Minggu, 09 Februari 2014

Ahad yang Tidak Biasa

Seharusnya hari ini adalah Ahad yang biasa saja, menjelang waktu Ashar, saya berada di atas angkutan kota dalam perjalanan pulang menuju rumah. Tapi, anggapan saya itu akan berubah beberapa menit kemudian. Hal itu berawal saat saya turun dari angkot dan berjalan menuju pangkalan bentor (becak-motor). Karena pangkalan bentor itu ada di belokan setelah lampu merah, otomatis saat turun dari angkot saya harus berjalan kaki dulu menujunya. Saat dalam proses berjalan ke pangkalan bentor itulah, sebuah suara membuat saya menoleh. Di samping saya sudah nangkring sebuah bentor dengan pengendaranya yang mencoba mengajak saya bicara. (percapakan dalam tulisan ini sudah saya translate dari Makassar-style ke bahasa nasional, hehe..)

Mau lanjut naik angkot, Dek?” tanya pengendara bentor itu (selanjutnya kita sebut saja dia Pak Bentor). Saya menggeleng sambil terus melanjutkan langkah. Ia pun terus melaju di samping saya dengan kecepatan rendah. 

Mau naik angkot lagi, Dek?”, ia mengulang pertanyaannya. 

Tidak. Saya mau naik bentor..”, ujar saya sambil menunjuk ke arah pangkalan bentor yang masih di depan sana. 

Naik bentor saya saja..”, ujarnya sambil tersenyum. Untuk ukuran pengendara bentor, wajah Pak Bentor itu cukup terlihat-tidak-begitu-gelap. Wajah orang baik-baik, meski tampangnya asing. Tentu ia bukan pengendara bentor yang bisanya nongkrong di pangkalan di depan sana.

Saya menyebutkan alamat daerah rumah saya. “Ke sana berapa ongkosnya berapa, Pak?”, tanya saya. Tapi ia menggeleng sambil tersenyum dan meminta saya untuk langsung saja naik ke bentornya. Saya lalu menyebutkan nominal yang biasanya saya bayarkan jika naik bentor menuju rumah. Dia mengangguk sambil terus tersenyum, seolah masalah ongkos tidak begitu ia pusingkan.
Karena waktu itu saya membawa bawaan yang cukup berat, maka langsung naik ke bentor itu rasanya cukup masuk akal dibanding harus melanjutkan berjalan kaki menuju pangkalan bentor di depan. Maka naiklah saya. Sebuah keputusan yang belakang akan membuat hari Ahad ini akan berubah menjadi ‘tidak lagi biasa’. 

Perjalanan pun dimulai. Awalnya, Pak Bentor ini melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Karena ada sedikit kecurigaan di awal, saya yang biasanya bersandar ria jika naik bentor, mulai mengubah posisi duduk dengan ‘mode-siaga’. Kecurigaan saya terbukti saat perjalanan sudah separuh dan Pak Bentor itu mulai menanyakan hal yang aneh. 

“Rumahnya di jalan ini atau jalan itu?”, ia menyebutkan dua nama jalan yang memang saya lewati saat menuju pulang. Tapi, tentu bukan di sana saya mau pergi. Saya menggeleng, lalu menyebutkan alamat saya dengan lantang –alamat yang sudah saya sebutkan di awal sebelum naik ke bentor itu.  Bentor pun terus melaju. 

Tidak beberapa lama kemudian, Pak Bentor ini kembali menanyakan lagi alamat saya. Perasaan saya bertambah tidak enak. Apalagi kali ini ia bertanya dengan nada yang sarat dengan keluhan. 

Masih jauh, ya? Masih berapa kilo lagi?”, tanyanya. Saya tidak menjawab, pertanyaan tadi sudah dua kali saya jawab, bukan? Lagipula, saat mengiyakan tadi, seharusnya ia sudah tau alamat yang akan saya tuju. Saya pun semakin menyiagakan posisi dan menggenggam erat tas dan bawaan saya. Untungnya waktu itu jalanan sedang ramai. Saya harus memastikan bahwa kendaraan ini tidak dibelokkan ke arah yang salah. Tapi, bentor  terus melaju. Namun, dengan kecepatan yang semakin rendah. 

Wah..saya tidak bisa terus ke sana..”, suara Pak Bentor tadi kembali terdengar. Padahal, rumah saya masih cukup jauh, apalagi jika harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. “Saya tidak bisa ke sana, saya sudah bunuh orang dengan parang di sana!”, lanjut Pak Bentor  tadi, nada dan volumenya mulai meninggi. 

Deg!

Saya beristighfar.

Perkataan Pak Bentor tadi bisa saja dusta, tapi jelas saja bahwa gelagat Pak Bentor ini mulai berbahaya. Dia pun mulai meminggirkan bentornya dan berhenti di salah satu sudut jalan. Saya beruntung karena perjalanan ke rumah saya melewati jalanan yang cukup besar dan ramai. Tidak ada belokan yang benar-benar sepi dan mencurigakan. Bentor ini pun akhirnya berhenti di tepi jalan yang masih banyak dilalui oleh orang-orang. 

Saya turun dari bentor dengan bersungut-sungut. 

Di sini jarang ada bentor lain yang lewat, bagaimana saya bisa lanjut ke rumah saya?!”, ujar saya sambil turun dari bentor.  Saya bayar segini saja! Saya masih harus bayar bentor lain untuk lanjut ke rumah!”, saya menyebutkan nominal senilai dua per tiga dari ongkos normal jika saya diantar sampai ke rumah. 

Tidak bisa!”, Pak Bentor tadi menggertak. Ia bahkan menyebutkan angka dua kali lipat dari uang yang saya sodorkan.

Lho? Bagaimana caranya! Saya kan tidak diantar sampai rumah! Kenapa saya harus bayar lebih mahal!”, ujar saya. Saya kini sudah berdiri di depan Pak Bentor yang masih dalam posisi di atas bagian kendara bentornya. Saat itu, saya mendapati wajahnya yang tidak lagi ‘secerah’ saat beberapa menit lalu menawarkan saya untuk naik ke kendaraannya. Matanya nampak melotot dan sedikit memerah. Pengakuan bahwa dia sudah membunuh orang dengan parang juga turut membuat sosok Pak Bentor ini menjadi horor luar biasa. 

Jangan bikin pikiran saya kacau! Cepat bayar!”, ujarnya dengan nada yang tinggi. Dan mengerikan. Iya, mengerikan.  

Saya lalu menambahkan uang yang sudah saya sodorkan padanya. Dua kali lipat dari nilai yang sebelumnya ingin saya bayarkan. 

Tambah lagi!” ia makin melotot. Kali ini menyuruh saya merogoh kocek tiga kali lipat. Alis saya berkerut, perasaan saya tambah tidak enak. Apalagi saat ia kemudian kelihatan bertambah murka dan dan malah meminta uang dengan  jumlah tujuh kali lipat. Iya, TUJUH KALI LIPAT. 

Baiklah.

Baiklah.

Baiklah, ini perampokan, Saudara-Saudara! Sekali lagi saya masih beruntung karena kejadian ini terjadi di tepi jalan yang masih cukup ramai dan terang benderang. Menyadari diri saya semakin tersudutkan dalam bahaya, saya memilih untuk tidak meladeni makhluk mengerikan di hadapan saya, saraf simpatis saya terpacu dan menyebabkan respon ‘fight-or-flight’. Saya, lebih memilih pilihan kedua: langkah seribu!

Sambil membawa tas yang buesar dan kantongan yang berat, saya segera ngacir ke arah tempat tambal ban yang nampak lebih ramai, tidak begitu jauh dari tempat kejadian sebelumnya terjadi. 

Saya segera berbaur ke tengah-tengah orang-orang di tempat tambal ban itu –mungkin dengan wajah yang sedikit pucat, untuk mengamankan diri. Saya segera berpikir cepat dan mencari kendaraan lain yang bisa ditumpangi untuk segera sampai ke rumah. Lebih penting lagi, untuk segera pergi sejauh-jauhnya dari Pak Bentor yang sungguh tidak budiman tadi. 

Alhamdulillah, saya sampai di rumah dengan selamat sentausa. Tidak kurang satu apapun kecuali dompet yang semakin hampa. Saya segera duduk, memperbaiki perasaan, dan minum segelas air. Tidak apa-apa, semuanya masih baik-baik saja. 

Pesan moral: 

-          Selalu pastikan akad yang jelas sebelum melakukan transaksi apapun. Jangan tertipu dengan orang-orang yang menggampang-gampangkan hal ini. Bahkan meski ia sudah mengiyakan, jika ada kecurigaan yang mampir, lebih baik untuk menghindarinya dan tidak melanjutkan berurusan dengan orang macam itu.  

-          Bahkan meski keadaan masih aman dan terkendali, tidak ada keanehan, dan semua berlangsung seperti biasa, jangan lepaskan dzikir dari hati. Dengan berdzikir, in syaa Allah kita akan lebih tenang dan awas. Bagaimanapun, akan lebih baik jika menghadapi ‘kondisi yang tidak menguntungkan’ dalam keadaan sadar dan tidak dibawah intervensi apapun yang bisa menyebabkan kita tidak sadarkan diri. Waspada, modus hipnotis dan semacamnya ada di mana-mana. Dalam kondisi tidak sadar, tentu lebih besar kemungkinan kita akan mengalami kerugian yang bahkan bisa lebih buruk daripada hilangnya harta. Naudzubillah.

-          Saat hal macam ini terjadi, cobalah untuk jeda sejenak selepas kekagetan itu muncul. Muhasabah diri, mungkin ada bagian dari harta kita yang masih perlu dibersihkan. Jadi, bersedekahlah dengan ikhlas, membersihkan harta dengan ibadah tentu akan lebih menenangkan dibandingkan ‘dibersihkan’ dengan paksa. *note2myself-to-the-MAX*

-          Terimalah apapun yang telah terjadi. Kita mungkin ditakdirkan untuk mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan, agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain agar lebih waspada dan tidak perlu mengalami hal yang sama. Berbagilah. Karena itu, saya menuliskan ini.

-          Di luar rumah kita, ada begitu banyak manusia baik dan bermanfaat bagi sesama. Tapi ingat pula, ada-ada saja orang yang tidak mampu berpikir dan bertindak dengan benar sehingga ia memutuskan untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Tetaplah positif, kita tidak perlu menambah populasi orang-orang yang merugikan seperti itu.
Hanya Allah Sebaik-baik Pelindung. Silakan share tulisan ini, agar kita semua bisa lebih waspada. Jika orang-orang seperti Pak Bentor tadi tidak lagi bisa mendapatkan ‘korban’ karena kewaspadaan kita, semoga itu bisa menjadi sebab ia bertaubat dan tidak lagi melakukan hal yang sama. Kita doakan saja, ya. Aamiin..

Makassar, 9 Februari 2014
Menulis itu, melegakan..

Selasa, 14 Januari 2014

Yang Melebihi Kasih Ibunda

Tidak mungkin, ya Rasulullah!”, kira-kira demikian jawaban para shahabat atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka.

Saat itu, mereka baru saja menyaksikan sebuah kejadian yang haru. Baru saja seorang ibu menemukan anaknya yang hilang beberapa waktu. Anak itu masih dalam usia disusui. Kehilangan permata hati tentu membuat sang ibu sedemikian kalut dan cemas. Tidak heran, jika saat ia menemukan anaknya, ia langsung mendekapnya erat. Segera dipeluk dengan hangat dan disusui dengan penuh cinta. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyia-nyiakan momentum itu untuk kembali memberi kita pelajaran nan indah. Beliau lalu bertanya pada para shahabat yang membersamainya,

“Bagaimana menurut kalian,” , Sang Nabi memulai pertanyaannya,  Apakah ibu itu tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?

Maka tentu sama halnya dengan apa yang kita pikirkan, serta merta para shahabat yang ditanya pun menjawab dengan spontan. “Selama ia masih bisa mempertahankan anaknya, tidak mungkin ibu itu akan melemparkan anak yang baru ia temukan ke dalam kobaran api! Tidak mungkin!”.

Ya, sungguh jawaban yang jelas dan terang benderang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menanyakan hal itu tentu bukan sebab beliau menyangka para shahabat tidak mampu menjawab secara benar. Namun sebelum kita menyibak untaian hikmah dari kejadian itu, mari kita membawa ingatan dan pikiran kita kepada satu sosok, wanita yang paling pertama kita rasakan kasihnya; Ibu.

Ibu. Sosok manusia biasa yang mungkin bagi kita begitu sederhana. Di kala dewasa, kita bisa saja begitu sibuk tumbuh dan berkembang dengan segala mimpi yang kita punya. Semoga kesibukan itu tidak membuat kita lupa, bahwa wanita yang sangat kita cintai itu pun terus menua.

Namun, bagaimana pun kondisi ibu kita sekarang, tentu masa lalu tidak akan pernah berubah. Ada masa dimana wanita itu menanggalkan semua sifat manusiawinya. Bukankah tiada yang melebihi kesakitan saat seorang perempuan melahirkan anak? Lalu siapa pula manusia di dunia ini yang rela bersakit-sakit dan berpayah-payah menanggung derita? Ya, dialah Ibu. Yang dengan curahan tangis, peluh, dan darahnya, rela merasakan derita hanya untuk menjadi jalan hadirnya kita di dunia. Bahkan saat tangis kita pecah, ia dalam segala nyeri yang ia rasa, justru malah tersenyum dan mendekap kita dalam pelukannya.

Dan waktu pun terus berjalan, kita tiada henti menyusahkannya. Tidak cukup dengan kerepotan yang kita timbulkan atasnya saat kita dikandung, kita kembali membuatnya susah saat harus disapih dan disusui. Diperhatikan di kala terjaga, bahkan saat telah terlelap. Seolah tidak boleh seekor nyamuk pun yang hinggap di kulit kita. Ditenangkan dengan berbagai cara saat kita rewel, bahkan ibu rela sakit demi kita, rela begadang, rela melakukan apa saja demi anaknya.

Demikian pula dengan ayah. Lelaki itulah yang mencurahkan segenap kekuatannya demi kepingan rejeki yang hanya untuk kita, anak-anaknya. Ayah menahan lapar meski ada uang di kantong dan ada warung di hadapan, hanya agar bisa menikmati santapan rumah bersama-sama. Ayah bekerja dan melindungi kita di waktu yang bersamaan. Ayah rela tidak tidur, bahkan meski esoknya harus kembali bekerja, hanya untuk menemani kita yang sedang sakit semalaman. Ayah membela kita, dan memberikan kita rasa aman siang dan malam.

Betapa besar kasih sayang keduanya kepada kita. Bahkan sejak kita belum dilahirkan, hingga kita telah dewasa, tak putus-putus doa-doa mereka untuk keselamatan kita, bahkan meski tanpa kita pinta. Dan saat kita tersalah, mereka mungkin akan sejenak marah dan kecewa. Namun mereka memaafkan kita, bahkan sebelum kita meminta maaf. Bahkan, meski kita lalai dan tidak merasa bersalah atasnya.  

Maka mari kita kembali pada kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat di atas. Lalu bersama kita temukan bahwa ternyata, ada yang melebihi kasih sayang keduanya.

Saat mendengar jawaban para shahabat perihal ibu yang baru saja menemukan anaknya itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah lebih sayang kepada hambaNya, dibandingkan kasih sayang ibu kepada anaknya tersebut!

Ya. Allah-lah itu Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ar Rahman, Ar Rahim yang kasih sayangnya melebihi kasih ibunda.

Maka kasih sayang itu memang tidak selalu berarti pembebasan kepada kita untuk melakukan apa saja. Pernahkah kita melihat seorang anak kecil yang bermain-main dengan pisau dapur? Ia belum mengerti bahwa pisau itu berbahaya untuknya. Maka saat ayah atau ibunya mendapatinya, tentu keduanya akan segera mengambil pisau itu darinya. Anak kecil itu mungkin akan menangis meraung-raung karena tidak terima. Ia akan memelas dan meminta agar ‘mainan’-nya itu dikembalikan padanya. Apakah perbuatan orang tuanya itu salah? Apakah itu pertanda bahwa anak itu tidak disayangi? Tentu saja tidak. Justru sebab rasa sayang itulah, harus ada larangan yang bertujuan untuk menjaga kesalamatan sang anak. Harus ada aturan, yang berfungsi agar si anak tetap aman dan terhindar dari keburukan.

Maka demikian pula dengan perintah dan larangan dari Allah. Allah Subhana Wata’ala telah menurunkan petunjuk kepada kita, bukan untuk membuat kita sulit. Bukan untuk mengekang kebebasan kita. Bukan untuk memenjarakan kita dalam tembok-tembok yang menyedihkan. Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, sepanjang masa.

Thaha.Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi sengsara” (QS. Thaha [20]: 1-2)

Sungguh. Allah menurunkan Al Qur’an sebagai wujud sayangNya kepada kita semua. Tak berbeda dengan petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernahkah kita merasa berat untuk mengerjakan sunnah? Adakah kita terkadang heran dengan larangan-larangan yang terpatri dalam hadits-hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam? Adakah Rasul adalah orang yang kejam yang bisa membuat kita menjadi berada dalam malapetaka? Atau menjadi kampungan dan tertinggal dari roda jaman? Sekali-kali tidak! Bahkan beliau telah disifatkan oleh Allah sebagai seorang yang amat besar kasih sayangnya.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah [9]:128)

Allah memerintahkan kepada kita berbuat kebaikan, Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdzikir mengingatNya. Allah, Rabb yang menciptakan kita yang paling tahu bahwa tidak mungkin ketenangan dan kebahagiaan akan hadir kecuali kita berdizikir kepadaNya. Dan hanya dengan amal shalih kita bisa memeroleh kehidupan yang baik. Allah memerintahkan kita shalat, puasa, zakat, menutup aurat, berakhlak baik, menjaga kesucian dan pergaulan, dan berbagai amalan lainnya, untuk membuat hidup kita menjadi selamat. Sebab hidup ini hanya sekali, hidup ini sungguh fana, dan begitu merugi kita jika menyia-nyiakan kesempatan yang ada di dalamnya.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d [13]: 28)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An Nahl [16]:97)

Seorang ayah tentu akan marah jika anak gadisnya keluyuran di malam hari. Seorang ibu tentu akan tidak senang melihat anak lelakinya merokok. Keduanya melarang anak-anak mereka dari hal-hal yang buruk, bukan untuk membuatnya terlihat kuno dan kolot. Namun sebab mereka sangat menyayangi anaknya, dan tidak ingin melihatnya berada dalam kesalahan. Jika logika ini dapat kita terima, maka tentu kita pun bisa memahami, mengapa Allah melarang kita berbuat maksiat? Mengapa Allah menurunkan berbagai macam larangan yang sekilas nampak membuat hidup ini susah dan ribet untuk dijalani. Dengarkanlah, Allah paling tahu, bahwa perbuatan buruk hanya akan membuat hidup kita sempit, bahkan membawa hal-hal buruk itu hanya akan kita sesali di hari akhir nanti. Apakah kita menyangka bahwa kita akan hidup selamanya? Ataukah kita kita bahwa setelah kematian tidak akan ada pertanggung jawaban atas setiap perbuatan?

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)

Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang terburu-buru untuk membantah perintahNya. Semoga kita terhindar dari sifat sombong, menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, hanya sebab sedikit kedudukan dan gelar yang menyemat pada nama kita. Semoga kita termasuk dalam barisan orang-orang yang beruntung, yang memandang segala aturanNya sebagai sesuatu yang begitu indah. Sebab, kita sedang berhadapan dengan kasih sayangNya.
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Nur [24]:51)

A note to my self. Dituliskan berdasarkan ceramah singkat Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry. “Melebihi Cinta Ibu kepada Anaknya” di Yufid.TV

Makassar, 12 Rabiul Awwal 1435 H

Jumat, 10 Januari 2014

Sudahkah Kau Berjihad?


Banyak orang yang merasa sedang berada di dalam barisan jihad, padahal sebenarnya tidak. Mereka menganggap dirinya telah melakukan yang terbaik, namun sebenarnya mereka adalah orang yang sangat merugi.
Jihad. Sebuah kata yang menghadirkan kesan tersendiri saat ia diucapkan. Beberapa kalangan mungkin akan bergidik saat mendengarnya. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai hal yang biasa, bahkan merasa telah melakukannya setiap harinya. Nah, adakah kita benar-benar telah memahami maknanya?

Jika kita merujuk pada definisi, maka tentunya tidak lepas dari dua tinjauan. Aspek bahasa dan aspek istilah. Pada aspek yang pertama, kata jihad terdiri atas tiga huruf; jim, ha, dan dal. Kata ini menunjukkan masyaqqah atau kesulitan, kesukaran, dan hal-hal lain yang semisal dengannya. Di lain sisi, kata ini juga mengandung makna potensi dan kekuatan. Pada kesimpulannya, secara bahasa, kata jihad merujuk pada penggunaan kekuatan untuk mencapai tujuan dalam menghadapi kesulitan. 

Sedangkan dari aspek istilah atau syar’i, jihad bermakna memerangi orang-orang yang menghalangi Islam dengan menggunakan senjata. Pada tinjauan ini, jihad bermakna peperangan melawan orang-orang yang memerangi Islam. Tapi, apakah jihad selalu bermakna demikian saja? Mari kita simak salah satu firman Allah dalam al Qur’an;

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS. Al Furqan [25]: 52)

Jihad yang besar dalam ayat ini, justru digambarkan dengan jihad menggunakan al Qur’an. Ya, jihad pun menyimpan makna sebagai segala upaya untuk menegakkan dienullah dan mencari keridhaan Allah. Makna jihad ini dapat menjadi jalan dalam terwujudnya kemenangan dalam jihad dalam arti peperangan, sehingga jihad dengan al Qur’an tidak boleh disepelekan karena anggapan bahwa baru dikatakan berjihad jika telah menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Dakwah pun adalah jihad. 

Tidak membatasi jihad hanya dari makna perang bukan pula berarti memudah-mudahkan makna jihad. Sebab hari ini, tidak sedikit pula yang memahami jihad dengan cenderung menggampangkan diri menganggap dirinya telah berjihad. Tentu sulit disebut jihad jika bersedekah seribu rupiah sementara di dompet masih tersisa ratusan ribu banyaknya. Tentu aneh disebut jihad yang diberikan hanyalah sisa-sisa waktu dan tenaga belaka. 

Maka pertanyaannya, adakah kita telah berjihad? Untuk menjawab itu, mari kita muhasabah diri ini, apakah kita sudah memenuhi tiga komponen utama yang harus ada saat seseorang menyebut dirinya tengah berjihad. 

Pertama, kesungguhan. Kesungguhan berarti memberikan perhatian yang banyak pada sesuatu. Jika sesuatu yang ia perjuangkan itu telah menjadi bahan pemikirannya setiap saat dan setiap waktu, maka itu pertanda bahwa kesungguhan itu telah ada pada dirinya. Bagaimana mungkin disebut sungguh-sungguh jika tidak ada perhatian dan justru lebih banyak lupa? Astaghfirullah.. Kesungguhan juga berarti adanya persiapan. Banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan apa yang ingin ia capai hanya karena tidak melakukan persiapan di dalamnya. Sebaliknya, seseorang yang tidak benar-benar menginginkan sesuatu dengan sungguh-sungguh tentunya akan malas untuk mempersiapkan dirinya. Demikian Allah menggambarkan kondisi orang-orang munafik yang enggan untuk turut berangkat ke medan jihad. 

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (QS. At Taubah [9]: 46)

Hal lain yang berkaitan dengan masalah kesungguhan adalah kontinyu dalam melakukan sesuatu. Tidak hanya bersemangat di awal, lalu layu kemudian. Tidak hanya membara pada permulaan tapi justru melempem di akhir-akhir perjuangan. Bukankah Allah mencintai amalan yang sederhana namun selalu dijaga agar terus dikerjakan? 

Kedua, berjihad tentu mengandung pengorbanan. Tidak dapat disebut berkorban jika tetap merasakan yang nyaman-nyaman saja. Tentu akan terlewati pula masa-masa yang sulit, atau harus dipertaruhkan berbagai kepentingan lain, segala potensi yang ada, bahkan hingga hal-hal yang sebenarnya kita cintai. Bagaimana disebut jihad jika yang diberikan hanyalah yang sisa-sisa? Yang bahkan meski kita kehilangannya, kita tidak akan merasakan kerugian apa-apa? Bukan. Itu bukan pengorbanan. Bahkan, para shahabat yang mulia pun membenci perang. Fitrah mereka sebagai manusia biasa pun tidak senang dengan anyir darah dan beratnya perpisahan. Namun memang demikianlah jihad, ia adalah berkorban.  

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah [2]: 216) .

Yang terakhir adalah kesulitan. Kesulitan memang sangat dekat maknanya dengan kata jihad. Kesulitan untuk menghadapi segala hal, mulai dari perasaan yang tersakiti, hingga melayangnya nyawa. Kesulitan yang merupakan ujian yang juga turut menjadi saringan yang akan memisahkan antara mereka yang memang benar-benar ingin berjuang dan dengan mereka yang hanya bisa mengucapkan perjuangan itu sebatas di bibir saja.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran [3]: 143)

Penyebutan kata ‘sabar’ setelah kata ‘jihad’ dalam ayat ini memperjelas makna ‘kesulitan’ yang terdapat dalam jihad.

Tersebutlah cerita tentang sepasang suami istri yang menempuh perjalanan 700 km dengan menggunakan sepeda motor. Apakah yang hendak mereka tuju? Adakah harta yang dijanjikan di tempat tujuan itu? Ataukah mereka bisa memeroleh popularitas dengan perjalanan yang berat lagi sulit itu? Apakah waktu dan tenaga mereka akan terbayar jika telah sampai? Bahkan, mereka sempat harus mengalami kecelakaan di jalan, juga turut membantu orang yang mengalami kecelakaan pula. Sepeda motor itu digantungi dengan perbekalan yang bahkan disantap sambil kendaraan sedang melaju, sang istri menyuapi suaminya yang tetap menjalankan motornya, demi menghemat waktu. Ada pula pompa ban manual yang mereka siapkan sekiranya ban motornya kempis di jalan. Kehabisan bensin? Jangan ditanya, tentu hal itu kerap kali mereka alami dalam perjalanan panjang nan melelahkan itu. Lalu, apa sebenarnya yang mereka cari? 

Kesungguhan, pengorbanan, dan kesulitan telah terhimpun dalam cerita ini. Ya, mereka tengah berjihad. Mereka menuju tempat dimana mereka yakin akan menemukan tambahan ilmu, sekaligus melaporkan keadaan dakwah yang tengah mereka rintis. Tidak usah persoalkan tentang pengadaan dana yang seharusnya disiapkan untuk keberangkatan itu, sebab nyatanya, mereka telah berusaha mengumpulkannya, hingga akhirnya menyanggupi untuk menggunakan jalur yang dianggap paling hemat. Bahkan cerita ini pada awalnya tidak ingin mereka bagi pada siapapun. Sebab ya, jihad itu karena Allah, tidak perlu pula penilaiaan dari siapa-siapa yang hanya setingkat makhlukNya. Tapi Allah menakdirkan cerita ini sampai kepada kita, tentu bukanlah sesuatu yang sia-sia.

Sungguh, sudah sepatutnya kita berhenti sejenak dalam arus detik kehidupan kita. Sudah seberapa sering kita menganggap diri kita berkorban dalam jihad. Seberapa banyak kita telah merasa ikhlas dan menilai diri tengah berjuang. Tapi adakah itu semua telah terisi dengan kesungguhan, pengorbanan, dan kesulitan? Maka setelah kita memahami makna perjuangan, dan menemukan cerita nyata yang hari ini terjadi dan dilakukan oleh saudara-saudara kita, mari kita mematut diri di hadapan cermin. Menatap pada bayangan yang terpantul di sana, lalu tanyakan padanya; sudahkah kau berjihad? 

Oleh-oleh dari sebuah pagi di 4 Januari 2014
Makassar, 10 Januari 2013