
Ala kulli hal, pada beberapa titik yang saya lalui, saya sempat mengalami ‘down’, mungkin ini hal yang wajar, tapi terkadang konsep tentang kewajaran dan ke-manusiawi-an menjadi sangat tipis jaraknya dengan sikap melemahkan diri sendiri, meski telah jelas dikatakan betapa fluktuatifnya kondisi keimanan seseorang. Beberapa penyebabnya mungkin karena tenggelamnya saya dengan aktivitas dunia yang padat dan cukup menumpulkan nurani, intensitas berkumpul dengan akhwat yang jarang, dan beberapa masalah di rumah yang tidak sedang ingin saya bagi di sini.
Itu terjadi saat seseorang menceritakan perihal seorang nenek pengemis yang rutin dating ke rumah saya tiap hari Jum’at. Nenek tua dengan kantong lusuh yang selalu ia bawa kemana-mana. Suatu hari, setelah mengambil haknya, beliau berkisah tentang anaknya yang cacat. Yah, nenek tua renta yang fakir itu punya seorang, tapi cacat! Bayangan sorot matanya yang penuh syukur saat menerima sedekah langsung hadir di pelupuk saya. Dan sontak membuat saya memandang diri ini, betapa saya begitu kufur dengan nikmat yang banyak ini, dan betapa ujian sedikit saja membuat saya langsung lupa dan seolah tak pernah diberi kesenangan sedikitpun! Astaghfirullah…
Belum selesai saya menekuri pelajaran dari sang nenek pengemis, saya kembali diingatkan lewat lisan seorang kawan yang dating pada saya. Beliau bercerita tentang hidupnya yang seolah terus menerus dirundung duka. Tentang masalah yang datang bertubi-tubi yang seolah tak mampu lagi ia jalani dengan jiwa tabah. Ia merasa telah berada di batasan tertinggi kesanggupannya.
Dan saya, hanya dapat berkata-kata dengan nasihat yang saya comot dari ayatNya. Juga tentang konsep ikhlas, syukur, dan sabar. Ya, saya berkata-kata untuknya, tapi sebenarnya kata-kata saya itu lebih untuk diri saya sendiri. Untuk diri yang lemah dan alpa ini.





