat ini, termasuk di Indonesia.

Kelompok ini telah eksis di Indonesia sejak 1928. Pada tahun 2005, berdasarkan Musyawarah Nasional VII, MUI mengeluarkan fatwa sesat pada Jama’ah Ahmadiyah. Penganutnya tidak diakui sebagai bagian dari kaum muslimin. Mereka yang mengaku muslim, harus mengulang syahadat sekali lagi. Masalahnya, meski tetap pada keyakinan mereka, para pengikut Ahmadiyah juga ogah disebut bukan bagian dari Islam. Hal inilah yang menjadi pokok masalah sebenarnya, Ahmadiyah dianggap melecehkan ajaran Islam yang murni. Sikap keukeuh dari Ahmadiyah ini, ditambah lambannya respon pemerintah untuk melakukan penertiban dengan cara-cara yang elegan, akhirnya memicu keresahan di tengah masyarakat. Mereka, bukannya tidak menerima adanya kepercayaan lain. Namun, mereka terusik pada ajaran agama Islam yang disimpangkan oleh sekelompok orang yang tetap ingin disebut muslim. Ini masalah akidah. Dan dalam hal tersebut, segalanya menjadi hitam putih.

Sayangnya, film ini tidak menjawab tuntas mengapa tidak ada titik temu antara pengakuan dari Rokhmat tentang sosok Ahmadiyah yang ia yakini atau (mungkin) yang sebatas ia jalani, dengan apa yang dipaparkan oleh para ustadz dan ayah Juleha. Penjelasan ini menjadi penting karena hal inilah yang akan membuat penonton menjadi dapat memilih sikap apa yang terbaik dalam menanggapi permasalahan tersebut. Diperlukan objektivitas dalam menampilkan fakta-fakta yang menunjang latar belakang film ini. Namun film ini justru  melulu menghadirkan gambaran kekerasan dan pembantaian yang tidak menampilkan penjelasan lebih mendalam perihal apa duduk permasalahan yang sebenarnya, yakni masalah penistaan agama. Dan, seharusnya tidak hanya terus menerus meletakkan pihak Ahmadiyah seolah-olah sebagai ‘korban’ belaka, sehingga jangan sampai justru yang sedang didiskriminasi sebenarnya adalah pihak yang berseberangan dengan Ahmadiyah –yang notabene tengah dinistakan agamanya. Terlebih lagi dengan penyebutan fatwa MUI sebagai ‘sumber kekerasan’, yang nampaknya justru kurang menunjukkan toleransi yang seharusnya diusung. Meski tentu tanpa melupakan fakta, bahwa atas alasan apapun, segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan di negeri nan damai ini. Sebab sebenarnya, selalu ada cara-cara yang hikmah jika kita tidak bersikap terburu-buru untuk membereskan sebuah persoalan. Kesalahan dalam bersikap hanya membuat sebuah kebenaran lebih mudah untuk dijungkirbalikkan.

Ada yang menarik dari film yang ditayangkan dengan alur flashback ini. Pada menit ke 10:42, Agus Kuncoro menyampaikan sebuah narasi yang menarik saat ditampilkan acara lamaran Rokhmat dan Juleha. Diiringi backsound yang selalu mendukung suasana yang dibangun dalam tiap menit pada film ini, narator berucap; “Semua sepakat, tanpa bicara agama.”. Pemilihan kata ‘agama’ dan bukan ‘pemahaman’, ‘kelompok’, atau ‘keyakinan’, dalam narasi ini justru menunujukkan bahwa perbedaan antara Rokhmat dan Juleha memang bukan ‘hanya’ perihal ketiga hal di tersebut, tapi justru perbedaan dalam hal (pokok) keagamaan. Tentu ini bukanlah perbedaan yang disifatkan sebagai rahmat. Bahkan statement bahwa ‘Perbedaan adalah rahmat’ pun nyatanya harus ditinjau ulang jika ingin dijadikan dasar dalam keyakinan, sebab posisinya adalah sebagai sebuah hadits yang tidak jelas sanad (jalur periwayatan) dan matan (isi hadits)-nya. Bahkan, ia bertentangan dengan salah satu ayat Al Qur’an: “Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang dirahmati Rabbmu.” (QS. Hud: 118-119).

Film berdurasi 41 menit ini akhirnya menggambarkan kepada kita betapa pentingnya pemahaman akan sebuah persoalan. Terlebih dalam hal memeluk sebuah keyakinan, termasuk dalam menyikapi perbedaan yang akan selalu kita temui dalam masyarakat yang majemuk. Sebab, saat segala sesuatu tidak didasari atas ilmu, maka kita tidak akan melihat apa-apa, kecuali kegelapan. Kita berkemungkinan tidak bisa menciptakan apa-apa, selain perpecahan. 

Selasa, 01 Oktober 2013

Pindah

Hidup adalah menempati. Jiwa kita menempati raga kita. Raga kita menempati apa yang kita sebut rumah. Kita kadang menempati hidup orang lain. Kita menempati orang yang kita sayangi. Orang yang kita sayangi menempati kita. Kita menempati ruang. Kita menempati waktu. Kita berada di tiap tempat kemana langkah kita tertuju.

Kita dan apa yang kita tempati, normalnya harus bertumbuh dan membesar bersama. Saat demikian, kita akan selalu merasa nyaman dengan tempat kita berada. Kita akan selalu merasa semuanya berjalan lancar dan lapang-lapang saja. Namun, nyatanya hidup tidak semudah itu. Terkadang, salah satu dari yang menempati dan ditempati tidak berjalan beriringan. Saat salah satu bertumbuh, yang lain bisa saja tetap di tempatnya, tetap pada keadaan semula, atau bahkan justru mengalami kemunduran.

Pada saat itu terjadi, sangat wajar jika kenyamanan itu turut menghilang. Seperti seseorang yang mengenakan kemeja yang kekecilan. Jika tetap memaksakan untuk menggunakannya, maka kemungkinan besar keduanya akan saling menyakiti. Sangat mungkin sekali.

Jika keadaannya sudah demikian, sementara kenyamanan itu ingin tetap dipertahankan, maka sudah barang tentu ada yang harus mengalah. Yang bertumbuh sedemikian pesat, bisa saja menunggu untuk tidak terus membesar. Demi tetap dapat menempati ruang sebelumnya itu. Atau yang tetap stagnan pada kondisinya, sebisa mungkin harus bisa mengejar, agar ia menjadi tempat yang tetap dapat digunakan untuk menampung. Tapi, jika kedua kemungkinan ini tidak bisa diusahakan, atau tidak mungkin lagi untuk diupayakan, maka masih ada kemungkinan lain yang bisa ditempuh.

Mungkin ini tidak mudah. Namun, demi menjaga diri satu sama lain; agar tidak perlu untuk saling membuat sakit, maka bisa jadi ini adalah pilihan yang paling tepat; pindah. Ya, pindah. Pindah untuk mencari tempat yang baru yang lebih lapang dan lebih nyaman untuk ditinggali. Pindah dan merelakan perpisahan agar tidak perlu lagi ada yang saling menyakiti. Pindah, dengan segala kenangan yang ada dan dengan semua kemungkinan rindu yang bisa datang kapan saja. Pindah, mungkin sambil terus berusaha melupakan ruang sebelumnya. Sambil tetap berjalan, dan melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa perlu takut untuk kembali megap-megap karena perasaan tidak muat.

Saat semuanya menjadi menyesakkan, sementara keadaan tidak bisa lagi untuk dilapangkan, maka pindahlah saja. Pindahlah, semua akan baik-baik saja.  

Makassar, 1 Oktober 2013

Banyak orang yang menyenangkan untuk didengarkan, tapi tidak semua dari mereka cukup baik untuk menjadi pendengar.

Senin, 30 September 2013

Wake Up!

Hari terus berganti. Matahari tenggelam lagi, lalu rembulan pun terbit. Mereka semua menjalankan perannya masing-masing sesuai ketentuan Tuhan. Tiada yang mengelak sedikitpun. Tiada yang menunggu sedetik pun. Tiada pula yang peduli apakah hari ini ada bahagia, ataupun tengah kita lewati dengan nestapa.

Rasanya, ingin sekali barang satu kali saja, tidak perlu peduli pada tanggapan siapa-siapa. Ingin saja menangis sekeras-kerasnya. Atau meluapkan amarah sebebas-bebasnya. Berteriak sekencang-kencangnya, tanpa ada yang perlu mendengarkannya. Tanpa ada yang perlu dikhawatirkan akan terkaget karenanya.

Tapi, nyatanya tidak bisa begitu. Tidak boleh begitu.

Sebab tidak perlu semua orang tau, semua hal yang bergelayut dalam pikiranmu. Tidak usah semua orang mengerti seberat apapun hidup yang tengah kau lalui. Tidak penting semua orang menyadari seberapa pelik pilihan yang sedang kau hadapi. Semuanya akan tetap baik-baik saja. Hari terus berganti. Matahari tenggelam lagi, lalu rembulan pun terbit. Dengan atau tanpa senyummu.

Tapi bukankah semua hal akan dipergilirkan? Seperti pagi dan malam. Seperti langkah kanan dan kiri yang bisa membuat kita berjalan. Seperti roda yang berputar, ke atas dan ke bawah. Maka segala liku dan haru, suatu waktu akan berubah menjadi bahagia, mungkin pula, jatuh cinta. Senja akan tetap menjelang, jingga akan muncul temaram. Seolah menghapuskan tiap bulir air mata. Seolah berjanji bahwa setelah hujan nanti, akan selalu ada kemungkinan munculnya lengkung pelangi. Bahwa setelah kesempatan hari ini, akan ada kesempatan dan kesempatan lagi.

Semua akan baik-baik saja. Seperti hari-hari kemarin yang berlalu seolah mimpi. Seperti tiap doa-doa rahasia yang dilangitkan tanpa pernah diketahui oleh sang pemilik nama. Seperti harapan-harapan masa depan yang tetap akan ada, dan membuat kita tersenyum, bahkan yang paling pahit sekalipun. Yang akan membuat kita tersenyum, saat bangun pagi, pada diri kita sendiri.

Semua akan baik-baik saja, yakinilah. Sebab pada kelam sekelamnya gelap, kaulah cahaya itu. Kaulah penerang itu. September telah berakhir, bolehkah aku membangunkanmu?

Makassar, 30 September 2013 

Jumat, 27 September 2013

sederhana?

Sebab setiap sungai akan kembali pulang kepada laut

Ingatkah kita waktu masih berumur beberapa bulan? Saat itu, satu-satunya 'sumber kehidupan' kita adalah apa yang kita dapatkan dari ibu. Sesuatu yang tidak perlu dibeli, namun ternyata begitu mahal harganya. Sederhana sekali kita waktu itu. Begitu pasrah pada apa saja yang diberikan oleh orang tua kita. Tubuh kita sedemikian mungil, dan telah puas dengan pakaian-pakaian yang kecil pula. Tapi, semuanya berubah, seiring dengan berjalannya waktu. 


Semakin kita tumbuh besar, semakian banyak hal yang kita butuhkan. Terlebih lagi yang kita inginkan. Kita sudah menjadi pemakan segala. Kita menginginkan lidah ini mengecap berbagai macam rasa. Berbagai macam hal kita lakukan untuk bisa mewujudkannya. Kita tidak lagi merasa cukup dengan pakaian yang sederhana. Kita mulai pintar untuk memilih berbagai macam warna dan model yang rupa-rupa. 

Kita mulai merasa terlalu besar untuk rumah kita. Kita menjadi selalu ingin melangkah dengan langkah-langkah yang panjang. Tapak-tapak kaki kecil yang sudah lelah hanya dengan mengitari dapur itu, kini sudah tidak lagi demikian. Kita kemana-mana. Menyusuri laut. Mengarungi langit. Berlari. Tidak lagi merasa cukup dengan sesuatu yang berjalan lambat, yang berputar lambat. Kita ingin segalanya dilakukan dengan serba cepat. Serba instant. 

Kita menjadi jauh dari sederhana. Surat yang ditulis dengan tinta pulpen, yang bisa kita rasakan wangi kertasnya, yang menempuh waktu berhari-hari untuk tiba di alamat tujuan, tidak lagi menjadi cocok dengan kita. Buku-buku konvensional yang lembarannya dapat sobek dan lusuh, yang dapat kita baca hingga tertidur, atau dapat kita peluk, tidak lagi menjadi istimewa. Ada berbagai macam perangkat canggih yang bisa menggantikannya. Kita tidak perlu lagi merasai rindu yang buncah untuk bertemu. Kita tidak perlu menunggu hari berlalu untuk berjumpa dan bertukar kata. Kita dapat mengetahui kabar dari orang-orang yang jauh, hanya lewat menggerakkan ujung-ujung jari saja. 

Kita menjadi begitu banyak keinginan. Kita menginginkan banyak hal, bahkan meski tidak pernah benar-benar kita butuhkan. Kita tidak lagi merasa cukup (bahkan mungkin bosan?) hanya dengan memandang wajah ibu,ayah, dan saudara-saudara kita. Kita ingin, bahkan bermimpi bertemu dengan banyak orang lainnya. Kita tidak lagi bisa merasakan bahagia, hanya dengan memandang langit, merasai angin yang berhembus perlahan, menikmati senja, atau mendengarkan bunyi hujan dari beranda rumah. Kita ingin melakukan banyak hal, merasai banyak hal, memiliki pengalaman tentang banyak hal, bahkan yang sama sekali tidak kita mengerti untuk apa. Kita bahkan menjadi sedih, kesulitan, gamang, dan gundah karena keinginan-keinginan tidak tercapai, yang kita buat-buat sendiri itu. Kita begitu senang menginginkan sesuatu meski itu diluar kendali kita. 

Kita ingin terus lebih dan lebih. Lebih dari orang lain. Lebih dari siapapun. Bahkan lebih dari diri kita sendiri, diri kita yang sebenarnya. Kita menjelajah kemana-mana, lalu lupa pulang ke tempat dimana kita sebenarnya berada; hati kita sendiri. 

Kita terlalu banyak mengetahui hal-hal yang sama sekali tidak perlu kita tahu. Kita terlalu banyak bertanya, untuk sebuah jawaban yang tidak akan pernah mengubah apapun. 

Mungkin itu semua sama sekali tidak salah. Tapi, perlahan tapi pasti, kita tidak lagi menjadi sederhana. That's it. 

Makassar, 27 September 2013

Kamis, 26 September 2013

Baim Tidak Pergi Sekolah

"Baim, kenapa tidak pergi sekolah?", bocah kecil itu hanya bergelayut tidak jelas saat ditanyai demikian. Jam dinding belum menunjukkan waktu seorang siswa taman kanak-kanak pulang sekolah. Tapi Baim sudah nampak berkeliaran di sekitar rumahnya. 


"Saya tidak punya baju olahraga", ucapnya, dengan bahasa cadelnya, tentu. "Kalau tidak pakai baju olahraga, tidak bisa ikut jalan berbaris sama teman-teman..", lanjutnya dengan bibir monyong. 

Ibunya meraih Baim ke pangkuannya. Lalu mengusap kepala bocah itu. Pagi itu, Ibu Baim sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangga mereka. Menawarkan sebuah baju untuk dijual. 

"Belum ada uang untuk belikan baju olahraga, Bu...", ujar Ibu Baim sambil tersenyum kecut pada ibu pemilik rumah itu. 

Besoknya, saya kembali melihat Baim berkeliaran di jam seharusnya ia sekolah. Nampaknya, hari itu masih jadwal menggunakan baju olahraga. Baim belum punya. Maka ia kembali tidak datang ke taman kanak-kanaknya. 

Melihat kejadian itu, Ibu pemilik rumah tempat hari sebelumnya Ibu Baim menjual baju, memanggil Ibu Baim kembali ke rumahnya. Niat awalnya untuk membayarkan uang baju yang kemarin ia beli dari Ibu Baim. Rupanya, si Baim juga kembali ikut dengan Ibunya. Ia bergelayut dan berlari-lari lincah seperti biasanya. 

"Baim tidak sekolah lagi?", tanya ibu itu

Baim kembali menggeleng. Ia kembali menyebutkan alasan yang sama. Belum punya baju olah raga. 

Oleh ibu pemilik rumah itu, Baim lalu diberi sejumlah uang. Langsung diberi pada bocah itu, tidak kepada ibunya. Si Baim yang biasanya bila diberi uang jajan maka akan begitu lincah menyambarnya, kali ini nampak berbeda. Pelan-pelan ia julurkan tangannya untuk menerima uang itu. 

Dipegangnya uang itu dengan kedua belah tangannya dan dengan mata yang terbelalak. 

"Waaah.... Banyaknyaaa...", ujarnya dengan suara cempreng. Ia kegirangan.

"Buat beli baju olahraga ya...", ibu itu tersenyum padanya.

Baim berlari-lari dengan gembira. Ia begitu takjub bahkan hingga bersorak-sorakm "Saya diberi uang lima juta!!!". Ya, jika melihat uang banyak, Baim akan menyangka bahwa jumlah uang itu lima juta. Padahal uang untuk beli baju olahraga itu cuma tujuh puluh ribu, Baim...

***

Selalu ada rasa hangat di hati ketika kita tuntas membuat orang lain berbahagia. Mungkin, yang kita lakukan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan diri kita sendiri. Bukankah membantu orang lain kadang justru membuat kita kurang secara materi? Lelah, habisnya waktu, kurangnya harta, terlepasnya berbagai kesempatan, adalah hal-hal yang sangat mungkin terjadi saat kita memutuskan untuk membantu orang lain. Tapi, saat bantuan itu dapat membawa kegembiraan pada seseorang -bahkan sesederhana apapun itu, maka sadarlah kita bahwa sejatinya, yang merasakan bahagia paling pertama bukanlah orang yang dibantu, tapi justru hati dari yang membantu. 

Semakin berjalannya hari, berlalunya masa, dan bertambahnya umur, akan semakin menyadarkan kita bahwa; hidup bukan tentang diri kita sendiri. Pada suatu titik, berbagai kemungkinan dan pilihan bisa saja terjadi. Pada saat itu, terkadang kita tidak boleh hanya memikirkan kepentingan pribadi. Sebab satu manusia, selalu terkoneksi dengan manusia lainnya. Apakah ini menyulitkan? Tidak juga. 

Sebab jika hidup memang bukan tentang diri kita sendiri, maka kebahagiaan orang lain pun bukan tentang mereka sendiri, namun bisa jadi juga turut kita rasakan. Kebahagiaan Baim bisa ikut berolahraga dan 'jalan-baris' dengan kawan-kawannya 'hanya' karena diberi uang tujuh puluh ribu, ternyata dapat pula dirasakan oleh ibu tetangga yang membantunya tersebut. Dan kebahagiaan semacam ini, sama sekali tidak ternilai dengan berapa rupiah pun. 

Apalagi yang kita inginkan saat keberadaan kita disyukuri? Bahkan meski secara kasat mata beberapa orang memandangnya bukanlah sebagai sebuah kebanggaan, namun siapa yang peduli? Pada akhirnya, bahagia bukan hanya perihal keadaan. Bahagia adalah keputusan. Kita dapat meraihnya dengan berbagai macam cara, dan kebanyakan dari itu bukan hanya terkait dengan perihal materi belaka. 

Besok-besok, saya berharap akan kembali menyaksikan dari jendela kamar saya, pemandangan saat Baim membawa tas ransel yang lebih besar dari punggungnya, kali ini dalam seragam olah raga taman kanak-kanak. 

"Baim!" seru saya dari balik jendela

"Kakak!!!", Baim akan balik menyapa sambil mendongak dan melambaikan tangan. Ia lalu berlari dan meloncat pada boncengan motor ibunya. Dan itu, bahagia. 

Makassar, 26 September 2013