Senin, 29 Juni 2020

Kabar atas Cinta

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari safar-safar Bapak -rahimahullah, maka itu adalah tentang betapa telatennya Bapak mengabari Mamak dengan detail tentang hal-hal yang ia lalui dalam setiap perjalanannya. 

Saat perjalanan itu hanya antar daerah, maka setiap memasuki daerah baru, kami pasti akan mendapati kabar dari Bapak lewat pesan singkat, atau bahkan sambungan telepon. Apalagi saat safarnya menghajatkan perjalanan udara, maka siap-siaplah mendengar 'laporan'; sudah tiba di bandara, sudah di ruang tunggu, bersiap-siap boarding, alhamdulilah sampai bandara tujuan, dan seterusnya... 

Jika saya sedang dalam posisi menemani perjalanannya (tentu saja untuk membantu membawakan ransel, atau memijat betis, membantu packing, mengingatkan minum obat, dan memastikan bahwa oleh-oleh untuk semua orang rumah sudah aman), maka tidak jarang Bapak akan memberikan instruksi-instruksi semisal; "Kabari Mamakmu, kita sudah sampai di penginapan!". Dan jika saya dalam posisi bersama Mamak di rumah, maka saya pun bersiap mendengarkan berita-berita yang diterima Mamak dari Bapak yang tengah menjadi musafir. 

Perempuan, terutama ketika ia telah menjadi seorang istri maupun ibu, adalah sosok yang tak akan pernah lepas dari doa-doa untuk suami dan anak-anaknya, baik di kala dekat, maupun di kala jauh. Dan saya yakin, Bapak memahami konsep itu dengan sangat baik. Maka konsistensi beliau berkabar kepada sang istri saat mereka sedang tak bersama, saya pahami bukanlah atas keinginannya untuk didoakan keselamatannya dalam perjalanan -sebab Mamak pasti akan selalu melakukan itu. Maka satu-satunya alasan atas sikap itu saya tangkap semata-mata untuk memberikan rasa aman di hati Mamak, bahwa ia senantiasa baik-baik saja. Untuk melayangkan kabar yang sekilas nampak sepele saja, namun adalah cinta yang tersimpan di dalamnya. 

Dalam ketidakhadiran jasad saat kondisi mengharuskannya melaksanakan tugas di tempat-tempat yang jauh, nyatanya kami semua masih selalu bisa merasakan keberadaan Bapak yang akan mampu kami ketahui aktivitasnya di tempat lain, melalui kabar-kabar cinta itu. Kabar yang datang tanpa harus kami bertanya, sebab terkadang ada rasa khawatir jika pertanyaan itu akan mengganggu aktivitasnya. Maka tak heran, saat Bapak telah pergi untuk selamanya  -menyelesaikan tugasnya sebagai musafir di dunia, suatu waktu Mamak pernah berkata; ah, rasanya seolah-olah Bapakmu hanya sedang pergi keluar daerah saja, hanya sedang lupa memberi kabar seperti biasanya... 

Betapa penting untuk meletakkan ketenangan di hati orang-orang tersayang, bahkan dengan sesederhananya cara. Sebab kita tak pernah tahu, saat perpisahan datang, pelajaran apa yang masih selalu bisa kita kenang. 

30 Juni 2020
Sebab menulis tetangmu, adalah caraku menenangkan rindu

Senin, 22 Juni 2020

Lintasan Malam

"Apa sih susahnya taat pada suami jika sudah tahu bahwa itu akan berbuah surga?" 

"Apa sih beratnya menahan diri untuk membentak anak jika memang paham bahwa itu hanya akan merusak sel-sel otak mereka?"

"Kenapa sih harus minder jadi ibu rumah tangga padahal itu pekerjaan yang sangat mulia?"

"Kenapa harus insecure dengan pencapaian orang lain kalau memang yakin bahwa yang dijalani saat ini adalah yang terbaik?"

Sederet pertanyaan itu muncul dalam diri saya, bertahun-tahun yang lalu, saat masih berstatus singel, dan sudah hobi membaca dan mengoleksi buku tentang rumah tangga dan parenting. Hal-hal ideal berkelindan di kepala plus dengan rasa jumawa bahwa semua itu nanti akan terlewati dengan mulus-mulus saja; toh, saya sudah punya ilmunya! 

Tapi begitulah, jika ilmu di kepala belum dihadapkan dengan ujiannya. Dan ternyata, semua hal yang dahulu saya pertanyakan itu benar-benar hadir dalam bentuk nyata; ujian praktek yang menuntut jawaban segera, tidak boleh nyontek, dan bukan dijawab dengan kata-kata belaka. Saya, yang merasa punya kepribadian yang tenang dalam menghadapi sesuatu, nyatanya mendapati diri lebih sering menjadi 'naga' daripada menjelma 'ibu peri' dalam perjalanan berumah tangga. Huuft....

Maka benarlah, bahwa sejatinya ilmu adalah saat kehadirannya membuat kita semakin takut kepada Allah. Rasa khauf yang membawa kita pada keinsyafan untuk senantiasa membawa setiap perjalanan hidup pada arah yang diridhainya. Dan menjalani rumah tangga sebagai bentuk peribadatan terpanjang dan terlama, nyatanya memang menghajatkan napas kesabaran yang panjang. 

Seorang kakak bernasihat di awal pernikahan saya, bahwa menikah berarti berusaha untuk mengalahkan bisikan setan yang hadir di antara satu waktu shalat dengan waktu shalat lainnya; sepanjang waktu! Dan benarlah, percaya tidak percaya, terkadang saya benar-benar merasa mampu mendengar secara lugas saat bisikan-bisikan itu terasa begitu nyata di telinga. 

Bisikan untuk mengucapkan kata-kata yang mungkin tidak akan sampai membuat suami marah, tapi sudah pasti akan saya sesali mengapa harus saya utarakan pada ia yang kini ridhanya adalah surga. 

Bisikan untuk melakukan hal-hal yang bakal membuat kenangan yang buruk dalam ingatan anak-anak saya meski barangkali setelah itu mereka akan kembali memeluk dan mengajak saya bermain bersama, namun saat setelahnya memandang wajah mereka terlelap, yang tersisa hanyalah penyesalan atas setiap ketidaksabaran menghadapi mereka. 
.
.
Dan yang lebih menyedihkan dari itu adalah, saat kemudian mendapati diri, bahwa sejatinya itu semua bukan lagi bersumber dari bisikan si musuh utama, namun ternyata hadir sebab hasutan dari nafsu diri sendiri, yang masih perlu terus berlatih agar terkendali. 
.
.
Pernikahan adalah jalan yang panjang, bersama orang-orang terkasih yang akan menjadi saksi diri kita yang seutuhnya. Keluargalah itu yang bisa memberikan validasi paling konkret atas diri kita. Yang bukan hanya melihat kita pada satu sudut peristiwa saja, hanya satu rangkaian acara saja, hanya sekelumit muamalah saja, hanya sepetik kejadian saja. Mereka telah dan akan mendapati kita pada sisi-sisi terbaik, sekaligus juga mungkin pada sisi kita yang paling rapuh. Kebersamaan dengan mereka tidak akan selamanya, akan ada masa di mana perpisahan akan ditakdirkan dengan cara yang Allah gariskan. Di titik di mana jalan hidup kita tidak lagi bersinggungan itu, mudah-mudahan bukanlah menjadi masa di mana kita baru menyesali, segala tingkah laku yang ternyata masih bisa diperbaiki. 

#notetomyself
23062020

Senin, 11 Mei 2020

POST POWER SYNDROME (?)

*tulisan lawas, empat tahun lalu yang saya angkut dari status FB untuk di-'abadikan' di sini. Masa-masa awal jadi ibu. Fayyadh masih bayi. Kami, ibu baru dan bayi mungil yang kala itu sedang berjuang untuk beradaptasi dengan dunia baru masing-masing. FYI, hingga sekarang, empat tahun sejak tulisan itu saya buat, saya masih berada di kondisi yang sama. Masih ibu rumah tangga yang benar-benar hanya tinggal di rumah, tanpa punya jadwal rutin apapun di luar rumah. Bedanya, anggota kami sudah bertambah satu orang (welcome, Fawwaz 😁), dan perasaan seperti ini terkadang masih seringkali datang menghampiri. Iya, rasa jenuh itu masih datang sesekali, bahkan kadang masih sampai mampu membuat saya menangis diam-diam. Tapi.... Yang penting kan bisa bangkit lagi ya. Temukan support system yang tepat untuk membantu meraih tangan kita agar tak terpuruk terlalu dalam dan terlalu lama. Pertama, akui dulu rasa yang ada. Dengan diri sendiri, tak usah tutupi apa-apa. Jika jenuh, akui jenuh itu. Jika lelah, akui lelah itu. Tapi sadar, bahwa jika takdir itu ditetapkanNya, maka insyaallah kita bisa melaluinya. Alhamdulillah... Dear Diena, terima kasih sudah melewati itu semua yaa... 
.
.
.
POST POWER SYNDROME (?)

'Jenuh sekali rasanya. Setiap hari hanya berputar pada rutinitas itu-itu saja.' 

Sebaris pesan itu saya kirimkan pada suami yang sedang di luar rumah sore itu. Tanpa tedeng aling-aling, saya mengirimkan mesej galau itu yang segera dia balas dengan tawaran refreshing. Namun saya tidak membalasnya balik. Hanya mendengus berat lalu segera menuju kamar mandi dengan tampang semrawut. Hari itu rasanya lelah sekali. Seharian bayi saya rewel dan terus menerus minta digendong. Sembari saya mendampingi ibu di kamarnya dan membantunya untuk hal-hal yang tidak bisa dikerjakannya sendiri. Hari itu rasanya lelah sekali, namun saya tahu, bukan hanya raga ini yang lelah. Tapi jiwa saya yang sedang berada di limit tenaganya. 

Sejak beberapa waktu sebelumnya saya sudah merasakannya, namun kali itu saya tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkannya. 

''Rasanya malas sekali... besok bangun di pagi hari dan tanpa tujuan hidup apa-apa... '' ujar saya sambil berbaring. Suami yang sebelumnya tengah menekuni sesuatu di layar ponsel, segera meletakkan benda itu dan memanggil saya untuk mendekat padanya. Sepertinya ia menangkap alarm yang tengah berbunyi lewat kata-kata dan ekspresi saya yang mengucapkannya dengan mata menerawang. 

Dalam pada itu, saya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Saya hanya menangis sesunggukan tanpa mengatakan apapun. Suami pun memilih untuk menunggu dan tidak menanyakan apapun. Rasanya dada saya sesak sekali. Rasanya hidup ini sempit dan sendu sekali. Saat tangis saya mereda, baru suami saya memberikan nasihat agar saya tidak membandingkan hidup saya dengan orang lain. Bahwa apa yang saya jalani kini adalah yang terbaik, bahkan mengumpulkan ladang -ladang pahala besar melebihi siapapun di rumah kami; sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu. 

Di akhir malam itu, saya terbangun dan kembali menangis seorang diri dalam kegelapan malam. Kali ini menangisi kelemahan saya sendiri. Saya menatap wajah polos bayi saya yang tengah tertidur pulas. Membelai kepalanya dan sadar bahwa setiap anak berhak dibesarkan oleh seorang ibu yang waras. Maka kegalauan ini harus segera saya selesaikan. 

Sebelumnya, saya sering menatap keluar jendela, memandangi siang hari sambil mengingat kembali bahwa di tahun-tahun  sebelumnya saya sedang berada di kampus untuk menyelesaikan banyak hal. Bahwa dulu, di siang seperti itu saya tengah berada di majelis musyawarah dan membincangkan program kerja dengan serius. Di siang seperti itu, saya kadang sedang dalam perjalanan setelah seabrek kegiatan yang melelahkan. Namun kini saya mendapati diri sebagai seorang perempuan pengangguran dengan dua gelar di belakang nama namun hanya tinggal di rumah sambil jualan popok kain.

 Saya kemudian mengasihani diri sendiri. Membandingkan kegembiraan orang lain dengan kesedihan saya. Sebuah perbandingan yang sungguh tidak nyambung. 

Saya tidak ikhlas. Ya, akarnya mungkin berada di sana. Saya belum benar-benar ikhlas untuk menjalani apa yang Allah takdirkan pada diri saya sekarang. Dampaknya, saya menutup mata dari berbagai keutamaan yang sebenarnya tengah terbuka lebar di hadapan saya. Keutamaan untuk meraih pintu surga yang paling tengah itu, untuk meraih ridha suami hingga menjadi sebab turunnya rahmat Allah hingga memasukkan ke jannah, untuk mendidik generasi yang kelak membangun peradaban dan menjadi anak shalih yang terus mendoakan. Saya menutup mata dari semua itu dan sibuk pada hal-hal duniawi yang kini tak bisa saya raih. Saya mengharapkan eksistensi dan aktualisasi diri, ingin berada di bawah sorotan lampu dan tatapan mata yang mengagumi. Saya menjadi picik, dan nyatanya itu yang paling menyedihkan dari semuanya. 

Saya bersyukur dapat melewati masa itu dan berharap tidak perlu mengulanginya lagi. Saya ingin menghijaukan rumput di halaman rumah saya sendiri tanpa harus sibuk memandangi rumput orang lain dengan tatapan iri. Kehidupan ini akan kembali indah sebagaimana adanya selama saya masih mau berusaha bersyukur dan bersabar di dalamnya. Dan kini saya mendapati, betapa beruntungnya saya jika bisa terus sadar dan bertaubat dari kekeliruan pikir saya yang dulu itu. Kehidupan ini akan indah sebagaimana adanya, selama saya menjalani dengan ikhlas. Karena Allah saja. 

A morning note for myself. Keep fight till the end, Dien! 
26 Agustus 2016

Rabu, 22 April 2020

Pengeluaran Kita, Pendapatan Mereka

Beberapa orang mungkin merasa heran, mengapa kami memilih untuk tetap memakai jasa catering rantangan di masa pandemi ini. Apa tidak takut ada corona yang nyempil di makanannya? Kenapa sih tidak masak sendiri saja biar lebih tenang dan higienis? Kalau pas pengantaran rantang trus ternyata ada virus yang ikut masuk gimana? Dan sederet pertanyaan lainnya...

Pertama, kami insyaallah percaya dengan kebersihan makanan yang dibuat sama pihak catering yang sudah kami pakai jauh sebelum masa pandemi ini. Kedua, saat menerima dan membuka rantang, insyaallah kami punya prosedur untuk memastikan makanan itu tetap layak dikonsumsi dan insyaallah bebas corona. Jika masih khawatir, makanannya bisa dihangatkan dulu, sebab Mr.Coro konon bisa tewas cukup dengan pemanasan 60 dercel saja. Dan yang paling penting, kami meniatkan agar pengeluaran yang kami gunakan untuk jasa rantangan itu, bisa menjadi pemasukan yang berkah buat pihak catering, di masa yang sulit ini. 

Untuk alasan yang terakhir itu, sungguh terkadang saya jadi mellow sendiri. Buat kita yang tetap dapat menikmati gaji bulanan meski harus bekerja di rumah saja, pandemi ini mungkin tidak akan terlalu terasa. Tapi, ada orang-orang yang bagi mereka, tinggal di rumah saja adalah sesuatu yang mewah, yang nyaris tidak mungkin mereka lakukan. Sebab ada anak istri yang harus tetap disuapi mulutnya dengan rejeki yang harus mereka jemput setiap harinya di luar rumah. Yang saldo uang di dompetnya harus disambung dari satu hari ke hari lain dengan bulir keringat dan banting tulang. Itupun kadang masih kurang. 

Di masa yang sulit ini, ada isak tangis tertahan dari para pekerja yang terdampak dengan PHK. Ada suara perut yang keroncongan karena harus menahan lapar sebelum berangkat kerja, dan segera kembali ke rumah begitu dapat uang yang cukup buat beli sebungkus nasi yang dilahap satu keluarga. Duh ya Rabb... Betapa kufurnya kami atas segala nikmat kenyamanan dan perut yang kenyang setiap hari...

Ada satu keluarga, yang sejak masa Corona ini, memilih hanya memasak nasi saja di rumah. Selebihnya, pendapatan mereka yang lebih dari cukup itu mereka gunakan untuk memesan makanan jadi lewat jasa ojol. Begitu setiap hari. Demi apa? Demi tetap menghidupkan usaha jasa penyedia makanan, juga para ojol yang harus tetap beroperasi. 

Barangkali, sekarang ini mulai makin marak orang-orang yang mencoba peruntungan dalam usaha jual beli, apalagi yang mengandalkan jasa online. Mengenai aktivitas dagang berdagang, sesungguhnya saya selalu salut dengan para pedagang yang so pasti punya mental tahan banting. Yang menurut saya profesinya punya dosis tawakkal tingkat tinggi. Saya yang lahir dan besar di tengah keluarga dengan bakat dagang nol besar, selalu kagum dengan mereka yang bisa tetap istiqamah dengan ikhtiar yang satu itu. Ada yang sekadar menyalurkan hobi, dan ada pula yang memang menjadikannya jalan menjemput rejeki. Maka menghidupkan kebiasaan membeli dagangan saudara sendiri, tentu adalah satu jalan untuk membantu mereka mengumpulkan profit, di saat ekonomi sedang melemah saat ini. 

Dan geliat usaha berbasis online, tentu tidak lepas dari jasa para kurir dan abang ojek. Tentang para pejuang di lini ojek online itu, sesungguhnya saya sudah selalu kagum bahkan sejak dahulu. Bagaimana tiap hari mereka berjibaku di jalanan kota. Merasai terik atau kehujanan demi mengumpul rupiah. Mereka mengantri berbagai jenis makanan yang mungkin tidak akan pernah mereka cicipi sendiri. Jasa mereka sungguh luar biasa untuk orang-orang yang mungkin cukup sibuk untuk melakukan hal-hal yang bisa dibantu oleh para ojol. Di masa sekarang ini, pendapatan mereka tentu bakal menurun. Membagi sedikit harta yang kita punya, setiap kita meminta tolong atas jasa mereka, tentu akan sangat berarti untuk bang ojol dan keluarga mereka di rumah. Bagi kita sepuluh atau dua puluh ribu itu mungkin hanya tentang sekali jajan cemilan kesukaan. Tapi buat mereka, mungkin itu akan sangat berarti dan semoga penuh dengan keberkahan. 

Di tengah kepastian atas ketidakpastian yang kita alami sekarang, kita memang perlu lebih menajamkan empati. Berada dalam 'mode bertahan' memang penting, sebab kita tak tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Menahan diri dari hal-hal tidak manfaat, memang dianjurkan agar kita tak besar pasak daripada tiang. 

Tapi tetap ingat, pengeluaran kita, adalah pemasukan bagi pihak lain yang juga membutuhkan. Beberapa orang memilih untuk menahan lapar daripada meminta. Beberapa orang memilih untuk tetap berusaha semampunya meski sambil gemetar sebab belum makan. Orang-orang ini menahan lisan dari meminta-minta sebab ingin menjaga kehormatan dirinya. Maka harusnya kita yang lebih bisa menangkap sinyal untuk meringankan beban mereka. Agar kita bukan hanya menghadapi pandemi yang sama, tapi benar-benar menghadapinya bersama-sama. 

Tetap sehat-sehat semua!

#dirumahaja, 22 April 2020

Kamis, 09 April 2020

Sirene dan Ingatan tentang Kehilangan

Rumah saya yang terletak tak jauh dari jalanan besar membuat kami kerap kali dapat mendengar suara-suara dari jalanan, jika suara-suara itu cukup keras. Jenis suara yang kadang sampai kepada penghuni rumah kami adalah suara sirene kendaraan, baik dari mobil polisi, atau dari mobil ambulans.  Suara jenis kedua belakangan ini terdengar lebih sering.

Konon, sebuah lokasi pemakaman yang jika ingin dituju, harus melewati jalanan besar di depan rumah kami itu, adalah pemakaman yang digunakan sebagai salah satu tujuan menguburkan jenazah pasien Covid-19 yang meninggal, baik yang sudah divonis positif, maupun pasien yang masih dalam pengawasan.  Mungkin, hal itulah yang membuat suara sirene ambulans terdengar lebih sering di berbagai waktu. Tak mengenal pagi, siang, malam, bahkan tengah malam sekalipun.

Ingatan saya seketika terbang ke masa saat kami kehilangan Bapak. Saya masih ingat suara sirene ambulans yang memecah keheningan tengah malam dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka. Juga suara sirene ambulans yang kembali saya tumpangi sambil menatap jasad Bapak yang sudah terbungkus kafan menuju lokasi pemakaman. Kala itu, iringan kendaraan lain, sejumlah mobil dan motor di depan, belakang, kiri, dan kanan, turut mengantar ambulans yang kami tumpangi. Kerumunan orang yang turut memenuhi area perkuburan, maupun sanak keluarga, kerabat, sahabat, dan teman-teman yang juga menunggu di rumah dengan pelukan yang menenangkan, atau sekadar usapan hangat di punggung, dan ucapan belasungkawa secara langsung, memberikan kehangatan di dalam hati, bahwa kami tak sendiri menghadapi kehilangan ini.

Hal itu membuat saya membayangkan, betapa berbesar hati para keluarga yang ditinggalkan oleh orang terkasihnya tersebab infeksi virus corona. Betapa mereka harus menanggung sedih yang berlipat ketika harus merelakan prosesi penyelenggaraan jenazah yang bukan hanya tak biasa itu, tapi juga begitu sepi, bahkan hanya dapat mereka saksikan dari jauh saja. Belum lagi selepas itu, mereka mungkin harus kembali menjalani isolasi mandiri guna meyakinkan bahwa mereka pun tidak ikut terinfeksi. Tak ada kedatangan sanak saudara untuk memeluk atau membasuh air mata. Semuanya seketika menjadi kembali hening, dengan rasa kehilangan atas ia yang pergi dan tak akan kembali lagi. Lebih-lebih lagi sesaknya, jika setelah itu hasil tes yang keluar menunjukkan hasil yang ternyata negatif belaka.

Maka untuk mereka ini, semoga kita pun dapat turut berempati. Semoga sejak awal mereka dapat diberi kejelasan, perihal lokasi pemakaman yang sesuai dengan standar yang diatur untuk jenazah dengan kasus demikian. Sehingga perihnya kehilangan dalam sepi itu, tak usah lagi ditambah dengan sakitnya hati akibat penolakan saat keluarga tercinta mereka itu akan dikebumikan.

Hal ini pula yang membuat saya merenungi, jika hari ini kehadiran pandemi corona bagi kita ‘hanya’ berimbas dengan tertahannya langkah keluar rumah, membuat kita begitu bosan menatap dinding dan suasana yang itu saja, membuat kita harus menahan kangen untuk berjumpa wajah dengan mereka yang kita rindukan, mungkin kita patut membayangkan, bahwa ditempat lain ada orang yang merasakan dampak yang jauh lebih menyesakkan. Ada yang harus menanggung kehilangan. Ada yang tetap harus berjibaku di jalanan demi sesuap nafkah halal yang kini semakin sulit untuk didapatkan. Ada yang harus pasang badan dengan perlengkapan seadanya demi merawat orang sakit yang bukan siapa-siapanya, sambil mengorbankan waktu berharga bahkan sekadar pertemuan dengan keluarga tercinta.  Juga dengan bayang-bayang infeksi yang bisa hadir kapan saja, dan dengan kecurigaan pada pasien yang tidak semuanya mau berterus terang dengan kondisinya.

Ah, rasa empati macam ini barangkali sudah sering kita dengar berulang-ulang. Hingga mungkin atas hal ini pun kita sudah mulai merasa bosan. Tapi semoga, kesabaran kita masih cukup panjang untuk tidak kalah dengan kebosanan. Rasa tanggung jawab kita, minimal atas diri sendiri dan keluarga, masih cukup besar untuk menang di atas keinginan untuk kembali eksis di dunia luar, saat kita punya privilege untuk tetap tinggal di rumah di masa sulit ini. Kemudahan untuk tetap di rumah saja adalah sebuah nikmat, yang semoga tidak kita kufuri hanya karena rindu ingin bersepeda ramai-ramai atau nongkrong di cafe favorit kita.

Tak apa. Tak apa untuk mengakui pada diri sendiri bahwa kita telah jenuh dengan kondisi ini. Tiap orang punya karakter yang berbeda. Dan bagi mereka yang menganggap berdiam di rumah adalah sesuatu yang tak mudah, maka semoga pahala bersabar atas itu semua juga menjadi berkali lipat besarnya. 

Beberapa dari kita berupaya menjaga imunitas diri dan tidak menjadikan corona sebagai beban pikiran dengan mengurangi informasi tentangnya. Ya, memang tentang corona, mungkin informasi yang kita punya sudah cukup, bahkan barangkali malah berlebih dengan ekstra hoax di sana-sini. Kita mungkin tak perlu lagi tahu tentang corona lebih dari ini, yang perlu kita tahu sekarang adalah tentang diri kita sendiri, alias; tahu diri. 
Kita berprasangka baik kepadaNya bahwa yang kita hadapi hari ini akan segera berlalu. Tapi bukankah keadaan kita tidak akan diubah olehNya jika kita tidak punya usaha untuk mengubahnya? Pertanyaannya sekarang, sudah cukupkah usaha kita? 

#dirumahaja, 9 April 2020
*mungkin bagi kamu, mulai membosankan membaca topik tentang Covid19 lagi dan lagi. Tapi tulisan-tulisan ini di tahun-tahun mendatang akan menjadi pengingat tentang bagaimana kita melalui masa-masa berat yang semoga tidak perlu lagi terulang. Aamiin. 


Senin, 23 Maret 2020

Di Atas Sajadah

Di masa single dulu, frase 'mencari imam' sebagai gambaran keinginan untuk menikah sering dijadikan bahan cekikikan oleh sesama jomlowati. Meski pada kenyataannya, setelah menikah, menjadikan suami sebagai imam shalat, bukanlah sesuatu yang bisa selalu dilakukan. Ya, sebab idealnya, suami shalat di masjid, dan istri shalat di rumah. 
Tapi, di masa sekarang ini, ada yang berbeda. Saya yakin, di antara kita, banyak yang kemudian mendapatkan kesempatan untuk bisa shalat fardhu lima kali sehari dengan diimami oleh sang suami. Ya, sebab di masa swakarantina seperti sekarang ini, para lelaki pecinta masjid, 'terpaksa' untuk shalat di rumah, dalam rangka menaati anjuran para ulama dan umara. 
Gimana rasanya buibu? 
Saya pribadi, terus terang merasa campur aduk. Masa ini tiba, masa di mana kita tidak lagi sebebas merpati untuk bisa keluar dari rumah kita sendiri. Sebagai seseorang yang tidak punya aktivitas rutin di luar rumah, pun tidak menjadikan jalan-jalan dan nongkrong cantik sebagai kebutuhan, bagaimanapun, kondisi ini tetap bukanlah yang saya inginkan. Bangun tidur dengan menatap jendela, bertanya-tanya apakah hari ini akan ada lagi korban yang akan bertambah di luar sana. Bertemu orang lain dengan menjaga jarak, khawatir jangan sampai ada virus yang ia bawa. Memikirkan betapa jerih payah para petugas kesehatan, dan adakah mereka akan tetap kuat hingga akhir perjuangan. 
Sebab nyatanya, corona tidak mengenal menteri atau para pekerja harian. Corona tidak mengenal artis, atau fansnya. Corona tidak mengenal dokter atau pasiennya. Corona, hanyalah makhluk dengan ukuran yang berkali lipat lebih kecil dari manusia, tapi ternyata Allah mampukan untuk mengguncang dunia. 
Berbagai macam himbauan telah disampaikan untuk penanggulangan keadaan ini. Setiap hari, kasus terus bertambah, tapi sayangnya, tidak dengan kesadaran kita. 
Hati saya bergidik saat mendengar kabar bahwa di berbagai tempat masih banyak orang yang dengan santai keluar rumah tanpa kepentingan. Ada yang menyepelekan keadaan dengan fakta bahwa daerahnya belum-zona-merah. Ada yang menganggap corona hanya ditakuti oleh mereka yang lemah iman dan hampa tawakkal. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Kami punya pilihan untuk tetap tinggal di rumah dan itu yang kami lakukan. Hingga lelah kita mengkritiki kebijakan pemerintah, atau menyumpah serapahi mereka yang masih bebal untuk tak mendengarkan arahan, nyatanya tidak membawa apa-apa. Pada akhirnya, upaya kita adalah tetap tinggal di rumah sembari terus berdoa di atas sajadah, semoga pendemi ini segera berlalu saja. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Khawatir jangan sampai keadaan akan sampai pada fase seleksi alam. Jangan sampai akhirnya tenaga medis harus memilih pasien mana yang harus mereka selamatkan. Entah kapan kita akan sadar bahwa angka pasien yang tumbang itu adalah tentang satu nyawa yang sangat berharga. Apakah karena mereka bukan orang yang kita kenal? Ataukah karena mereka bukan diri kita sendiri? Haruskah kita sampai di titik itu untuk kemudian tersadar? 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Ya, bahkan di dalam rumahpun, jika ajal telah ditakdirkan, maka kita akan mati juga. Tapi bukankah tawakkal adalah selepas mengikat tali kekang unta? Ada ikhtiar dahulu yang harus dilakukan. Anjurannya sejatinya sangat ringan. Tinggal di rumah, makan bergizi, istirahat yang cukup, rajin cuci tangan. Apa yang lebih mudah dari itu? Mungkin yang berat hanyalah menghalau rasa bosan. Yang berat hanya merasa cukup dengan apa yang bisa kita nikmati di dalam rumah. Rasa bosan yang bisa membuat masa swakarantina ini justru bakal lebih panjang jika kita masih menyepelekan segala anjuran itu. 
Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Harapan saya, sesimpel saya ingin melihat kembali suami saya bisa bebas berjamaah di masjid. Sesimpel saya ingin kakak saya yang dirantau bisa mudik untuk bersama merayakan lebaran. Sesimpel saya ingin menikmati bulan puasa dengan normal, dengan kemeriahan jama'ah tarawih dan suara para penceramah di masjid-masjid yang ramai. Sesimpel saya ingin kembali bisa menghirup udara luar dengan tenang, bertemu orang lain dengan tenang, dan berjalan ke manapun dengan tenang. 
Corona mungkin memang ingin kita menyingkir sejenak dari keramaian. Berteman dengan diri kita sendiri. Terpekur di atas sajadah dan merenungi segala keterbatasan kita sebagai hamba. Corona mungkin ingin kita jeda sejenak dalam hening. Pada hal-hal yang kemarin selalu kita anggap penting. Kita menyaksikannya menumbangkan raksasa China, kecanggihan Italia, bahkan meneror adidaya Amerika. Tapi tak secuil pun hadir di Gaza, membuat kita sadar, sebab dari dulu saudara-saudara kita di sana telah diisolasi oleh dunia, saat kini kita diisolasi oleh virus yang begitu mungilnya. 

Hingga kini saya sampai pada titik di mana, rasanya hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarga sendiri. Dan saya berharap kamu minimal juga punya pikiran yang sama. Dan akhirnya kita semua memikirkan hal yang serupa. Kemudian masa-masa berat ini akan berlalu, biidznillah...

*teriring doa, semoga mereka yang tetap harus keluar rumah berjuang untuk keluarga, senantiasa dilindungi dan disehatkan oleh Allah...

Selasa, 17 Maret 2020

Bersama Hadapi Corona

BERSAMA HADAPI CORONA
Oleh: Diena Rifa’ah

Ada rasa tak enak di hati saya saat pertamakali mendengar kabar tentang virus corona. Waktu itu, beritanya baru tentang China, Wuhan, dan berbagai kengerian tentang para pasien yang begitu cepat melonjak angkanya. Kekhawatiran itu semakin jadi saat kemudian saya mendapati bahwa kita, warga +62 malah sibuk membuat lelucon tentang penyakit itu. Cadaan yang bukan hanya terlontar oleh masyarakat di akar rumput, tapi bahkan oleh para pejabatnya. Kadang, memang ada batas yang tipis antara bercanda dengan sesumbar. Seolah kita bakal sekuat itu sekiranya diuji dengan hal yang sama. Selalu, saya akan bersepakat bahwa lucu-lucuan tentang sebuah tragedi itu jahat. 

Hingga kemudian hari itu tiba. Hari di mana secara resmi presiden mengumumkan tentang dua kasus pertama infeksi Corona di Indonesia. Deg. Si virus, akhirnya sampai di tanah air. Bersama dengan itu, gelombang berita tentangnya bagai tak terbendung. Mulai dari berita tentang korban, juga berbagai rupa-rupa cara untuk menyembuhkan diri dari penyakit tersebut. Dan tentu, tidak semua dari itu merupakan fakta. Sayangnya, terkadang kecepatan jemari kita untuk membagikan berita, jauh lebih cepat daripada keinginan kita untuk mengonfirmasi kebenarannya. Bah. 

Kini, Indonesia berada dalam fase di mana kita dianjurkan untuk #dirumahaja. Sebuah himbauan yang sekiranya sangat sejalan dengan apa yang Islam tuntunkan dalam menghadapi wabah. Lagi-lagi sayangnya, anjuran itu tidak mampu benar-benar dipahami oleh segenap kita. Hasilnya, kebijakan untuk libur kemudian diartikan sebagai liburan. Tempat-tempat wisata diramaikan, sesuatu yang sungguh tidak sejalan dengan konsep sosial-distancing yang seharusnya sejalan dengan upaya swakarantina. Belum lagi dengan harga masker yang melonjak, handsanitizer yang jadi langka, bahkan beberapa kebutuhan pokok yang entah diborong oleh siapa. 

Padahal, sebenarnya kita diberi banyak waktu dan contoh dari negara-negara yang lebih dahulu menghadapi hal yang sama. Dari China yang kini bahkan bisa bernapas lega setelah badai Corona menghantam mereka. Tenaga medis yang menangani virus ini di Tirai Bambu bahkan kini kembali berupaya melakukan hal yang sama dengan terbang ke Itali, negara dengan pasien terinfeksi Corona yang cukup tinggi. Ada juga Singapura, Saudi, bahkan Vietnam-negara yang lebih kecil dari Indonesia, yang mampu menghadapi Corona dengan elegan. Contohnya sudah ada, tinggal kita mau ikut jalan yang mana. 

Saya deg-degan saat membayangkan bagaimana pemerintah kita menghadapi ini semua, plus bagaimana kita sebagai rakyat mampu melepas keras kepala dan rasa manja dengan bersama melakukan upaya agar wabah ini segera berlalu. Padahal kita hanya diminta #dirumahaja, hitung-hitung biar tahu bagaimana perasaan Ibu-Ibu Rumah Tangga yang sehari-harinya ya emang Cuma di rumah aja. Kita hanya diminta #workfromhome, sesuatu yang dilakoni para emak-emak olshop bahkan di suatuasi normal sekalipun. Dan makin kita disiplin dengan itu, insyaallah makin cepat pula kondisi ini akan berlalu. 

Guys, bentar lagi Ramadan loh. Kita tentu tak mau Ramadan jadi sepi sunyi karena kita dilarang berkumpul untuk jama'ah di Masjid kan? Banyak-banyak mengedukasi diri tentang wabah ini, biar kita bisa bertindak benar dan proporsional. Santuylah pada tempatnya. Tawakkal lah dengan setepat-tepatnya cara. Lincahlah tapi jangan lincah salah-salah. Kita bukan hanya butuh Pak Jokowi dan Menkes untuk menyudahi ini semua. Kita butuh kompak dan bersatu untuk kebaikan bersama. Mungkin, negeri ini sudah terlalu lama saling adu jotos karena berbagai perbedaan. Mungkin, kali ini Allah mau kita kembali bersatu untuk bersama menghadapi apa yang telah Dia takdirkan. 

Kalo kata Mbak Najwa Shihab, hari ini, soliter berarti solider. Ada para tenaga kesehatan yang pastinya ingiiin sekali bisa kumpul keluarga di situasi sulit kayak begini. Tapi mereka harus berada di garda terdepan untuk merawat para pasien. So, kita-kita yang tidak punya hajat yang penting-penting amat, sok atuh disyukuri saja kesempatan untuk tetap tinggal di rumah. 

Insyaallah badai akan berlalu. Kita tinggal pilih, mau jadi bagian yang ikut meredakan badai, atau tetap egois dengan pemikiran kita sendiri. 

Sehat-sehatki' semua!

Minggu, 19 Januari 2020

[Resensi] Rasulullah Pendidik Sukses

Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan memegang pengaruh yang sangat penting dalam kemajuan sebuah bangsa, bahkan kemajuan sebuah peradaban. Islam, sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh juga menempatkan posisi pendidikan dan ilmu pada tempat yang sangat penting dan mulia. Berbagai isyarat ditunjukkan mengenai hal ini, di antaranya bahwa ayat yang pertama kali turun adalah tentang perintah untuk membaca juga bagaimana seorang ulama ditempatkan pada posisi yang begitu terhormat dalam agama ini. 

Pendidikan dalam hal ini tentunya bukan hanya menyangkut pada aspek ilmu pengetahuan secara umum, namun tentunya disertai dengan pemahaman agama yang mumpuni sebagai aspek yang sangat menentukan dalam proses filterisasi ilmu yang diterima oleh seorang muslim. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai uswah dan qudwah terbaik tentunya juga menjadi sumber inspirasi utama dalam proses pendidikan itu sendiri. Bagaimana beliau shalalllahu alaihi wasallam sebagai seorang rasul juga tentunya merupakan sebaik-baik pendidik yang telah menghasilkan generasi terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Generasi para shahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in adalah contoh nyata dari keberhasilan proses pendidikan yang dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. 

Berangkat dari perhatian yang besar tentang masalah ini, Prof.Dr. Fadhl Ilahi menulis sebuah buku dengan judul Rasulullah Pendidik Sukses (Meneladani Rasulullah dalam mencetak generasi sukses dunia). Buku ini akan mengupas secara tuntas tentang bagaimana teladan yang dicontohkan oleh pendidik terbaik sepanjang masa, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menjalankan proses pendidikan itu sendiri sehingga sukses mengantarkan para shahabat bukan hanya unggul dari sisi ilmu, namun juga menjadi pribadi-pribadi terbaik secara utuh. Akan dibahas empat puluh lima masalah yang diambil sebagai faidah dari sirah Nabi Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang guru dengan menjadikan al Qur’an dan hadits Nabi yang mulia sebagai referensi utama, di mana faidah dari ayat atau hadits yang dibahas diambil dari keterangan para ahli tafsir dan hadits. Kelebihan lain dari buku ini adalah, pembahasannya yang ringkas dan padat, namun di bagian-bagian tertentu juga mengisyaratkan faidah-faidah lain yang berkaitan dengan topik pembahasan yang sedang dipaparkan. Selain itu, juga terdapat keterangan tentang kata-kata asing yang digunakan, untuk menyempurnakan dari penjelasan-penjelasan faidah yang dibahas. Serta dicantumkan pula referensi dan sumber dari daftarnya sehingga mempermudah pembaca yang ingin melakukan penelusuran lebih lanjut.

Pada empat pembahasan pertama dalam buku ini, digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sangat memberikan perhatian pada masalah teknis yang berhubungan dengan penyampaian ilmu dan proses pendidikan itu sendiri. Hal ini terkadang menjadi sesuatu yang sederhana namun luput dari perhatian, dan seringkali dianggap tidak begitu penting. Diletakkannya pembahasan ini pada bagian awal juga merupakan satu isyarat bahwa terkadang permasalahan teknis yang terkesan sepele justru bisa jadi membawa pengaruh yang besar dalam proses pendidikan. Digambarkan bagaimana Rasululllah Shallallahu alaihi wasallam senantiasa memilih ta’lim-nya pada waktu yang sesuai. Pemilihan waktu ini tentu menjadi bervariasi tergantung dari kondisi yang beliau hadapi kala itu. Misalnya pemilihan waktu selepas shalat Isya, mendekati pertengahan malam, setelah bangun tidur di malam hari, dan setelah berlalu dua per tiga malam. Hal ini bisa menjadi referensi bagi seorang pendidik untuk memperhatikan masalah pemilihan waktu ini sehingga mampu mendapatkan hasil yang efektif dan efisien dalam proses mentrasnfer ilmu. 

Selain pemilihan waktu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga memilih tempat yang tepat dalam melakukan proses pendidikan. Masjid, rumah untuk mengajar kaum wanita, kota Mina, dan ketika safar, merupakan contoh tempat-tempat yang dipilih oleh sang Rasul. Selain tempat dan waktu, objek dakwah juga menjadi satu concern tersendiri yang diperhatikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Keluarga terdekat, kaum kerabat, para shahabat dekat, pemuda, anak-anak, kaum wanita, suku Arab Badui, dan para muallaf adalah kelompok-kelompok tertentu yang menerima pendidikan langsung dari Rasulullah yang masing-masing memiliki karakteristik khusus, sehingga berbeda pula dalam metode pendidikannya. Syaikh menguraikan kesemuanya itu dengan untaian sirah yang penuh dengan faidah sehingga kita seolah diajak untuk menelusuri betapa jeniusnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menghadapi objek dakwahnya. 

Berbagai kesempatan-kesempatan khusus juga tidak luput dari perhatian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk mengambil kesempatan dalam menjalankan proses pendidikan. Bulan purnama, gerhana bulan, momentum saat para shahabat menyaksikan kasih sayang seorang ibu kepada bayinya, bahkan saat seorang shahabat cemburu kepada istrinya, menjadi momen-momen yang tidak dilewatkan oleh beliau dalam memberikan pengajaran kepada anak didiknya. Hikmah dan ilmu menjadi sesuatu yang seolah sangat mudah untuk dipetik pada kondisi-kondisi tertentu sehingga dapat tertancap di dalam hati para shahabat kala itu, bahkan dari hal-hal yang sederhana sekalipun. 

Kemudian pada tujuh bagian selanjutnya, digambarkan bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengikat hati pada anak didiknya, sehingga proses penyampaian ilmu dan pendidikan tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang guru yang mulia, tidak kemudian menciptakan jarak dengan anak didiknya, namun justru mereduksi jarak tersebut, sehingga terciptalah kelekatan. 

Beliau mencontohkan bagaimana senantiasa menyambut gembira kedatangan seorang penuntut ilmu, mendekat secara fisik kepada orang yang ia ajak bicara, memposisikan duduknya sehingga menghadap ke arah pendengar, dan pendengarnya pun menghadap ke arahnya, menggunakan panggilan yang mengakrabkan dengan lawan bicara, menyentuh anggota badan murid untuk menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan memberikan pengaruh yang besar dalam proses pendidikan, serta menepuk murid untuk memberi peringatan dan menunjukkan keramahan. 

Lalu memasuki bagian-bagian selanjutnya, kita akan disuguhkan dengan pengalaman dalam membersamai majelis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Akan dibahas tentang bagaimana cara beliau dalam menyampaikan ilmu . Tentang bagaimana jelas dan tenangnya beliau dalam berbicara, bagaimana Rasulullah mengulangi ucapannya demi memberikan penekanan akan suatu maksud yang penting, terkadang pula beliau menggunakan isyarat, atau memanfaatkan alat berupa garis dan gambar untuk menjelaskan sesuatu. Tak jarang pula kita menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Dan tentunya, beliau sebagai uswah dan qudwah terbaik juga senantiasa mengajarkan sesuatu bukan hanya dengan lisannya, namun langsung dengan mencontohkan dalam perbuatannya. 

Kemudian ada momen-momen tertentu di mana sang Rasul menggunakan metode perbandingan, kadang pula dengan metode pertanyaan, tak jarang juga dengan melontarkan soal-soal. Penyampaiannya pun sistematis, sehingga para shahabat mudah untuk memahami konsep besar dari sebuah ilmu, dengan cara menjelaskan sesuatu terlebih dahulu secara umum, baru kemudian merincinya dalam poin-poin yang khusus. Hal-hal tertentu yang terkadang juga sensitif untuk dibahas, tidak luput dari pengajaran beliau, dan beliau tidak malu untuk menyampaikannya. 

Dalam menanggapi pertanyaan dari muridnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah sosok yang sangat toleran. Beliau tidak segan untuk memuji pertanyaan yang bagus, serta terkadang menjawab dengan sesuatu yang lebih dari yang ditanyakan. Namun, kita kembali belajar tentang bagaimana adab dan akhlak beliau yang mulia, yakni bagaimana sekelas nabi shalallahu alaihi wasallam saja, bahkan memilih untuk diam terhadap hal-hal yang belum beliau ketahui dengan pasti. Serta bersikap lapang dada ketika diingatkan, bahkan beliau sendiri yang menganjurkan para shahabat untuk membetulkan bacaan beliau ketika shalat. Sebuah bentuk ketawadhuan yang luar biasa dari seorang guru terbaik sepanjang masa, di saat hari ini kita terkadang mendapati orang-orang berilmu yang ilmunya membuatnya tak lagi mampu menerima masukan dari manusia lainnya, bahkan meski hal tersebut adalah sebuah kebenaran. Naudzubillah...

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dalam berinteraksi dengan para muridnya juga menggunakan metode dua arah di mana bukan  beliau melulu yang ‘mendominasi’ sebuah majelis. Dalam beberapa riwayat, digambarkan bagaimana beliau memberi kesempatan kepada muridnya untuk bercerita di hadapannya. Juga memberi kesempatan untuk mengulang pelajaran kepada beliau sehingga ilmu yang diajarkan benar-benar melekat dengan kuat dalam hati anak didiknya. 

Dibalik sikap lemah lembut Rasulullah sebagai seorang pendidik yang tidak diragukan lagi, ternyata sejarah juga mencatat bahwa ada sisi ketegasan yang tidak juga ditinggalkan secara penuh. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga pernah marah dalam beberapa kesempatan ketika para shahabat kurang memahami sesuatu yang telah beliau ajarkan. Seperti saat beliau mendapati adanya dahak di dalam masjid, atau tatkala shalat diperpanjang tanpa memperhatikan kondisi orang-orang yang menjadi makmumnya. Hal ini menunjukkan bahwa memadukan kelembutan dengan ketegasan dalam proses pendidikan bukanlah sesuatu yang mustahil. Dan bahwa ada hal-hal tertentu yang memang memerlukan sikap lebih ‘keras’ agar menjadi perhatian bagi anak didik.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam juga mencontohkan sikap untuk tidak membedakan murid-muridnya terutama dari sisi strata sosial. Bahkan, beberapa riwayat menunjukkan bagaimana beliau justru lebih mengutamakan murid-muridnya yang tergolong berkekurangan dari sisi harta. Rasul juga merupakan seorang guru yang sangat memperhatikan keadaan anak didiknya sekaligus senantiasa memuliakan shahabat-shahabat yang utama. Sisi evalusia dari seorang guru juga ditunjukkan oleh Rasul tatkala beliau senantiasa memperhatikan pengaruh ucapan dan perbuatannya terhadap para shahabat. Perhatian yang besar juga tercermin manakala beliau menghapal satu per satu murid-muridnya dengan merasa kehilangan manakala ada seorang murid saja yang tidak beliau jumpai dalam satu waktu. Ditengah keilmuan beliau yang tidak tertandingi, Rasul merupakan sosok pengajar yang selalu memberi kemudahan pada murid-muridnya serta menganjurkan untuk mempelajari hal-hal yang mudah dan dimampui oleh anak didiknya masing-masing. 

Pada akhirnya, membersamai sejarah bagaiamana Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang pendidik yang sukses dalam rentang empat ratusan halaman dalam buku ini, akan senantiasa membawa kita kepada kerinduan yang mendalam atas sosok beliau. Telah diutus Rasulullah Muhammad bin Abdullah Shalallahu alaihi wasallam sebagai guru sejati yang hingga kini pengajarannya telah diabadikan di dalam hadits-hadits yang mulia. Maka tentu telah menjadi kewajiban atas kita semua untuk senantiasa mengambil pelajaran dari kehidupan beliau secara umum, maupun dari sosok pendidik yang ditampakkannya secara khusus sehingga kita mampu untuk membangun kembali generasi terbaik, mengembalikan dengannya kejayaan Islam dan kaum muslimin, biidznillah. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad.... 


Jumat, 17 Januari 2020

Momentum

Begitu banyak hal yang terjadi dalam satu dekade ke belakang ini. Mungkin karena itulah di akhir tahun kemarin, saya terkesan sangat 'niat' untuk melakukan throwback. Mohon maaf jika terkesan turut merayakan pergantian tahun, meski bagi saya, sama sekali bukan tentang itu. 

Hanya saja, sebab penanggalan kita memang masih secara umum menggunakan kalender masehi, sehingga berbagai momentum tersebut terekam dalam almanak matahari, hingga dengan itulah pulalah ia kemudian terkenang. 

Tahun 2010 hingga 2019 memang bukanlah tahun-tahun yang biasa. Ia bukan lagi diisi dengan rutinitas sebagai pelajar sebagaimana dekade sebelumnya dalam hidup saya. Bagi perempuan yang sepantaran dengan saya, rentang masa itu adalah tentang usia dua puluh hingga tiga puluh. Fase quarter life crisis yang berisi berbagai macam kejadian-kejadian besar. 

Pada saya, usia itu adalah saat di mana saya menuai ketekunan di bidang kepenulisan, dengan memulai debut pertama karya yang diikuti dengan 'adik-adiknya' selanjutnya. Pada masa itu pula pendidikan formal saya berada di penghujungnya, menjadi sarjana dengan berbagai mimpi tentang karir (yang kemudian harus saya kubur sebelum ia hidup), melanjutkan studi profesi, menikah, punya anak, punya anak lagi, juga di saat yang sama salah satu orang tua saya tutup usia. 

Mengenang dekade itu adalah merasakan bagaimana saya menyaksikan kelahiran, kematian, menggapai, melepaskan, masuk ke kehidupan baru, dan melepaskan kehidupan lama. Di fase itu saya pernah merasa berada di puncak bahagia, pun juga puncak kesedihan. Pada kurun sepuluh tahun itu sungguh betapa banyak hal yang terjadi. Yang telah saya rencanakan, maupun yang tak pernah saya bayangkan. Semua itu pada akhirnya, membentuk saya menjadi saya yang sekarang. 

Di tahun-tahun itu pula, saya merenung dengan renungan yang dalam. Memutuskan untuk melepaskan lingkaran homogen yang selama ini adalah zona nyaman saya. Memiliki sebentuk pemikiran baru yang kemudian secara otomatis menjadi filter tentang siapa saja yang bersinggungan dengan saya sekarang. 

Saya benar-benar menjadi 'no one'. Tidak terikat dengan apapun dan siapapun kecuali dengan ring pertama dalam lingkaran saya: suami, anak-anak, ibu, dan adik. Saya menjadi tidak punya 'urusan' apapun di luar sana. Sehingga akhirnya, mereka yang tetap terkoneksi dengan saya hanyalah benar-benar mereka yang 'cukup peduli' tanpa memiliki kepentingan apapun. Tidak ada lagi salam sapa basa-basi yang diikuti dengan pembicaraan tentang sebuah urusan. 

Saya kemudian menjadi lebih mampu untuk memahami hal-hal yang bersifat subtansi. Lebih mengerti tentang apa sebenarnya makna perjuangan sejati. Lebih tahu bahwa kehidupan setiap orang akan punya medan juang yang tak sama. Berusaha untuk terus menyamakannya hanya akan membuat kita terkungkung pada tempurung yang kita cipta dari pikiran kita sendiri. Parahnya, ternyata selama ini tanpa sadar saya memiliki standar kemuliaan dan kebajikan yang nampaknya hanya berkiblat pada hal-hal yang artifisial. Sesuatu, yang mungkin tidak akan pernah saya pahami kecuali jika saya berada di titik yang sekarang saya pilih. 

Dulu, sering sekali saya bertanya kepada mereka yang 'pergi'; apakah bagi mereka semua ini menjadi lebih baik? Saat kemudian tanpa sadar saya ikut bersepakat menilai mereka mengalami 'kemunduran', dengan standar yang sejatinya dicipta dari ukuran manusia. Namun saya masih terus menyimpan tanya, bahwa jika jalan kebenaran itu adalah candu, dan seharusnya mereka akan merasa rindu, tapi mengapa nyatanya mereka tak pernah kembali lagi? 

Hingga kemudian saya berada di titik yang sama dan tersadar bahwa semuanya memang tidak seburuk itu. Bahwa ternyata akan selalu ada jalan juang yang berbeda, meski mungkin kita menuju satu titik tujuan yang sama. Dan semua itu sejatinya, boleh-boleh saja. 

Dekade berikutnya kemudian tengah berjalan. Kita tidak tahu seberapa lama jatah umur yang Allah beri. Namun kita selalu punya harapan untuk menjadi lebih baik lagi. Jika ada seseorang yang kepadanya saya ingin berterima kasih, maka ia adalah diri saya sendiri. 

Din, terima kasih telah melalui dekade kemarin dengan caramu. Tidak mudah, tapi kamu telah menjalaninya. Teruslah berjalan, hingga Allah yang memanggil untuk pulang. Teruslah berjuang pada apa yang Allah takdirkan. SurgaNya luas, dan terkadang jalan ke sana sejatinya dekat saja. 

Jumat, 10 Januari 2020

Seorang Isteri yang Menangis di Restoran

“Pasti pengantin baru...” bisik saya kepada Abu Fayyadh yang sedang sibuk dengan ayam goreng pesanannya.

“Tuh cincinnya...”, Abu Fayyadh menengok sekejap pada pasangan yang tengah bergandengan tangan memasuki restoran di mana kami berempat juga sedang menikmati hidangan.

Pasangan suami istri yang nampaknya berusia lebih muda dari kami itu sedang sibuk mencari meja yang kosong. Selanjutnya, keduanya kemudian duduk di posisi tepat pada jarak pandang saya. Membuat saya dengan leluasa dapat memerhatikan mereka sambil menyuapi dua bocah yang sedang sibuk menikmati nasi gorengnya.

“Tapi kok diam-diaman ya, Ba?” saya kembali berbisik pada Abu Fayyadh sambil melirik pada pasangan itu. Insting kepo saya sungguh sedang bekerja dengan baik. Abu Fayyadh mengangkat kedua bahunya. “Eh, ini sambalnya enak...” ujarnya kemudian. Tidak nyambung.

Ya, pasangan muda itu nampak saling diam. Tidak juga sibuk dengan gadgetnya. Keduanya duduk berhadap-hadapan, tapi dengan pandangan mata yang tidak saling memandang. Justru melihat ke arah lain dengan tatapan kosong. Lebih tepatnya, seolah sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Perhatian saya kembali teralihkan kepada Fawwaz yang menggeleng saat saya suapi, dan Fayyadh yang menjerit ingin minum, saat kemudian ekor mata saya mendapati sang pria mengusap-usap pundak wanitanya, seolah sedang menenangkan istrinya itu.

“Ba.., kayaknya mereka lagi ada masalah deh...” ujar saya lagi kepada Abu Fayyadh

“Auuu....” ujar Abu Fayyadh dengan ekspresi yang (seolah-olah) peduli.

Sejurus kemudian, sang wanita nampak meraih tissue di hadapannya, lalu mengusap air matanya dengan punggung yang bergetar. Perempuan itu, menangis.

“Istrinya nangis, Ba...” ucap saya lagi. Abu Fayyadh menempelkan telunjuk pada bibirnya. Nampaknya mulai tidak tahan dengan kekepoan saya, ia kini sibuk menyuapi Fayyadh dengan cincau dari gelas es telernya.

Pemandangan itu, membuat saya menghembuskan napas. Saya tidak kenal sama mereka. Saya bahkan tidak benar-benar tahu apakah tebakan saya bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru itu benar atau tidak. Tapi, sekiranya memang benar, maka sungguh saya merasa sama sekali tidak heran.

Ya, tentu tidak mengherankan saat kita mendapati bahwa ada pasangan muda yang tengah bermasalah dengan rumah tangganya. Iya, sebab nyatanya membangun rumah tangga yang terus menerus stabil tanpa masalah, nyaris merupakan sebuah kemustahilan.

Rumah tangga yang terdiri dari seorang lelaki dan seorang wanita yang konon berasal dari ‘planet’ yang berbeda, bukanlah tempat yang melulu hanya berisi kebahagiaan saja. Akan ada ujian. Ada masalah. Ada benturan, cekcok, dan perselisihan yang bisa jadi akan menghinggapinya. Perbedaan karakter dan fitrah dasar antara lelaki dan perempuan bisa menjadi alasan yang sangat logis dalam hal ini.

Saat masalah datang, maka kita akan dihadapkan dengan suami yang ingin segera mencari solusi, sementara istri yang terkadang hanya perlu untuk menemukan ruang curahan hati terlebih dahulu. Jika keduanya tidak bisa menurunkan ego untuk berada pada titik tengah, maka suami akan mendapati istrinya sebagai makhluk yang lemah nan suka mengeluh, sementara si istri akan menganggap suaminya sebagai manusia tanpa kepekaan dan tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Saat itu terjadi, maka: BOOOM! Benturan, tidak lagi terelakkan.

Belum lagi, saat kita mendapati bahwa ada pihak ketiga, yang merupakan musuh sejatinya manusia, yang mana ia bernama setan, yang sungguhlah berbangga jika berhasil memisahkan antara istri dan suaminya dari ikatan suci mahligai rumah tangga.

Dalah periwayatan Imam Muslim, lewat penuturan Jabir Radhiyallahu ‘anhu, kita akan mendapati bahwa Iblis teramat sangat membanggakan anak buahnya, yakni setan yang berkata; “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.”

Maka ya, sebab pernikahan adalah ibadah, karena itulah setan akan merasa sangat bangga jika berhasil membuat kita gagal dalam ibadah yang teramat panjang ini. Naudzubillahi min zalik...

Sebab pernikahan adalah ibadah, maka dengannyalah kita bisa meraih surga. Dengan taat pada suaminya, seorang wanita yang menjaga shalat dan puasanya, serta menjaga kehormatannya, dapat masuk surga lewat pintu yang manapun juga. Dengan memberi nafkah kepada anak istrinya, seorang lelaki dapat mengumpulkan pundi-pundi amalan baik yang dapat mendatangkan ridha dan rahmat Allah.

Tapi, apakah semudah itu? Sayangnya, tidak selalu seperti itu, qaqa...

Saya, baru benar-benar mengerti, mengapa suatu hari dalam sebuah daurah sakinah yang saya ikuti semasa gadis dulu, sang ustadzah berkisah, bahwa kalimat pertama yang ia ucapkan kepada sang suami setelah akad adalah; bantulah saya untuk taat kepadamu....

Sebab nyatanya, ada ego yang harus ditekan, ada kepentingan diri yang harus disingkirkan, dan ada keyakinan kuat yang harus ditancapkan, saat kita dituntut untuk senantiasa taat, bahkan atas perkara yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Saya, baru benar-benar menyadari, mengapa memberi nafkah kepada keluarga itu menjadi hal yang begitu penting, saat ternyata, mendampingi suami dari titik nol itu bukanlah perkara yang ringan. Saat pada posisi sebagai anak dulu, kita tidak pernah benar-benar menyadari betapa ayah kita sesungguhnya mengorbankan banyak hal hingga sampai pada titik yang kemudian kita nikmati bersama. Dan, menyaksikan suami harus menyingkirkan segala gengsi, membanting tulang ke sana kemari, termasuk membangun optimisme saat terbentur dengan kegagalan, bukanlah perkara sederhana yang dapat dengan mudah terlewati.

Maka karena itulah, pernikahan tidak bisa hanya dibangun dengan cinta saja. Karena itulah, dalam setiap shalat kita, kita berharap kekuatan dan pertolongan dari Allah untuk memudahkan kita dalam mengarungi biduk rumah tangga. Saat hari ini, seorang suami harus menundukkan pandangan lebih rapat, sebab para wanita mulai kehilangan rasa malunya. Saat hari ini, seorang istri harus bisa lebih mengqanaahkan diri, saat sesama perempuan terkadang ringan saja untuk saling memamerkan perbendaharaan dunia, sehingga perempuan lainnya harus semakin kuat untuk merajut kesyukuran dan kesabaran atas keadaannya.

Maka pada titik kelemahan kita masing-masing, kita berharap, Allah menolong kita melaluinya.

***

Kami sudah akan meninggalkan lokasi tempat menghabiskan weekend siang itu saat kemudian saya kembali berpapasan dengan pasangan di restoran tadi. Raut wajah mereka masih sama seperti tadi. Tapi, telapak tangan keduanya masih saling bergenggam. Erat.

Saya tersenyum.

Sambil dalam hati tersimpan doa, semoga rumah tangga keduanya baik-baik saja.

Sabtu, 04 Januari 2020

♥️

Seumur hidup, tak pernah ada lelaki yang dekat denganku. Tidak bapak, tidak pula kakak lelakiku. 

Sejak paham tentang makna kesedihan, aku selalu berusaha mendekapnya sendiri. Membiarkan malam dan sepi menjadi saksinya. Dan menangis bersama diriku sendiri. 

Hingga Allah menakdirkanmu datang. Merentangkan pelukan dan menawarkan bahu untuk bersandar. Menyeka air mata dan menjadi saksi atas segala rapuhku yang ada. 

Mungkin kini kau adalah manusia yang paling mengetahui tentang aku, melebihi orang tuaku sendiri. Hanya empat tahun kebersamaan hingga sekarang, tapi mungkin telah kau saksikan segalanya. 

Sebuah pesan cinta yang kau tulis di selembar kertas bekas dengan krayon anak-anak ini, saat hatiku tengah kelam, dan kau bertanya mengapa denganmu begitu mudah aku terluka. Dan mungkin, itu sebab aku kembali jatuh cinta kepadamu lebih dalam lagi. 

Terima kasih, sayang. 

Diri dan hatiku mengaminkan dengan penuh. Semoga bersama kita di dunia, hingga berkumpul kembali di surga. 

Kamis, 26 Desember 2019

Wanita dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Tidak dapat dipungkiri bahwa wanita memiliki peranan yang krusial di tengah masyarakat. Peranan wanita di sektor publik dan domestik bagaimanapun juga akan memberi pengaruh yang besar dalam berbagai hal. Termasuk dalam perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran merupakan satu perkara yang penting dalam agama ini. Namun terkadang, perkara ini dalam tataran pemikiran dan prakteknya, seringkali hanya diidentikkan dengan peran kaum pria saja. Maka berangkat dari hal tersebut, Dr. Fadhil Ilahi, menyusun sebuah risalah dengan tajuk; Wanita dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. 

Buku ini secara komprehensif akan membahas tentang bagaimana peranan seorang wanita dalam upaya menjalankan amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan fungsi dan kodrat mereka sebagai seorang perempuan. Dengan referensi utama dari Al Qur’an dan As Sunnah, juga merujuk kepada kitab-kitab sunnah, sirah, biografi, dan sejarah, diperkaya pula dengan nukilan dari hadits-hadits yang dilengkapi dengan derajat keshahihannya, buku ini mengulas secara komprehensif topik yang urgen tersebut. 

Buku ini dibagi dalam tiga bagian besar yang masing-masing bagiannya merunut kepada topik-topik yang penting. Pada pasal pertama dibahas tentang tanggung jawab wanita dalam urusan amar ma’ruf nahi munkar. Bagian ini akan menjadi landasan berpikir yang menunjukkan urgensi dari pembahasan-pembahasan selanjutnya. Tersusun atas dua pembahasan utama, di mana yang pertama membahas tentang dalil secara umum tentang amar ma’ruf nahi munkar, kemudian mengerucut kepada dalil yang secara khusus membahas tentang peranan kaum perempuan dalam hal ini. Dalil-dalil ini memberikan gambaran yang tegas tentang posisi wanita dalam perkara ini. 

Kemudian pada pembahasan kedua, masih di pasal yang sama, diuraikan pula tentang urgensi peranan kaum wanita dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Bahwa ada poin-poin penting yang menjadi konsekuensi logis, mengapa seorang wanita tidak bisa tidak, harus pula mengambil peran dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Misalnya, bahwa wanita sebagai seorang ibu tentu saja menjadi pihak yang paling banyak bersama dengan anak-anak mereka. Sehingga, dasar dari pembentukan generasi selanjutnya, menghajatkan peranan besar dari perempuan di dalamnya. Bahkan meskipun kaum lelaki telah secara maksimal menjalankan perannya dalam berdakwah untuk menegakkan kebenaran, namun tetap terdapat kekhawatiran, bahwa usaha itu tidak bisa menuai hasil yang maksimal, manakala sang isteri tidak memiliki fikrah yang sejalan dengan suaminya. Sementara di sisi lain, kaum istri memiliki pengaruh yang besar terhadap suaminya.  Demikian pula di dalam keluarga. Seorang anak perempuan akan menerima perhatian yang besar dari orang tuanya, sedemikian pula bagaimana seorang saudari akan menempati posisi yang istimewa di antara para saudara laki-lakinya. Maka secara utuh, posisi seorang wanita dalam peranannya di setiap fase kehidupannya, baik sebagai anak, saudari, istri, maupun ibu, memiliki peran yang sangat penting untuk mengusung tugas menyampaikan kebenaran, dan mencegah dari kemungkaran. 

Kemudian memasuki bagian kedua dari buku ini, kita akan disuguhkan dengan contoh real bagaimana tokoh-tokoh muslimah menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ini akan menjadi bagian yang panjang dan mengangkat nama-nama kaum muslimah dari kalangan salaf dalam upaya mereka menjalankan perannya dalam beramar ma’ruf nahi mungkar ke berbagai kalangan di tengah masyarakat tempat mereka berada. Menjadi menarik untuk turut ‘menyaksikan’ bagaimana para wanita ini ternyata sangat mampu untuk menjalankan tugas tersebut sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. 

Pada pembahasan pertama, dipaparkan bagaimana para muslimah dari kalangan salaf menegakkan amar ma’ruf nahi munkar kepada orang umum, kaum kerabat, dan handai taulan.

Disebutkan tentang kisah bagaimana Ummu Sulaim Radhiyallahu anha menyuruh anaknya untuk mengucapkan kalimat tauhid, juga bagaimana Aisyah Radhiyallahu anha mengingkari perbuatan memakaikan jimat di kaki orang sakit untuk upaya penyembuhan, Zainab bintu Abi Salamah yang melarang menamakan anak dengan nama yang tidak baik, serta ibu dari Sa’d bin Muadz yang menyuruh anaknya untuk menyusul pasukan Islam, atau Asma binti Abu Bakar yang melarang anaknya mengambil langkah yang salah dari peperangan karena takut mati. 

Selain di kalangan keluarganya sendiri, peranan muslimah juga ternyata dapat menjangkau amar ma’ruf nahi munkar kepada para ulama dan thalabul ilmi. Hal ini telah dituliskan oleh tinta emas sejarah dengan para muslimah kalangan salaf yang menjadi para tokoh utamanya. Sebagaimana Aisyah mengingkari fatwa dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu yang melarang memakai parfum ketika berihram atau Ummu Salamah yang mengingkari fatwa Samurah bin Jundab bahwa perempuan hadi wajib mengqadha shalatnya. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa upaya mereka dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar bukanlah sekadar menyuruh dan melarang dengan sesuatu yang kosong belaka, namun juga berlandaskan atas landasan ilmu yang kuat yang nyatanya saat itu juga turut dikuasai oleh para muslimah dari kalangan salaf. Sebuah inspirasi untuk perempuan masa kini agar tetap bersemangat dalam meniti jalan ilmu dan memberi manfaat dari ilmunya tersebut. 

Tidak hanya sampai di situ, lebih jauh lagi, para muslimah dari kalangan salaf juga telah mencontohkan bagaiaman mereka pun berihtisab kepada para penguasa. Di mana Ummu Darda’ pernah melarang Abdul Malik bin Marwan yang melaknat pembantu. Pun Ummu Thufail yang berihtisab kepada al Faruq karena ucapannya tentang iddah wanita hamil yang meninggal suaminya. Maka fitrah mereka sebagai seorang perempuan ternyata bukanlah penghalang untuk turut memberikan masukan, bahkan kepada penguasa sekalipun. 

Pada bagian ini, masih ada puluhan contoh kisah yang menggambarkan bagaimana seorang muslimah mampu untuk menerapkan amar ma’ruf nahi munkar di berbagai lini. Modal mereka tentu saja bukan hanya keberanian, semangat, dan kepercayaan diri, namun juga ilmu yang mumpuni dengan sumber yang sesuai dengan wahyu ilahi dan hadits nabi shallallahu alaihi wasallam. 

Kemudian pada bagian ketiga dari buku ini, dibahas mengenai boleh tidaknya perempuan ditunjuk sebagai petugas hisbah di pasar. Terdapat dua pembahasan dalam hal ini, yakni pendapat yang melarang, maupun pendapat yang membolehkan. Pada pembahasan pertama diuraikan mengenai pendapat yang melarang, berikut dengan dalil-dalil yang mendukungnya. Diantara pertimbangan dari uraian dalil-dalil tersebut adalah bahwa kepemimpinan laki-laki berada di atas perempuan, dalil yang membahas ini dianggap berlaku umum dalam urusan apapun dari urusan-urusan kaum muslimin. Maka, dalam hal menngambil peran sebagai petugas hisbah, di mana di dalamnya terdapat pula urusan para kaum lelaki, memberikan jabatan ini kepada kaum wanita dianggap tidak dibenarkan, sebab pada akhirnya ia akan ikut mengurusi dan memiliki wewenang di atas urusan kaum lelaki, padahal pada hakikatnya, seharusnya lelakilah yang menjadi pemimpin bagi wanita. Dalil kedua yakni tentang ditiadakannya kesuksesan dari kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan. Hal ini juga merujuk kepada dalil yang berlaku umum, bahwa melantik seorang perempuan sebagai petugas hisbah di pasar adalah menyerahkan urusan umum kepada perempuan yang dalam keadaan tersebut maka tidak ada kesuksesan baginya. Dalil ketiga adalah tentang hukum dasar bagi perempuan untuk menetap di rumah mereka. Bahwa perintah ini bukan hanya dikhususkan untuk ummahatul mukminin, namun secara umum kepada para kaum muslimah seluruhnya. Bahwa kaum muslimah tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan shalat fardhu di masjid maupun shalat jum’at di masjid, serta berbagai syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang muslimah jika ia ingin meninggalkan rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa meletakkan seorang perempuan sebagai petugas hisbah yang mana mengkondisikannya untuk berada di luar rumah dalam menjalankan tugasnya merupakan sebuah kesalahan. Begitupun pula dengan dalil yang menunjukkan bahwa tuntutan tugas hisbah bertentangan dengan tabiat perempuan. Di mana petugas hisbah harus mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang berkemungkinan terjadi dalam bentuk penanganan sengketa yang bisa saja memerlukan ketangguhan fisik untuk berlaga dan mengusir orang-orang yang buruk, yang mana ini bertentangan dengan fitrah seorang wanita. Dan dalil yang terakhir adalah bahwa adanya berbagai macam akibat buruk yang bakal terjadi saat perempuan keluar ke tempat-tempat umum. Diantaranya adalah tersebarnya kemandulan, pelanggaran seksual, serta kehamilan di luar nikah. 

Kemudian pada pembahasan kedua akan dijelaskan tentang hujjah dari orang-orang yang berpendapat tentang kebolehan perempuan ditunjuk sebagai petugas hisbah serta hakekat dari hujjah tersebut. Pada bagian ini akan dibedah poin-poin hujjah dari pendapat yang membolehkan, serta bagaimana hakekat yang sebenarnya, sehingga menjadi terang benderang kelemahan dari hujjah tersebut. Di antaranya yakni berhujjah dengan keumuman nash yang menunjukkan kewajiban tugas hisbah, namun dalam hal ini tugas hisbah tersebut tidak serta merta membolehkan seorang perempuan ditunjuk untuk menjabat sebagai petugas hisbah. Sebab, berkomitmen dengan keumuman nash yang menunjukkan kewajiban ihtisab tidak boleh membuat kita menutup mata dari nash-nash yang mengkhususkan kepemimpinan bagi laki-laki saja. Kemudian dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya pada bagian ini, dibahas pula mengenai penunjukan petugas hisbah perempuan di masa khalifah Umar bin Khattab, serta perbuatan Samra’ bunti Nahik yang jikapun shahih dari sisi pemaparan kisahnya, namun tetap terdapat celah yang memberikan bantahan mengenai bentuk aktivitasnya sebagai petugas hisbah layaknya lelaki. Beberapa dalil juga mengkhususkan dalil-dalil tertentu untuk urusan tertentu bagi kaum muslimin, sehingga dianggap tidak berlaku umum, termasuk dalam masalah penunjukan wanita sebagai petugas hisbah. Kemudian pada bagian terakhir di pembahasan ini dijelaskan bahwa tetap terdapat pembolehan untuk perempuan mengambil andil dalam hal ini, jika itu mencakup urusan sesama kaum muslimah, di mana di tempat atau lingkungan tersebut kesemuanya adalah sesama muslimah, misalnya di pasar khusus muslimah, atau di yayasan pendidikan atau yayasan sosial. 

Kemudian terakhir, ditutup dengan kesimpulan dari berbagai pembahasan dalam buku ini, serta anjuran dan semangat untuk para muslimah mampu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah masyarakat, sebab tugas tersebut merupakan tugas yang mulia yang tentunya akan membawa kemaslahatan yang besar di tengah masyarakat, sehingga dapat membawa umat ini pada kejayaan layaknya kejayaan para generasi terbaik yakni kembali menjadi sebaik-baiknya umat. Insyaallah...

Senin, 11 November 2019

Mencandai Poligami

Ibu muda itu misuh-misuh. Baru kali itu ia merasa menyesal betul sudah iseng mengutak-atik pesan singkat di hp suaminya. Hingga ia kemudian mendapati pesan-pesan dari beberapa rekan kerja sang suami yang cukup mengganggu hati.

“Halalkan cinta barumu!” diikuti dengan berbagai quotes tentang poligami  


Ada pula yang mengakhiri obrolan dengan doa untuk suami perempuan itu, semoga bisa beristri lagi. Pake bahasa arab pula!

Suami saya, batin perempuan itu, kok justru kawan-kawannya yang 'keliatan' ngerti agama yang malah doyan sekali dengan pembicaraan, obrolan, dan candaan bernada seperti ini. Seolah-olah timeline hidupnya sebagai lelaki adalah sekolah-kerja-nikah-nikah lagi. Memangnya di kajian-kajian itu yang dibahas poligami melulu?

Sementara di sudut lain, seorang istri dengan bayi merah dalam gendongannya, plus bekas jahitan di jalan lahir yang jangan ditanya gimana nyerinya, masih harus menanggung kecamuk perasaan di tengah kondisi hormonal pemanggil mood-swing yang luar biasa, saat kemudian ia dapati sang suami enteng saja bercakap dengan rekan sesama suami perihal rencana beristri lagi. Sebab katanya; ini nih hikmahnya poligami, biar kalau istri nifas, masih ada istri yang lain...

Ok. Ngertilah arah pembicaraannya ke mana...

Poligami. Sebuah kondisi yang dalam syariat sudah diatur ketetapannya. Pembahasannya tidak pada ranah ikhtilaf, tapi bahkan dijelaskan secara gamblang dalam ayat al Quran dengan tafsiran yang telah tuntas ulasannya. Tak ada lagi celah diskusi. Tak ada lagi ruang untuk menolak. Jelas hukumnya, sejelas sinar matahari di siang hari.

Tapi duhai poligami, dalam penerapannya, ia melibatkan lelaki dan perempuan, dengan sifat bawaan yang secara umum saling berseberangan dalam memandang ini. Okelah kita tahu, bahwa konon seorang lelaki memang bisa menyimpan beberapa nama sekaligus di dalam hati. Bahwa katanya, mencintai dua istri bukanlah pertanda dipertanyakannya kesetiaan suami. Bahwa konon, membuka ruang untuk hati yang baru, tidak selalu berarti melupakan si dia yang telah ada lebih dahulu.

Tapi duhai bapak-bapak yang sedang mengangguk-angguk di sudut sana, ketahuilah bahwa perempuan pun punya fitrah. Yang kala perasaannya bicara, terkadang ambyarlah sudah segala yang selainnya. Yang mungkin bisa menjelma superwomen saat harus mengerjakan ini itu di satu waktu, namun seketika bisa jadi keok saat ketenangan batinnya yang terusik dengan nama lain sebagai isu. Cemburu, bagi seorang wanita mungkin berkali lipat lebih berat dari rindu. Dan sejarah mencatat, sekelas ummahatul mukminin saja merasakan ini. Perempuan-perempuan terbaik, juga punya rasa demikian, pada lelaki terbaik sepanjang sejarah. Lalu apa ekspektasi kita, pada perempuan akhir zaman saat menghadapi suaminya yang juga masih perlu banyak perbaikan?

Jadi, baik laki-laki dan wanita punya pembawaan umum masing-masing. So, harus adil. Jangan pas ditegor karena canda-canda poligami, langsung bawa fitrah lelaki. Tapi giliran istrinya ngambek karena ini, malah dibilang lagi ribet baper sendiri. Ngambeknya istri juga fitrah, keleus.

Pada titik kritis itu, kemudian entah mengapa di kalangan pria, ada semacam gelitik nan renyah saat kemudian isu poligami ini dibawa sebagai canda. Entahlah pelajaran tentang sunnah yang ini sudah sampai bab berapa. Yang jelas, lidah sudah ringan saja berseloroh,

“Ini anak dari istri keberapa?” .

“Trus kapan nih rencana mau nambah?”

“Duit sudah banyak, masa Cuma menafkahi satu keluarga saja? Situ beneran jantan?”

Nah loh...

Saat poligami dibawa sebagai candaan, ironisnya ketika mendapat teguran, kata-kata 'sunnah' malah diikut-ikutkan. Mungkin sejenak lupa, bahwa syariat tak boleh jadi bahan mainan. Biasanya memang, justru yang belum sanggup menerapkan yang lebih kencang suara dan tawanya.

Padahal, jangan ditanya perihal kasus seorang lelaki yang 'nekat' poligami hanya karena tak tahan dikompori. Akhirnya berniat menyelamatkan perempuan lajang, tapi malah jadi menjandakan istri. Dalihnya, si istri yang tak siap. Padahal hakikatnya, memangnya siapa yang harusnya menyiapkan istrinya? Trus sejatinya, yang belum siap sebenarnya siapa? Tarakdungces!

Padahal jika poligami dibicarakan dengan landasan ilmu, maka yang terbentang selanjutnya adalah seabrek kewajiban. Mengokohkan rumah tangga itu lebih berat dari membangun rumah makan, kan ya? Maka jika baru diajak seriusin ngobrol parenting buat membangun generasi aja sudah malas-malasan, lah giliran candain poligami malah paling depan.

Menyebut poligami sebagai sunnah, maka so pasti berkaca pada Rasulullah. Bukan, bukan mau bahas tentang istri-istri Rasulullah yang mayoritas janda. (Sebab jaman now biasanya justru mencari yang masih gadis untuk jadi yang kedua) Tapi, ini perihal bagaimana para shahabiyah terbaik itu, di tengah fitrah kewanitaan dengan cemburu yang kerap hadir, tapi toh tidak ada dari mereka yang minta diceraikan karena alasan dipoligami, kan? Kemudian saya teringat pada renungan seorang ahli psikologi, saat memandangi miniatur bilik istri-istri Rasul, bahwa di antara hikmah poligami yang dijalani sang Nabi, mungkin sebab keindahan rumah tangga nabi memang tak cukup untuk hanya dibicarakan oleh satu istri.

See?

Maka mengutip perkataan Ustadz Abu Ihsan al Maidani, kepada lelaki yang berniat poligami; silakan tepuk dada, tanya hati: ingin poligami untuk masuk surga atau mau masuk neraka? Sebab ada ganjaran bagi ia yang berpoligami tapi tak terapkan adilnya, yakni berjalan dengan tubuh miring tak seimbang kelak di hari perhitungan.

Ya, jangan sampai ternyata poligami jadi salah jalan, sehingga aib rumah tangga memang jadi harus dibicarakan oleh istri yang beberapa. Maka putuslah layangan di mana-mana... Naudzubillah...

Dan buat para istri yang jika mendengar bahasan poligami masih bisa santuy tanpa baper sama sekali, jangan buru-buru ngejudge mereka para wanita yang begitu berapi-api pas bahas poligami. Sebab latar belakang tiap orang itu beda-beda, Bunda. Selama bukan syariatnya yang dicela, maka mungkin ada background story yang bikin seseorang memandang poligami jadi tak mudah. Silakan dinasihati saja dengan lembut dan penuh cinta. Tak perlu makin dicela, apalagi dipertanyakan keimanannya. Jangan jadi kuat, dengan membuat perempuan lain terlihat lemah.

Akhirnya, membahas poligami sudah seharusnya didudukkan pada porsinya. Diilmui jika memang sudah perlu. Jangan dicandai berlebih, hingga mengakibatkan kenekatan yang akhirnya bikin segalanya jadi ribet sendiri. Katanya mau bawa keluarga sampai di surga? Coba deh, dibuat sakinah dulu di dunia. 

Selasa, 29 Oktober 2019

Nyinyir, Baper, dan Keadilan Pikiran Kita

Jika semua yang bernasihat disebut nyinyir, dari mana lagi kita akan mendapatkan masukan untuk mengoreksi diri? Jika semua yang merasa tersinggung disebut baper, lalu bagaimana kita belajar untuk mampu menyampaikan kebenaran dengan cara yang indah di saat yang paling tepat?

Repotnya, adalah jika saat ini kita sering menggunakan istilah-istilah tersebut demi menyelamatkan diri sendiri. Hasilnya, seperti yang pernah saya tulis di buku Merajut Benang Cahaya, di tulisan:Harmoni, keadaannya jadi selayaknya seorang pengemis yang membenarkan diri untuk terus meminta-minta karena ia menggunakan dalil keutamaan bersedekah pada orang kaya. Di lain pihak, orang kaya justru merasa punya hak menahan hartanya karena ia menggunakan dalil larangan meminta kepada manusia -diganjar dengan dibangkitkan tanpa wajah di hari akhir kelak, saat datang pengemis yang memerlukan bantuannya. Dalilnya tidak salah, hanya saja digunakan pada posisi yang tidak tepat. Dan kita tahu, bagaimana yang seharusnya. 

Sama saja dengan berbagai opini yang hari ini dengan mudah muncul di publik, terutama di dunia maya. Saat seseorang menyampaikan sebuah kebenaran untuk meluruskan sesuatu, maka ada-ada saja pihak yang tidak ingin menerima kebenaran tersebut, dan menuduh orang yang bernasihat itu hanya sekadar nyinyir belaka. Di lain pihak, saat sesuatu disampaikan dengan cara yang salah, pada momentum yang tak tepat, di ranah umum pula, lalu ada pihak yang tersungging, eh, tersinggung, dengan mudahnya kita seringkali mengabaikan empati, menganggapnya terlalu lebai dan mendramatisir suasana, bahkan kadang dianggap sebagai lemah iman, hanya dengan satu kata pamungkas: baper! Sementara kita tak tahu, betapa sakit dan lukanya dia menghadapi hal tersebut. 

See? 

Padahal kita sebenarnya tahu, sungguh sebuah kebenaran yang kita mampu terima dengan lapang dada, dapat membawa kebaikan bagi diri kita, ada masukan yang berarti di dalamnya, maka sebagai PENDENGAR, harusnya kita bisa lebih berusaha untuk tidak segera menganggap orang lain hanya nyinyir belaka. 

Dan saat kemudian kita berada di posisi sebagai seorang PEMBICARA, menyampaikan sesuatu yang kita anggap penting untuk diutarakan, maka tak mengapa jika kita berusaha lebih keras untuk mencoba memilih kata yang lembut, menetapkan waktu yang paling tepat, mungkin tidak harus di tengah keramaian, bahkan jika perlu dengan bisikan halus dan ruang yang privat, hanya agar kita menjaga perasaan saudara kita, agar ia terhindar dari keadaan baper atas apa yang kita sampaikan. 

Hanya saja memang menjadi sulit, manakala yang kita prioritaskan adalah kemenangan kita sendiri. Sehingga kebaikan akan mudah terdengar sebagai sebentuk nyinyir. Dan tajamnya ucapan kita menjadi pembenaran karena orang lain hanya sekadar baperan sahaja. 
Memang akan rumit dan pelik, jika kita terus bersikap tak adil, sejak dalam pikiran kita sendiri. 

Kamis, 19 September 2019

Yang Tidak Akan Kembali


Dalam berbagai fakta tentang pengasuhan anak, satu hal yang paling 'mengkhawatirkan' bagi saya adalah bahwa masa kecil anak tidak akan kembali. Waktu tidak akan menunggu, apapun alasan kita. Mimpi-mimpi masa muda, eksistensi, dan berbagai kesempatan yang hadir di saat bersamaan ada makhluk kecil yang juga seolah 'meminta segalanya' dari kita, tidak bisa menjadi alasan untuk mengaburkan kenyataan itu. Bahwa kita akan selalu ada di titik di mana kita berujar dengan kaget, "Eh, anak-anak kok tiba-tiba sudah besar, ya!"

Pada masa yang tidak terulang itu pulalah terdapat yang disebut sebagai golden-age. Satu fase perkembangan di mana anak bagaikan spons yang menyerap segala sesuatu, terutama apa-apa yang diteladankan pada mereka. Masa di mana merupakan saat yang paling tepat untuk menanamkan landasan yang kokoh sebagai pondasi yang akan mereka gunakan seumur hidupnya. Dan sekali lagi, masa ini akan terlewat, dan tidak akan kembali.

Saat putera pertama saya, Fayyadh memasuki usia 3 tahunnya, tiba-tiba saya menjadi begitu sering merasa khawatir. Khawatir apakah saya bisa mengisi masa belajar Fayyadh di usia dini dengan cara yang tepat. Khawatir apakah saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk menanamkan iman dan adab kepadanya. Khawatir, apakah saya bisa menjadi seorang ibu yang baik baginya?

Hingga kemudian saya tersadar, bahwa sejatinya bukan Fayyadh yang butuh belajar. Tapi justru, saya sebagai ibunyalah yang seharusnya belajar akan banyaaaaak sekali hal baru. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya bertemu dengan orang-orang yang tepat. Kumpulan para ibu pembelajar di mana saya dapat memetik berbagai macam hikmah dan inspirasi. Komunitas itu bernama Homeschooling Muslim Indonesia (HSMI). Di sana, saya juga bertemu dengan wajah-wajah lama yang dahulu saya kenal sama-sama bergiat di dunia dakwah sekolah. Dan mereka sama sekali tidak berubah, bahkan kini, mereka bukan lagi hanya aktivis dakwah remaja yang gesit, tapi juga telah bertransformasi sebagai para ibu shalihah yang menginspirasi. Barakallahu fiihinna.

Kemudian tempo hari yang lalu saya berkesempatan untuk secara khusus mengikuti kelas online intensif bertema Iman dan Adab yang diampu oleh Mama Mahdi, Nurmayanti Zain Cahaya Makassar yang pada periode lalu mendapat amanah sebagai koordinator wilayah HSMI Sulawesi. Untuk mengetahui materinya secara komprehensif, saya menyarankan untuk mengikuti kelasnya secara langsung. Adapun pada tulisan ini, saya hanya ingin berbagai, tentang betapa pentingnya kita sebagai orang tua, untuk banyak belajar.

Pada anak usia dini, di fase pretamyiznya, seorang anak perlu mendapatkan pendidikan tentang tauhid. Ya, tauhid. Yang dalam perjalanan saya menuntut ilmu syar'i, ilmu tentang tauhid bukan hanya sangat penting, namun juga menjadi materi yang 'cukup berat' untuk dipelajari, pun untuk diajarkan.

Tapi ternyata, sudah ada pelajaran tauhid yang harus berikan pada anak, bahkan sejak mereka lahir. Bagaimana caranya mengajarkan hal itu kepada anak yang bahkan belum bisa berbicara dengan benar? Apakah mereka akan paham? Apakah akal mereka telah sampai? Apakah keyakinan itu bisa tertancap dengan kuat? Lintasan pertanyaan itu terus menerus hadir dalam benak saya.

Hingga dalam satu sesi diskusi di grup HSMI Sulawesi, Ummu 'Asma Basmah Thariq membagikan pengalamannya mendampingi tiga anak perempuannya. Mulai dari sejak seorang bayi lahir, maka pelaksanaan sunnah seperti tahnik, aqiqah, dan memberi nama yang baik, juga merupakan pendidikan tauhid paling awal. Menyusui dengan iman, hingga kemudian menyapihnya dengan iman pula, juga merupakan bagian dari penanaman tauhid. Ummu Asma bercerita, bagaimana beliau bahkan tiap kali akan meninggalkan bayinya sesaat di kamar, entah untuk ke WC, atau ke dapur, atau sedekat apapun jaraknya di dalam rumah, beliau selalu berucap pada bayinya, "Nak, ummi menitipkanmu pada Allah... " .

Masyaallah..., saya bergetar.

Ya, maka metode itu bernama talqin. Seorang anak di usia pratamyiznya perlu ditalqinkan tentang konsep tauhid dengan bahasa sederhana, namun tak boleh lepas dari esensi, ketentuan-ketentuan, dan landasan dalil yang shahih. Hal ini disebut sebagai dialog iman. Sesuatu yang diharapkan dapat menumbuhsuburkan fitrah anak. Fitrah yang dibawa seorang anak sejak ia lahir itu, bukan berarti sesuatu yang kosong dan tanpa isi. Fitrah itu adalah Islam. Seorang hamba Allah yang baru lahir itu sejatinya sudah paham bahwa ada Allah yang menciptakan mereka. Maka tugas orang tua sejatinya bukan mengajarkan hal yang baru dalam prinsip ketuhanan itu. Namun justru kita 'hanya' sedang merawat fitrah yang telah ada pada diri mereka.

Sejujurnya, setiap kali saya mendengar cerita tentang dialog iman yang 'berhasil' dijalankan oleh para bunda shalihah, saya merasa iri. Kefakiran ilmu saya kerap kali membuat saya kesulitan untuk menuntun ini pada anak saya sendiri. Apalagi jika saya disergap rasa ragu, apakah saya bisa membuat anak saya paham dengan apa yang sedang saya bicarakan?

Lalu di suatu hari, qadarullah Fayyadh sakit flu. Lalu sebelum tidur, saya mencoba mengisi sesi 'pillow talk' bersama Fayyadh dengan dialog iman.
"Yadh, Fayyadh lagi flu ya? Itu dari tadi ada ingusnya..."
"Iye, ummi"
"Fayyadh coba berdoa sama Allah, semoga flunya Fayyadh cepat sembuh"
Lalu Fayyadh malah bertanya tentang hal lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan pembicaraan saya. Berkali-kali saya mencoba kembali mengarahkan pembicaraan kami, bahkan mencontohkan bagaimana cara berdoa itu, namun bocah tiga tahun itu tetap kelihatan tidak tertarik. Saya tidak menyerah, di malam-malam berikutnya, saya kembali mencoba mengulang dialog yang sama, dan kembali mendapatkan hasil yang sama. Beberapa malam demikian, hingga saya merasa, mungkin Fayyadh memang tidak mengerti.

Hingga pada suatu pagi, saya mengusap hidung Fayyadh yang ternyata tak lagi beringus.
"Eh, flunya Fayyadh sudah sembuh ya Nak? Alhamdulillah..." ucap saya.
"Iye, kan ummi sudah berdoa sama Allah toh? Allah sudah sembuhkan flunya Fayyadh" ucap Fayyadh dengan senyum lebar.

Nyesss....

Rasanya ada yang mengalir dalam dada saya. Ah, ternyata Fayyadh selama ini mengerti dengan apa yang saya bicarakan. Ternyata memang sudah fitrahnya setiap anak bisa langsung memahami tentang keberadaan Tuhannya. Ternyata, usaha kita memang tidak ada apa-apanya, dan pada akhirnya kita menyadari, bahwa Allah-lah yang telah memahamkan mereka.

Pada titik itu, saya tersadar bahwa saya masih harus terus belajar tentang banyak hal. Bahwa perjalanan mendampingi ananda ini masih sangaaaat panjang. Ke depannya, masih banyak hal yang akan kami hadapi bersama.

Dan tentu saja, apa yang saya lakukan masih sangat sedikit sekali, pun dengan hasil yang bisa dilihat pada diri anak-anak saya. Bahkan tak jarang, anak-anak saya mendapat cap 'nakal' karena keaktifan aktivitas fisik mereka. Pada saat itu setidaknya saya menginsyafi, bahwa mungkin karena itulah hanya doa orang tua yang makbul terhadap anak, bukan doa orang lain yang terkadang tidak mampu kita kendalikan lisannya untuk mensifati anak dengan hal-hal yang kurang baik. Sementara kita, para orang tuanya sudah seharusnya memahami, bahwa hanya dengan perkataan-perkataan yang menjadi doa yang baik saja, seharusnya kita mendidik dan merawat anak-anak kita. Seberat apapun perjalanan kita dalam mendampingi mereka.

Cukup kita saja yang baru terengah memahami agama saat usia kita telah dewasa. Cukup kita saja yang buta terhadap syariat ini saat sudah masanya kita mengembannya. Cukup kita saja yang melakukan kelalaian-kelalaian dalam hidup padahal sejatinya kita mengemban tugas kekhalifaan.

Janganlah kejayaan Islam itu hanyalah tinggal kenangan belaka. Jangan biarkan kehebatan para pemuda di masa lampau itu hanya menjadi cerita. Mengapa mereka bisa mengemban amanah yang begitu dahsyat saat di usia yang sama para pemuda kita sibuk untuk memaklumkan dirinya sebagai generasi yang masih mencari jati diri? Bukankah seharusnya masalah jati diri itu telah selesai bahkan sejak mereka memasuki usia baligh. Bukankah seharusnya sebelum itu mereka sudah memasuki masa kanak-kanak yang tenang sebagaimana digambarkan oleh Syaikh Ahmad Asy Syantut? Maka, sebelum masa kanak-kanak yang tenang itu, ada masa pratamyiz yang kitalah, para orang tua, memegang peranan yang penting untuk menuntun mereka melaluinya dengan sebaik-baik cara.

Sehebat apapun hari ini berbagai sekolah usia dinia menawarkan target-target pencapaian untuk anak-anak kita, itu semua tidak akan mengugurkan kewajiban kita untuk mendidik mereka dan -dalam bahasa Ibu Elly Risman, mensubkontrakkan tugas pengasuhan itu pada sekolah yang sejatinya hanya membantu kita karena adanya amanah ilmiah mereka sebagai lembaga yang harus membagikan ilmu yang mereka punya. Namun tetap, kelak kita yang akan ditanya dan bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak kita bahkan meski mereka telah ditangani oleh sekolah paling canggih dan guru paling 'alim sekalipun!

Maya, dalam pemaparan materinya di kelas online itu memberikan warna merah, sebagai pertanda, redflag, pada fase taklif, masa di mana seorang anak sudah sampai pada usia dewasa, dan seharusnya sudah siap dengan tugasnya sebagai khalifah di atas bumi Allah. Sebelum masa itu tiba, telah siapkah kita untuk menjadi pendidik mereka yang utama? Dan sebelum mampu menjalankan itu semua, adakah ilmu kita telah siap untuk menuntun mereka?

Oh iya, sebagai orang tua, ada satu hal lagi yang perlu kita ingat. Tentang betapa terbatasnya kita pada semua hal. Pada ilmu, pada amalan, juga kesempatan. Maka, senantiasa langitkanlah doa untuk anak-anak kita. Kata Mamak saya, jangan pernah putus mendoakan anak. Saat menyuapi mereka, saat mengurus mereka, saat menatap mereka, bahkan saat wajah mereka terlintas dalam pikiran kita. Orang tua, terutama seorang ibu, adalah himpunan doa-doa untuk anak-anaknya. Doa adalah wujud kepasrahan kita padaNya. Bahwa di tengah berbagai keterbatasan yang kita punya, kita yakin bahwa ada Allah, sebaik-baik tempat kita mengharapkan penjagaan atas anak-anak kita. Dan ya, ini juga merupakan satu ejawantah dari konsep tauhid yang seharusnya lebih dahulu kita ilmui dan imani, sebelum kita ajarkan kepada anak kita sendiri.

Wahai Rabbi, mudahkanlah kami...

Kamis, 27 Juni 2019

Perjalanan Panjang

Saya baru saja ingin memulai cuci piring saat suara tangisan Fawwaz terdengar dari kamar. Seperti biasa, bocah itu akan segera turun sendiri dari tempat tidur ketika terbangun dan tidak mendapati saya. Sambil tetap menangis dan memanggil saya, ia berjalan keluar kamar menuju kamar Mamak, mengira saya di sana. Saya memanggilnya dari ambang pintu, dan ia segera berpindah ke gendongan saya, hendak melanjutkan lagi tidurnya.

Saya berdiri di depan pintu ruang tamu sambil menggendong Fawwaz yang tertidur. Memandang ke rumah seberang, tempat seorang anak tetangga terbaring sakit, setelah harus dirawat beberapa kali di rumah sakit dalam tempo yang berdekatan. Gadis itu seorang mahasiswi tingkat awal, yang kini kembali harus dirawat oleh ibunya.

Dalam pada itu, saya menginsyafi, betapa panjangnya perjalanan pengasuhan ini. Betapa menjadi seorang ibu, berarti harus siap menghadapi berbagai macam kondisi sang anak, bukan hanya ketika ia masih kecil, namun juga saat telah remaja, bahkan mungkin hingga ia dewasa.

Beberapa waktu yang lalu, selepas tunai hajat pernikahan kakak lelaki saya, Mamak nampak begitu lega. Tuntas sudah tugasnya mengantarkan sang sulung menuju gerbang pernikahan. Meski sampai kapan pun jua, meski si anak pun sudah menjadi orang tua, rasa seorang ibu tidak akan berubah.

Saya meletakkan Fawwaz di tempat tidur, lalu bocah lelaki berambut tegak itu kembali meringis dan menangis, minta digendong lagi.

Nak, perjalanan kita masih panjang, jika Allah menghendaki. Semoga selalu siap bekal kita mengarunginya, dan dengan ridhaNya kita melaluinya.

Betapa... ah, betapa kita menghajatkan pertolongan Allah...

Saya kembali menggendong Fawwaz, yang lagi-lagi melanjutkan tidurnya.

Rabu, 13 Maret 2019

Sebuah Jalan: Aku di Sini, Kau di Seberang


Langkahnya tidak  berhenti meski matahari semakin menyengat. Peluh di dahinya menyerap pada jilbab panjang yang ia kenakan. Belum lagi haus yang sejak tadi ia rasa, berusaha ia lupakan sejenak, sebab uang yang tersisa di kantong memang hanya cukup untuk ongkos perjalanannya ke tempat itu. Setibanya di tujuan, beberapa muslimah berwajah polos nampak sudah menunggunya. Sebagian dari mereka sudah siap dengan mushaf alquran di tangan. Sebagiannya lagi nampak sudah sangat percaya diri ingin menyetorkan hapalan. Ada juga yang sudah tidak sabar menanti sesi curhat di majelis, atau ingin bercakap empat mata untuk bisa mencari solusi, atau sekadar menenangkan hati. Tak lama, lingkaran mereka telah terbentuk rapi. Mengeja ayat-ayat suci, mengkaji poin per poin ilmu syar'i, serta bernasihat untuk terus menyucikan hati. Pertemuan itu mereka sepakati setiap pekannya. Ialah majelis cahaya. Salah satu metode yang mereka pilih untuk menjalankan kewajiban menuntut ilmu agama. Satu momentum di mana mereka percaya, malaikat meneduhkan sayap-sayapnya, serta doa penduduk langit dan bumi untuk ampunan dosa-dosa. Ialah majelis cahaya. Mereka menyebutnya: tarbiyah.

Di tempat yang lain, ada yang sedang serius menyimak perkataan ustadz. Rapatnya duduk mereka terkondisikan agar semua yang hadir dapat menyamankan tempat. Terkadang masjid itu penuh sesak. Terkadang pula tak penuh seluruhnya. Ilmu yang mengalir, yang tercatat, yang terekam di kepala, adalah semangat baru yang bukan hanya mengisi otak, tapi juga ruhiyah. Beragam karakter, tua-muda, dari berbagai aktivitas dan kerja, yang sedang lapang maupun yang berusaha melapangkan, semuanya duduk bersama menyimak kajian. Inilah metode yang mereka pilih untuk menuntut ilmu agama. Satu momentum yang mereka percaya saat itulah tetes demi tetes hidayah masuk ke dalam hatinya. Menyejukkan yang tengah panas. Melapangkan yang sedang sempit. Dan senantiasa menghadirkan rasa takut kepadaNya.

Ya, sebab di sanalah substansinya. Sebab ulama-lah itu orang yang paling takut kepada Allah. Yang ilmunya berbuah adab dan akhlak yang paling jelita. Yang membuat husnudzan menjadi yang paling utama kepada saudara seiman. Yang membuat setiap celah mereka hanya tertahan di lisan, untuk kemudian nanti dirangkai menjadi nasihat di kala hening, dengan nada yang paling santun dan mesra. Yang membuat mencarikan udzur menjadi ringan, menghempaskan prasangka menjadi yang utama.

Dan akhlak serta adab itu rata dapat dirasa, kepada siapapun yang Islam ada di dadanya. Warna apapun jilbabnya, sepanjang apapun ukurannya. Baju koko atau jubah kah pilihan busananya. Terjuntai panjang, segenggaman, atau bahkan hanya sehelaian janggutnya. Bahkan kepadanya yang mungkin berada di dunia yang glamor nan hingar bingar, atau yang sudah terbiasa dengan tampilan tato dan motor besar. Tak ada beda .

Dan tujuan  utamanya adalah berbahagia bersama di atas hidayah Allah, lewat jalan apapun saudaranya mendapatkannya. Sebab siapapun berhak untuk selalu percaya, bahwa surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itu, tidak sejauh yang mereka kira.

Jangan sampai ukhuwah itu kandas hanya karena kita menatap mereka ada di seberang. Padahal kita sejatinya sedang melangkah di jalan yang sama. Hanya saja, mungkin caranya yang berbeda dan metodenya yang tidak serupa.

Bukankah kita selalu merindu, duduk bersama di atas dipan cahaya, dicemburui para nabi dan syuhada?