Jumat, 28 Desember 2012

Aku Ini Istimewa...


Gadis itu akan menceritakan kisahnya pada saya. Sesekali ia memandang jauh ke arah tak terbatas. Seolah sedang mencoba menguak kembali kenangan masa lalu dan menghadirkannya. Bukan untuk apa-apa, katanya. Tapi agar terperlihatkan, bahwa memang tak ada hidup yang sempurna. Bahwa segala masalah itu, kadangkala akan muncul dan membuat segalanya terlihat kacau balau. Tanpa mungkin kita sadari, bahwa justru masalah hidup itulah, yang menyempurnakan kehidupan. Bukan untuk apa-apa, katanya. Selain untuk membagikan kisah, lalu membuat setiap orang percaya, bahwa setiap jiwa berhak untuk merasa istimewa.
Ia berdehem sejurus kemudian. 

Lalu memulai kisahnya dengan sebaris kalimat; Aku ini istimewa....

Aku ini istimewa. Sebab aku lahir dari keluarga yang nyaris sempurna. Ayah dan ibuku adalah pemuda dan gadis terbaik di jamannya. Ayah adalah lelaki pendiam dan sederhana. Ia tidak banyak bicara, datang dari sebuah kampung yang terkenal dengan kegarangannya, maka mungkin ia adalah anomali. Meski menempuh studi dalam jangka lama, melintas berbagai generasi di kampusnya, namun itu tidak mengubah pandangan siapapun tentang dia; ia pemuda yang cerdas. Kota tempat ia menuntut pendidikan tinggi itu menjadi saksi; ia mengisi masjid dengan ceramah sebagai ustadz muda yang ‘baru jadi’. Ia sibuk sebagai anak pramuka. Melintas lautan dengan kapal besar yang terkenal. Menjelajah dengan pesawat udara lalu terjun payung kemudian. Ia juga belajar menembak hingga salah satu sisi pendengarannya menjadi terganggu di masa depan. Membereskan urusan kampusnya, lalu segera terangkat sebagai dosen di sana.

Ibuku adalah primadona kampus. Berkulit putih bersih dan berwajah cantik, digilai para pria. Menjadi perempuan pertama yang muncul dengan jilbab dan motor bebek hitam yang mengilat. Cerdas pula. Di masa selanjutnya, ia menjadi satu-satunya dosen perempuan yang bisa menundukkan para cecunguk kampus yang suka bikin ricuh. Keduanya kemudian menjalin kasih, tanpa seorang pun tahu. Tanpa seorang pun tahu tentang berlembar-lembar surat cinta itu. Tanpa seorang pun tahu hingga keduanya menikah. Lalu melahirkan anak; seorang lelaki pertama yang dikemudian hari akan menjadi seorang pemuda jenius. Seorang anak kedua, perempuan yaitu aku. Dan anak terakhir yang terlahir cantik dan kemerahan itu.

Semuanya sempurna hingga di waktu yang entah –sungguh, aku telah lupa. Saat jarang lagi kudapati nasi goreng nikmat buatan ibu. Tidak pernah lagi aku  diajak untuk menjemput adik di sekolah taman kanak-kanak. Saat sepulang sekolah, aku hanya mendapati ibu terbaring menahan sakit yang tidak pernah kumengerti. Orang-orang itu berbicara tentang jantung, kolesterol, syaraf, dan istilah yang bagiku terdengar seperti bahasa alien.

Aku ini istimewa. Sebab pak guru di SD tidak pernah tahu bagaimana aku menahan takut saat ia memaksa kami giat belajar dengan mendeskripsikan bagaimana jika orang tua kami meninggal. Bagi teman-teman yang lain itu sekadar motivasi. Tapi bagiku, hal itu sangat mungkin nyata terjadi. Aku ini istimewa, sebab tukang becakku tidak pernah tahu, bagaimana aku menyembunyikan tangis dalam perjalanan pulang sekolah. Takut, saat tiba di rumah, aku hanya akan mendapati jasad ibu yang kaku, seperti yang digambarkan pak guru.

Hingga hari itu tiba, ayah mengajak kami ke Jakarta. Ibukota negera tempat Dufan berada. Kami di sana akan tinggal di rumah teman ayah yang seorang anggota DPR. Kami ke sana dengan sebuah kapal laut, lalu aku tahu Ayah tidak dapat tiket untuk kelas yang menggunakan kamar. Aku tahu tiket kami kelas ekonomi, hingga kami harus tidur di lorong-lorong kapal. Tak mengapa, sebab kami akan ke Jakarta. Di sana, kami tidur melantai dengan karpet di ruang tengah. Suatu hari kami diajak ke Sea World. Suatu malam, sang empunya rumah yang bekerja hingga larut itu membawakan kami hamburger yang enak, kumakan sedikit-sedikit. Hingga suatu waktu, ayah mengajakku ke Monas, makan pangsit yang tidak kuhabisi. Lalu saat pulang ke rumah, kejadian itu terjadi.

Aku baru tahu bahwa kami ke sini sekaligus untuk membawa ibu berobat. Obat satu paket untuk satu pekan seharga sepuluh juta. Kami sudah satu pekan di sini. Obat itu nampaknya sudah habis, dan kami tidak punya uang lagi.  Dan kulihat ibu menangis. Kudengar ibu mengucap kata ‘mati’ berkali-kali. Kudapati ayah juga menangis, pertama kalinya. Orang-orang yang tidak kukenal di ruangan itu juga menangis. Ruangan itu seolah dipenuhi awan mendung yang tebal dan panggil-memanggil. Tiba-tiba aku tidak bisa mendengar apa-apa.

Aku ini istimewa. Sebab aku menahan tangisku, walau aku takut sekali. Aku tidak ingin kehilangan ibu. Aku belum bercerita bahwa tadi aku sudah berfoto di depan monas. Aku belum pernah ranking satu di sekolah. Aku tidak menangis, tapi masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi aku menangis tanpa suara. Rasanya ada yang sakit sekali di dadaku, mungkin itu namanya kesedihan. Lalu aku mencuci muka. Lalu keluar dari sana, seolah aku tidak tahu apa-apa. Memang, sebab yang aku tahu, sepertinya saat itu ibu dekat sekali dengan ajal. Aku ini istimewa, sebab aku percaya, saat itu ibu tidak akan meninggalkan kami. Aku ini istimewa, sebab aku benar.

Gadis itu berhenti bercerita. Menyeka air mata yang mulai muncul di pelupuk matanya.

Aku ini istimewa...., lanjutnya

Aku ini istimewa. Sebab kulewati hari-hariku seperti biasa. Meski setelah itu hidup tidak lagi sama. Ibu tetap sakit. Dan aku tetap bingung saat ditanya tentang itu. Yang aku tahu, semua orang berusaha untuk membuat keadaan lebih baik. Aku ini istimewa, sebab aku tetap yakin, semua ini tidak akan sia-sia.

Di masa remaja, masa SMA. Sebuah kejadian kembali mengguncang keluarga kami. Kejadian yang membuat tidurku tidak nyaman. Kejadian yang membuat rumah kami menjadi semakin muram. Suatu hari aku menuliskan puisi di kelas tentang itu. Selesai menulis dan membacanya dalam hati, aku menangis. Aku tidak tahan tahan lagi. Tapi aku istimewa, sebab hingga kini, tidak seorang pun tahu tentang itu. Sebab hari itu, sahabat-sahabatku mengira aku menangis karena kalah debat dalam diskusi Kewarganegaraan. Aku istimewa sebab masalah itu dapat kusimpan, hingga ia selesai dengan sendirinya.

Di masa kuliah. Aku masuk ke jurusan yang diperintah ibu. Jurusan yang sebenarnya tidak kusukai, namun kujalani hingga selesai. Aku ini istimewa, sebab bukan meski keputusanku, tapi langkah yang itu dapat kujalani dengan tanggung jawab, meski berat. Sebab siapapun yang menyuruhku, jika aku sudah mengiyakannya, maka itu tetaplah keputusanku. Dan aku harus menjalaninya dengan baik.

Tempat itu, kampus itu, fakultas itu, menjadi seolah neraka, saat ternyata ada banyak orang yang suka memaksakan kehendaknya pada mahasiswa baru. Aku bukan anak yang sangat cerdas atau sangat cantik. Tapi aku adalah penentu hidupku sendiri. Aku tidak suka dipaksa. Sebab memaksa adalah perbuatan para penjajah, dan aku benci penjajah. Maka aku dibenci senior, dan membuat kawan seangkatanku bingung.

Aku ini istimewa. Sebab dalam sebuah pertemuan saat kawan seangkatan menyidangku karena tidak taat pada peraturan lembaga mahasiswa, aku dapat berdiri dengan kepala tegak. Menyampaikan argumen dan apa yang aku yakini sebagai jalan yang benar. Aku istimewa, sebab saat itu aku tidak kalah. Sebab saat itu aku berkata pada mereka; ini prinsipku, lalu kalian mau apa?

Aku ini istimewa,. Sebab hingga saat ini kujalani hidupku dengan baik sangka. Baik sangka pada kondisi ibu yang beberapa hari ini memburuk. Baik sangka akan masa studiku yang harus segera berakhir, dan dengan semakin banyak orang-orang yang sepertinya senang sekali mengancam –atau memang seperti itulah kami harus diperlakukan untuk bisa sukses? Dan baik sangka pada berbagai masalah yang datang dan pergi.

Aku ini istimewa. Sebab aku percaya bahwa tidak ada hidup yang sempurna. Yang ada hanyalah, orang-orang yang terlihat sempurna dalam menjalaninya. Dengan senyum terbaik yang mereka punya. Dan dengan tangis yang dapat mereka simpan di tempat yang tepat. Sungguh, hidup ini tidak sempurna. Masalah-masalah itu kawan, mungkin justru menyempurnakannya.

Aku ini istimewa, sebab aku sadar; sejak awal, hidupku bukan untuk diriku sendiri.

Gadis itu berhenti lagi. Saya menatap cermin tempat bayangannya terpantul. Lalu berbisik lirih padanya; kau yakin saya harus menuliskan ini?

Selasa, 25 Desember 2012

Logika Sederhana untuk Sesuatu yang Tidak Sederhana


Dia merasa beruntung sekarang. Logika sederhana di masa kecilnya ternyata telah sesuai dengan fitrah yang sebenarnya: lurus, insya Allah. 

Masih terekam jelas dalam ingatan, saat ia masih bocah. Kala itu, ia protes saat menyaksikan presenter acara TV yang mengucapkan selamat pada saat hari raya Islam, lalu mengucapkan selamat pula di hari raya agama lain. Protesnya itu, ia sampaikan kepada teman-temannya yang juga para bocah. Teman-temannya hanya menatapnya aneh, tanpa berkata apa-apa. Di dalam hati mereka, mungkin mereka tidak merasakan adanya keanehan. Tapi tidak dengannya,

“Memangnya orang di TV itu agama apa sih?!” ucapnya sambil bersungut-sungut.

Keluarga besar dengan latar belakang Islam yang cukup kental memang telah membentuk pribadi anak itu. Tanpa pernah diajarkan secara gamblang, ia sudah cukup belajar dari apa yang ia lihat sehari-hari. Tapi, itu bukan alasan baginya untuk menjadi seseorang yang intoleran dan punya pikiran keras yang tanpa batasan. Di lingkungan rumahnya –hanya berjarak sebuah rumah, tinggal pula seorang keturunan Tionghoa yang bukan beragama Islam. Bahkan, setiap Ahad tiba, rumah itu selalu hiruk pikuk dengan alunan nyanyian puji-pujian. Masih di masa kecilnya, terkadang ia mengintip-intip momen tersebut dari pagar sang tetangga, lalu terbirit-birit saat ketahuan. Itu saja, tanpa diikuti perilaku destruktif lainnya. Dan tetap dalam hati dan pemahaman bocah yang paling sederhana, ia mengerti; antara dia dan tetangganya itu, ada yang berbeda.

Namun sekali lagi, ia cukup belajar dari lingkungannya. Ia bahkan belum dapat benar mengeja kata t-o-l-e-r-a-n-s-i saat hal tentang itu telah ia pelajari dengan sendirinya. Tersebutlah di suatu waktu, masih di masa kecilnya. Kala itu, karena sebuah kejadian, kota tempat tinggalnya dikepung dengan kericuhan. Terjadilah rusuh yang sangat kental dengan nuansa SARA. Para etnis Tionghoa diburu, rumah mereka dibakar, rukonya dijarah. Tak sedikit dari mereka yang konon sampai harus menjemur sajadah di depan rumahnya agar terhindar dari amuk massa, agar dikira Islam. Maka saat itu, tentu gusarlah sang tetangga yang bertahun-tahun hidup dikelilingi komunitas Islam-Makassar yang lumayan tattara’ (mungkin semakna dengan taat atau ‘fanatik’ –ingat, dengan tanda kutip!).

Melihat kondisi tersebut, sang Ibu yang kala itu telah sakit, memintanya untuk menemani berkunjung ke rumah tetangganya itu. Dengan berdiri di depan pintu pagar, sambil tertatih dan berpegang di bahunya, ibunya berjumpa dengan sang tetangga, wanita muda dengan kulit putih dan mata sipit itu.

Tenang saja. Kalian aman bersama kami.” ujar ibunya.

Ringkas saja. Dan wanita Tionghoa itu pun hanya menatap anak-beranak itu bergantian, sambil tersenyum lega. Mencipta mata sipitnya yang nampak segaris. Fragmen itu terkenang hingga bertahun setelahnya. Saat itu, ia sama sekali belum tahu tentang pembagian orang kafir bagaimana. Perbedaan hak dan kewajiban mereka pun bagaimana. Perlakuan pada mereka dalam kondisi damai, kondisi perang, kondisi saling berhadap-hadapan bagaimana. Tapi kala itu, dengan hati dan pemahaman bocah yang paling sederhana, ia mengerti; kita memang berbeda, tapi bukan berarti boleh saling menyakiti. Dan agama kami, memanglah rahmatan lil alamin; kasih bagi seru sekalian alam, tanpa terkecuali.

Logika sederhana itulah yang terus ia bawa, terus ia pahami hingga kemudian ia temukan sisi ilmiah yang ternyata mendukung apa yang selama ini ia mengerti. Maka di saat masa SMA, ia terkaget pada pendapat seorang temannya yang berkata,

“Saya pikir, semua agama itu punya surganya masing-masing! Ibarat ingin ke pasar sentral, ada rutenya, namun ujung-ujungnya sama saja menuju satu tujuan. Hanya caranya yang berbeda. Maka yang penting beragama (apapun) dengan benar, maka bisa masuk surga!

Demikian sang teman berargumen. Ia tentu menggeleng kuat. Tidak! Itu tidak benar. Baginya selama ini, tidak ada pengecualian dan tawar menawar dalam masalah aqidah. Aqidah adalah harga mati tanpa kata ‘kecuali’. Islam saja yang benar. Titik!

“Tapi bukankah mudah bagi Tuhan untuk mencipta banyak syurga? Syurga untuk agama ini dan agama anu! Apa susahnya?

Logika yang lainnya kembali datang. Ah, jika memperturutkan otak kita yang secuil ini, bagaimana bisa kita tandingi ilmuNya yang sesamudra? Namun meski tidak berucap dalil, maka sebenarnya logika pun bisa dibalas logika!

Bagaimana bisa, ada seorang pembantu yang digaji dan diberi tempat tinggal, lalu kemudian ia bekerja dan mengabdi kepada Tuan yang lain. Jika begitu, apakah Tuannya akan sudi memberinya hadiah, bonus, atau semacamnya? Maka demikian pula agama ini. Seorang manusia dicipta dengan fitrah yang lurus, dengan nikmat yang datang tanpa ia pinta, dengan kewajiban yang jelas; untuk ibadah kepada Allah. Maka jika ia menyembah Tuhan yang jelas-jelas berkonsep berbeda, bagaimana bisa disiapkan untuknya surga?

Maka cukuplah asbabun nuzul dari QS. Al Kafirun menjadi pelajaran bagi kita. Saat para kaum kafir memberikan penawaran pada Rasulullah, tidak tanggung-tanggung; sang Rasul akan dihadiahkan harta melimpah, tahta terhormat, juga wanita sebagai pendampingnya!

Tapi dengan suatu syarat:  ikutilah ritual agama kami, cukup setahun saja! Maka kamipun akan ikuti agamamu, setahun pula!

Maka surah itu muncul dalam menjelaskan dengan gamblang, ditutup dengan kesimpulan tegas di ayat terakhirnya; bagimu agamamu, bagiku agamaku. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini. Maka jelas saja semua pernik keduniaan itu tidak akan mempan untuk merayu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam, sebab bukankah ia telah bersabda:

Namun apakah sikap tegas itu menjadi legitimasi untuk asal-asal menyakiti sebab aqidah yang berbeda? Apakah itu adalah pembenaran untuk memaksakan keyakinan? Bukan! Sebab di ayat lain Allah berfirman, Laa ikraha fiddin... (QS. Al Baqarah: 256). Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam!

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin merentangkan tafsir ayat ini bahwa; Sungguh, dalam menganut agama ini,  tidak ada paksa-paksa! Sebab agama ini telah sempurna dan sesuai fitrah, maka tanpa dipaksa pun seharusnya manusia yang ‘lurus’ akan dengan mudah mengikutinya.

Ya, jangan memaksa orang diluar Islam untuk masuk Islam! Apalagi dengan cara yang tidak indah, kasar, dan mengaburkan kasih sayang Islam. Tetap, tetap ada konsep dakwah ke arah sana, namun perhatikanlah bahwa ia juga masih dengan ciri general dakwah; tepat isinya, bagus caranya, pas waktunya. Bukankah demikian yang Rasul contohkan?

Maka cukuplah logika masa kecilnya itu membuatnya merasa beruntung, sebab ia ternyata sejalan dengan nash syari’i. Tidak berucap menyelamati ritual keagamaan agama lain, namun tetap memberikan jaminan ketenangan saat mereka merasa terancam. Tetap. Tetap dalam koridor dan batasan yang benar. Bukan hanya sekadar logika yang menggampang-gampangkan, atau taqlid buta yang berlebih-lebihan, tapi dengan ilmu yang dikembalikan kepada asal sumbernya;  al Qur’an dan Sunnah.

Maka setelah para ulama bersepakat untuk keharaman berucap selamat pada hari raya agama lain, lalu  asatidzah masa ini berbusa-busa mengingatkan tentang hal yang sama. Bagaimana ceritanya, kita yang ‘datang belakangan’ ini kemudian mencari dalih macam-macam untuk membenarkannya?

Kamar Ibu, 25 Desember 2012
untuk ibu, madrasah pertama itu; semoga lekas sembuh.

Sabtu, 22 Desember 2012

#teladan

Penjelasan itu menarik sekali. Ia terkait dengan salah satu hadits dalam Shahih Bukhari dalam bagian kitab tentang keutamaan Shahabat. Sayang,saya tidak berhasil menemukan catatan lengkap tentang hadits tersebut. Tapi penjelasannya masih saya ingat, saking berkesannya. .Jadi, dalam hadits tersebut, sang periwayat sedang menceritakan tentang keutamaan seseorang sebagaimana yang Rasulullah sabdakan. Menariknya, dalam matan hadits ia menggunakan kata 'seorang lelaki' untuk menyebutkan shahabat yg utama tersebut. Sementara dalam syarahnya, salah 1 pendapat menyebutkan bahwa kemungkinan yg dimaksud dengan 'seorang lelaki' itu adalah sang periwayat hadits itu sendiri. Mengapa ia tidak sebutkan saja namanya sendiri? Padahal konteksnya adalah masalah keutamaan dan bukan pula aib?
Nah, disanalah letak teladan  itu!

Dari sana kita belajar, betapa mereka sangat berhati-hati dalam menunjukkan dan menyebutkan keutamaan dirinya. Padahal kita tentu tak sangsi tentang kebeningan niat dan kelurusan hati mereka. Apalagi ini dalam konteks mengajarkan hikmah dan ilmu. Tapi mereka tetap hati-hati dan tidak menyebut namanya sendiri dalam meriwayatkan hadits tersebut. Kita tentu ingat pula kekata Imam Syafi'i; Aku berharap agar banyak orang mendapatkan ilmu agama melalui diriku dan mereka tidak menisbatkannya kepadaku meski hanya satu huruf saja. Hmm, tentu berbeda yah, dengan kita saat ini yang kadang begitu khawatir saat karya kita tidak diikutkan dengan nama-nama kita.

Padahal tentu lebih tenang, berkebaikan dalam hening. Meski tak ada manusia yg mengenal, tapi penduduk langit merindukan. Namun di sisi yang lain, memang ada orang-orang yang mau tidak mau harus dikenal namanya, untuk satu keperluan, atau dengan suatu alasan. Salah seorg penulis favorit saya misalnya, punya alasan kuat mengapa ia 'berani' cantumkan nama terang di akhir setiap karyanya. Pertama, untuk pertanggungjawaban ilmiah. Kedua, agar ia bisa istiqamah, sebab tentu akan lebih banyak org yang akan mengingatkan. MasyaAllah!

Maka semoga Allah membalasnya dengan kebaikan, sesuai dengan apa yang beliau niatkan. aka semoga kita pun demikian, dianugrahkan kebeningan ikhlas dalam setiap amalan. Baik yg harus tertunjuki dengan terang-terangan. Maupun yang kita tegakkan dalam kesunyian.Demikian, semoga para manusia shalih membawa manfaat bagi diri kita. :)

Tipis. Sungguh tipis sekali antara berbagi pengalaman untuk menjadi motivasi, atau untuk mendapatkan sanjung puji. Yang pertama memberikan inspirasi, yang kedua hanya bangkitkan ujub diri. Niat dari yg berbagi dan prasangka yg mendengarkan adalah yg membedakan keduanya

-dari kicau di akun @jedasejenak11
Makassar 22 Desember 2012 

Jumat, 21 Desember 2012

#free

Mungkin, planet ini terlalu luas dan padat oleh manusia, sehingga hidup tidak lagi sederhana. Seperti obat yg masuk dlm tubuh, hubungan antara manusia 1 dgn yg lain tak pelak mencipta interaksi. Mereka saling mempengaruhi, baik menguntungkan, maupun merugikan. Diantaranya ada yg mencoba menciptakan tembok. Menciptakan batasan. .Dgn itu, mereka menentukan hak org lain atas dirinya. Siapa yg punya, siapa yg tidak.Siapa yg masih punya.Siapa yg tidak lagi punya. .Tapi ada pula yg ternyata dilahirkan tanpa pernah benar2 merasakan kehidupan. Mereka menjalani hari-hari dgn catatan yg telah ditentukan. Tidak boleh ada pembangkangan. Orang lainlah yg menentukan langkahnya. Lurusnya. Beloknya. Larinya. Bahkan lambat dan cepatnya. Ya, mereka itu ADA.Tulisan ini hanya untuk mengingatkan kepada mereka yg punya kebebasan. Yang merasa independen dgn hidupnya. Bersyukurlah! Sungguh, bersyukurlah! Sebab banyak orang yg tidak seberuntung kalian.

"Kau ini keras, seperti bapakmu..."
"Bukan keras, Bu. Ini hanya mekanisme pertahanan diri."

planet ini sudah terlalu padat! *orig pic by me

-dari kicau di @jedasejenak11
21 Desember 2012

Kamis, 13 Desember 2012

Pertanyaan yang Tidak Perlu Ditanyakan dan Kalimat yang Tidak Usah Dilanjutkan



“Kalau kamu mau jadi anak durhaka, silakan...” kata bapak.

Saya selalu tersenyum sendiri jika mengingat ucapan bapak yang satu itu. Hanya sebaris. Ringkas. Tapi telak membuat saya bersemu merah dan tersenyum kecut plus merasa bersalah. Kalimat itu dilisankan bapak sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan saya, yang kemudian cukup membuat saya menyesal.
Ceritanya, waktu itu kami berada di kamar kost kakak saya. Saya dan bapak datang ke sana, melintas pulau untuk mengiringi kakak lelaki saya yang akan berpindah kota dalam waktu dekat itu. Selepas menuntaskan masa studinya, ia memutuskan mengadu nasib di kota lain yang juga bukan kota kelahiran kami. Kamar kost yang lumayan sempit itu hanya berisi sebuah kasur, itupun cukup tipis. Selebihnya, dilapisi karpet yang lumayan untuk mengalasi dinginnya lantai di kota sejuk itu.

Maka, saat waktu tidur tiba, kakak saya bersiap menuju kamar kost temannya di lantai dua. Tentu, kamarnya tak muat untuk kami bertiga, khan? Nah, pada saat itulah saya melontarkan pernyataan bodoh itu kepada bapak;

“Pak, yang tidur di kasur saya atau bapak?” ujar saya dengan perpaduan ngantuk dan sadar yang tidak lagi seimbang.

Maka, tanpa memandang saya, bapak berujar dengan ringan, “Kalau kamu mau jadi anak durhaka, silakan tidur di atas kasurnya...

Kakak saya tersenyum lalu tertawa kecil, mengejek kebodohan pertanyaan itu. Saya? Tentu tidak berani berkata macam-macam. Langsung menarik sarung dan membenarkan letak bantal di atas karpet. Apes.

Sejak saat itu, saya sadar, bahwa ada saja lontaran pertanyaan yang tidak perlu kita tanyakan. Bahkan meskipun ia adalah pertanyaan repetisi yang tidak membutuhkan jawaban. Kecuali untuk menegaskan sesuatu mungkin. Dan tentu sangat kasuistik, tentunya. Begitu pula dengan keluhan, kadang ada saja keluhan yang sebenarnya dapat segera kita hentikan dengan satu kalimat saja, bahkan sebuah kalimat tanya.

Seperti saat seseorang mengeluh kepada bapak tentang ketakutannya tentang sesuatu. Dengan detil ia menggambarkan ketegangan dan perasaan tidak nyaman yang ia alami tempo lalu. Dan oleh bapak, ia didiamkan dengan pertanyaan ini:

“Menurutmu, dimana Allah saat itu?”




Kota Pekanbaru dari ketinggian lantai 15, salah satu momen bersafar bersama bapak


Sama halnya dengan untaian kalimat. Dalam berkomuniskasi dengan seseorang, kadang kita memutuskan untuk tidak menyelesaikan sebuah kalimat. Mungkin sebab kita sangat percaya, bahwa lawan bicara kita dapat melanjutkannya dengan benar. Lalu mengambil kesimpulan seperti apa yang kita harapkan. Bukan. Bukan sebab kita tahu ia paham tentang ilmu kejiwaan. Atau sebab ia ternyata dapat membaca pikiran orang. Hanya saja, sebab kita percaya bahwa ia telah sedemikian paham tentang diri kita. Nyatanya, terkadang kalimat yang tidak selesai itu justru menerbitkan pertanyaan;

“Terus?”
“Jadi?”
“So..?”

Dan pertanyaan-pertanyaan ringkas serupa yang bisa jadi, ini bisa jadi yah, membuat sebuah hati terluka. Membuat seseorang kemudian sadar, bahwa lawan biacaranya ternyata tidak benar-benar dapat memahami dirinya. Bahwa dari situ saja, ia bisa menakar, seberapa dekat sebenarnya hubungan dan keterikatan hati mereka.

Maka memang betapa berat setiap kata itu. Lain intonasinya, lain pula maksudnya. Lain tanda bacanya, lain pula maknanya. Maka sebab itulah lidah tak bertulang, ia harus dijaga, agar tidak bablas menyakiti hati lainnya. Menyakiti karena hal yang  ia ucapkan, atau mungkin menyakiti sebab hal yang TIDAK ia ucapkan.

Tapi kata-kata bukan saja satu-satunya sarana komunikasi; ada mimik wajah, ada teriakan, ada air mata, ada gerutu, bahkan ada diam. Kesemuanya itu melengkapi interaksi antara sesama manusia. Dan semuanya menuntut kita untuk lebih banyak memahami dan memperhatikan orang lain, juga diri kita sendiri.

bukankah kita merindu,
sahabat yang dapat tepat dalam memilih tanya
dan yang tidak perlu menunggu kalimat itu sempurna
untuk dapat melengkapkannya

Rifa’ah’sWritingZone, 131212
Meski absurd, saya bersyukur bisa menulis lagi :)

Selasa, 16 Oktober 2012

Sendiri

sendiri dan dirindukan :')


Fakta bahwa di dunia ini hidup begitu banyak manusia memang tidak terbantahkan. Tidak satu pun orang yang tidak setuju bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendirian. 

Bahkan meski saat kau sedang merasa sendiri sekalipun...

Saat kau sedang bersendirian, tidak menutup kemungkinan, ada seseorang atau bahkan beberapa orang di belahan bumi yang lain yang sedang mengingatmu, merindukanmu, atau pun menyebut namamu dalam doa di sujud khusuknya. 

Ia mungkin sedang membongkar kembali kenangan masa lalu. Sebab hanya di sanalah kalian masih dapat saling bertemu. Ia mengingat-ingat wajahmu yang dulu, senyummu yang dulu. Lalu mencoba membandingkannya dengan dirimu kini. 

Ia sedang merindukanmu. Mungkin tentang perjumpaan pertama kalian. Atau tentang perbincangan yang tidak pernah bisa ia lupakan; saat kau menasihatkan hal yang penting dan masih  terus kau anggap penting hingga kini.

Ia menyebut namamu  dalam doanya. Ia mengingat tiap kebaikanmu agar selalu berbalas dengan kebaikan pula. Tanpa pernah kau sadari, ia mencoba memelukmu dari jauh dengan untai pinta yang mengetuk pintu langit. Tak mengapa kau tak tahu, pikirnya. Sebab itu bisa menjadi salah satu sebab kemungkinan doanya lebih mudah terijabah, insya Allah. 

Maka bahkan saat meski kau merasa sendiri sekalipun, 
mungkin saja ada orang yang mengingat, merindu, dan berdoa untukmu, lalu begitu berharap dapat segera bertemu denganmu, kemudian meminta maaf atas khilafnya yang lalu. 


Jumat, 05 Oktober 2012

Dear, Diena

-terinspirasi dari tulisan berjudul Dear, Iqbal dalam buku Dear, Allah (Iqbal Latif dan Ayu Mayangsari). Sekaligus ucapan terima kasih pada keduanya, untuk 'souvenir' pernikahan paling indah ini. Sepertinya, saya harus lebih sering menulis surat untuk diri saya sendiri.

Dear Diena,
Surat ini bisa kau baca kapan saja. Meski ia ditulis diantara laporan-laporan industri-apotek-rumah sakit dan studi kasus, semoga tidak mengurangi esensinya. Bahwa aku dan kau: kita, sedang berupaya untuk mempertahankan ingatan. Ya, memori yang terkadang terserang amnesia tiba-tiba. Sehingga begitu banyak yang terlupa. Mulai dari hal yang remeh temeh, hingga yang terpenting sekalipun. Maka, aku akan menuliskannya di sini saja. Untuk mengingatkanmu, bahwa begitu banyak hal yang telah terlewati. Dan melangkahi semua itu tanpa mengabadikannya dengan apapun, dapat menjadi sebuah penyesalan tersendiri suatu saat nanti.

Diena,
Begitu sajakah aku harus menyapa dirimu? Ataukah kau menjadi lebih senang disapa dengan Rifa atau Rifa’ah sebagaimana ibu juga sering menulis namanya sebagai Ummu Rifa’ah? Ah, tidak jadi soal. Termasuk sebab kadang beberapa orang kurang tepat dalam mengucapkannya. Ada yang memanggilmu; Diyena. Yah, meski terbacanya mungkin demikian, namun beberapa orang sudah cukup tepat dengan membacanya sebagai Dina. Bukan tersebab ejaan lama dalam Bahasa Indonesia, namun memang demikianlah transliterasi dari rangkaian huruf hijaiyah dhal, ya, dan nun yang merangkai namamu. Huruf ya sukun itu kemudian menjadikan dhal kasrah itu dua harakat, ditambah nun fathah, maka saat ditransliterasi dalam tulisan latin, ia berubah menjadi: ‘Diena’. Tapi tetap harus dibaca Dina. Tapi yah, tidak jadi soal. Tidak perlu berpanjang kata tentang ini. *hehe..

Hmm.... Sadarkah bahwa akhir-akhir ini kau menjadi bertemu dan berinteraksi dengan lebih banyak manusia? Hal itu seharusnya semakin menyadarkanmu bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini. Mungkin, masih ada hal-hal lain yang harus diperbaiki oleh tiap pribadi –apalagi pada pribadimu sendiri, bukan? Maka biarlah itu semua semakin membuka matamu bahwa betapa beratnya tugas menyampaikan kebenaran itu. Sebuah tugas yang tidak akan sembarangan dibebankan kepada seseorang. Kecuali bahwa ia memang pantas, kecuali bahwa ia mampu.

Rangkaian peristiwa yang telah terlewati, semoga tidak kau lupa untuk kau susun sendiri menjadi jawaban-jawaban yang menerangkan berbagai tanya dalam benakmu. Yah, seperti sebelum kau melewati pintu masuk di apotek itu. Sebelum kau menghabiskan sekitar delapan pekan di sana. Melalui Ramadhan, menuntaskan Syawal, dan menjalani berbagai macam aktifitas yang silih berganti.

Kau yang sebelumnya begitu benci dengan obat-obat psikotropik. Kau terus menerus bertanya; “Jika obat macam itu, yang bisa menyebabkan efek adiksi yang mengerikan, mengapa para dokter terus menerus menuliskannya dalam resep? Lalu memasukkan para pasiennya pada lingkaran yang tidak akan pernah berhenti, hingga entah kapan...

Namun, apa yang mau kau kata, saat Allah dengan segala kuasaNya menempatkanmu pada sebuah apotek yang menjadikan obat-obat psikotropik sebagai produknya yang paling laku? Tersebab ia memang berada dalam jarak dekat dengan rumah sakit yang pasiennya menderita penyakit yang membutuhkan obat-obat itu. Panjang helaan napasmu tiap kali menyiapkan butir-butirnya dalam sak-sak obat. Hingga akhirnya kau sadar, pada jawaban yang tertitipkan pada fragmen tersebut. Bahwa apa yang selama ini kau benci, justru adalah harapan bagi jiwa-jiwa lainnya, yang mungkin telah mengerti tentang hal ini, lebih dulu darimu.

Ya, butir-butir obat itu adalah harapan. Harapan untuk membuat anggota keluarga mereka menjadi lebih tenang perangainya. Harapan agar anak, adik, atau ibu mereka dapat hidup dengan lebih wajar. Maka tidakkah kau perhatikan betapa pancaran kesyukuran itu selalu muncul tiap bungkus-bungkus obat tadi telah dalam genggaman mereka? Itu dia! Itu dia jawaban yang seharusnya dapat kau mengerti sekarang. Menggenapkan keyakinanmu betapa Allah telah menetapkan takdir dengan setepat-tepatnya keadaan.

Kau adalah seorang mahasiswa farmasi yang lucu. Kau benci obat. Kau enggan meminum obat saat kau sakit. Bahkan meski terkadang pada akhirnya kau harus mengkonsumsinya, kau tetap saja jengkel pada dirimu sendiri. Namun, pernahkah kau mencoba mensyukuri, betapa beruntungnya dirimu yang dapat dengan mudah segera membeli obat saat kau sakit? Itu dia! Jawaban itu kau temukan saat seorang pasien berubah ekspresinya demi mengetahui jumlah harga obat yang harus ia bayar.

Uang saya tidak cukup...” ujarnya, dengan mimik wajah yang sulit kau ungkap dalam kata. Maka serangkai kalimat itu turut berputar-putar di kepalamu. Sambil kau mencari-cari ingatan tentang pernahkah kau mengalami hal yang sama. Tidak pernah. Maka pernahkah kau bersyukur untuk itu semua? Ah...

Baiklah, Diena...
Kau paham betul, bahwa waktu akan terus melaju tanpa menunggu. Dan semakin hari, seharusnya pun kau harus semakin memahami bahwa akan segera datang masa dimana kau harus berdiri di atas pijakanmu sendiri. Setiap orang yang berinteraksi, yang berbicara denganmu –mungkin yang bahkan bukan berbicara khusus untukmu, adalah kepingan-kepingan pertimbangan atas langkah yang akan kau ambil selanjutnya. Baik untuk jangka pendek, maupun untuk jangka panjang. Untuk segala hal yang telah kau kumpulkan kini, akan datang masanya kau akan ditagih; apa yang bisa kau lakukan dengan semua yang kau sebut sebagai ‘bekal’?

Tapi, kau masih meragu khan, Diena?
Ya, sebab kau masih memahami, bahwa terkadang, hidup ini memang bukan untuk diri kita sendiri. Jika ingin egois, kau tentu lebih senang untuk menjelajah ke tempat-tempat yang jauh. Berfokus pada masa depanmu, tanpa intervensi siapapun. Pergi dari orang-orang yang mengenalmu dan bertemu dengan wajah-wajah baru. Kau ingin sekali menjejakkan kaki di tanah-tanah asing. Mungkin sambil menghabiskan waktu sepanjang hari untuk membaca? Menulis? Makan makanan enak? Atau apapun untuk kau nikmati sendiri?

Namun kini, hidup bagimu bukan untuk itu.
Bagimu cukup, cukuplah apa yang terjadi kini. Saat kau keluar meninggalkan rumah di pagi hari, seolah mengumpulkan setiap beban pada tiap langkah. Mencerabut setiap energi-energi yang tersisa. Lalu kembali ke rumah saat matahari nyaris terbenam dengan segala macam keberantakanmu, kelelahanmu, sisa peluh dan sesal dan keluh dan sisi-sisi negatifmu. Lalu semua itu kau jadikan alasan untuk tidak berakhlak dengan baik. Senyummu tidak lagi sempurna untuk ibu, apalagi baktimu. Kau bebankan itu pada adikmu yang pastinya pun butuh waktu untuk dirinya sendiri, untuk urusannya sendiri. Lalu atas nama akademik yang padat, kau membuat pembenaran. Terbaring lelah di kamar untuk mencerap lagi segala energi yang akan kau hambur di esok hari.

Di esok paginya, dalam perjalanan menuju tujuanmu, dalam hening dan perasaan sendiri di atas angkot yang ramai, kau baru sadar. Baru sadar atas salahmu semalam. Baru sadar atas maaf yang seharusnya kau ucap sebelum berangkat tadi. Saat keluhan pusing ibu kepadamu hanya kau jawab dengan ‘dehem’. Lalu kau cium tangannya, tanpa melihat bola matanya yang mungkin telah teramat lelah. Namun tetap, ah... namun tetap ada gumam doa saat ia saksikan punggungmu yang pergi menjauh. Lalu kau baru sadar setelahnya. Selalu. Sambil berharap nanti kau tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

Maka, Diena. Tiap kau nyaris akan mengulangnya, bacalah lagi ini. Lalu berubahlah menjadi lebih baik. Maukah kau berjanji?

Berjanjilah untuk mengingat kembali apa yang kau lihat di angkot tadi. Saat seorang ibu tergopoh-gopoh mengikuti langkah kecil anaknya yang lambat, agar sang anak tidak terlampau lelah. Ingatlah bahwa dulu pun kau adalah anak sekecil itu. Maka tak mengapa kau mengikuti irama langkah ibu yang mungkin memang tidak selincah yang dulu. Tidak mengapa, Diena.

Maka itu khan, yang masih bergelayut di pikiranmu, saat ia memintamu dengan sangat untuk langsung melanjutkan pendidikan selepas studimu yang sekarang rampung? Sebab baginya, alasan untuk cari kerja dulu, mengumpulkan uang dulu, cari pengalaman dulu; sungguh tidak masuk akal! Maka permintaan itu hanya selalu kau jawab dengan senyum kecut, atau bahkan dengan ekspresi tanpa makna, sebab dalam hati kau hanya dapat berkata, “Jika terus aku melangkah, maka kapan aku sepenuh bakti padamu, Ibu?”

Maka nanti kau berencana untuk meminta jeda. Jeda untuk melakukan beberapa hal yang selalu ingin kau lakukan namun tidak. Sebab alasan waktu, alasan fokus, dan alasan-alasan lainnya. Beberapa hal semisal belajar bahasa Arab, memperbaiki hapalan, dan merampungkan proyek-proyek menulis, mungkin. Maka pada jeda itu nanti, semoga akan segera kau temukan jawaban –atau mungkin akan ada yang membantu untuk memikirkannya, atau ikut memutuskannya? Kemana kau akan melangkah selanjutnya.


PS; akhir-akhir ini kau terlalu banyak bicara sebelum berpikir. Jadilah lebih baik, Diena. Kau harusnya tahu yang mana yang harus lebih dahulu diantara kedua hal itu. Itu bisa lebih menyelamatkanmu. Jadilah lebih baik.

 

Minggu, 16 September 2012

Kami Anak Rohis, Bukan Calon Teroris!

Belum lagi tuntas sakit hati kita atas munculnya “The Innocence of Islam” yang berani-beraninya menjelek-jelekkan sosok Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam, ‘gangguan’ lain kembali hadir lagi dari dalam negeri sendiri, media kita sendiri.

Salah satu stasiun TV swasta yang terkemuka tersebut, dalam sebuah tayangannya membahas tentang pola rekruitmen teroris muda. Naas, dalam salah satu poin pembahasannya, dipaparkan bahwa diantara jalur perekrutan teroris adalah melalui ekstrakurikuler di masjid sekolah. Nah lho!

Berbicara tentang ekskul di masjid sekolah, maka yang dimaksud tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah; rohis sekolah! Entah penelitian apa dan metode apa yang digunakan media ini sehingga menyimpulkan hal tersebut. Mengapa pula poin ini bisa mengemuka dengan sangat mudah dan secara tidak langsung menggeneralisasi ekskul rohis sebagai salah satu jalur yang (bisa-bisa) menjadi tempat perekrutan teroris. Hmm...

Sangat miris rasanya, media yang berada di negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini, dapat menyimpulkan hal seperti itu. Apakah islamofobia yang kebanyakan muncul di negara-negara Eropa dan Amerika juga mulai merasuk ke bangsa kita? Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika informasi tersebut diterima mentah-mentah oleh masyarakat? Tentu saja para orang tua, guru-guru, bahkan generasi muda, akan ketakutan sendiri untuk mendukung kegiatan-kegiatan kerohanian Islam. Jika hal-hal yang haq mulai dijauhi dan ditakuti, maka bayangkanlah bagaimana mudahnya kebatilan menemukan pengikutnya! Naudzubillah...

Lalu, benarkah sebegitu mengerikannya ekskul-di-masjid-sekolah itu?


Hal ini bisa kita buktikan dari bagaimana tanggapan masyarakat pada penayangan berita tersebut. Begitu banyak protes yang membahana dari jejaring sosial. Muncullah suara-suara yang melakukan pembelaan atas dunia rohis. Inilah fakta yang sebenarnya, testimoni langsung dari orang-orang yang menjalani rohis dan orang-orang yang mengamatinya dari jauh dengan sudut pandang yang benar, tentu akan membawa kepada sebuah kesimpulan; tidak ada yang salah dari dunia rohis!

Ingatan saya langsung terbawa kepada masa beberapa tahun yang lampau, saat saya pun turut berada dalam deretan ‘anak rohis’. Saat itu –bahkan hingga kini, bagi saya, rohis adalah tempat berkumpulnya segala macam kebaikan. Bagaimana tidak? Di sana diajarkan tentang banyak nilai-nilai positif yang tentunya berlandaskan pada Al Qur’an dan Assunnah. Bukan hanya motivasi pada hal-hal berbau ukhrawi, namun rohis juga menjadi tempat kami digembleng untuk dapat memiliki prestasi keduniaan, namun tetap dengan orientasi akhirat. Islam diperkenalkan sebagai sebuah jalan hidup yang paripurna; lengkap dan menyeluruh. Islam bukan saja tentang ibadah secara vertikal kepada Allah, namun juga bagaimana mewujudkan akhlak terbaik kepada seluruh alam raya; tanpa terkecuali.

Anak-anak rohis itu, memang tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Apalagi di masa remaja dimana kadang emosi masih meluap-luap. Namun, di sana ada konsep saling menasihatkan, menegur dengan cara yang ma’ruf, dan saling mengingatkan satu sama lain, sehingga segala hal yang bengkok dapat segera terluruskan dan dikembalikan kepada track-nya. Kami percaya, selama Al Qur’an dan Assunnah sesuai dengan pemahaman para salaf tetap menjadi landasan, maka kami akan berada di jalan kebenaran.

Maka tidak perlu ada ketakutan pada ekskul ini. Apa yang Anda takutkan dari sekelompok pemuda yang dekat dengan agamanya? Yang meyakini pengawasan Rabbnya? Yang berusaha mengimplementasikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dalam kehidupannya? Bagaimana bisa mereka menjadi teroris sedangkan mereka diajarkan untuk berakhlak dengan baik bahkan kepada tumbuhan dan hewan sekalipun?

Kami berharap, setelah ini, tidak ada lagi media-media yang terlalu gegabah melakukan generalisasi tanpa bukti yang kuat. Ummat ini sudah cukup sakit dengan berbagai macam cara untuk memojokkan dan menyudutkannya. Saat bidang-bidang lain hanya boleh dipaparkan oleh ahlinya, entah mengapa agama seolah-olah boleh dibicarakan bahkan hingga diputarbalikkan oleh siapapun juga.

Ah, terasa sekali, Islam kini diserang dari berbagai penjuru. Negara-negara Islam dibombardir, sementara media yang berpengaruh di dunia hanya dapat bungkam, minimal memberikan pemberitaan yang tidak berimbang. Agama ini dicaci, dimaki, dan disakiti, lalu diprovokasi, kemudian kembali dipojokkan lagi. Saat peluru-peluru menembus raga para bocah di negara kaum muslimin yang tertindas, pemikiran-pemikiran bathil juga menyusup ke otak kaum muslimin negara-negara yang seolah damai-damai saja. Maka filter itu harus ada. Dan rohis, adalah salah satu tempat untuk membentuk pribadi muslim yang kuat tersebut.

Maka inilah kami: Anak rohis, bukan calon teroris!