Jumat, 29 Juni 2012

Berlalu dan Berubah

Saya baik-baik saja. 

Yah, lebih dari setengah bulan tidak mengupdate blog ini, rasanya memang saya harus menuliskan sesuatu sebagai wujud komitmen untuk blogging. Sembari membersihkan sarang laba-laba yang mulai nampak di beberapa sudut rumah maya ini saking lamanya tidak terjamah. Heu... ~_~

Baiklah, sepanjang waktu ini, rasanya memang telah banyak hal yang terjadi. Tentang bertubi-tubinya ujian akhir semester yang merenggut kedamaian malam *hehehe...*, deadline-deadline yang nampaknya telah 'dead' duluan sebab tidak tercapai tepat pada waktunya, juga pertemuan dengan beberapa orang kawan lama (secara langsung maupun tidak), yang mau tidak mau selalu membuat saya pada akhirnya akan selalu membenarkan bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. 

Tiap kita, pada tiap pergantian waktu, detik demi detik yang mungkin seolah sederhana saja, mau tidak mau akan terus berjalan kepada perubahan. Umur yang terus berkurang, status yang berubah, perpisahan, perjumpaan, pergantian posisi, perubahan peran, dan berbagai macam hal lain yang bahkan mungkin dulunya tidak pernah terpikirkan. 

Setahun yang lalu, saya sedang berada di sebuah tempat nun jauh di Soppeng sana, menjalani kegiatan KKN sambil bergalau ria berharap masa penarikan segera datang. Sekitar setengah tahun berikutnya, saya berada diantara para wisudawan yang tersenyum penuh syukur karena berhasil meraih gelar sarjana. Tak menunggu beberapa lama, saya sudah dapat menatap nama saya, lengkap dengan gelar barunya, bertengger manis di jas krem pendidikan apoteker di kampus yang sama. Lalu sekarang, berteman gemericik air dari aquarium Indy dan sinar rembulan yang separuh, saya menuliskan blog ini sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi dalam perjalanan menelusuri Jawa dalam rangka PKP Industri nantinya serta penasaran dengan nilai-nilai semester pertama. Entah apa lagi yang akan berjadi berikutnya. Semakin waktu berlalu, rasanya segala hal semakin sulit terprediksi. 

Mungkin mudah untuk hidup dengan mengikuti arus saja, mengalir layaknya air. Tapi ah, bukankah air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Mungkin tidak begitu mengapa jika kita membicarakannya dalam konteks keduniaan. Namun jika dibawa kepada hal yang berkenaan dengan akhirat, maka kita terikat pada konsep 'berlomba-lomba pada kebaikan', dan konsep 'menjadi orang yang beruntung dengan lebih baik dari hari yang sebelumnya'. 

Apapun yang terjadi nanti, saya berharap bisa menjadi orang yang dapat lebih baik. Lebih dapat melembutkan hati yang keras ini. Tidak lagi baru sadar setelah melakukan kesalahan saja, namun berusaha sebisa mungkin untuk mencegahnya terjadi. Saya tidak berharap pada kehidupan yang happily ever after seperti ending Cinderella.  Tapi pada kehidupan dengan nikmat yang tersyukuri, dan dengan ujian yang disabari. Semoga. 

----------------------------------------------------
(+)Tahukah, Nak? Ibu tidak pernah mendoakanmu menjadi cantik, pintar, apalagi kaya. Ibu hanya mengharap kepada Allah, agar anak-anak ibu dituntunnya menjadi hamba yang shaleh. Itu saja.


(-)Maka tahukah, Bu? Doa itu  telah lebih dari cukup. Terima kasih. Untuk doamu yang selalu.  


Pada pergantian Jum'at ke Sabtu, 
Dalam bayang-bayang tugas-tugas yang belum selesai
Makassar, 30 Juni 2012

Selasa, 12 Juni 2012

Cinta, Cinta, Cinta Menyapa!

Positif sudah. Senyumannya tanpa sebab. Kesenangannya memandang berlama-lama ke arah tidak terbatas. Sesekali ia menuliskan sesuatu lalu mencoretkannya, membuangnya, dan menuliskannya lagi. Ah ya, dia memang tidak pernah benar-benar pandai untuk yang satu itu. Terkadang dia tertawa terbahak tanpa sesuatu yang benar-benar lucu. Atau tidak membalas apapun meski telah ditimpuk dan dijahili seperti biasa. Dia malah balas mengelus pundak saudaranya dengan lembut. "Aku memaafkanmu..." ujarnya dengan nada aneh.

Positif sudah, anak ini sedang jatuh cinta.

Dia tidak lagi mengindahkan saran untuk berhenti mendengarkan senandung asmara yang membuatnya akan menghembuskan napas panjang setelahnya. Hingga pertahanannya rapuh. Tanpa diminta, tanpa diduga, tanpa mengira bahwa tingkah polanya telah tertebak sebelumnya, akhirnya ia mengaku juga. Ya, tipe yang tidak bisa memendam segala hal sendirian ini, memang selalu membutuhkan orang lain untuk berbagi beban. Dalam hal ini, rupanya cinta juga menjadi sesuatu yang membuat punggungnya terlampau berat untuk memikul. O la la.. bukan punggung ternyata, tapi hati!

Seperti biasa, dia akan curhat. Sesekali matanya nampak berair dan ia berusaha menahan genangan itu jatuh dan membasahi pipi. Tapi demikian saja, ia tidak pernah meminta solusi. Ia hanya butuh telinga untuk mendengarkan, juga beberapa lembar tissue untuk menyeka air mata yang masih berada di sudut matanya. Ia hanya ingin bercerita. Tentang perasaan hasil konspirasi dopamin, feromon, dan adrenalin itu. Yang awalnya terasa menyenangkan saat denyutannya semakin cepat. Namun lama kelamaan menjadi siksaan tanpa ujung pangkal yang jelas. Lagi, ia hanya ingin bercerita saja. Ia tidak butuh solusi, apalagi langkah konkrit untuk mengubah hari-harinya menjadi seperti biasa.


Berikutnya, ia mulai semakin rajin membaca. Shakespeare hingga Kang Abik dilahapnya. Ia mulai berani bicara cinta meski dengan serampangan dan kata-kata yang acak adul; kombinasi antara pujangga dadakan dan alay yang menyerang akut. Ia bahkan tidak sadar, bahwa suatu hari ia hanya akan bergidik jijik atau bahkan ngeri dengan kata-katanya sendiri.

Dia masih saja sering mengungkapkan isi hatinya, tapi bukan kepada sosok yang diakui kerap datang tanpa izin ke mimpi-mimpinya. Berhadapan dengan sosok itu saja sudah bisa membuat jantungnya berdenyut dengan labil, napasnya terhenti, lalu memburu, laly terhenti lagi. Lidahnya kelu. Mungkin disertai dengan wajah pucat. Bahkan kini meski hanya bayangannya saja yang muncul saat ia menutup mata. Akhirnya, dia jadi ikut takut menutup mata. Tidur? Dia tetap butuh tidur setelah lelah seharian, tapi tetap; dengan mimpi tentang sosoknya yang kerap kali datang, bahkan pada scene yang sangat tidak nyambung sekalipun.

Bahkan di dunia nyata, ia mengaku sambil gemas dan tidak habis pikir;
"Haruskah dia bertahan di jarak pandang dan sudut yang begitu mudah kulihat?"
"Haruskah dia tiba-tiba muncul dan melintas di sebelah kendaraanku yang kebetulan tertahan macet di salah satu sisi jalan"
"Haruskah aku membaca inisial namanya yang pula secara kebetulan muncul di papan reklame?"
"Haruskah secara tidak sengaja kulihat dia membuang sampah -yang bukan sampahnya,  yang tergeletak di dekat tempat sampah?"
"Haruskah dia sedang tersenyum saat kudapati sosoknya?"
"Haruskah...?"

Mungkin, dia masih terlalu muda untuk mengerti, bahwa jika takdirnya adalah umur panjang, maka perjalanan pun masih sangat panjang. Masih sangat banyak manusia yang akan ditemuinya. Bahwa dunia bukan hanya seluas tempat yang ia huni sekarang. Masih banyak kemungkinan, tentang berbagai macam hal baru dalam hidupnya.

Tentang yang terakhir itu, semoga segera ia mengerti.


Jumat, 08 Juni 2012

Catatan Sebelum Tidur (Lagi)

Ada yang mengagumi merdu rintik hujan, juga rembulan yang tidak lagi purnama. Mungkin, baginya itu adalah penawar lelah atas setiap sibuk yang datang kapan saja dan dari mana saja. Saat satu pekerjaan selesai, lalu perkerjaan yang lain turut menuntut untuk pula diselesaikan. Lelah pun seolah seperti kawan lama yang telah terpisah jarak dan waktu lalu kembali berjumpa; memeluk dengan erat. 


Ada ingatan yang terus saja muncul tanpa permisi. Kadang kemudian menjelma menjadi bentuk nyata pada tiap lembaran hari-hari. Pertemuan-pertemuan yang tidak terduga. Juga mimpi-mimpi yang terasa aneh di awalnya, namun juga selalu menyisakan ingatan saat terjaga. Jangan tergesa menyebutnya sebagai pertanda. Mungkin, itu hanya sekadar bunga-bunga tidur saja.

Hari ini, rasanya tiap detik yang beranjak adalah langkah menuju jalan keluar dari lingkaran. Apakah semakin dekat waktunya untuk memulai kehidupan yang 'sebenarnya'?


Tapi janganlah risau. Jika benar-benar keimana kepada takdir itu masih berada di jiwa, maka bukankah setiap yang terjadi adalah yang terbaik bagiNya? Lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan? 


*Di hadapan jendela yang menganga, 8 Juni 2012
*pasca serangan ujian bertubi-tubi -__-"

Ibu, anakmu bertemu dengan banyak orang-orang dengan kecerdasan yang 'tidak kira-kira'. Karena itukah bertahun yang lalu kau memaksa anakmu untuk berada di sana?
Ibu, anakmu sering duduk di bangku paling depan saat ujian berlangsung. Bukan sebab anakmu selalu belajar lebih banyak dan paling mengetahui materi ujian daripada kawan-kawan yang lain. Tapi, sebab duduk di belakang sana nampaknya berkonsekuensi pada ujian yang lebih berat. Jauh lebih berat dari soal-soal yang susah sekali pun.
Ibu, tapi anakmu hingga kini masih bertanya-tanya; apakah ujian-ujian ini memang hanya sekadar formalitas tanpa makna?



Rabu, 30 Mei 2012

Tiga Doa, Sebuah Nama



Masih ingatkah kau pada hari pertemuan pertama kita? Di suatu pagi yang masih sangat mula, aku bisa merasakan detak jantungku yang memburu lebih cepat dari biasanya. Sambil menerka bagaimana kira-kira wajahmu yang tempo hari hanya kubincangi lewat pesan singkat. Saat itu, kau adalah sosok yang sangat penting untuk kutahu. Ya, tersebab perjalanan bersama yang akan kita tempuh selanjutnya. Perjalanan yang cukup menentukan dan tentunya berisi begitu banyak kekhawatiran. Sepertiku, kupikir kau pun juga merasakannya.

Ya, aku sendiri masih ingat. Saat pertamakali memandang wajahmu. Menangkap senyummu. Lalu mendengarkan secara langsung suaramu yang lembut itu. Sejenak, ada semacam ketenangan yang menelusup seketika. Nampaknya, Allah telah memberiku kemudahan lewat ditakdirkannya kebersamaan kita selanjutnya. Aku terus berusaha meyakinkan diri sambil berdoa dalam hati semoga sangkaanku akan menjadi nyata. Maka selanjutnya aku yakin, ternyata itu menjadi salah satu doaku yang terkabulkan olehNya.

Selanjutnya aku tahu, betapa seringnya aku berujar pada diriku,
"Jika tanpa kau di sini, semuanya mungkin akan terasa berbeda. Semuanya mungkin akan terasa lebih berat". Maka aku pun akan selalu melanjutkan doa. Di tiap tempat dan waktu. Terutama dalam sujud yang kau menjadi imamnya. Saat lantunan ayatmu yang lirih dan lancar itu menjadi rindu tersendiri yang sering menyergapku kini. Saat kita tidak bersama lagi.

semoga kebersamaan ini menjadi sebab dibersamakannya kita di tempat yang lebih indah, nanti
semoga setiap tetes kebaikanmu adalah pelajaran bagiku untuk terus berbenah diri
semoga tak perlu ada dengki, agar kita dapat menapak anak tangga pertama dalam peluk ukhuwah
lalu kita berusaha meraih anak tangga berikutnya saat kuperlakukan kau sebagaiman aku pun ingin diperlakukan
hingga kelak kita menapak puncak tertinggi saat kita saling mendahulukan layaknya ikatan cinta para muhajirin dan anshar...

Dalam kebersamaan itu pun aku tahu. Betapa hanya atas kasih sayang dan rahmat Allah, setiap insan memeroleh cahaya. Menemukan jalan hidupnya yang penuh dengan keindahan, meski kadang harus dengan susah payah untuk ditemukan sudut pandang untuk melihatnya lebih jelas. Aku memandangmu sebagai bukti nyata, bukti hidup, tercerahkannya diri lewat perantara 'ilmu. Dan betapa mudahnya Dia membolak-balikkan hati seseorang, hingga dapat menjelma menjadi sosok yang sarat manfaat. Dari kegelapan menuju cahaya. Benderang, bahkan mungkin hingga menyilaukan.

Maka saat kabar gembiramu datang, kau tahu, rasanya ingin segera kugenggam tanganmu, dan merayakan bersama setiap kebahagiaanmu. Sebab kurasa, itu pula bahagiaku. Maka, segera kubumbungkan pinta yang penuh dengan harap; semoga senantiasa terisi hidupmu dengan senyuman, sebagai adalah pertanda bahagia, ataupun berupa lengkungan getir saat bersabar menghadapi ujian.  Semoga kau senantiasa dalam penjagaanNya dengan segala kebaikan, hingga hidup penuh dengan keberkahan, perantara menghadirkan generasi yang lebi tauladan, hingga ajal menjelang, hingga tua menggamit dalam rambut beruban, hingga tiba di tempat peristirahatan, hingga husnul khatimah....

Menghadapimu adalah saat dimana aku tahu bahwa usia hanyalah masalah angka.

Namun, ada pula masa dimana kupanggil kau dengan panggilan yang sangat jarang. Saat itu aku tahu, hanya perlu menghadirkan hati sebab kau telah mendapatkan segala teori. Saat itu aku sadar, aku hanya perlu meyakinkanmu, bukan sebab kau tidak yakin, namun sebab terkadang ada hal-hal yang membuat kita sejenak menjadi lupa pada apa yang telah kita yakini. Tapi, hanya lupa untuk kembali mengingatnya segera.

Saat dimana kupanggil kau dengan panggilan yang sangat jarang;

Dik, dengarlah ini;
Akan datang kembali masa dimana matahari akan kembali bersinar dan mengaburkan kelam pada langit. Persis seperti apa yang kita saksikan di pematang sawah pagi itu. Setelah malam yang panjang dan gelap, kita akan kembali tersenyum dengan datangnya fajar. Lalu awan-awan akan terlihat lebih jelas tersebab cahaya yang berkilauan, kita mengiringinya dengan lantun kalimat untuk mengingatNya. Ah, aku hanya ingin mengatakan; semuanya akan kembali menjadi baik-baik saja. Bahkan mungkin, akan jauh lebih indah dari yang kita kira sebelumnya. Percayalah.

Selasa, 08 Mei 2012

Sweeping Kini, Sweeping Nanti

Senja masih muda. Menara masjid baru saja melantunkan panggilan kemenangan untuk waktu Ashar, saat saya turun dari sebuah angkutan kota dan mengganti tumpangan dengan 'jet coaster jalanan' (baca: bentor, hehehe...). Saya masih asyik menikmati langit sore yang lumayan mengembalikan sari-sari kehidupan yang tadi berhamburan di perjalanan bersama angkot (maaf, lebay :p). Namun, meski rumah saya belum nampak, pak supir bentornya (eh, betul tidak yah kalau disebut 'supir'? :\) meminggirkan kendaraan itu, lalu berhenti. 

"Aih... ada sweeping di depan... Ini bentor tidak ada STNK-nya..." ujarnya kemudian. 

Hmm..., kejadian seperti ini telah beberapa kali saya alami. Sore-sore begini memang di jalanan menuju rumah saya, seringkali digelar sweeping oleh Pak Polisi demi mengecek kelengkapan para pengguna jalan. Dan sayangnya, bentor yang saya tumpangi kebanyakan tidak lengkap dengan itu semua. 

Beberapa pengendara lain juga nampak senasib dengan saya. Beberapa dari mereka memilih untuk turut meminggirkan kendaraannya dan menunggu hingga entah kapan. Sisanya, berbalik arah dan mencoba menemukan jalan lain yang entah dimana. Sedangkan saya, pada akhirnya memilih untuk turun dari bentor dan membayarkan ongkos yang telah disepakati sebelumnya. Ah, tentu kasihan juga jika bentor ini akhirnya ditilang. Toh, cuaca sore ini cukup mendukung untuk berjalan kaki, sudah tidak pula terlampau jauh jarak yang harus saya tempuh. 

Kejadian ini membuat saya teringat pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Dârimî; "Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah."

Ya, kesalahan memang menggelisahkan. Layaknya pengendara tanpa STNK atau SIM yang menjadi 'galau' dengan keberadaan Pak Polisi yang lagi sweeping itu. Hingga, mereka mungkin harus menunggu cukup lama hingga sweeping selesai, atau memutar lebih jauh agar tidak terjaring tilang. 

Maka benarlah sabda Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam itu: Istafti qablak! Minta fatwa pada hati. Sebab hati kecil yang sesuai fitrah, akan menunjuki pada jalan kebenaran, dan memberi sinyal pada setiap laku keburukan. 

Lalu sweeping itu pula membuat saya terbayang pada 'sweeping-nanti'... Ya, hari pembalasan, saat kita pun diperiksa atas semua amal perbuatan. Saat ternyata ada 'pelanggaran' yang telah kita lakukan, maka tidak ada lagi kemungkinan untuk menunda pemeriksaan, apalagi mencari jalan lain yang bebas dari pertanggungjawaban. Kita pada akhirnya harus menghadapinya. Atas semua kelalaian kita akan perintah, dan juga ketidakpatuhan kita kepada hal-hal yang telah jelas dilarang. Tidak bisa lagi ngeyel, apalagi 'atur damai'. 

Maka ya, layaknya pengendara yang baik, yang selalu bersiap dengan kelengkapannya agar tidak ditilang dan siap disweeping kapan saja. Kita pun agaknya masih punya kesempatan untuk mempersiapkan diri, agar kelak dapat siap pula menghadapi hari itu; hari dimana hanya ada hisab, dan tidak ada lagi amalan. Wallahu a'lam. 

Rifa'ah'sWritingZone, 8 Mei 2012

Selasa, 24 April 2012

Sekiranya TanpaNya



Apa yang membuat kita lelah setelah seharian beraktifitas? Keluar dari rumah bersama terbitnya mentari dan kembali pulang pun diiringi oleh peristiwa terbenamnya. Secara sederhana, kita mungkin beranggapan bahwa energi kita yang terkuraslah yang membuat kita menjadi lelah setelah tuntas dari begitu banyak pekerjaan, juga mungkin permasalahan yang harus kita urai dalam sehari. Tapi saya rasa, ini bukan hanya masalah energi itu saja, bukan hanya persoalan betis yang pegal atau tubuh yang loyo tersebab kelelahan, saya pikir, mungkin sebab hati kita pun ikut lelah dengan segala macam urusan dunia.

Ya, urusan dunia memang kerap kali menguras energi jasmani kita, pun dengan ‘energi jiwa’. Mungkin, sebab itulah kita selalu dianjurkan untuk menyisakan waktu, minimal sebelum tidur untuk kembali mengevaluasi diri, memaafkan yang harus dimaafkan, dan memohon ampun atas kesalahan. Setidaknya bagi saya, waktu bertafakkur adalah masa untuk mengembalikan energi jiwa. Sesuatu yang bisa menjadi jauh lebih penting dari sekadar energi raga.

Dalam kesempatan itu, saya tiba-tiba terpikir beberapa hal. Pemikiran ini juga mungkin seringkali dipikirkan oleh banyak orang, dan saya hanya mencoba menuliskannya dengan segala keterbatasan.
Sekiranya tanpa takdirNya, mungkin hari ini kita adalah bagian dari manusia yang bangun oleh dunia, dan lelah pun karena dunia. Sama sekali lupa pada kampung tempat kita berpulang; akhirat.
Sekiranya tanpa hidayahNya, mungkin kita adalah para wanita yang bersolek dengan bangga. Menampakkan aurat tanpa rasa takut. Atau menjadikan hijab hanya sekadar perhiasan yang justru semakin memikat pandangan.

Sekiranya tanpa inginNya, mungkin kita berada dalam antrian panjang para abege yang menghamburkan rupiah demi konser boyband kesayangan. Atau yang sibuk bermimpi-mimpi dapat berjumpa dengan idolanya yang bermata sipit dan berkulit putih itu, lalu kemudian; bangga.

Sekiranya tanpa petunjukNya, mungkin kita dapat dengan mudah mengacuhkan panggilan adzan. Terbata-bata dalam melafalkan Al Qur’an. Tidak mengenal Rasulullah, apalagi para shahabatnya. Buta dengan konsep-konsep aqidah. Tidak tertarik pada ilmu agama. Lalu atas semua keterbatasan itu, sama sekali tidak merasa; malu.

Sekiranya tanpa pemilihanNya, tidak mungkin kita menjadi bagian dari mereka yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar.

Sekiranya tanpa kesantunanNya, telah terumbarlah semua aib yang selama ini masih ditutupiNya. Terlihatlah semua dosa dan celah yang mungkin dahulu tidak nampak oleh kawan-kawan kita. Lalu semua manusia akan menjauh, tidak ada lagi yang ingin duduk bersama.

Dan sekiranya tanpa kasihNya, bukankah terlalu mudah untuk mencabut setiap tetes hidayah yang kini ada pada kita. Terlalu sederhana bagi Allah, untuk menggantikan kita dengan kaum yang lebih baik, dan tidak mendustakannya.

Maka tanpa izinNya, tidaklah mungkin kata-kata ini dapat tertuliskan. Tanpa cintaNya, akan sulit bagi hati kita, untuk terketuk menerima kebenaran. Wallahu a’lam.  


*Setelah hari yang melelahkan :)
Makassar, 24 April 2011

Minggu, 22 April 2012

[CookingTime] Pancake

It's cooking time! Setelah akhir-akhir ini kecanduan sama pancake-gulung seribuan yang sederhana-tapi-enak yang dijual di pelataran mushalla, akhirnya pas ada kesempatan jalan-jalan ke supermarket sama adik, kami memasukkan tepung instant pancake ke keranjang belanjaan. Selanjutnya, pekan lalu, jadilah agenda masak-masak itu berlangsung di dapur. Ternyata, satu kemasan tepungnya cuma jadi sedikit... Ckckck...


adonan dituangkan ke teflon

original

Tiga lapis: keju dan selai coklat


Digulung dengan keju!
Pas beli tepung pancake itu, sebenarnya juga beli kulit lumpia. Ceritanya, mau bikin martabak-mini kayak yang juga dijual di kampus. Tapi niat suci bikin martabak itu tidak disambut dengan baik sama ibu, katanya: "Habiskan dulu kue-kue yang ada di kulkas itu, baru bikin-bikin lagi!"

Jiah...

Jumat, 13 April 2012

Untukmu dengan Penuh Cinta; Pelanjut Estafet Ikramal'03


Makassar, 13 April 2012

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu alaikum warahmatullahi Wabarakatuh

Apa kabar, adikku? Semoga hati kalian senantiasa lapang, sebagaimana lapangnya masjid baru yang menjadi ‘rumah’ kalian sekarang. Ah ya, juga dengan tempat wudhu dan kamar kecilnya yang bagus itu, membuatku rasanya ingin kembali menjadi siswa SMA lagi. Hahaha…

Adikku penerus estafet Ikramal’03, kutuliskan surat ini dengan begitu banyak harapan dan juga begitu banyak cinta atas kesamaan diantara kita; memilih jalan cahaya ini untuk mengisi masa muda. Kau pun mungkin masih sempat merasakan, sebelum masjid yang nyaman itu selesai dibangun, saat semua kegiatan sederhana rohis itu bermula dari sana; sebuah mushala kecil di salah satu sudut sekolah kita. Tembok-temboknya yang hijau adalah saksi dari banyak hal. Kau tahu, bahkan salah satu kusennya yang tanpa kaca itu, telah menyaksikan bagaimana terkadang kami melewatinya dan menjadikannya selayaknya ‘pintu’. Ah, mungkin hanya kami saja yang mengerti pembicaraan ini. :')


Telah bertahun waktu yang terlewati dari masa itu. Kami pun kini satu sama lain tidak dapat saling memandang wajah sesering yang dulu. Banyak hal yang telah berubah, Dik. Kecuali tentang satu hal, kecuali tentang satu keyakinan. Bahwa insyaAllah, kami masih akan terus fasih untuk saling mengucap nama, dalam doa kebaikan dalam setiap sujud, dalam hening.

Kala itu, mungkin telah tiada Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam yang dahulu mempersaudarakan para muhajirin dan anshar. Tapi oleh lingkaran penuh berkah itu, hati kami telah berpaut. Meski tak kami elakkan, bahwa dikala keimanan berada di titik yang rendah, maka hari-hari terkadang tidak selalu cerah, begitupun dengan ukhuwah. Sebab kita paham, bahwa ukhuwah itu selalu berbanding lurus dengan keimanan dalam dada kita.

Tidak perlu risau. Jalan ini memang tidak pernah menjanjikan kenyamanan dan buaian kekaguman, tapi kita susuri saja. Sebab yakinlah, bahwa kau bukanlah yang pertama. Tiap senyumanmu, dulu juga pernah disunggingkan oleh yang lainnya. Mungkin nanti, saat kau rasa perih, maka hal yang lebih berat bisa jadi telah dilalui oleh orang sebelummu. Maka cukuplah yakin, dan mulai langkahmu dari sana. Masing-masing dari kita tidak pernah akan tahu seberapa kuat kita menjalaninya, sebelum benar-benar memulai tapak yang pertama, bukan?

Maka, adikku. Kecaplah tiap rasa yang akan kau lalui di sana. Segalanya kelak akan menjadi kenangan yang kepadanya kau akan banyak berkaca. Kepadanya kau bisa memandang betapa memulainya bukanlah suatu yang sederhana. Ada rangkaian takdir yang saling bertaut, bahkan yang kadang dengan tergesa kita sebut sebagai kebetulan. Ada pikiran-pikiran panjang yang mungkin bahkan dalam mimpinya turut menghadirkanmu sebab betapa ingin kebaikan untukmu dunia dan akhirat. Tiap pencapaianmu adalah atas izinNya dan  mungkin adalah buah dari doa-doa panjang dari lisan yang tidak kau sangka. Dari saudari yang selama ini kau jumpa, atau dari kakanda yang kau tatap wajahnya sekali sepekan.

Langkah kami mungkin telah jauh, Adikku. Banyak hal telah berubah. Tapi kami pun paham, bahwa terlalu banyak pula kenangan di sana. Terlalu banyak hal yang tidak mungkin kami lupa. Majelis perdana, sebutan ‘ukhti’ untuk pertamakalinya, jabat tangan yang erat, semburat senyum bahkan meski dari wajah lelah, air mata yang saling kita seka, cinta pertama, dekap selimut saat tubuh tidak sesehat biasanya, bahkan tentang suapan penganan kecil yang kita bagi sama rata. Terlalu banyak, bukan? Dan bukankah masa lalu tidak akan pernah bisa kita ubah?

Maka kini kami masih dapat dengan jelas mengenang semuanya. Kami melihat semangat masa lalu itu dalam semangatmu. Kami melihat senyum kami yang dulu pada senyummu. Kami melihat diri kami pada dirimu. Tidak ada yang berbeda diantara kita. Sebab kita sama, memilih jalan cahaya dan menyusurinya. Kita mulai dia dari sana. Maka estafet ini, berlanjut padamu. Tidak ada yang ingin menghentikannya, saat tongkat perjuangan berada pada genggamnya. Tidak peduli seberat apapun kita harus memulai. Tidak peduli sejauh apapun kita telah tertinggal. Siapa yang peduli seterpuruk apapun kita saat ini?!

Sebab, tidak ada yang berbeda diantara kita. Sebab kita sama. Memilih jalan cahaya dan menyusurinya. Dialah saksinya: Allah.

Kakak yang memandang kalian dari jauh,

Diena Rifa’ah Amaliah