Selasa, 29 Oktober 2019

Nyinyir, Baper, dan Keadilan Pikiran Kita

Jika semua yang bernasihat disebut nyinyir, dari mana lagi kita akan mendapatkan masukan untuk mengoreksi diri? Jika semua yang merasa tersinggung disebut baper, lalu bagaimana kita belajar untuk mampu menyampaikan kebenaran dengan cara yang indah di saat yang paling tepat?

Repotnya, adalah jika saat ini kita sering menggunakan istilah-istilah tersebut demi menyelamatkan diri sendiri. Hasilnya, seperti yang pernah saya tulis di buku Merajut Benang Cahaya, di tulisan:Harmoni, keadaannya jadi selayaknya seorang pengemis yang membenarkan diri untuk terus meminta-minta karena ia menggunakan dalil keutamaan bersedekah pada orang kaya. Di lain pihak, orang kaya justru merasa punya hak menahan hartanya karena ia menggunakan dalil larangan meminta kepada manusia -diganjar dengan dibangkitkan tanpa wajah di hari akhir kelak, saat datang pengemis yang memerlukan bantuannya. Dalilnya tidak salah, hanya saja digunakan pada posisi yang tidak tepat. Dan kita tahu, bagaimana yang seharusnya. 

Sama saja dengan berbagai opini yang hari ini dengan mudah muncul di publik, terutama di dunia maya. Saat seseorang menyampaikan sebuah kebenaran untuk meluruskan sesuatu, maka ada-ada saja pihak yang tidak ingin menerima kebenaran tersebut, dan menuduh orang yang bernasihat itu hanya sekadar nyinyir belaka. Di lain pihak, saat sesuatu disampaikan dengan cara yang salah, pada momentum yang tak tepat, di ranah umum pula, lalu ada pihak yang tersungging, eh, tersinggung, dengan mudahnya kita seringkali mengabaikan empati, menganggapnya terlalu lebai dan mendramatisir suasana, bahkan kadang dianggap sebagai lemah iman, hanya dengan satu kata pamungkas: baper! Sementara kita tak tahu, betapa sakit dan lukanya dia menghadapi hal tersebut. 

See? 

Padahal kita sebenarnya tahu, sungguh sebuah kebenaran yang kita mampu terima dengan lapang dada, dapat membawa kebaikan bagi diri kita, ada masukan yang berarti di dalamnya, maka sebagai PENDENGAR, harusnya kita bisa lebih berusaha untuk tidak segera menganggap orang lain hanya nyinyir belaka. 

Dan saat kemudian kita berada di posisi sebagai seorang PEMBICARA, menyampaikan sesuatu yang kita anggap penting untuk diutarakan, maka tak mengapa jika kita berusaha lebih keras untuk mencoba memilih kata yang lembut, menetapkan waktu yang paling tepat, mungkin tidak harus di tengah keramaian, bahkan jika perlu dengan bisikan halus dan ruang yang privat, hanya agar kita menjaga perasaan saudara kita, agar ia terhindar dari keadaan baper atas apa yang kita sampaikan. 

Hanya saja memang menjadi sulit, manakala yang kita prioritaskan adalah kemenangan kita sendiri. Sehingga kebaikan akan mudah terdengar sebagai sebentuk nyinyir. Dan tajamnya ucapan kita menjadi pembenaran karena orang lain hanya sekadar baperan sahaja. 
Memang akan rumit dan pelik, jika kita terus bersikap tak adil, sejak dalam pikiran kita sendiri. 

Kamis, 19 September 2019

Yang Tidak Akan Kembali


Dalam berbagai fakta tentang pengasuhan anak, satu hal yang paling 'mengkhawatirkan' bagi saya adalah bahwa masa kecil anak tidak akan kembali. Waktu tidak akan menunggu, apapun alasan kita. Mimpi-mimpi masa muda, eksistensi, dan berbagai kesempatan yang hadir di saat bersamaan ada makhluk kecil yang juga seolah 'meminta segalanya' dari kita, tidak bisa menjadi alasan untuk mengaburkan kenyataan itu. Bahwa kita akan selalu ada di titik di mana kita berujar dengan kaget, "Eh, anak-anak kok tiba-tiba sudah besar, ya!"

Pada masa yang tidak terulang itu pulalah terdapat yang disebut sebagai golden-age. Satu fase perkembangan di mana anak bagaikan spons yang menyerap segala sesuatu, terutama apa-apa yang diteladankan pada mereka. Masa di mana merupakan saat yang paling tepat untuk menanamkan landasan yang kokoh sebagai pondasi yang akan mereka gunakan seumur hidupnya. Dan sekali lagi, masa ini akan terlewat, dan tidak akan kembali.

Saat putera pertama saya, Fayyadh memasuki usia 3 tahunnya, tiba-tiba saya menjadi begitu sering merasa khawatir. Khawatir apakah saya bisa mengisi masa belajar Fayyadh di usia dini dengan cara yang tepat. Khawatir apakah saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk menanamkan iman dan adab kepadanya. Khawatir, apakah saya bisa menjadi seorang ibu yang baik baginya?

Hingga kemudian saya tersadar, bahwa sejatinya bukan Fayyadh yang butuh belajar. Tapi justru, saya sebagai ibunyalah yang seharusnya belajar akan banyaaaaak sekali hal baru. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya bertemu dengan orang-orang yang tepat. Kumpulan para ibu pembelajar di mana saya dapat memetik berbagai macam hikmah dan inspirasi. Komunitas itu bernama Homeschooling Muslim Indonesia (HSMI). Di sana, saya juga bertemu dengan wajah-wajah lama yang dahulu saya kenal sama-sama bergiat di dunia dakwah sekolah. Dan mereka sama sekali tidak berubah, bahkan kini, mereka bukan lagi hanya aktivis dakwah remaja yang gesit, tapi juga telah bertransformasi sebagai para ibu shalihah yang menginspirasi. Barakallahu fiihinna.

Kemudian tempo hari yang lalu saya berkesempatan untuk secara khusus mengikuti kelas online intensif bertema Iman dan Adab yang diampu oleh Mama Mahdi, Nurmayanti Zain Cahaya Makassar yang pada periode lalu mendapat amanah sebagai koordinator wilayah HSMI Sulawesi. Untuk mengetahui materinya secara komprehensif, saya menyarankan untuk mengikuti kelasnya secara langsung. Adapun pada tulisan ini, saya hanya ingin berbagai, tentang betapa pentingnya kita sebagai orang tua, untuk banyak belajar.

Pada anak usia dini, di fase pretamyiznya, seorang anak perlu mendapatkan pendidikan tentang tauhid. Ya, tauhid. Yang dalam perjalanan saya menuntut ilmu syar'i, ilmu tentang tauhid bukan hanya sangat penting, namun juga menjadi materi yang 'cukup berat' untuk dipelajari, pun untuk diajarkan.

Tapi ternyata, sudah ada pelajaran tauhid yang harus berikan pada anak, bahkan sejak mereka lahir. Bagaimana caranya mengajarkan hal itu kepada anak yang bahkan belum bisa berbicara dengan benar? Apakah mereka akan paham? Apakah akal mereka telah sampai? Apakah keyakinan itu bisa tertancap dengan kuat? Lintasan pertanyaan itu terus menerus hadir dalam benak saya.

Hingga dalam satu sesi diskusi di grup HSMI Sulawesi, Ummu 'Asma Basmah Thariq membagikan pengalamannya mendampingi tiga anak perempuannya. Mulai dari sejak seorang bayi lahir, maka pelaksanaan sunnah seperti tahnik, aqiqah, dan memberi nama yang baik, juga merupakan pendidikan tauhid paling awal. Menyusui dengan iman, hingga kemudian menyapihnya dengan iman pula, juga merupakan bagian dari penanaman tauhid. Ummu Asma bercerita, bagaimana beliau bahkan tiap kali akan meninggalkan bayinya sesaat di kamar, entah untuk ke WC, atau ke dapur, atau sedekat apapun jaraknya di dalam rumah, beliau selalu berucap pada bayinya, "Nak, ummi menitipkanmu pada Allah... " .

Masyaallah..., saya bergetar.

Ya, maka metode itu bernama talqin. Seorang anak di usia pratamyiznya perlu ditalqinkan tentang konsep tauhid dengan bahasa sederhana, namun tak boleh lepas dari esensi, ketentuan-ketentuan, dan landasan dalil yang shahih. Hal ini disebut sebagai dialog iman. Sesuatu yang diharapkan dapat menumbuhsuburkan fitrah anak. Fitrah yang dibawa seorang anak sejak ia lahir itu, bukan berarti sesuatu yang kosong dan tanpa isi. Fitrah itu adalah Islam. Seorang hamba Allah yang baru lahir itu sejatinya sudah paham bahwa ada Allah yang menciptakan mereka. Maka tugas orang tua sejatinya bukan mengajarkan hal yang baru dalam prinsip ketuhanan itu. Namun justru kita 'hanya' sedang merawat fitrah yang telah ada pada diri mereka.

Sejujurnya, setiap kali saya mendengar cerita tentang dialog iman yang 'berhasil' dijalankan oleh para bunda shalihah, saya merasa iri. Kefakiran ilmu saya kerap kali membuat saya kesulitan untuk menuntun ini pada anak saya sendiri. Apalagi jika saya disergap rasa ragu, apakah saya bisa membuat anak saya paham dengan apa yang sedang saya bicarakan?

Lalu di suatu hari, qadarullah Fayyadh sakit flu. Lalu sebelum tidur, saya mencoba mengisi sesi 'pillow talk' bersama Fayyadh dengan dialog iman.
"Yadh, Fayyadh lagi flu ya? Itu dari tadi ada ingusnya..."
"Iye, ummi"
"Fayyadh coba berdoa sama Allah, semoga flunya Fayyadh cepat sembuh"
Lalu Fayyadh malah bertanya tentang hal lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan pembicaraan saya. Berkali-kali saya mencoba kembali mengarahkan pembicaraan kami, bahkan mencontohkan bagaimana cara berdoa itu, namun bocah tiga tahun itu tetap kelihatan tidak tertarik. Saya tidak menyerah, di malam-malam berikutnya, saya kembali mencoba mengulang dialog yang sama, dan kembali mendapatkan hasil yang sama. Beberapa malam demikian, hingga saya merasa, mungkin Fayyadh memang tidak mengerti.

Hingga pada suatu pagi, saya mengusap hidung Fayyadh yang ternyata tak lagi beringus.
"Eh, flunya Fayyadh sudah sembuh ya Nak? Alhamdulillah..." ucap saya.
"Iye, kan ummi sudah berdoa sama Allah toh? Allah sudah sembuhkan flunya Fayyadh" ucap Fayyadh dengan senyum lebar.

Nyesss....

Rasanya ada yang mengalir dalam dada saya. Ah, ternyata Fayyadh selama ini mengerti dengan apa yang saya bicarakan. Ternyata memang sudah fitrahnya setiap anak bisa langsung memahami tentang keberadaan Tuhannya. Ternyata, usaha kita memang tidak ada apa-apanya, dan pada akhirnya kita menyadari, bahwa Allah-lah yang telah memahamkan mereka.

Pada titik itu, saya tersadar bahwa saya masih harus terus belajar tentang banyak hal. Bahwa perjalanan mendampingi ananda ini masih sangaaaat panjang. Ke depannya, masih banyak hal yang akan kami hadapi bersama.

Dan tentu saja, apa yang saya lakukan masih sangat sedikit sekali, pun dengan hasil yang bisa dilihat pada diri anak-anak saya. Bahkan tak jarang, anak-anak saya mendapat cap 'nakal' karena keaktifan aktivitas fisik mereka. Pada saat itu setidaknya saya menginsyafi, bahwa mungkin karena itulah hanya doa orang tua yang makbul terhadap anak, bukan doa orang lain yang terkadang tidak mampu kita kendalikan lisannya untuk mensifati anak dengan hal-hal yang kurang baik. Sementara kita, para orang tuanya sudah seharusnya memahami, bahwa hanya dengan perkataan-perkataan yang menjadi doa yang baik saja, seharusnya kita mendidik dan merawat anak-anak kita. Seberat apapun perjalanan kita dalam mendampingi mereka.

Cukup kita saja yang baru terengah memahami agama saat usia kita telah dewasa. Cukup kita saja yang buta terhadap syariat ini saat sudah masanya kita mengembannya. Cukup kita saja yang melakukan kelalaian-kelalaian dalam hidup padahal sejatinya kita mengemban tugas kekhalifaan.

Janganlah kejayaan Islam itu hanyalah tinggal kenangan belaka. Jangan biarkan kehebatan para pemuda di masa lampau itu hanya menjadi cerita. Mengapa mereka bisa mengemban amanah yang begitu dahsyat saat di usia yang sama para pemuda kita sibuk untuk memaklumkan dirinya sebagai generasi yang masih mencari jati diri? Bukankah seharusnya masalah jati diri itu telah selesai bahkan sejak mereka memasuki usia baligh. Bukankah seharusnya sebelum itu mereka sudah memasuki masa kanak-kanak yang tenang sebagaimana digambarkan oleh Syaikh Ahmad Asy Syantut? Maka, sebelum masa kanak-kanak yang tenang itu, ada masa pratamyiz yang kitalah, para orang tua, memegang peranan yang penting untuk menuntun mereka melaluinya dengan sebaik-baik cara.

Sehebat apapun hari ini berbagai sekolah usia dinia menawarkan target-target pencapaian untuk anak-anak kita, itu semua tidak akan mengugurkan kewajiban kita untuk mendidik mereka dan -dalam bahasa Ibu Elly Risman, mensubkontrakkan tugas pengasuhan itu pada sekolah yang sejatinya hanya membantu kita karena adanya amanah ilmiah mereka sebagai lembaga yang harus membagikan ilmu yang mereka punya. Namun tetap, kelak kita yang akan ditanya dan bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak kita bahkan meski mereka telah ditangani oleh sekolah paling canggih dan guru paling 'alim sekalipun!

Maya, dalam pemaparan materinya di kelas online itu memberikan warna merah, sebagai pertanda, redflag, pada fase taklif, masa di mana seorang anak sudah sampai pada usia dewasa, dan seharusnya sudah siap dengan tugasnya sebagai khalifah di atas bumi Allah. Sebelum masa itu tiba, telah siapkah kita untuk menjadi pendidik mereka yang utama? Dan sebelum mampu menjalankan itu semua, adakah ilmu kita telah siap untuk menuntun mereka?

Oh iya, sebagai orang tua, ada satu hal lagi yang perlu kita ingat. Tentang betapa terbatasnya kita pada semua hal. Pada ilmu, pada amalan, juga kesempatan. Maka, senantiasa langitkanlah doa untuk anak-anak kita. Kata Mamak saya, jangan pernah putus mendoakan anak. Saat menyuapi mereka, saat mengurus mereka, saat menatap mereka, bahkan saat wajah mereka terlintas dalam pikiran kita. Orang tua, terutama seorang ibu, adalah himpunan doa-doa untuk anak-anaknya. Doa adalah wujud kepasrahan kita padaNya. Bahwa di tengah berbagai keterbatasan yang kita punya, kita yakin bahwa ada Allah, sebaik-baik tempat kita mengharapkan penjagaan atas anak-anak kita. Dan ya, ini juga merupakan satu ejawantah dari konsep tauhid yang seharusnya lebih dahulu kita ilmui dan imani, sebelum kita ajarkan kepada anak kita sendiri.

Wahai Rabbi, mudahkanlah kami...

Kamis, 27 Juni 2019

Perjalanan Panjang

Saya baru saja ingin memulai cuci piring saat suara tangisan Fawwaz terdengar dari kamar. Seperti biasa, bocah itu akan segera turun sendiri dari tempat tidur ketika terbangun dan tidak mendapati saya. Sambil tetap menangis dan memanggil saya, ia berjalan keluar kamar menuju kamar Mamak, mengira saya di sana. Saya memanggilnya dari ambang pintu, dan ia segera berpindah ke gendongan saya, hendak melanjutkan lagi tidurnya.

Saya berdiri di depan pintu ruang tamu sambil menggendong Fawwaz yang tertidur. Memandang ke rumah seberang, tempat seorang anak tetangga terbaring sakit, setelah harus dirawat beberapa kali di rumah sakit dalam tempo yang berdekatan. Gadis itu seorang mahasiswi tingkat awal, yang kini kembali harus dirawat oleh ibunya.

Dalam pada itu, saya menginsyafi, betapa panjangnya perjalanan pengasuhan ini. Betapa menjadi seorang ibu, berarti harus siap menghadapi berbagai macam kondisi sang anak, bukan hanya ketika ia masih kecil, namun juga saat telah remaja, bahkan mungkin hingga ia dewasa.

Beberapa waktu yang lalu, selepas tunai hajat pernikahan kakak lelaki saya, Mamak nampak begitu lega. Tuntas sudah tugasnya mengantarkan sang sulung menuju gerbang pernikahan. Meski sampai kapan pun jua, meski si anak pun sudah menjadi orang tua, rasa seorang ibu tidak akan berubah.

Saya meletakkan Fawwaz di tempat tidur, lalu bocah lelaki berambut tegak itu kembali meringis dan menangis, minta digendong lagi.

Nak, perjalanan kita masih panjang, jika Allah menghendaki. Semoga selalu siap bekal kita mengarunginya, dan dengan ridhaNya kita melaluinya.

Betapa... ah, betapa kita menghajatkan pertolongan Allah...

Saya kembali menggendong Fawwaz, yang lagi-lagi melanjutkan tidurnya.

Rabu, 13 Maret 2019

Sebuah Jalan: Aku di Sini, Kau di Seberang


Langkahnya tidak  berhenti meski matahari semakin menyengat. Peluh di dahinya menyerap pada jilbab panjang yang ia kenakan. Belum lagi haus yang sejak tadi ia rasa, berusaha ia lupakan sejenak, sebab uang yang tersisa di kantong memang hanya cukup untuk ongkos perjalanannya ke tempat itu. Setibanya di tujuan, beberapa muslimah berwajah polos nampak sudah menunggunya. Sebagian dari mereka sudah siap dengan mushaf alquran di tangan. Sebagiannya lagi nampak sudah sangat percaya diri ingin menyetorkan hapalan. Ada juga yang sudah tidak sabar menanti sesi curhat di majelis, atau ingin bercakap empat mata untuk bisa mencari solusi, atau sekadar menenangkan hati. Tak lama, lingkaran mereka telah terbentuk rapi. Mengeja ayat-ayat suci, mengkaji poin per poin ilmu syar'i, serta bernasihat untuk terus menyucikan hati. Pertemuan itu mereka sepakati setiap pekannya. Ialah majelis cahaya. Salah satu metode yang mereka pilih untuk menjalankan kewajiban menuntut ilmu agama. Satu momentum di mana mereka percaya, malaikat meneduhkan sayap-sayapnya, serta doa penduduk langit dan bumi untuk ampunan dosa-dosa. Ialah majelis cahaya. Mereka menyebutnya: tarbiyah.

Di tempat yang lain, ada yang sedang serius menyimak perkataan ustadz. Rapatnya duduk mereka terkondisikan agar semua yang hadir dapat menyamankan tempat. Terkadang masjid itu penuh sesak. Terkadang pula tak penuh seluruhnya. Ilmu yang mengalir, yang tercatat, yang terekam di kepala, adalah semangat baru yang bukan hanya mengisi otak, tapi juga ruhiyah. Beragam karakter, tua-muda, dari berbagai aktivitas dan kerja, yang sedang lapang maupun yang berusaha melapangkan, semuanya duduk bersama menyimak kajian. Inilah metode yang mereka pilih untuk menuntut ilmu agama. Satu momentum yang mereka percaya saat itulah tetes demi tetes hidayah masuk ke dalam hatinya. Menyejukkan yang tengah panas. Melapangkan yang sedang sempit. Dan senantiasa menghadirkan rasa takut kepadaNya.

Ya, sebab di sanalah substansinya. Sebab ulama-lah itu orang yang paling takut kepada Allah. Yang ilmunya berbuah adab dan akhlak yang paling jelita. Yang membuat husnudzan menjadi yang paling utama kepada saudara seiman. Yang membuat setiap celah mereka hanya tertahan di lisan, untuk kemudian nanti dirangkai menjadi nasihat di kala hening, dengan nada yang paling santun dan mesra. Yang membuat mencarikan udzur menjadi ringan, menghempaskan prasangka menjadi yang utama.

Dan akhlak serta adab itu rata dapat dirasa, kepada siapapun yang Islam ada di dadanya. Warna apapun jilbabnya, sepanjang apapun ukurannya. Baju koko atau jubah kah pilihan busananya. Terjuntai panjang, segenggaman, atau bahkan hanya sehelaian janggutnya. Bahkan kepadanya yang mungkin berada di dunia yang glamor nan hingar bingar, atau yang sudah terbiasa dengan tampilan tato dan motor besar. Tak ada beda .

Dan tujuan  utamanya adalah berbahagia bersama di atas hidayah Allah, lewat jalan apapun saudaranya mendapatkannya. Sebab siapapun berhak untuk selalu percaya, bahwa surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itu, tidak sejauh yang mereka kira.

Jangan sampai ukhuwah itu kandas hanya karena kita menatap mereka ada di seberang. Padahal kita sejatinya sedang melangkah di jalan yang sama. Hanya saja, mungkin caranya yang berbeda dan metodenya yang tidak serupa.

Bukankah kita selalu merindu, duduk bersama di atas dipan cahaya, dicemburui para nabi dan syuhada?

Selasa, 26 Februari 2019

Saat Ummi Bicara tentang Gelar

Saat kau melihat dunia di luar sana, Nak... maka akan kau dapati betapa ia tak pernah lelah untuk terus berhias dengan segala hal yang menyilaukan mata. Terkadang, kita pun turut berada di dalamnya, dan berdalih bahwa itu semua ingin kita raih untuk sebuah kemanfaatan.

Tapi, Nak. Pada akhirnya, setiap orang akan diuji kejujurannya. Dan beruntunglah orang-orang yang jujur itu.

Bagi sebagian orang tua, mungkin pencapaian serupa gelar yang panjang yang tersemat pada nama anak-anaknya, akan menjadi sesuatu yang sangat membanggakan. Tapi ketahuilah, Nak. Bagi Ummi, tidak selalu begitu.

Pada saatnya nanti, jemputlah takdir kehidupan kalian dengan cara kalian sendiri. Ummi akan selalu ada untuk mendukung, asalkan kalian tetap berada di jalan yang Allah cintai.

Jika gelar dunia bisa membuat kalian menjadi sebaik-baik manusia, yang mampu memberi manfaat terbaik pada makhluk Allah lainnya, maka kejarlah sebisa yang kalian mampu. Namun, jika itu semua hanya membuat kalian merasa patut untuk dimuliakan, menjadi benih yang menumbuhkan keangkuhan, melegitimasi untuk meremehkan orang lain, maka sungguh Ummi tak ridha, Nak.

Sebab ketahuilah, tak ada tempat di surga untuk orang semacam itu. Padahal, bukankah kita ingin berkumpul bersama di sana kelak, dalam hidup yang abadi?

Jadilah hamba yang shalih, yang manfaatnya dapat dirasakan oleh semesta alam ini. Dengan atau tanpa gelar yang harus diraih. Dengan cara itulah Ummi berharap kelak kalian menjalani hidup ini....

Minggu, 20 Januari 2019

Namanya Syafri Kelana

Bocah lelaki itu lagi-lagi melakukan kesalahan. Dia kembali kebingungan saat ia tiba di tempat yang bukan rumahnya. Perempuan yang sedari tadi ia ikuti itu kemudian membalikkan badan, menggeleng-geleng sambil tertawa kecil. Ah, ini bukan ibuku! Runtuknya dalam hati.

Ya, ibunya memang punya saudara kembar. Dan sekali lagi ia terkecoh. Sepulang dari ikut ibunya ke sungai, ia malah pulang mengikuti 'ibu yang salah'. Alhasil, bukannya tiba di rumahnya sendiri, ia malah tiba di rumah bibinya itu. Ia mendengus kesal sambil kembali melalui jalan pulang. Berharap ibunya masih di sungai dan menunggunya untuk pulang.

“Kenapa tidak mau sekolah?” sang ibu bertanya kepada anak lelaki nomor limanya itu. Si bocah hanya menggeleng kuat. Entah apa yang ada di pikirannya. Bapaknya seorang guru, dan di usia seharusnya ia mulai masuk SD, ia malah menolak mentah-mentah untuk berangkat sekolah.

Tapi, hal yang 'unik' justru terjadi saat ia tiba-tiba mengiyakan ajakan ke sekolah itu, setelah melewati masa yang panjang menjadi bocah 'pengangguran'. Ternyata, prestasinya di sekolah, melejit. Ia bahkan sanggup menjawab soal berhitung kakak kelasnya. Sesuatu yang membuatnya mendapat kehormatan dari guru untuk menjewer telinga siswa yang lebih tua yang tidak sanggup menjawab soal yang mampu ia selesaikan dengan mudah. Sesuatu yang membuatnya menjadi bulan-bulanan setelah itu. Dikejar ke sana ke mari, hingga berakhir dengan salah satu tulang di pundaknya yang harus cedera karena dijepit dengan pintu kelas. Alamak!

Bocah kecil tadi kemudian tumbuh dewasa. Memasuki usia kuliah, ia memutuskan untuk hijrah ke ibukota. Meski ia tahu, untuk itu ia harus bekerja keras. Bapaknya hanya seorang guru, ibunya tinggal di rumah. Kedua orangtuanya itu bertanggung jawab atas kehidupan ketujuh buah hati mereka yang kesemuanya mereka antarkan hingga bangku kuliah.

Di tempat perantauan, disingkirkannya semua rasa malu, disingsingkannya lengan baju. Dengan status sebagai mahasiswa, ia rela menjalaninya sambil merangkap sebagai tukang batu. Lalu suatu hari ia didapati oleh seorang kerabat dari kampungnya saat tengah asyik masyuk mengaduk semen.

“Nak, apa yang kamu lakukan? Di kampung, Bapakmu itu terhormat. Seorang guru! Kenapa kamu harus bekerja begini?” sahut kerabatnya itu dengan heran.

Lelaki itu hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Baginya, tidak semua hal harus dijelaskan.

Saat ia kemudian memperoleh beasiswa. Disisihkannya untuk dikirim ke orangtuanya di kampung.
“Mungkin bisa membantu untuk menambah uang membeli seng untuk memperbaiki atap rumah yang bocor” tulisnya dalam sepucuk surat yang ia kirimkan dengan sejumlah uang itu.

Lalu, selayaknya jiwa muda lainnya. Lelaki itu pun jatuh hati. Seorang perempuan berkulit putih dengan julukan 'srikandi berkuda hitam' telah mencuri perhatiannya. Mereka sama-sama aktif di lembaga mahasiswa. Hubungan keduanya pun terrahasiakan dengan rapi, tak ada yang benar-benar tahu, kecuali berpucuk-pucuk surat cinta yang menjadi saksi.

“Apa itu primordial?” perempuan yang ia cintai itu suatu hari berkisah. “Ya, ia menggunakan kata-kata sesulit itu dalam apa yang ia sebut surat cinta. Saya tahu, ia hanya sedang mencoba membuat saya kagum. Ia tahu betul saya menyukai lelaki yang cerdas. Dan waktu itu, memang hanya itu yang ia punya.”

“Saya tidak bisa membawa buah tangan apa-apa. Tapi saya hanya ingin kau tahu, bahwa dalam forum itu, saya terpilih sebagai pembicara terbaik.” Ujarnya dalam surat yang ia jadikan oleh-oleh sepulangnya dari pertemuan mahasiswa tingkat nasional itu .

Nama lelaki itu, Syafri Kelana. Di masa berikutnya, kariernya bersinar. Seiring dengan deretan gelar pendidikannya yang terus bertambah. Dijalaninya hari-hari membangun rumah tangga dengan sang srikandi. Tak redup cintanya, meski harus mendampingi sang belahan jiwa dalam sakit menahun hingga menginjak angka sembilan belas tahun lamanya. Dan ia, tidak pernah beranjak dari sana.

Suatu hari seorang kerabat datang padanya untuk meminta bantuan. Kerabatnya itu terlilit hutang hingga rumahnya akan di sita. Ditelusuri, agaknya ketidakseimbangan gaya hidup yang membuat ekonominya carut marut. Setelah kejadian itu, Syafri Kelana berpesan kepada puterinya;

“Menjadi sederhana itu terkadang bukan masalah banyak sedikitnya harta. Tapi, ia adalah sikap hidup untuk tampil seadanya, dan tidak tergoda untuk bersaing tentang dunia. Bagi sebagian orang, itu yang sulit.”

Namanya Syafri Kelana. Nama yang ia pilih untuk menjadi identitas pada setiap buku yang ia punya. Juga pada lembaran surat cinta yang dulu ia tulis. Nama yang merupakan singkatan namanya dan nama perempuan yang menjadi istrinya, hingga di penghujung usianya. Syafri, Salehuddin Yasin Fatamorgana Djufri. Kelana? Mungkin itu hanya sebuah kata yang terdengar puitis saja. Sesuatu yang membuat saya, anak perempuannya, menjadi sadar, mengapa begitu menyukai puisi dan kata-kata indah.

20012019

Senin, 26 November 2018

Kapan Terakhir Kali Menangis Mendengarkan Taujih?

Pertanyaan di atas -yang merupakan status salah seorang kawan di FB bertahun yang lalu, selalu mengingatkan saya pada satu kejadian di masa SMA dulu. Saat kami, para belia berseragam putih abu-abu, duduk dalam sebuah majelis kecil di beranda mushala, sambil menyimak sebuah kisah.

Kisah itu tentang keteladanan para shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Yang membacakannya adalah salah satu dari kami, siswi SMA juga. Disimak juga oleh kami-kami, yang juga siswi SMA. Dibaca dengan irama yang datar, tanpa diiringi suara latar, tidak juga dengan visualisasi macam-macam. Sederhana saja. Tapi entah mengapa, kisah itu membuat kami meneteskan air mata. Ah, betapa saya merindukan momentum masa-masa SMA itu. Masa awal mengecap hidayah. Yang karenanya, membuat semua itu menjadi kenangan atas cinta.

Kemudian waktu berlalu. Banyak sekali hal yang sudah terjadi. Pertemuan, perjumpaan, perpisahan, dan kehilangan, juga berbagai perubahan, datang silih berganti. Hingga pada satu titik, saya merenungkan jalan panjang yang telah saya lalui. Lalu mencoba mencari subtansi atas semua itu. Tentang apa yang sebenarnya saya kejar. Apa yang saya cari. Apa yang saya perjuangkan.

Saat saya mencoba mengambil langkah mundur dari tempat saya berdiri, saya mendapati bahwa segalanya bisa terlihat lebih jelas. Bahwa berada di dalam gelembung kita sendiri terkadang membuat kita hanya sibuk dengan nilai dan standar kita sendiri. Saat kita melihat segalanya sebagai hitam putih, kita jadi merasa berhak untuk memukul rata semua yang ada di sekeliling kita sebagai sesuatu yang 'salah', saat warnanya dengan kita tidak sama. Saat jalan yang ia lalui berbeda. Saat pilihan yang ia tempuh tidak serupa dengan kita. Padahal, kita sama sekali tidak tahu apa yang sedang ia hadapi.

Saya teringat perkataan seorang ustadz, dalam sebuah majelis yang begitu besar, setiap sudut masjid yang megah itu diisi oleh berpasang mata yang hadir untuk menyimak kajiannya. Hari itu, ia akan membahas tentang akhlak. Lalu sebelum memulai penjelasannya, ia membuka majelisnya dengan sebuah nasihat yang sangat indah...

"Saat kita membahas tentang akhlak, maka yang harus kita ingat adalah bahwa materi ini ditujukan untuk memperbaiki diri kita. Jangan sampai saat dibahas tentang keburukan akhlak yang buruk, yang pertama terlintas di pikiran kita adalah tentang akhlak orang lain kepada kita, lalu kita pun 'mengaminkan' bahwa ia berdosa... jadinya kita lupa, bahwa harusnya yang pertama kita perbaiki itu diri kita sendiri .."

Ya, saat ilmu dikejar hanya untuk diajarkan pada orang lain. Saat ilmu diburu agar bisa menemukan dalil untuk menunjukkan kesalahan orang lain. Saat ilmu dicatat hanya untuk menjadi checklist untuk menunjukkan betapa salahnya orang lain. Dan pada saat yang sama, kita merasa aman atas diri kita sendiri. Maka saat itu, bagaimana bisa kita menangis saat mendengar taujih? Astaghfirullah...

Mungkin kita perlu kembali kepada kepekaan yang ada di titik di awal kita mulai berhijrah. Pada saat tetes hidayah itu pertama kali menyapa, dan kita paham betul, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita belum menjadi apa-apa.

261118

Rabu, 31 Oktober 2018

Kepergian Bapak dan Hal-Hal yang Saya Pelajari


Fayyadh, bayi lima bulan itu akhirnya tertidur. Tapi saya masih urung untuk segera membawanya ke kamar tidur kami di lantai dua. Saya harus menunggu adik yang mengantar ibu saya ke dokter, saya tidak bisa meninggalkan Bapak sendirian, meski saya tahu beliau sudah tertidur.

Entah apa yang membawa saya untuk berinisiatif menengok Bapak di kamar. Lalu mendapati sarungnya yang basah. Sepertinya setelah ganti popok terakhir, terlupa untuk memakai popok kembali. Maka saya menepuk pundak Bapak perlahan. Membantunya bangun untuk bersih-bersih di kamar mandi, lalu kembali memakaikan baju, popok, dan sarung baru. Bapak hanya diam. Pikiran saya terbang ke beberapa hari yang lalu saat Bapak tiba-tiba mengecup kening saya saat saya tuntas memandikan dan memakaikannya pakaian baru. Sebuah kecupan yang ternyata menjadi kecupan terakhir beliau kepada anaknya ini.

Setelah itu Bapak kembali masuk ke dalam kelambu. Lalu terduduk di atas tempat tidur, dengan tatapan kosong, dan masih dalam diam. Berkali-kali saya memintanya untuk kembali tidur. Bapak hanya mengangguk dan tak juga berbaring. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Di masa-masa akhir hidupnya dengan dua kali operasi di kepala yang otomatis mengganggu kinerja otak Bapak, saya selalu berusaha menerka-nerka; apa yang sedang Bapak pikirkan?

Kepergian Bapak untuk selama-lamanya adalah kejadian paling berpengaruh dalam hidup saya. Betapa rasa kehilangan itu bukan hanya meninggalkan duka, tapi juga berbagai pelajaran hidup untuk kami yang ia tinggalkan.

1.Ikatan Darah, Ikatan yang Tak Pernah Putus.
Sepanjang hidup saya sebagai seorang anak, tak bisa dipungkiri bahwa saya pun turut menyaksikan betapa orang tua saya pun adalah manusia biasa. Ya, mereka juga melakukan kesalahan. Tapi, bagaimanapun, atas ikatan darah yang kita punya, akan selalu ada maaf atas segala kesalahan tersebut. Bahwa meski darah kita dicuci oleh seluruh samudera di dunia ini, tetap tidak akan luntur ikatan itu. Pada akhirnya, sebagai seorang anak, rasanya tiap jerih payah yang orang tua lakukan tidak akan pernah dapat terbayar dengan bakti sehebat apapun, pun tidak akan bisa terhapus dengan kesalahan sebesar apapun.

2.Kenangan dalam Hati Seorang Anak.
Suatu hari, putera pertama saya sedang batuk keras. Semalaman tidurnya rewel, terganggu oleh batuknya sendiri. Alhasil, saya dan suami harus meronda bergantian untuk menggendong Fayyadh hingga kembali tertidur. Dalam pada itu, saya tiba-tiba tidak bisa menahan air mata saat sedang menggendong Fayyadh yang tengah sakit, saat ingatan saya terbawa pada kejadian saat saya sakit cacar di masa SD dulu. Di malam hari, Bapak masuk ke kamar saya, berbaring di samping saya dan semalaman mengusap punggung saya yang gatal tapi tak boleh di garuk. Dengan itu saya tertidur.  Dan betapa kenangan tentang hal itu tidak bisa saya lupakan. Sesuatu yang membuat saya kerap kali bertanya-tanya; kenangan macam apa yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak saya?

3.Dunia; Yang Tertinggal dan Yang Tersisa
Tiap rasa sesak terhadap dunia hadir dalam benak saya, kepada kepergian Bapak-lah saya selalu berpulang. Saya menjadi saksi bagaimana beliau berikhtiar menjemput rezeki dari hari ke hari. Namun pada akhirnya, yang saya saksikan adalah helaian kain kafan saja yang menemani beliau kembali ke pelukan bumi. Maka di dunia ini, sebenarnya apa yang kita cari? Sungguh hanya sekejap, hanya sekejap saja hidup ini jika dibandingkan dengan kehidupan setelah mati.

4.Sahabat Sejati yang Selalu di Sisi
Suatu hari saya menyuap Bapak saat beliau masih di rumah sakit, pasca operasi kepalanya yang kedua. Tiba-tiba Bapak menyebutkan satu nama yang belum jua muncul untuk menjenguknya.
“Mungkin sedang sibuk, Pak...” ujar saya yang kemudian menemukan mata Bapak yang berkaca-kaca.
“Mungkin dia sudah lupa sama saya...”.
Di akhir-akhir hidup Bapak saya mendapati sahabat-sahabat sejati beliau yang mengelilinginya di masa Bapak berada dalam fase post-power. Tidak lagi memangku jabatan apapun setelah tahun-tahun yang panjang memegang posisi-posisi strategis, sedang sakit pula. Maka benarlah, sahabat sejati baru dapat kita nilai saat kita sedang berada 'di bawah'. Mereka yang tetap ada, tanpa tendensi apa-apa.

Bapak, terima kasih untuk pelajaran yang Bapak tinggalkan meski tanpa harus terus berada bersama kami. Semoga Allah menyayangi Bapak di sana. Anak perempuan ta' rindu, Pak...

011118
Pada dua tahun kepergian Bapak rahimahullah.