Senin, 23 Maret 2020

Di Atas Sajadah

Di masa single dulu, frase 'mencari imam' sebagai gambaran keinginan untuk menikah sering dijadikan bahan cekikikan oleh sesama jomlowati. Meski pada kenyataannya, setelah menikah, menjadikan suami sebagai imam shalat, bukanlah sesuatu yang bisa selalu dilakukan. Ya, sebab idealnya, suami shalat di masjid, dan istri shalat di rumah. 
Tapi, di masa sekarang ini, ada yang berbeda. Saya yakin, di antara kita, banyak yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk bisa shalat fardhu lima kali sehari dengan diimami oleh sang suami. Ya, sebab di masa swakarantina seperti sekarang ini, para lelaki pecinta masjid, 'terpaksa' untuk shalat di rumah, dalam rangka menaati anjuran para ulama dan umara. 
Gimana rasanya buibu? 
Saya pribadi, terus terang merasa campur aduk. Masa ini tiba, masa di mana kita tidak lagi sebebas merpati untuk bisa keluar dari rumah kita sendiri. Sebagai seseorang yang tidak punya aktivitas rutin di luar rumah, pun tidak menjadikan jalan-jalan dan nongkrong cantik sebagai kebutuhan, bagaimanapun, kondisi ini tetap bukanlah yang saya inginkan. Bangun tidur dengan menatap jendela, bertanya-tanya apakah hari ini akan ada lagi korban yang akan bertambah di luar sana. Bertemu orang lain dengan menjaga jarak, khawatir jangan sampai ada virus yang ia bawa. Memikirkan betapa jerih payah para petugas kesehatan, dan adakah mereka akan tetap kuat hingga akhir perjuangan. 
Sebab nyatanya, corona tidak mengenal menteri atau para pekerja harian. Corona tidak mengenal artis, atau fansnya. Corona tidak mengenal dokter atau pasiennya. Corona, hanyalah makhluk dengan ukuran yang berkali lipat lebih kecil dari manusia, tapi ternyata Allah mampukan untuk mengguncang dunia. 
Berbagai macam himbauan telah disampaikan untuk penanggulangan keadaan ini. Setiap hari, kasus terus bertambah, tapi sayangnya, tidak dengan kesadaran kita. 
Hati saya bergidik saat mendengar kabar bahwa di berbagai tempat masih banyak orang yang dengan santai keluar rumah tanpa kepentingan. Ada yang menyepelekan keadaan dengan fakta bahwa daerahnya belum-zona-merah. Ada yang menganggap corona hanya ditakuti oleh mereka yang lemah iman dan hampa tawakkal. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Kami punya pilihan untuk tetap tinggal di rumah dan itu yang kami lakukan. Hingga lelah kita mengkritiki kebijakan pemerintah, atau menyumpah serapahi mereka yang masih bebal untuk tak mendengarkan arahan, nyatanya tidak membawa apa-apa. Pada akhirnya, upaya kita adalah tetap tinggal di rumah sembari terus berdoa di atas sajadah, semoga pendemi ini segera berlalu saja. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Khawatir jangan sampai keadaan akan sampai pada fase seleksi alam. Jangan sampai akhirnya tenaga medis harus memilih pasien mana yang harus mereka selamatkan. Entah kapan kita akan sadar bahwa angka pasien yang tumbang itu adalah tentang satu nyawa yang sangat berharga. Apakah karena mereka bukan orang yang kita kenal? Ataukah karena mereka bukan diri kita sendiri? Haruskah kita sampai di titik itu untuk kemudian tersadar? 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Ya, bahkan di dalam rumahpun, jika ajal telah ditakdirkan, maka kita akan mati juga. Tapi bukankah tawakkal adalah selepas mengikat tali kekang unta? Ada ikhtiar dahulu yang harus dilakukan. Anjurannya sejatinya sangat ringan. Tinggal di rumah, makan bergizi, istirahat yang cukup, rajin cuci tangan. Apa yang lebih mudah dari itu? Mungkin yang berat hanyalah menghalau rasa bosan. Yang berat hanya merasa cukup dengan apa yang bisa kita nikmati di dalam rumah. Rasa bosan yang bisa membuat masa swakarantina ini justru bakal lebih panjang jika kita masih menyepelekan segala anjuran itu. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Harapan saya, sesimpel saya ingin melihat kembali suami saya bisa bebas berjamaah di masjid. Sesimpel saya ingin kakak saya yang dirantau bisa mudik untuk bersama merayakan lebaran. Sesimpel saya ingin menikmati bulan puasa dengan normal, dengan kemeriahan jama'ah tarawih dan suara para penceramah di masjid-masjid yang ramai. Sesimpel saya ingin kembali bisa menghirup udara luar dengan tenang, bertemu orang lain dengan tenang, dan berjalan ke manapun dengan tenang. 
Corona mungkin memang ingin kita menyingkir sejenak dari keramaian. Berteman dengan diri kita sendiri. Terpekur di atas sajadah dan merenungi segala keterbatasan kita sebagai hamba. Corona mungkin ingin kita jeda sejenak dalam hening. Pada hal-hal yang kemarin selalu kita anggap penting. Kita menyaksikannya menumbangkan raksasa China, kecanggihan Italia, bahkan meneror adidaya Amerika. Tapi tak secuil pun hadir di Gaza, membuat kita sadar, sebab dari dulu saudara-saudara kita di sana telah diisolasi oleh dunia, saat kini kita diisolasi oleh virus yang begitu mungilnya. 

Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Dan saya berharap kamu minimal juga punya pikiran yang sama. Dan akhirnya kita semua memikirkan hal yang serupa. Kemudian masa-masa berat ini akan berlalu, biidznillah...

*teriring doa, semoga mereka yang tetap harus keluar rumah berjuang untuk keluarga, senantiasa dilindungi dan disehatkan oleh Allah...

Selasa, 17 Maret 2020

Bersama Hadapi Corona

BERSAMA HADAPI CORONA
Oleh: Diena Rifa’ah

Ada rasa tak enak di hati saya saat pertamakali mendengar kabar tentang virus corona. Waktu itu, beritanya baru tentang China, Wuhan, dan berbagai kengerian tentang para pasien yang begitu cepat melonjak angkanya. Kekhawatiran itu semakin jadi saat kemudian saya mendapati bahwa kita, warga +62 malah sibuk membuat lelucon tentang penyakit itu. Cadaan yang bukan hanya terlontar oleh masyarakat di akar rumput, tapi bahkan oleh para pejabatnya. Kadang, memang ada batas yang tipis antara bercanda dengan sesumbar. Seolah kita bakal sekuat itu sekiranya diuji dengan hal yang sama. Selalu, saya akan bersepakat bahwa lucu-lucuan tentang sebuah tragedi itu jahat. 

Hingga kemudian hari itu tiba. Hari di mana secara resmi presiden mengumumkan tentang dua kasus pertama infeksi Corona di Indonesia. Deg. Si virus, akhirnya sampai di tanah air. Bersama dengan itu, gelombang berita tentangnya bagai tak terbendung. Mulai dari berita tentang korban, juga berbagai rupa-rupa cara untuk menyembuhkan diri dari penyakit tersebut. Dan tentu, tidak semua dari itu merupakan fakta. Sayangnya, terkadang kecepatan jemari kita untuk membagikan berita, jauh lebih cepat daripada keinginan kita untuk mengonfirmasi kebenarannya. Bah. 

Kini, Indonesia berada dalam fase di mana kita dianjurkan untuk #dirumahaja. Sebuah himbauan yang sekiranya sangat sejalan dengan apa yang Islam tuntunkan dalam menghadapi wabah. Lagi-lagi sayangnya, anjuran itu tidak mampu benar-benar dipahami oleh segenap kita. Hasilnya, kebijakan untuk libur kemudian diartikan sebagai liburan. Tempat-tempat wisata diramaikan, sesuatu yang sungguh tidak sejalan dengan konsep sosial-distancing yang seharusnya sejalan dengan upaya swakarantina. Belum lagi dengan harga masker yang melonjak, handsanitizer yang jadi langka, bahkan beberapa kebutuhan pokok yang entah diborong oleh siapa. 

Padahal, sebenarnya kita diberi banyak waktu dan contoh dari negara-negara yang lebih dahulu menghadapi hal yang sama. Dari China yang kini bahkan bisa bernapas lega setelah badai Corona menghantam mereka. Tenaga medis yang menangani virus ini di Tirai Bambu bahkan kini kembali berupaya melakukan hal yang sama dengan terbang ke Itali, negara dengan pasien terinfeksi Corona yang cukup tinggi. Ada juga Singapura, Saudi, bahkan Vietnam-negara yang lebih kecil dari Indonesia, yang mampu menghadapi Corona dengan elegan. Contohnya sudah ada, tinggal kita mau ikut jalan yang mana. 

Saya deg-degan saat membayangkan bagaimana pemerintah kita menghadapi ini semua, plus bagaimana kita sebagai rakyat mampu melepas keras kepala dan rasa manja dengan bersama melakukan upaya agar wabah ini segera berlalu. Padahal kita hanya diminta #dirumahaja, hitung-hitung biar tahu bagaimana perasaan Ibu-Ibu Rumah Tangga yang sehari-harinya ya emang Cuma di rumah aja. Kita hanya diminta #workfromhome, sesuatu yang dilakoni para emak-emak olshop bahkan di suatuasi normal sekalipun. Dan makin kita disiplin dengan itu, insyaallah makin cepat pula kondisi ini akan berlalu. 

Guys, bentar lagi Ramadan loh. Kita tentu tak mau Ramadan jadi sepi sunyi karena kita dilarang berkumpul untuk jama'ah di Masjid kan? Banyak-banyak mengedukasi diri tentang wabah ini, biar kita bisa bertindak benar dan proporsional. Santuylah pada tempatnya. Tawakkal lah dengan setepat-tepatnya cara. Lincahlah tapi jangan lincah salah-salah. Kita bukan hanya butuh Pak Jokowi dan Menkes untuk menyudahi ini semua. Kita butuh kompak dan bersatu untuk kebaikan bersama. Mungkin, negeri ini sudah terlalu lama saling adu jotos karena berbagai perbedaan. Mungkin, kali ini Allah mau kita kembali bersatu untuk bersama menghadapi apa yang telah Dia takdirkan. 

Kalo kata Mbak Najwa Shihab, hari ini, soliter berarti solider. Ada para tenaga kesehatan yang pastinya ingiiin sekali bisa kumpul keluarga di situasi sulit kayak begini. Tapi mereka harus berada di garda terdepan untuk merawat para pasien. So, kita-kita yang tidak punya hajat yang penting-penting amat, sok atuh disyukuri saja kesempatan untuk tetap tinggal di rumah. 

Insyaallah badai akan berlalu. Kita tinggal pilih, mau jadi bagian yang ikut meredakan badai, atau tetap egois dengan pemikiran kita sendiri. 

Sehat-sehatki' semua!

Minggu, 19 Januari 2020

[Resensi] Rasulullah Pendidik Sukses

Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan memegang pengaruh yang sangat penting dalam kemajuan sebuah bangsa, bahkan kemajuan sebuah peradaban. Islam, sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh juga menempatkan posisi pendidikan dan ilmu pada tempat yang sangat penting dan mulia. Berbagai isyarat ditunjukkan mengenai hal ini, di antaranya bahwa ayat yang pertama kali turun adalah tentang perintah untuk membaca juga bagaimana seorang ulama ditempatkan pada posisi yang begitu terhormat dalam agama ini. 

Pendidikan dalam hal ini tentunya bukan hanya menyangkut pada aspek ilmu pengetahuan secara umum, namun tentunya disertai dengan pemahaman agama yang mumpuni sebagai aspek yang sangat menentukan dalam proses filterisasi ilmu yang diterima oleh seorang muslim. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai uswah dan qudwah terbaik tentunya juga menjadi sumber inspirasi utama dalam proses pendidikan itu sendiri. Bagaimana beliau shalalllahu alaihi wasallam sebagai seorang rasul juga tentunya merupakan sebaik-baik pendidik yang telah menghasilkan generasi terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Generasi para shahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in adalah contoh nyata dari keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. 

Berangkat dari perhatian yang besar tentang masalah ini, Prof.Dr. Fadhl Ilahi menulis sebuah buku dengan judul Rasulullah Pendidik Sukses (Meneladani Rasulullah dalam mencetak generasi sukses dunia). Buku ini akan mengupas secara tuntas tentang bagaimana teladan yang dicontohkan oleh pendidik terbaik sepanjang masa, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menjalankan proses pendidikan itu sendiri sehingga sukses mengantarkan para shahabat bukan hanya unggul dari sisi ilmu, namun juga menjadi pribadi-pribadi terbaik secara utuh. Akan dibahas empat puluh lima masalah yang diambil sebagai faidah dari sirah Nabi Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang guru dengan menjadikan al Qur’an dan hadits Nabi yang mulia sebagai referensi utama, di mana faidah dari ayat atau hadits yang dibahas diambil dari keterangan para ahli tafsir dan hadits. Kelebihan lain dari buku ini adalah, pembahasannya yang ringkas dan padat, namun di bagian-bagian tertentu juga mengisyaratkan faidah-faidah lain yang berkaitan dengan topik pembahasan yang sedang dipaparkan. Selain itu, juga terdapat keterangan tentang kata-kata asing yang digunakan, untuk menyempurnakan dari penjelasan-penjelasan faidah yang dibahas. Serta dicantumkan pula referensi dan sumber dari daftarnya sehingga mempermudah pembaca yang ingin melakukan penelusuran lebih lanjut.

Pada empat pembahasan pertama dalam buku ini, digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sangat memberikan perhatian pada masalah teknis yang berhubungan dengan penyampaian ilmu dan proses pendidikan itu sendiri. Hal ini terkadang menjadi sesuatu yang sederhana namun luput dari perhatian, dan seringkali dianggap tidak begitu penting. Diletakkannya pembahasan ini pada bagian awal juga merupakan satu isyarat bahwa terkadang permasalahan teknis yang terkesan sepele justru bisa jadi membawa pengaruh yang besar dalam proses pendidikan. Digambarkan bagaimana Rasululllah Shallallahu alaihi wasallam senantiasa memilih ta’lim-nya pada waktu yang sesuai. Pemilihan waktu ini tentu menjadi bervariasi tergantung dari kondisi yang beliau hadapi kala itu. Misalnya pemilihan waktu selepas shalat Isya, mendekati pertengahan malam, setelah bangun tidur di malam hari, dan setelah berlalu dua per tiga malam. Hal ini bisa menjadi referensi bagi seorang pendidik untuk memperhatikan masalah pemilihan waktu ini sehingga mampu mendapatkan hasil yang efektif dan efisien dalam proses mentrasnfer ilmu. 

Selain pemilihan waktu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga memilih tempat yang tepat dalam melakukan proses pendidikan. Masjid, rumah untuk mengajar kaum wanita, kota Mina, dan ketika safar, merupakan contoh tempat-tempat yang dipilih oleh sang Rasul. Selain tempat dan waktu, objek dakwah juga menjadi satu concern tersendiri yang diperhatikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Keluarga terdekat, kaum kerabat, para shahabat dekat, pemuda, anak-anak, kaum wanita, suku Arab Badui, dan para muallaf adalah kelompok-kelompok tertentu yang menerima pendidikan langsung dari Rasulullah yang masing-masing memiliki karakteristik khusus, sehingga berbeda pula dalam metode pendidikannya. Syaikh menguraikan kesemuanya itu dengan untaian sirah yang penuh dengan faidah sehingga kita seolah diajak untuk menelusuri betapa jeniusnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menghadapi objek dakwahnya. 

Berbagai kesempatan-kesempatan khusus juga tidak luput dari perhatian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk mengambil kesempatan dalam menjalankan proses pendidikan. Bulan purnama, gerhana bulan, momentum saat para shahabat menyaksikan kasih sayang seorang ibu kepada bayinya, bahkan saat seorang shahabat cemburu kepada istrinya, menjadi momen-momen yang tidak dilewatkan oleh beliau dalam memberikan pengajaran kepada anak didiknya. Hikmah dan ilmu menjadi sesuatu yang seolah sangat mudah untuk dipetik pada kondisi-kondisi tertentu sehingga dapat tertancap di dalam hati para shahabat kala itu, bahkan dari hal-hal yang sederhana sekalipun. 

Kemudian pada tujuh bagian selanjutnya, digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengikat hati pada anak didiknya, sehingga proses penyampaian ilmu dan pendidikan tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang guru yang mulia, tidak kemudian menciptakan jarak dengan anak didiknya, namun justru mereduksi jarak tersebut, sehingga terciptalah kelekatan. 

Beliau mencontohkan bagaimana senantiasa menyambut gembira kedatangan seorang penuntut ilmu, mendekat secara fisik kepada orang yang ia ajak bicara, memposisikan duduknya sehingga menghadap ke arah pendengar, dan pendengarnya pun menghadap ke arahnya, menggunakan panggilan yang mengakrabkan dengan lawan bicara, menyentuh anggota badan murid untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan memberikan pengaruh yang besar dalam proses pendidikan, serta menepuk murid untuk memberi peringatan dan menunjukkan keramahan. 

Lalu memasuki bagian-bagian selanjutnya, kita akan disuguhkan dengan pengalaman dalam membersamai majelis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Akan dibahas tentang bagaimana cara beliau dalam menyampaikan ilmu . Tentang bagaimana jelas dan tenangnya beliau dalam berbicara, bagaimana Rasulullah mengulangi ucapannya demi memberikan penekanan akan suatu maksud yang penting, terkadang pula beliau menggunakan isyarat, atau memanfaatkan alat berupa garis dan gambar untuk menjelaskan sesuatu. Tak jarang pula kita menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Dan tentunya, beliau sebagai uswah dan qudwah terbaik juga senantiasa mengajarkan sesuatu bukan hanya dengan lisannya, namun langsung dengan mencontohkan dalam perbuatannya. 

Kemudian ada momen-momen tertentu di mana sang Rasul menggunakan metode perbandingan, kadang pula dengan metode pertanyaan, tak jarang juga dengan melontarkan soal-soal. Penyampaiannya pun sistematis, sehingga para shahabat mudah untuk memahami konsep besar dari sebuah ilmu, dengan cara menjelaskan sesuatu terlebih dahulu secara umum, baru kemudian merincinya dalam poin-poin yang khusus. Hal-hal tertentu yang terkadang juga sensitif untuk dibahas, tidak luput dari pengajaran beliau, dan beliau tidak malu untuk menyampaikannya. 

Dalam menanggapi pertanyaan dari muridnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah sosok yang sangat toleran. Beliau tidak segan untuk memuji pertanyaan yang bagus, serta terkadang menjawab dengan sesuatu yang lebih dari yang ditanyakan. Namun, kita kembali belajar tentang bagaimana adab dan akhlak beliau yang mulia, yakni bagaimana sekelas nabi shalallahu alaihi wasallam saja, bahkan memilih untuk diam terhadap hal-hal yang belum beliau ketahui dengan pasti. Serta bersikap lapang dada ketika diingatkan, bahkan beliau sendiri yang menganjurkan para shahabat untuk membetulkan bacaan beliau ketika shalat. Sebuah bentuk ketawadhuan yang luar biasa dari seorang guru terbaik sepanjang masa, di saat hari ini kita terkadang mendapati orang-orang berilmu yang ilmunya membuatnya tak lagi mampu menerima masukan dari manusia lainnya, bahkan meski hal tersebut adalah sebuah kebenaran. Naudzubillah...

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan para muridnya juga menggunakan metode dua arah di mana bukan  beliau melulu yang ‘mendominasi’ sebuah majelis. Dalam beberapa riwayat, digambarkan bagaimana beliau memberi kesempatan kepada muridnya untuk bercerita di hadapannya. Juga memberi kesempatan untuk mengulang pelajaran kepada beliau sehingga ilmu yang diajarkan benar-benar melekat dengan kuat dalam hati anak didiknya. 

Dibalik sikap lemah lembut Rasulullah sebagai seorang pendidik yang tidak diragukan lagi, ternyata sejarah juga mencatat bahwa ada sisi ketegasan yang tidak juga ditinggalkan secara penuh. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga pernah marah dalam beberapa kesempatan ketika para shahabat kurang memahami sesuatu yang telah beliau ajarkan. Seperti saat beliau mendapati adanya dahak di dalam masjid, atau tatkala shalat diperpanjang tanpa memperhatikan kondisi orang-orang yang menjadi makmumnya. Hal ini menunjukkan bahwa memadukan kelembutan dengan ketegasan dalam proses pendidikan bukanlah sesuatu yang mustahil. Dan bahwa ada hal-hal tertentu yang memang memerlukan sikap lebih ‘keras’ agar menjadi perhatian bagi anak didik.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam juga mencontohkan sikap untuk tidak membedakan murid-muridnya terutama dari sisi strata sosial. Bahkan, beberapa riwayat menunjukkan bagaimana beliau justru lebih mengutamakan murid-muridnya yang tergolong berkekurangan dari sisi harta. Rasul juga merupakan seorang guru yang sangat memperhatikan keadaan anak didiknya sekaligus senantiasa memuliakan shahabat-shahabat yang utama. Sisi evalusia dari seorang guru juga ditunjukkan oleh Rasul tatkala beliau senantiasa memperhatikan pengaruh ucapan dan perbuatannya terhadap para shahabat. Perhatian yang besar juga tercermin manakala beliau menghapal satu per satu murid-muridnya dengan merasa kehilangan manakala ada seorang murid saja yang tidak beliau jumpai dalam satu waktu. Ditengah keilmuan beliau yang tidak tertandingi, Rasul merupakan sosok pengajar yang selalu memberi kemudahan pada murid-muridnya serta menganjurkan untuk mempelajari hal-hal yang mudah dan dimampui oleh anak didiknya masing-masing. 

Pada akhirnya, membersamai sejarah bagaiamana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang pendidik yang sukses dalam rentang empat ratusan halaman dalam buku ini, akan senantiasa membawa kita kepada kerinduan yang mendalam atas sosok beliau. Telah diutus Rasulullah Muhammad bin Abdullah Shalallahu alaihi wasallam sebagai guru sejati yang hingga kini pengajarannya telah diabadikan di dalam hadits-hadits yang mulia. Maka tentu telah menjadi kewajiban atas kita semua untuk senantiasa mengambil pelajaran dari kehidupan beliau secara umum, maupun dari sosok pendidik yang ditampakkannya secara khusus sehingga kita mampu untuk membangun kembali generasi terbaik, mengembalikan dengannya kejayaan Islam dan kaum muslimin, biidznillah. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad.... 


Jumat, 17 Januari 2020

Momentum

Begitu banyak hal yang terjadi dalam satu dekade ke belakang ini. Mungkin karena itulah di akhir tahun kemarin, saya terkesan sangat 'niat' untuk melakukan throwback. Mohon maaf jika terkesan turut merayakan pergantian tahun, meski bagi saya, sama sekali bukan tentang itu. 

Hanya saja, sebab penanggalan kita memang masih secara umum menggunakan kalender masehi, sehingga berbagai momentum tersebut terekam dalam almanak matahari, hingga dengan itulah pulalah ia kemudian terkenang. 

Tahun 2010 hingga 2019 memang bukanlah tahun-tahun yang biasa. Ia bukan lagi diisi dengan rutinitas sebagai pelajar sebagaimana dekade sebelumnya dalam hidup saya. Bagi perempuan yang sepantaran dengan saya, rentang masa itu adalah tentang usia dua puluh hingga tiga puluh. Fase quarter life crisis yang berisi berbagai macam kejadian-kejadian besar. 

Pada saya, usia itu adalah saat di mana saya menuai ketekunan di bidang kepenulisan, dengan memulai debut pertama karya yang diikuti dengan 'adik-adiknya' selanjutnya. Pada masa itu pula pendidikan formal saya berada di penghujungnya, menjadi sarjana dengan berbagai mimpi tentang karir (yang kemudian harus saya kubur sebelum ia hidup), melanjutkan studi profesi, menikah, punya anak, punya anak lagi, juga di saat yang sama salah satu orang tua saya tutup usia. 

Mengenang dekade itu adalah merasakan bagaimana saya menyaksikan kelahiran, kematian, menggapai, melepaskan, masuk ke kehidupan baru, dan melepaskan kehidupan lama. Di fase itu saya pernah merasa berada di puncak bahagia, pun juga puncak kesedihan. Pada kurun sepuluh tahun itu sungguh betapa banyak hal yang terjadi. Yang telah saya rencanakan, maupun yang tak pernah saya bayangkan. Semua itu pada akhirnya, membentuk saya menjadi saya yang sekarang. 

Di tahun-tahun itu pula, saya merenung dengan renungan yang dalam. Memutuskan untuk melepaskan lingkaran homogen yang selama ini adalah zona nyaman saya. Memiliki sebentuk pemikiran baru yang kemudian secara otomatis menjadi filter tentang siapa saja yang bersinggungan dengan saya sekarang. 

Saya benar-benar menjadi 'no one'. Tidak terikat dengan apapun dan siapapun kecuali dengan ring pertama dalam lingkaran saya: suami, anak-anak, ibu, dan adik. Saya menjadi tidak punya 'urusan' apapun di luar sana. Sehingga akhirnya, mereka yang tetap terkoneksi dengan saya hanyalah benar-benar mereka yang 'cukup peduli' tanpa memiliki kepentingan apapun. Tidak ada lagi salam sapa basa-basi yang diikuti dengan pembicaraan tentang sebuah urusan. 

Saya kemudian menjadi lebih mampu untuk memahami hal-hal yang bersifat subtansi. Lebih mengerti tentang apa sebenarnya makna perjuangan sejati. Lebih tahu bahwa kehidupan setiap orang akan punya medan juang yang tak sama. Berusaha untuk terus menyamakannya hanya akan membuat kita terkungkung pada tempurung yang kita cipta dari pikiran kita sendiri. Parahnya, ternyata selama ini tanpa sadar saya memiliki standar kemuliaan dan kebajikan yang nampaknya hanya berkiblat pada hal-hal yang artifisial. Sesuatu, yang mungkin tidak akan pernah saya pahami kecuali jika saya berada di titik yang sekarang saya pilih. 

Dulu, sering sekali saya bertanya kepada mereka yang 'pergi'; apakah bagi mereka semua ini menjadi lebih baik? Saat kemudian tanpa sadar saya ikut bersepakat menilai mereka mengalami 'kemunduran', dengan standar yang sejatinya dicipta dari ukuran manusia. Namun saya masih terus menyimpan tanya, bahwa jika jalan kebenaran itu adalah candu, dan seharusnya mereka akan merasa rindu, tapi mengapa nyatanya mereka tak pernah kembali lagi? 

Hingga kemudian saya berada di titik yang sama dan tersadar bahwa semuanya memang tidak seburuk itu. Bahwa ternyata akan selalu ada jalan juang yang berbeda, meski mungkin kita menuju satu titik tujuan yang sama. Dan semua itu sejatinya, boleh-boleh saja. 

Dekade berikutnya kemudian tengah berjalan. Kita tidak tahu seberapa lama jatah umur yang Allah beri. Namun kita selalu punya harapan untuk menjadi lebih baik lagi. Jika ada seseorang yang kepadanya saya ingin berterima kasih, maka ia adalah diri saya sendiri. 

Din, terima kasih telah melalui dekade kemarin dengan caramu. Tidak mudah, tapi kamu telah menjalaninya. Teruslah berjalan, hingga Allah yang memanggil untuk pulang. Teruslah berjuang pada apa yang Allah takdirkan. SurgaNya luas, dan terkadang jalan ke sana sejatinya dekat saja. 

Jumat, 10 Januari 2020

Seorang Isteri yang Menangis di Restoran

“Pasti pengantin baru...” bisik saya kepada Abu Fayyadh yang sedang sibuk dengan ayam goreng pesanannya.

“Tuh cincinnya...”, Abu Fayyadh menengok sekejap pada pasangan yang tengah bergandengan tangan memasuki restoran di mana kami berempat juga sedang menikmati hidangan.

Pasangan suami istri yang nampaknya berusia lebih muda dari kami itu sedang sibuk mencari meja yang kosong. Selanjutnya, keduanya kemudian duduk di posisi tepat pada jarak pandang saya. Membuat saya dengan leluasa dapat memerhatikan mereka sambil menyuapi dua bocah yang sedang sibuk menikmati nasi gorengnya.

“Tapi kok diam-diaman ya, Ba?” saya kembali berbisik pada Abu Fayyadh sambil melirik pada pasangan itu. Insting kepo saya sungguh sedang bekerja dengan baik. Abu Fayyadh mengangkat kedua bahunya. “Eh, ini sambalnya enak...” ujarnya kemudian. Tidak nyambung.

Ya, pasangan muda itu nampak saling diam. Tidak juga sibuk dengan gadgetnya. Keduanya duduk berhadap-hadapan, tapi dengan pandangan mata yang tidak saling memandang. Justru melihat ke arah lain dengan tatapan kosong. Lebih tepatnya, seolah sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Perhatian saya kembali teralihkan kepada Fawwaz yang menggeleng saat saya suapi, dan Fayyadh yang menjerit ingin minum, saat kemudian ekor mata saya mendapati sang pria mengusap-usap pundak wanitanya, seolah sedang menenangkan istrinya itu.

“Ba.., kayaknya mereka lagi ada masalah deh...” ujar saya lagi kepada Abu Fayyadh

“Auuu....” ujar Abu Fayyadh dengan ekspresi yang (seolah-olah) peduli.

Sejurus kemudian, sang wanita nampak meraih tissue di hadapannya, lalu mengusap air matanya dengan punggung yang bergetar. Perempuan itu, menangis.

“Istrinya nangis, Ba...” ucap saya lagi. Abu Fayyadh menempelkan telunjuk pada bibirnya. Nampaknya mulai tidak tahan dengan kekepoan saya, ia kini sibuk menyuapi Fayyadh dengan cincau dari gelas es telernya.

Pemandangan itu, membuat saya menghembuskan napas. Saya tidak kenal sama mereka. Saya bahkan tidak benar-benar tahu apakah tebakan saya bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru itu benar atau tidak. Tapi, sekiranya memang benar, maka sungguh saya merasa sama sekali tidak heran.

Ya, tentu tidak mengherankan saat kita mendapati bahwa ada pasangan muda yang tengah bermasalah dengan rumah tangganya. Iya, sebab nyatanya membangun rumah tangga yang terus menerus stabil tanpa masalah, nyaris merupakan sebuah kemustahilan.

Rumah tangga yang terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita yang konon berasal dari ‘planet’ yang berbeda, bukanlah tempat yang melulu hanya berisi kebahagiaan saja. Akan ada ujian. Ada masalah. Ada benturan, cekcok, dan perselisihan yang bisa jadi akan menghinggapinya. Perbedaan karakter dan fitrah dasar antara lelaki dan perempuan bisa menjadi alasan yang sangat logis dalam hal ini.

Saat masalah datang, maka kita akan dihadapkan dengan suami yang ingin segera mencari solusi, sementara istri yang terkadang hanya perlu untuk menemukan ruang curahan hati terlebih dahulu. Jika keduanya tidak bisa menurunkan ego untuk berada pada titik tengah, maka suami akan mendapati istrinya sebagai makhluk yang lemah nan suka mengeluh, sementara si istri akan menganggap suaminya sebagai manusia tanpa kepekaan dan tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Saat itu terjadi, maka: BOOOM! Benturan, tidak lagi terelakkan.

Belum lagi, saat kita mendapati bahwa ada pihak ketiga, yang merupakan musuh sejatinya manusia, yang mana ia bernama setan, yang sungguhlah berbangga jika berhasil memisahkan antara istri dan suaminya dari ikatan suci mahligai rumah tangga.

Dalah periwayatan Imam Muslim, lewat penuturan Jabir Radhiyallahu ‘anhu, kita akan mendapati bahwa Iblis teramat sangat membanggakan anak buahnya, yakni setan yang berkata; “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.”

Maka ya, sebab pernikahan adalah ibadah, karena itulah setan akan merasa sangat bangga jika berhasil membuat kita gagal dalam ibadah yang teramat panjang ini. Naudzubillahi min zalik...

Sebab pernikahan adalah ibadah, maka dengannyalah kita bisa meraih surga. Dengan taat pada suaminya, seorang wanita yang menjaga shalat dan puasanya, serta menjaga kehormatannya, dapat masuk surga lewat pintu yang manapun juga. Dengan memberi nafkah kepada anak istrinya, seorang lelaki dapat mengumpulkan pundi-pundi amalan baik yang dapat mendatangkan ridha dan rahmat Allah.

Tapi, apakah semudah itu? Sayangnya, tidak selalu seperti itu, qaqa...

Saya, baru benar-benar mengerti, mengapa suatu hari dalam sebuah daurah sakinah yang saya ikuti semasa gadis dulu, sang ustadzah berkisah, bahwa kalimat pertama yang ia ucapkan kepada sang suami setelah akad adalah; bantulah saya untuk taat kepadamu....

Sebab nyatanya, ada ego yang harus ditekan, ada kepentingan diri yang harus disingkirkan, dan ada keyakinan kuat yang harus ditancapkan, saat kita dituntut untuk senantiasa taat, bahkan atas perkara yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Saya, baru benar-benar menyadari, mengapa memberi nafkah kepada keluarga itu menjadi hal yang begitu penting, saat ternyata, mendampingi suami dari titik nol itu bukanlah perkara yang ringan. Saat pada posisi sebagai anak dulu, kita tidak pernah benar-benar menyadari betapa ayah kita sesungguhnya mengorbankan banyak hal hingga sampai pada titik yang kemudian kita nikmati bersama. Dan, menyaksikan suami harus menyingkirkan segala gengsi, membanting tulang ke sana kemari, termasuk membangun optimisme saat terbentur dengan kegagalan, bukanlah perkara sederhana yang dapat dengan mudah terlewati.

Maka karena itulah, pernikahan tidak bisa hanya dibangun dengan cinta saja. Karena itulah, dalam setiap shalat kita, kita berharap kekuatan dan pertolongan dari Allah untuk memudahkan kita dalam mengarungi biduk rumah tangga. Saat hari ini, seorang suami harus menundukkan pandangan lebih rapat, sebab para wanita mulai kehilangan rasa malunya. Saat hari ini, seorang istri harus bisa lebih mengqanaahkan diri, saat sesama perempuan terkadang ringan saja untuk saling memamerkan perbendaharaan dunia, sehingga perempuan lainnya harus semakin kuat untuk merajut kesyukuran dan kesabaran atas keadaannya.

Maka pada titik kelemahan kita masing-masing, kita berharap, Allah menolong kita melaluinya.

***

Kami sudah akan meninggalkan lokasi tempat menghabiskan weekend siang itu saat kemudian saya kembali berpapasan dengan pasangan di restoran tadi. Raut wajah mereka masih sama seperti tadi. Tapi, telapak tangan keduanya masih saling bergenggam. Erat.

Saya tersenyum.

Sambil dalam hati tersimpan doa, semoga rumah tangga keduanya baik-baik saja.

Sabtu, 04 Januari 2020

♥️

Seumur hidup, tak pernah ada lelaki yang dekat denganku. Tidak bapak, tidak pula kakak lelakiku. 

Sejak paham tentang makna kesedihan, aku selalu berusaha mendekapnya sendiri. Membiarkan malam dan sepi menjadi saksinya. Dan menangis bersama diriku sendiri. 

Hingga Allah menakdirkanmu datang. Merentangkan pelukan dan menawarkan bahu untuk bersandar. Menyeka air mata dan menjadi saksi atas segala rapuhku yang ada. 

Mungkin kini kau adalah manusia yang paling mengetahui tentang aku, melebihi orang tuaku sendiri. Hanya empat tahun kebersamaan hingga sekarang, tapi mungkin telah kau saksikan segalanya. 

Sebuah pesan cinta yang kau tulis di selembar kertas bekas dengan krayon anak-anak ini, saat hatiku tengah kelam, dan kau bertanya mengapa denganmu begitu mudah aku terluka. Dan mungkin, itu sebab aku kembali jatuh cinta kepadamu lebih dalam lagi. 

Terima kasih, sayang. 

Diri dan hatiku mengaminkan dengan penuh. Semoga bersama kita di dunia, hingga berkumpul kembali di surga. 

Kamis, 26 Desember 2019

Wanita dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Tidak dapat dipungkiri bahwa wanita memiliki peranan yang krusial di tengah masyarakat. Peranan wanita di sektor publik dan domestik bagaimanapun juga akan memberi pengaruh yang besar dalam berbagai hal. Termasuk dalam perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran merupakan satu perkara yang penting dalam agama ini. Namun terkadang, perkara ini dalam tataran pemikiran dan prakteknya, seringkali hanya diidentikkan dengan peran kaum pria saja. Maka berangkat dari hal tersebut, Dr. Fadhil Ilahi, menyusun sebuah risalah dengan tajuk; Wanita dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. 

Buku ini secara komprehensif akan membahas tentang bagaimana peranan seorang wanita dalam upaya menjalankan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan fungsi dan kodrat mereka sebagai seorang perempuan. Dengan referensi utama dari Al Qur’an dan As Sunnah, juga merujuk kepada kitab-kitab sunnah, sirah, biografi, dan sejarah, diperkaya pula dengan nukilan dari hadits-hadits yang dilengkapi dengan derajat keshahihannya, buku ini mengulas secara komprehensif topik yang urgen tersebut. 

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar yang masing-masing bagiannya merunut kepada topik-topik yang penting. Pada pasal pertama dibahas tentang tanggung jawab wanita dalam urusan amar ma’ruf nahi munkar. Bagian ini akan menjadi landasan berpikir yang menunjukkan urgensi dari pembahasan-pembahasan selanjutnya. Tersusun atas dua pembahasan utama, di mana yang pertama membahas tentang dalil secara umum tentang amar ma’ruf nahi munkar, kemudian mengerucut kepada dalil yang secara khusus membahas tentang peranan kaum perempuan dalam hal ini. Dalil-dalil ini memberikan gambaran yang tegas tentang posisi wanita dalam perkara ini. 

Kemudian pada pembahasan kedua, masih di pasal yang sama, diuraikan pula tentang urgensi peranan kaum wanita dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Bahwa ada poin-poin penting yang menjadi konsekuensi logis, mengapa seorang wanita tidak bisa tidak, harus pula mengambil peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Misalnya, bahwa wanita sebagai seorang ibu tentu saja menjadi pihak yang paling banyak bersama dengan anak-anak mereka. Sehingga, dasar dari pembentukan generasi selanjutnya, menghajatkan peranan besar dari perempuan di dalamnya. Bahkan meskipun kaum lelaki telah secara maksimal menjalankan perannya dalam berdakwah untuk menegakkan kebenaran, namun tetap terdapat kekhawatiran, bahwa usaha itu tidak bisa menuai hasil yang maksimal, manakala sang isteri tidak memiliki fikrah yang sejalan dengan suaminya. Sementara di sisi lain, kaum istri memiliki pengaruh yang besar terhadap suaminya.  Demikian pula di dalam keluarga. Seorang anak perempuan akan menerima perhatian yang besar dari orang tuanya, sedemikian pula bagaimana seorang saudari akan menempati posisi yang istimewa di antara para saudara laki-lakinya. Maka secara utuh, posisi seorang wanita dalam peranannya di setiap fase kehidupannya, baik sebagai anak, saudari, istri, maupun ibu, memiliki peran yang sangat penting untuk mengusung tugas menyampaikan kebenaran, dan mencegah dari kemungkaran. 

Kemudian memasuki bagian kedua dari buku ini, kita akan disuguhkan dengan contoh real bagaimana tokoh-tokoh muslimah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ini akan menjadi bagian yang panjang dan mengangkat nama-nama kaum muslimah dari kalangan salaf dalam upaya mereka menjalankan perannya dalam beramar ma’ruf nahi mungkar ke berbagai kalangan di tengah masyarakat tempat mereka berada. Menjadi menarik untuk turut ‘menyaksikan’ bagaimana para wanita ini ternyata sangat mampu untuk menjalankan tugas tersebut sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. 

Pada pembahasan pertama, dipaparkan bagaimana para muslimah dari kalangan salaf menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada orang umum, kaum kerabat, dan handai taulan.

Disebutkan tentang kisah bagaimana Ummu Sulaim Radhiyallahu anha menyuruh anaknya untuk mengucapkan kalimat tauhid, juga bagaimana Aisyah Radhiyallahu anha mengingkari perbuatan memakaikan jimat di kaki orang sakit untuk upaya penyembuhan, Zainab bintu Abi Salamah yang melarang menamakan anak dengan nama yang tidak baik, serta ibu dari Sa’d bin Muadz yang menyuruh anaknya untuk menyusul pasukan Islam, atau Asma binti Abu Bakar yang melarang anaknya mengambil langkah yang salah dari peperangan karena takut mati. 

Selain di kalangan keluarganya sendiri, peranan muslimah juga ternyata dapat menjangkau amar ma’ruf nahi munkar kepada para ulama dan thalabul ilmi. Hal ini telah dituliskan oleh tinta emas sejarah dengan para muslimah kalangan salaf yang menjadi para tokoh utamanya. Sebagaimana Aisyah mengingkari fatwa dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu yang melarang memakai parfum ketika berihram atau Ummu Salamah yang mengingkari fatwa Samurah bin Jundab bahwa perempuan hadi wajib mengqadha shalatnya. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa upaya mereka dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar bukanlah sekadar menyuruh dan melarang dengan sesuatu yang kosong belaka, namun juga berlandaskan atas landasan ilmu yang kuat yang nyatanya saat itu juga turut dikuasai oleh para muslimah dari kalangan salaf. Sebuah inspirasi untuk perempuan masa kini agar tetap bersemangat dalam meniti jalan ilmu dan memberi manfaat dari ilmunya tersebut. 

Tidak hanya sampai di situ, lebih jauh lagi, para muslimah dari kalangan salaf juga telah mencontohkan bagaiaman mereka pun berihtisab kepada para penguasa. Di mana Ummu Darda’ pernah melarang Abdul Malik bin Marwan yang melaknat pembantu. Pun Ummu Thufail yang berihtisab kepada al Faruq karena ucapannya tentang iddah wanita hamil yang meninggal suaminya. Maka fitrah mereka sebagai seorang perempuan ternyata bukanlah penghalang untuk turut memberikan masukan, bahkan kepada penguasa sekalipun. 

Pada bagian ini, masih ada puluhan contoh kisah yang menggambarkan bagaimana seorang muslimah mampu untuk menerapkan amar ma’ruf nahi munkar di berbagai lini. Modal mereka tentu saja bukan hanya keberanian, semangat, dan kepercayaan diri, namun juga ilmu yang mumpuni dengan sumber yang sesuai dengan wahyu ilahi dan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam. 

Kemudian pada bagian ketiga dari buku ini, dibahas mengenai boleh tidaknya perempuan ditunjuk sebagai petugas hisbah di pasar. Terdapat dua pembahasan dalam hal ini, yakni pendapat yang melarang, maupun pendapat yang membolehkan. Pada pembahasan pertama diuraikan mengenai pendapat yang melarang, berikut dengan dalil-dalil yang mendukungnya. Diantara pertimbangan dari uraian dalil-dalil tersebut adalah bahwa kepemimpinan laki-laki berada di atas perempuan, dalil yang membahas ini dianggap berlaku umum dalam urusan apapun dari urusan-urusan kaum muslimin. Maka, dalam hal menngambil peran sebagai petugas hisbah, di mana di dalamnya terdapat pula urusan para kaum lelaki, memberikan jabatan ini kepada kaum wanita dianggap tidak dibenarkan, sebab pada akhirnya ia akan ikut mengurusi dan memiliki wewenang di atas urusan kaum lelaki, padahal pada hakikatnya, seharusnya lelakilah yang menjadi pemimpin bagi wanita. Dalil kedua yakni tentang ditiadakannya kesuksesan dari kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan. Hal ini juga merujuk kepada dalil yang berlaku umum, bahwa melantik seorang perempuan sebagai petugas hisbah di pasar adalah menyerahkan urusan umum kepada perempuan yang dalam keadaan tersebut maka tidak ada kesuksesan baginya. Dalil ketiga adalah tentang hukum dasar bagi perempuan untuk menetap di rumah mereka. Bahwa perintah ini bukan hanya dikhususkan untuk ummahatul mukminin, namun secara umum kepada para kaum muslimah seluruhnya. Bahwa kaum muslimah tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan shalat fardhu di masjid maupun shalat jum’at di masjid, serta berbagai syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang muslimah jika ia ingin meninggalkan rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa meletakkan seorang perempuan sebagai petugas hisbah yang mana mengkondisikannya untuk berada di luar rumah dalam menjalankan tugasnya merupakan sebuah kesalahan. Begitupun pula dengan dalil yang menunjukkan bahwa tuntutan tugas hisbah bertentangan dengan tabiat perempuan. Di mana petugas hisbah harus mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang berkemungkinan terjadi dalam bentuk penanganan sengketa yang bisa saja memerlukan ketangguhan fisik untuk berlaga dan mengusir orang-orang yang buruk, yang mana ini bertentangan dengan fitrah seorang wanita. Dan dalil yang terakhir adalah bahwa adanya berbagai macam akibat buruk yang bakal terjadi saat perempuan keluar ke tempat-tempat umum. Diantaranya adalah tersebarnya kemandulan, pelanggaran seksual, serta kehamilan di luar nikah. 

Kemudian pada pembahasan kedua akan dijelaskan tentang hujjah dari orang-orang yang berpendapat tentang kebolehan perempuan ditunjuk sebagai petugas hisbah serta hakekat dari hujjah tersebut. Pada bagian ini akan dibedah poin-poin hujjah dari pendapat yang membolehkan, serta bagaimana hakekat yang sebenarnya, sehingga menjadi terang benderang kelemahan dari hujjah tersebut. Di antaranya yakni berhujjah dengan keumuman nash yang menunjukkan kewajiban tugas hisbah, namun dalam hal ini tugas hisbah tersebut tidak serta merta membolehkan seorang perempuan ditunjuk untuk menjabat sebagai petugas hisbah. Sebab, berkomitmen dengan keumuman nash yang menunjukkan kewajiban ihtisab tidak boleh membuat kita menutup mata dari nash-nash yang mengkhususkan kepemimpinan bagi laki-laki saja. Kemudian dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya pada bagian ini, dibahas pula mengenai penunjukan petugas hisbah perempuan di masa khalifah Umar bin Khattab, serta perbuatan Samra’ bunti Nahik yang jikapun shahih dari sisi pemaparan kisahnya, namun tetap terdapat celah yang memberikan bantahan mengenai bentuk aktivitasnya sebagai petugas hisbah layaknya lelaki. Beberapa dalil juga mengkhususkan dalil-dalil tertentu untuk urusan tertentu bagi kaum muslimin, sehingga dianggap tidak berlaku umum, termasuk dalam masalah penunjukan wanita sebagai petugas hisbah. Kemudian pada bagian terakhir di pembahasan ini dijelaskan bahwa tetap terdapat pembolehan untuk perempuan mengambil andil dalam hal ini, jika itu mencakup urusan sesama kaum muslimah, di mana di tempat atau lingkungan tersebut kesemuanya adalah sesama muslimah, misalnya di pasar khusus muslimah, atau di yayasan pendidikan atau yayasan sosial. 

Kemudian terakhir, ditutup dengan kesimpulan dari berbagai pembahasan dalam buku ini, serta anjuran dan semangat untuk para muslimah mampu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah masyarakat, sebab tugas tersebut merupakan tugas yang mulia yang tentunya akan membawa kemaslahatan yang besar di tengah masyarakat, sehingga dapat membawa umat ini pada kejayaan layaknya kejayaan para generasi terbaik yakni kembali menjadi sebaik-baiknya umat. Insyaallah...

Senin, 11 November 2019

Mencandai Poligami

Ibu muda itu misuh-misuh. Baru kali itu ia merasa menyesal betul sudah iseng mengutak-atik pesan singkat di hp suaminya. Hingga ia kemudian mendapati pesan-pesan dari beberapa rekan kerja sang suami yang cukup mengganggu hati.

“Halalkan cinta barumu!” diikuti dengan berbagai quotes tentang poligami  


Ada pula yang mengakhiri obrolan dengan doa untuk suami perempuan itu, semoga bisa beristri lagi. Pake bahasa arab pula!

Suami saya, batin perempuan itu, kok justru kawan-kawannya yang 'keliatan' ngerti agama yang malah doyan sekali dengan pembicaraan, obrolan, dan candaan bernada seperti ini. Seolah-olah timeline hidupnya sebagai lelaki adalah sekolah-kerja-nikah-nikah lagi. Memangnya di kajian-kajian itu yang dibahas poligami melulu?

Sementara di sudut lain, seorang istri dengan bayi merah dalam gendongannya, plus bekas jahitan di jalan lahir yang jangan ditanya gimana nyerinya, masih harus menanggung kecamuk perasaan di tengah kondisi hormonal pemanggil mood-swing yang luar biasa, saat kemudian ia dapati sang suami enteng saja bercakap dengan rekan sesama suami perihal rencana beristri lagi. Sebab katanya; ini nih hikmahnya poligami, biar kalau istri nifas, masih ada istri yang lain...

Ok. Ngertilah arah pembicaraannya ke mana...

Poligami. Sebuah kondisi yang dalam syariat sudah diatur ketetapannya. Pembahasannya tidak pada ranah ikhtilaf, tapi bahkan dijelaskan secara gamblang dalam ayat al Quran dengan tafsiran yang telah tuntas ulasannya. Tak ada lagi celah diskusi. Tak ada lagi ruang untuk menolak. Jelas hukumnya, sejelas sinar matahari di siang hari.

Tapi duhai poligami, dalam penerapannya, ia melibatkan lelaki dan perempuan, dengan sifat bawaan yang secara umum saling berseberangan dalam memandang ini. Okelah kita tahu, bahwa konon seorang lelaki memang bisa menyimpan beberapa nama sekaligus di dalam hati. Bahwa katanya, mencintai dua istri bukanlah pertanda dipertanyakannya kesetiaan suami. Bahwa konon, membuka ruang untuk hati yang baru, tidak selalu berarti melupakan si dia yang telah ada lebih dahulu.

Tapi duhai bapak-bapak yang sedang mengangguk-angguk di sudut sana, ketahuilah bahwa perempuan pun punya fitrah. Yang kala perasaannya bicara, terkadang ambyarlah sudah segala yang selainnya. Yang mungkin bisa menjelma superwomen saat harus mengerjakan ini itu di satu waktu, namun seketika bisa jadi keok saat ketenangan batinnya yang terusik dengan nama lain sebagai isu. Cemburu, bagi seorang wanita mungkin berkali lipat lebih berat dari rindu. Dan sejarah mencatat, sekelas ummahatul mukminin saja merasakan ini. Perempuan-perempuan terbaik, juga punya rasa demikian, pada lelaki terbaik sepanjang sejarah. Lalu apa ekspektasi kita, pada perempuan akhir zaman saat menghadapi suaminya yang juga masih perlu banyak perbaikan?

Jadi, baik laki-laki dan wanita punya pembawaan umum masing-masing. So, harus adil. Jangan pas ditegor karena canda-canda poligami, langsung bawa fitrah lelaki. Tapi giliran istrinya ngambek karena ini, malah dibilang lagi ribet baper sendiri. Ngambeknya istri juga fitrah, keleus.

Pada titik kritis itu, kemudian entah mengapa di kalangan pria, ada semacam gelitik nan renyah saat kemudian isu poligami ini dibawa sebagai canda. Entahlah pelajaran tentang sunnah yang ini sudah sampai bab berapa. Yang jelas, lidah sudah ringan saja berseloroh,

“Ini anak dari istri keberapa?” .

“Trus kapan nih rencana mau nambah?”

“Duit sudah banyak, masa Cuma menafkahi satu keluarga saja? Situ beneran jantan?”

Nah loh...

Saat poligami dibawa sebagai candaan, ironisnya ketika mendapat teguran, kata-kata 'sunnah' malah diikut-ikutkan. Mungkin sejenak lupa, bahwa syariat tak boleh jadi bahan mainan. Biasanya memang, justru yang belum sanggup menerapkan yang lebih kencang suara dan tawanya.

Padahal, jangan ditanya perihal kasus seorang lelaki yang 'nekat' poligami hanya karena tak tahan dikompori. Akhirnya berniat menyelamatkan perempuan lajang, tapi malah jadi menjandakan istri. Dalihnya, si istri yang tak siap. Padahal hakikatnya, memangnya siapa yang harusnya menyiapkan istrinya? Trus sejatinya, yang belum siap sebenarnya siapa? Tarakdungces!

Padahal jika poligami dibicarakan dengan landasan ilmu, maka yang terbentang selanjutnya adalah seabrek kewajiban. Mengokohkan rumah tangga itu lebih berat dari membangun rumah makan, kan ya? Maka jika baru diajak seriusin ngobrol parenting buat membangun generasi aja sudah malas-malasan, lah giliran candain poligami malah paling depan.

Menyebut poligami sebagai sunnah, maka so pasti berkaca pada Rasulullah. Bukan, bukan mau bahas tentang istri-istri Rasulullah yang mayoritas janda. (Sebab jaman now biasanya justru mencari yang masih gadis untuk jadi yang kedua) Tapi, ini perihal bagaimana para shahabiyah terbaik itu, di tengah fitrah kewanitaan dengan cemburu yang kerap hadir, tapi toh tidak ada dari mereka yang minta diceraikan karena alasan dipoligami, kan? Kemudian saya teringat pada renungan seorang ahli psikologi, saat memandangi miniatur bilik istri-istri Rasul, bahwa di antara hikmah poligami yang dijalani sang Nabi, mungkin sebab keindahan rumah tangga nabi memang tak cukup untuk hanya dibicarakan oleh satu istri.

See?

Maka mengutip perkataan Ustadz Abu Ihsan al Maidani, kepada lelaki yang berniat poligami; silakan tepuk dada, tanya hati: ingin poligami untuk masuk surga atau mau masuk neraka? Sebab ada ganjaran bagi ia yang berpoligami tapi tak terapkan adilnya, yakni berjalan dengan tubuh miring tak seimbang kelak di hari perhitungan.

Ya, jangan sampai ternyata poligami jadi salah jalan, sehingga aib rumah tangga memang jadi harus dibicarakan oleh istri yang beberapa. Maka putuslah layangan di mana-mana... Naudzubillah...

Dan buat para istri yang jika mendengar bahasan poligami masih bisa santuy tanpa baper sama sekali, jangan buru-buru ngejudge mereka para wanita yang begitu berapi-api pas bahas poligami. Sebab latar belakang tiap orang itu beda-beda, Bunda. Selama bukan syariatnya yang dicela, maka mungkin ada background story yang bikin seseorang memandang poligami jadi tak mudah. Silakan dinasihati saja dengan lembut dan penuh cinta. Tak perlu makin dicela, apalagi dipertanyakan keimanannya. Jangan jadi kuat, dengan membuat perempuan lain terlihat lemah.

Akhirnya, membahas poligami sudah seharusnya didudukkan pada porsinya. Diilmui jika memang sudah perlu. Jangan dicandai berlebih, hingga mengakibatkan kenekatan yang akhirnya bikin segalanya jadi ribet sendiri. Katanya mau bawa keluarga sampai di surga? Coba deh, dibuat sakinah dulu di dunia.