Rabu, 03 November 2010

Menikmati Cinta dalam Gelas di Padang Bulan


“Saya sedang rindu setengah mati…” ucap saya dalam perbincangan sore itu

“He?” adik saya mendelik, tatapan seperti itu khusus ia hamburkan hanya saat mendapati saya sedang heboh mendramatisir sesuatu (baca: lebay)

“ Rindu sama Gramedia…, lama kayaknya kita tidak kesana.” lanjut saya dengan tampang sok melankolis. Dan obrolan itupun berlanjut dengan konspirasi terselubung antar kakak beradik yang menghasilkan sebuah action yang sesuai tujuan: ayah dan bunda bersedia men-drop kami ke Gramedia malam itu juga! Sek aseeek…

Saya, meminjam istilah sobat saya Gabriella Dwiputri, telah tumbuh dan berkembang bersama nama toko buku itu. Mulai dari saat ia berada di lantai dua Swalayan pertama Makassar, Makasa –yang berakhir dengan kebakaran maut yang mengenaskan, karena memusnahkan begitu banyak komik dan buku cerita yang di masa itu selalu rutin dibelikan ayah tiap habis gajian. Lalu setelah beberapa waktu kami, tiga bersaudara, merana tanpa Gramedia, toko buku itu muncul lagi saat Mall pertama di Makassar berdiri; MaRI. Hingga saat ini, Gramedia favorit kami adalah yang di Mall Panakukang. Gramedianya luas, nyaman, ada tempat duduk, dan yang paling penting; selalu ada buku sampel yang bisa dibaca gratis karena telah lepas dari sampul plastik!

Lalu, setelah mengentaskan rindu pada toko yang telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa itu –maaf, saya lagi lebay, saya akhirnya memutuskan untuk berfokus pada tujuan utama saya. Sebuah karya penulis favorit saya, Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah. Dan setelah bersitegang dengan karyawan Gramedia yang tidak bisa menunjukkan rak dimana buku itu berada –karena tenyata stoknya kosong, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke rak depan pintu masuk. Rak tempat buku-buku laris berjejal dengan anggun. Saya menimang-nimang sebuah buku yang sebenarnya sudah lama saya incar, tapi selalu berat di angka-angka yang berderet pada label harganya.

Kemarin-kemarin, saya selalu berhasil membaca buku-buku keren karya penulis itu dari hasil boleh minjem. Kali ini, saya berinisitif akan membelinya. Bagaimana pun, walau sudah beratus-ratus ribu manusia yang membeli bukunya, saya tetap merasa perlu melakukan hal yang sama. Lebih kepada wujud apresiasi saya kepada beliau dan bahwa setelah bergelut langsung di dunia media cetak –walau masih dalam taraf media lokal, saya merasa betapa pentingnya seorang pembeli karya kita. Bahwa terkadang ini bukan masalah uang yang harus dikeluarkan, tapi bahwa tiap orang yang memutuskan untuk menyisihkan hartanya demi membeli tulisan kita, adalah pelecut semangat tersendiri agar kita terus berkarya. Baiklah, anggap saja ini sebagai semacam solidaritas.

Saya jadi teringat sebuah malam saat saya melihat ayah membuka amplop yang diberikan panitia masjid kepada beliau, sehabis beliau mengisi ceramah tarawih. Saya sempat bertanya seberapa etiskah kita menerima ‘honor’ atas kebenaran yang kita sampaikan. Terlebih lagi atas ilmu agama yang kita bagi. Pantaskah?

Tapi, malam itu, Ayah mengajarkan saya bahwa ini bukan masalah nominal. Ini adalah perihal penghargaan kita terhadap ilmu. Mengapa umat manusia bersedia menghabiskan uang-uang mereka untuk baju, make up, rumah, kendaraan, atau pulsa handphone? Sementara untuk membeli majalah islami seharga Rp 6000 saja, harus berpikir hingga kening berkerut –maaf, yang ini lagi curhat. Baiklah, anggap saja ini sebagai apresiasi.

Nah, kembali ke Gramedia tadi. Akhirnya saya resmi menjadi satu diantara begitu banyak pemilik dwilogi Padang Bulan-Cinta dalam Gelas karya (yang saya hormati) Bung Andrea Hirata. Membuka halaman awalnya saja sudah membuat saya tersenyum sendiri. Di sana berderet huruf yang menyusun kalimat yang manis: “Untuk A Ling”. Dan seketika saya merasa bahwa perempuan Tiong Hoa itu adalah wanita yang paling beruntung seluruh dunia! ^_^

Memasuki bagian awal, kita disuguhi dengan potret keteguhan seorang Enong dan keluarganya. Dibuka dengan gambaran cinta sederhana Syalimah dan Zamzani (orang tua Enong). Pria penyayang itu ternyata hanya bertahan satu bab di buku ini, diakhir bab, beliau meninggal dunia. Meninggalkan perempuan yang akan membawa cinta padanya hingga akhir hayat pula.

Tokoh Enong kemudian digambarkan sebagai wanita perkasa yang membanting tulang menggantikan peran ayahandanya. Ia kubur mimpinya menjadi guru Bahasa Inggris –pelajaran kesukaannya. Gadis itu lalu banting stir menjadi buruh timah pertama di dunia.

Padang Bulan banyak diisi dengan dilema cinta pertama Ikal. Bagaimana ia gusar saat mendapati gadisnya konon bakal dibawa lari oleh seorang pria tampan nan tinggi pula; Zinar. Langkah lulusan luar negeri ini lalu maju mundur untuk mengadu nasib di Jakarta. Ibunya uring-uringan menyaksikan pemuda itu hanya tinggal menganggur, hingga sang ibu menerawang ijazahnya dibawah matahari, menyangsikan keaslian ijazah-ijazah itu! Hehehehe…

Dari dua belah dwilogi itu, saya lebih menjuarakan bagian Cinta dalam Gelas. Mungkin, karena Padang Bulan lebih banyak diisi dengan kisah jenaka perjalanan cinta dan tipu muslihat Ikal dengan Detektif M. Nur (pemilik burung merpati bernama Jose Rizal yang sangat cerdas cendekia).

Cinta dalam Gelas sendiri banyak bercerita tentang Enong, yang selanjutnya disebut Maryamah. Setelah menemukan ladang tambangnya, Maryamah memutuskan untuk mengisi harinya dengan mengikuti kursus bahasa Inggris di kota. Suatu hari, ia mengundang Ikal dan M. Nur untuk menghadiri wisuda kursusnya. Ia nampak paling dewasa diantara wisudawan lainnya. Lalu berkacalah mata kedua sahabatnya itu saat ternyata Enong berada di peringkat lima dalam penamatan itu.

Selanjutnya, Cinta dalam Gelas banyak diisi dengan seluk beluk dunia catur, saat Maryamah memutuskan mengikuti turnamen catur 17 Agustus untuk melibas mantan suaminya, Matarom. Matarom dinikahinya atas permintaan ibunda yang telah sakit-sakitan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa pernikahan itu harus berakhir tragis sebab lelaki tersebut ternyata sama mengerikannya di dunia nyata dengan saat melibas musuh di atas papan catur peraknya yang fenomenal; tak terkalahkan.

Dan papan catur menjadi sebuah medan dimana balasan atas budi baik terjadi, saat Maryamah mengalahkan seorang kakek tionghoa yang pernah menolongnya di masa kecil. Ia mengalahkan pria tua itu dengan cara terhormat, mengundang tepuk tangan pada permainan yang anggun itu. Lalu papan catur juga menjadi ajang saat wanita kekar itu membalas dendam pada Overste Djemalam, pria buas yang pernah bersekongkol hingga nyaris memperkosa dan membunuhnya demi sepetak ladang timah. Hingga akhirnya kecerdasan Maryamah membawanya pada partai final yang tak terbayangkan; menghadapi Matarom, juara bertahan catur warung kopi itu. Lalu setelah raja-nya telah tegang karena disasar oleh bji catur Matarom, Maryamah berhasil membalikkan keadaan dan menyelesaikan game dengan gilang gemilang!

Permainan catur dituliskan dengan begitu deskriptif dan menarik. Bagaimana papan catur menjelma Laut China Selatan. Dan gambaran saat Raja catur tertunduk lemas saat kena skak hingga berakhir tragis dan meregang nyawa di atas papan kotak-kotak. Sungguh menarik dan keren sekali!

Lalu apa pula yang membawa seorang buruh timah menjadi begitu cerdas memainkan olahraga intelek itu? Ternyata, dibelakangnya berdiri kawan-kawan klub catur dadakannya Klub Catur Kemenangan Rakyat Adalah Kebahagiaan Kita Semua. Belum lagi dengan tuntunan langsung Grand Master dunia, Ninochka Stronovsky, sahabat Ikal semasa kuliah di Sorbonne.

Cinta dalam Gelas juga membuka rahasia bagaimana Ikal menjadi seorang karyawan Warung Kopi pamandanya yang berkepribadian ganda. Juga bagaimana ia menyusun Buku Besar yang berisi tetek bengek per-kopi-an yang mengundang gelak tawa.

Buku ini, seperti buku-buku Andrea Hirata sebelumnya, mengandung motivasi dosis tinggi. Motivasi untuk terus belajar dan tidak menyerah pada berbagai tantangan. Melintasi setiap tembok yang menghalang dan mematangkan ikhtiar sebelum tertunduk menyerah.

Buku ini juga adalah buku paling jenaka karya Andrea Hirata yang pernah saya baca. Berkali-kali ibu memandangi saya dengan tatapan heran karena tergelak sendiri saat membaca buku ini di sampingnya.

Ada dua bagian favorit saya di halam 11 dan 99 Cinta dalam Gelas;

Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas

Saya berhenti beberapa detik dan mengulum senyum setelah membaca deret kata ini. Lezat sekali! Membacanya seperti menikmati sepotong pizza dengan lelehan keju yang meletup, lalu membayar dosa junkfood itu dengan segelas Shake Herbalife rasa Dutch Chocolate yang kental dan dingin. Luar biasa!

Ia tidak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil folisofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang ketidakmungkinan; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut

Bagian ini seharusnya dibaca oleh seluruh pelajar Republik Indonesia agar tidak mudah memutuskan untuk membolos jam pelajaran atau seenaknya menyontek pas ujian karena malas untuk belajar lebih keras!

Akhirnya, saya memberikan full bintang lima untuk dwilogi ini! Mencerahkan dan sangat indah. Membacanya seperti membawa kita menyusuri Belitong yang berwarna-warni dengan manusianya dan memesona dengan keindahan alamnya.

Membuat saya menambah nama tempat yang ingin saya jejaki setelah Makkah dan Madinah. Tempat itu adalah Rumah Puisi Andrea Hirata di pinggir kampung Ikal, dekat sekolah Laskar Pelangi di Belitong. Tunggu saya di sana! Insya Allah.



(Makassar, 3 November 2010)

Kamis, 28 Oktober 2010

Bencana, Tak Pernah Meminta Izin Kita


Tulisan ini dibuat ditengah hiruk pikuk pemberitaan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Teriring belasungkawa kepada semua korban. Semoga dimudahkan untuk menerima takdir ini. Sebab hanya kalian yang sanggup. Sungguh, hanya kalian yang sanggup.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”( QS. Al Baqarah [2]: 286)

Saat mendengar berbagai macam pemberitaan bencana alam tersebut, saya mencoba menerka-nerka, detik-detik saat kejadian terjadi. Mungkin segalanya akan terjadi dengan sangat cepat: tidak terkira. Lalu saya kembali membayangkan bagaimana jika kejadian tersebut menimpa saya –wal iyyadzubillah… Menimpa kita yang saat ini sedang berada dalam keadaan yang aman dan baik-baik saja.


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum [30]: 41)

Bahwa bencana tidak pernah meminta izin sebelum ia datang, tentu akan sangat besar kemungkinan bahwa kita sedang berada dalam kondisi ‘tidak siap’. Mungkin, tidak siap saat sedang berada dalam keadaan menunda waktu shalat. Saat adzan berkumandang dan kita memilih untuk menangguhkan menghadapNya. Lalu bagaimana jika dalam rentang waktu itu, bencana datang dan memusnahkan kita?

Mungkin dalam sedang keadaan berhutang? Atau saat ada khilaf yang belum termaafkan? Ada janji yang belum tertunaikan? Ada amanah yang belum dilakukan? Belum lagi dengan dosa-dosa yang belum pula terampunkan?

Maka saat dalam keadaan MENUNDA kebaikan itu, keadaan MENUNDA memperbaiki diri itu, MENUNDA meninggalkan maksiat itu. Maka bagaimana jika saat itu gempa mengguncang, menimpakan material keras ke atas tubuh ini. Atau jika tiba-tiba gelombang besar menerjang, tanpa pernah mengetuk pintu dengan sopan, ia akan menerjang apapun –siapapun yang menghalangi lajunya!

Lalu bukankah setelah itu, segalanya akan selesai? Berakhir.

Kawan, lalu tanda-tanda alam macam apa lagi yang kita tunggu untuk mengingatkan kita untuk kembali merutinkan sujud? Apa lagi yang ingin kita lihat agar jemari ini kembali memulai membuka dan membaca tiap huruf di atas lembaran kitab suci? Agar kita mencoba mengumpulkan kembali segala rasa takut pada ngerinya azab bagi pelaku dosa dan betapa ruginya penikmat kesia-siaan. Tunggu apa lagi untuk berhenti hanya mengingat syariat di bulan suci atau meninggalkannya di tempat ibadah dan hanya dikaji oleh santri pesantren saja?

Tunggu apa lagi, untuk menjadi manusia yang kembali pada tujuan penciptaannya yang sebenarnya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]:56)
Makassar, 28 Oktober 2010

gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj18Si4hxKHu4G0ODMBi0-8wYwe7lEi5ck-lppRUctDz3Y3Daq_u7_d_EaNE2CxEnuuozMIkhdO1_3GW_IWSF2UNGFsiW64di6c-IAOZguePlmFLdj-gVCi49Dl4XBcpef2_eYXBJoiYQ/s1600/bencana-alam.jpg

Sabtu, 23 Oktober 2010

Semangatmu, Bisakah Sepertinya?


?

Entah mengapa tiba-tiba aku mengingatnya. Mengingat sosoknya dengan nyata dan kembali mereka-reka tiap perjumpaan masa lalu yang selalu berbekas di tiap jenaknya. Lalu mulai bertanya tentang bagaimana keadaannya sekarang. Ah, bukankah aku yang lebih banyak angka di umurnya? Tapi ternyata kau yang dipilih untuk lebih dahulu mengakhirinya.

Tiba-tiba aku mengingat sosoknya. Sosok yang aku temui di awal-awal perjalanan dakwah sekolah, dimana aku pertama kali secara konkret menyentuh langsung mereka, adik-adik dengan binar mata penuh rasa ingin tahu dan kehausan akan ilmu itu.

Aku masih sangat ingat, bagaimana degup jantung yang berkejaran saat pertama kali melangkahkan kaki menuju gerbang sekolahmu, Dik. Tak henti-henti hati ini berdoa, semoga tidak ada khilaf di pertemuan pertama kita hari itu. Yah, Jum’at pertama itu memang kita belum bertemu. Tapi aku sudah mulai bertanya-tanya tentang sosokmu saat kebanyakan temanmu merujuk namamu saat aku bertanya ini dan itu.

Lalu di Jum’at kedua, berhasil kudapati senyummu. Dengan langkah tegas dan jabat tangan hangat kau raih telapak tanganku. Lalu selanjutnya tiap hadirmu adalah semangat tersendiri agar aku dapat terus teguh berdiri.

Suatu malam, dengan tubuh yang telah luluh lantak dengan aktivitas laboratorium di semester dua kala itu, dengan mata yang terbuka sebagian, kucoba meraba saku rok panjang yang kukenakan. Dalam perjalanan melelahkan sepulang dari kampus itu, kucoba membaca sebuah pesan singkat yang ternyata darimu. “Kak, saya sudah kumpulkan nama-nama adik2 kelas 1. Semoga mereka semua bisa tarbiyah. Tolong carikan murabbiyahnya nah kak.”

Aku tertegun. Kembali terhenyak untuk sekian kalinya. Tertegur oleh semua semangat yang selalu meletup dari dirimu. Di lain kesempatan, kita kembali berbincang lewat sms saat kau mencoba lagi menjadi jalan cahaya bagi kawanmu yang lain. “Kak, tolong ajari dia shalat. Kalau sama orang lain mungkin dia malu. Mudah-mudahan sama kakak tidak”. Ah, dik…
Sifat keragu-raguanku selalu berhasil kau redam dengan senyum itu, Dik. Saat kita mencoba menyusun berbagai rencana dan program-program untuk terobosan dakwah di sekolahmu. “Insya Allah bisa, Kak!” ucapmu dengan mantap. Selalu.

Hingga akhirnya kita dipisahkan oleh takdir. Takdir saat aku tidak lagi diamanahkan di sekolahmu. Juga sebab kau harus mempersiapkan diri menghadapi dunia kampus. Terakhir kali perjumpaan kita di sekolah, kau berkata, “Saya mau lanjut belajar agama saja, Kak. Sudah capek belajar teknik… Heheheh…” Dan aku hanya tersenyum. Sambil menyelipkan doa dalam hati, semoga yang terbaik untukmu, Dinda.

Suatu saat kita kembali bertemu di masjid itu. Tak banyak berubah darimu. Juga dari sorot mata itu. Semangat, kehangatan, dan konsekuensi masih melekat erat di sana. “Saya lanjut tarbiyah di sini lagi, Kak…” ujarmu waktu itu. Dan aku pun selalu dapat yakin, bahwa keberadaanmu di jalan ini akan bertahan lama. Yah, bertahan lama.

Sampai hari itu datang. Sebuah pesan singkat menghentakkan kesadaranku di siang itu. Seorang adik kelasmu mengabarkan kepergianmu. Bukan. Bukan kepergian seperti dahulu, saat selalu ada kemungkinan untuk perjumpaan selanjutnya. Kali ini kepergian untuk selamanya. Setelah perjuanganmu koma selama beberapa hari, Allah pada akhirnya memanggilmu lebih dahulu. Mendahului segala mimpi-mimpi serta pengharapan orang-orang di sekitarmu.

Hidupmu yang singkat, aku yakin, adalah sebuah pelajaran besar bagi kami yang sempat bersinggungan denganmu di salah satu titik. Kau adalah semangat yang tak pernah padam. Dan memilih Sang Pemilik Cahaya sendiri yang mengakhiri bias sinarmu. Mengajarkan kepada kami yang masih diberi waktu untuk terus menebar sinar, namun kadang jengah dan sok capek dengan segala kesempatan ini. Kami yang lebih sering mengeluh dan jauh dari rasa syukur. Diantaranya, ada aku yang selalu bertanya-tanya; dimanakah ujung jalan cahaya ini?
Tapi mengingat sosokmu selalu membuatku merangkai sendiri jawaban pertanyaan itu; Ujungnya berada di sana, nanti saat kaki kita menapak di syurga! Benar begitu, khan Dik?

Adikku Kalsum Amalia, bagaimana kabarmu di sana? Masih ingatkah kau pada taman syurga yang dulu selalu membuatmu singgah? Semoga wanginya telah kau rasa. Semoga segala salah dan khilafmu telah tertebus dengan segala perih dan sakit yang kau terima dengan ikhlas. Semoga selalu mengalir keindahan pada tempat terakhirmu, mengalir dari semua jalan hidayah yang kau ambil andil di dalamnya. Juga dari semua debu-debu yang kau seka dari lantai masjid, yang tak pernah kau tinggalkan barang sedikit.

Dinda, aku rindu

Semoga kelak, kita berjumpa dalam keadaan yang lebih indah. Uhibbukifillah.

(Makassar, 23 Oktober 2010)

gambar:http://www.floridachildinjurylawyer.com/weather%20heat%20bright%20sun%20shine.jpg

Senin, 04 Oktober 2010

Tahun Keempat di Kampus Merah


Alhamdulillah…

Berada di semester tujuh, tahun keempat sebagai seorang mahasiswa membuat saya banyak berpikir. Terlebih lagi pada keadaan yang rasanya cukup terasa berbeda dibandingkan dengan semester-semester selanjutnya. Lalu saya kembali menapak tilas perjalanan saya sejak awal memutuskan akan menujukan diri ke Universitas Hasanuddin, Fakultas Farmasi. Hmm..sepertinya ini akan menjadi tulisan yang panjang…

Berawal dari lepasnya saya dari dunia SMA yang penuh warna itu. Berbagai macam pikiran mulai berkelabat, tentang masa depan, juga berbagai macam mimpi yang ada di dalamnya. Setelah cukup lama sibuk dengan kebingungan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti mandat ibunda untuk melanjutkan pendidikan di tempat saya berada sekarang. Konsekuensinya adalah, menguburkan mimpi-mimpi yang telah begitu lama saya pendam. Juga berbagai macam cerita tentang masa depan yang tak jarang saya risaukan. Terlihat jelas bagaimana berkecamuknya saya saat itu dalam sepotong puisi,

lalu apa lagi yang harus diperjuangkan?

jika sejak awal kita memetik bunga-bunga melalui semua catatan yang ditentukan

pada mimpi sebelum kita terlelap

pada kisah yang tak rampung dituliskan

(Perempuan Bertanya, 1 Juni 2007)

Tapi pada akhirnya, saya toh menguat-nguatkan diri dan mencoba meniatkan ini sebagai sebuah bentuk birrul walidain, berbakti kepada orang tua. Sejak awal saya berada di sini, hingga nanti pada akhirnya.

Selanjutnya, berbagai macam hal saya lakukan untuk bisa memuluskan jalan menuju kampus merah. Ikut bimbingan belajarlah… Ikut try out dimana-manalah.. Yah, seperti umumnya pelajar-pelajar lainnya. Hingga suatu malam, saya malah dilarikan ke rumah sakit karena masalah di lambung yang sudah cukup lama saya idap. Sayangnya, hal itu terjadi menjelang batas akhir pengumpulan formulir pendaftaran universitas.

Maka sehari setelah keluar dari rumah sakit, saya terseok-seok menuju Unhas untuk mengembalikan si formulir yang saya dapatkan lewat jasa bimbingan belajar. Rasa-rasanya saat itu, saya sama sekali tidak berjuang apa-apa dalam proses mendaftarkan diri. Sebab setelah sampai di sana, saya malah menerobos lautan antrian yang sudah kusut masai wajah-wajahnya akibat udara panas dan penantian panjang. Saya malah datang dengan wajah pucat, didampingi seorang kerabat yang punya koneksi dengan ‘orang dalam’ sehingga saya bisa langsung masuk tanpa mengantri sedikit pun. Duh…, sampai saat ini saya masih sering merasa mencekam jika mengingat ekspresi lautan manusia yang saya serobot antriannya. Maaf yah…, saya sedang sakit… ^_^

Masa SPMB pun terlalui dengan caranya. Meski sudah cukup heboh dengan persiapan belajar macam-macam, saya tetap merasa tidak percaya diri dengan hasil jawaban saya saat itu. Apalagi jika membayangkan bahwa saya sedang memperebutkan beberapa puluh kursi dengan ratusan pelajar cerdas. Perasaan pesimis datang seketika sore itu, pada hari kedua sepulangnya saya dari SDN Sudirman, lokasi SPMB saya.

maka ajarkanlah, mentari,

apa yang bawamu kembali ke sini ?

katanya ; “sebab segalanya terus berputar, bukan kita penentu hentinya, maka pantaskah kita padamkan cahaya?”.

(Cerita Senja, Juli 7 ’07)

Potongan puisi di atas saya tulis guna memberi semangat pada diri yang nyaris kehilangan optimis setelah mencocok-cocokkan jawaban saya dengan kunci jawaban yang beredar di Koran.

Lalu waktu terus berputar. Hingga takdir mengantarkan saya menginjakkan kaki di kampus merah. Melewati deretan pepohonan yang meneduhkan sejenak dari sinar matahari. Juga deret gedung yang berdiri angkuh, seolah mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan keras yang membutuhkan banyak perjuangan.

Dan memang begitulah yang terjadi. Berjuang. Menjadi mahasiswa baru dengan berbagai macam tuntutan sempat membuat saya jengah dengan segala intimidasi yang ada. Terlepas dari komunitas masa SMA yang dipenuhi dengan orang-orang berhati cahaya yang tanpa sadar membuat warna hati saya juga ikut berubah. Lalu bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter yang kadang tidak dapat diduga.

Saya sempat merasa sendiri. Merasa terasing. Apalagi dengan pola pikir saya yang mungkin dianggap aneh dan berada pasa posisi minoritas (Baiklah, kalimat yang terakhir memang agak berlebihan ^_^). Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sejak awal saya menjalani ini semua dengan agak-agak setengah hati. Hmm…, maka saya mendapati diri yang ogah-ogahan bangun di subuh hari. Lalu mengakhirinya dengan tampang kusut saat saya tiba di rumah di waktu maghrib. Seingat saya, waktu itu belum musim hujan, tapi bagi saya, musim beku telah datang lebih dahulu.

lalu diserap tanah dan tumbuhkan pohon tanpa bunga, tanpa daun, bahkan yang paling layu sekalipun

waktu musim beku ditengok sebuah ruang, dingin, sunyi, sepi...

apakah itu kau, hati ?

(Waktu Musim Beku, September 20 ‘07 )

Sibuk. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan keadaan di awal-awal semester. Memasuki dunia kuliah dengan pelajaran yang njlimet. Kesibukan praktikum yang seolah tak ada habisnya. Datang ke kampus, melalui perjalanan panjang saat matahari masih jingga warnanya. Mengikuti kuliah tidak karuan sambil mencuri-curi mengerjakan laporan atau tugas pendahuluan. Lalu sibuk mendaki lantai demi lantai di siang hari demi menjalani aktivitas laboratorium. Komat-kamit menyiapkan diri untuk responsi, lalu berlari-lari saat nama dipanggil dalam absen.

“Hadir kak…!”

“Tiga…dua…satu… Bintang meko de’!”

Lalu berkutat dengan mencit-mencit, tabung-tabung, si imut E-coli, atau hamparan dedaun hijau hingga matahari terbenam. Keluar dari lab dan menatap langit yang mulai kelam dengan hembusan napas panjang. Sadar bahwa hari akan berganti, dan perjuangan hari ini akan dilanjutkan dengan hal serupa di keesokan harinya.

Bergelut dengan setumpuk laporan yang membuat jari keriting. Diskusi dengan asisten yang membuat otak keriting. Hingga menyiapkan diri untuk ujian lab hingga jiwa pun rasanya ikut keriting. Sayangnya itu semua tidak bisa dituntaskan hanya dengan rebonding. Kecuali dengan kembali berjuang dan mengalahkan mata kantuk serta bersepi-sepi ria di malam hari bersama kerta double folio dan pulpen yang sudah bengkok ujungnya. Ah..

Dan konsekuensi dari semua itu adalah kesadaran bahwa waktu memang tidak bisa terbeli. Segala macam amanah diluar tanggung jawab akademik pun menjadi ternomor duakan.

“Maaf kak, saya tidak bisa ikut, saya ada lab..”

“Lho, ini khan tanggal merah, dek?’

“…”

Yah, tanpa banyak yang perlu tahu, betapa perih terasa saat mendapati diri sibuk terus dengan berbagai aktivitas duniawi dan ditinggal para pejuang-pejuang itu menyusuri jalan yang sepi. Ah…, masa itu saya diliputi kerinduan yang teramat sangat pada mereka, ukhtifillah…

--- tapi taukah kalian?

rindu itu kini sembunyi

lalu kata dan senyum itu, entah dimana lagi kucari

waktu kalian tak lagi di sini

waktu kalian tak lagi di sini

rindu tak habis-habis.

(Rindu Tak Habis-Habis, Oktober 13 ‘07)

Tapi apapun yang terjadi, saya mendapati begitu banyak kawan-kawan seangkatan kala itu yang memilih mundur. Tentu dengan alasan masing-masing, dengan hak mereka masing-masing. Bagaimana pun, orang yang masih bertahan bukan berarti lebih kuat dibandingkan mereka yang berhenti. Setiap orang memiliki takdir masing-masing. Mungkin mereka di sana, dan saya masih di sini. Masih bertahan. Tak peduli sekurus apapun sudah segala aktivitas itu menggerogoti saya. Mendapati bahwa begitu sulit menyatukan pemikiran dalam sebuah team work. Hingga tak jarang gesekan pun terjadi. Air mata tertumpah. Tapi tidak untuk saya. Bukan itu saatnya. Masih banyak hal lain yang perlu saya tangisi tentang berbagai kealpaan diri, dibanding harus mengusap pipi karena laporan yang dibatalkan setelah semalaman diperjuangan. Atau setelah meninggalkan medan lab karena tidak lulus dalam respon.

saat terlewat lagi satu waktu dengan peristiwa

tapi kembali datang lagi pada eskonya

saat tersadarlah

aku harus bertahan

aku harus bertahan

(Bertahan, Okt 6 2007)

Dimalam hari saat saya sibuk melukis huruf membuat laporan, tak jarang saya berpikir pada sebuah kaidah yang saya dapatkan dalam lingkaran majelis. Seseorang akan mengakhiri hidupnya seperti bagaimana ia mejalaninya. Yah, semua orang pasti mendamba husnul khotimah. Sebuah akhir hidup yang indah, misanya meninggal dalam shalat, atau dalam sujud, atau saat bertilawah, atau bahkan dalam medan jihad. Yang paling saya takutkan kala itu adalah, jangan sampai nyawa saya dicabut saat berada ditengah tumpukan laporan. Huhuhu.. Sangat tidak keren sekali rasanya!

diantara malam hening dan detak jarum jam antara pukul tiga

antara laporan biokim dan sintesis obat

antara ayat-ayat al anfal

ada tanya yang menyeruak tiba-tiba

tentang masa depan bagaimanakah ia nantinya ?

(Antara; Oktober30 ’08)

Tahun keempat di kampus merah,

Saya merasa banyak yang berbeda. Tidak ada lagi laboratorium. Jadwal kuliah di sore hari. Jarang lagi berkumpul bersama teman-teman seangkatan. Saya akui bahwa dalam beberapa momen ngumpul-ngumpul saya memang jarang ikut serta –jika tidak dikatakan tidak pernah sama sekali. Bukan karena tidak ingin merasakan kebersamaan, apalagi karena eksklusifitas. Tapi memang keadaan yang terkadang tidak memungkinkan. Maaf yah, teman-teman…

Tapi pada akhirnya saya tidak bisa membohongi diri, bahwa saya mulai merindukan itu semua. Bagaimanapun, saya merasa beruntung dapat bertemu dengan teman-teman seangkatan saya sekarang. Meski mungkin, saya bukanlah teman yang baik untuk mereka. Lebih banyak diam di suatu sudut dan hanya sesekali tertawa menimpali. Mungkin ada diantara mereka yang pernah terjebak dalam suasana kaku bersama saya. Atau saat saya agak-agak tidak nyambung saat bercakap dengan mereka, atau mungkin saya yang minta tolong ini-itu dan macam-macam. Ah, sekali lagi saya minta maaf, Kawan!

Di tahun keempat ini, masing-masing dari kami pasti sedang sibuk meretas jalan untuk mengakhiri perjuangan ini dengan hasil terbaik. Mulai sibuk dengan penelitian dan perencanaan sendiri-sendiri. Atau terbatas pada kelompok yang satu tim. Tapi meskipun begitu, masing-masing kita telah melewati perjuangan sebelum-sebelumnya, khan? Dan pada akhirnya semuanya pun akan terlewati. Suatu saat, insya Allah.

Tahun keempat di kampus merah,

Saya berharap saya telah banyak belajar. Tentang disiplin ilmu saya sendiri. Juga pelajaran tentang kehidupan.Bahwa kita di sini, membuat obat dan segala hal tentangnya, bukan untuk apa-apa. Bukan untuk menyembuhkan siapapun, sebab kesembuhan-sakit-dan ajal adalah rangaian takdir yang bukan hak kita. Kita di sini, untuk memberi harapan, bahwa masih ada jalan untuk berjuang, Untuk hidup dengan lebih baik.

Mari melihat lebih dalam tiap peristiwa yang terlewat. Menengok lebih dalam saat melalui pemulung-pemulung cilik yang memegangi perutnya di salah satu sudut tangga. Atau tentang cleaning service yang cemberut saat kita injak bekas pelnya. Atau saat saya kembali merindukan sekelompok iringan awan yang membentuk formasi indah di langit senja, saat saya berdiri dari beranda Lab Fitokimia. Mereka bertasbih memuji nama Tuhannya; ALLAH.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

suatu saat

saat dipandang langit sore yang jarang kita lihat

mungkin karena kita terlalu lama melukis huruf

atau tak sadar dengan pergantian waktu

saat masa terlewat begitu saja

dan kita tetap sibuk dengan kertas dan pena

apa kabar bumi hari ini ?

tak sadar kita bahwa tak pernah lagi kita jenguk daun-daun yang berguguran

atau angin yang berhembus sepoi, ingatkan bahwa hidup adalah serangkaian permainan

permainan yang entah mengapa kita terlalu banyak tertegun di dalamnya

berapakah tetes air mata yang telah tercurah untuk itu semua ?

berapa malam yang kita lewatkan bersama jemari yang tak ada tidurnya ?

berapa peluh yang kita cucurkan saat harus teraih tingkat paling puncak ?

tapi berapakah sesungguhnya yang telah kita beli

dengan harga mahal, dengan waktu, raga, dan hati ?

adakah semua ini telah dimaknai

moga bukan hanya sekedar sia-sia

dan kelak kita temukan jawaban

untuk apa kita di sana

( april 27’08)

Untuk semua teman-teman Mixtura07, Farmasi Unhas. Keep spirit! Semoga urusan kita dimudahkan!


Makassar,5 Oktober 2010

diantara penulusuran inspirasi buat Skripsweet… ^_^


gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1_B4cgn_vOTpdS28rj-vVeb3Q6yd5Cim9D0mXqlyaq5td4NOROT9ES0JzIuFouhOu5bAg3yM3ECAh__12YeJ4izafRr16KCbc4652thHS4OrwuXQu2DkIh0jJMmSvUj9EiayQNEqWKoi2/s1600/unhas.jpg

Selasa, 28 September 2010

Ambulance dan Saat Saya DIVONIS MATI

http://neilhoja.files.wordpress.com/2009/03/10format-ilustrasi-pusara.jpg


Bismillahrirrahmanirrahim…

Hari itu siang cerah ceria. Nampak berbeda dari siang-siang sebelumnya yang digelayuti awan kelabu, disusul hujan rintik hingga deras. Saya menyusuri salah satu jalan di Kota Makassar saat suara khas itu terdengar dengan jelas. Suara sirene. Pandangan saya seketika mencari sumber suara dan mendapati sebuah mobil putih bergerak cepat diantara kerumunan kendaraan. Beberapa motor mengikut di sampingnya. Bergerak tak kalah cepat.

Sejenak peristiwa itu membuat saya menerka-nerka. Apa gerangan yang sedang terjadi di dalam ambulace itu? Apakah ada yang sedang kritis? Atau bahkan si ambulance sedang menggiring sebuah mayat menuju peristirahatannya yang terakhir? Ah, apapun itu, kejadian tadi tetap mengingatkan saya pada satu kata. MATI.

Saya sudah divonis mati.

Yah, saya tidak sedang bercanda, kawan. Bahkan tangan saya sampai dingin saat mengetik tulisan ini. Ide kalimat di atas mencuat saat membaca tulisan salah satu rekan blogger di MULTIPLY yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa saya pun telah divonis mati. Ya. KITA SEMUA TELAH DIVONIS MATI.

Kematian. Bukankah hal itu merupakan sebuah kepastian diantara berbagai macam ketidakpastian dalam hidup ini. Sayangnya, kebanyakan kita justru lebih sibuk mempersiapkan segala hal yang belum pasti dibandingkan menyiapkan satu hal yang pasti ini. Menyiapkan kematian!

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati…(QS. Ali Imran [3]:185)

Bukan hanya soal menyiapkan liang kubur tempat kita bersemayam nanti. Bukan juga tentang berapa meter kain kafan yang kita butuhkan sebagai pakaian terakhir. Tapi lebih kepada perbekalan untuk menghadapi perjalanan panjang yang melelahkan dan tidak akan ada akhirnya.

Saya selalu mengingat analogi dari seorang ustadz yang saya dengar ceramahnya di TV. Saat itu musimnya Idul Qurban. Dan beliau mengumpakan manusia layaknya hewan kurban. Bukan untuk merendahkan kita yang telah tercipta dengan sebaik-baik penciptaan. Tapi justru untuk mengetuk nurani kita, bahwa terkadang akal yang sangat sering kita agungkan dan kita andalkan ini sangat membutuhkan sentuhan lembut dari bisikan hati kecil yang kadang tak terdengar karena terlalu pikuknya dunia. Kita seperti hewan kurban yang sibuk mengunyah rumput, bahkan saat hewan kurban lainnya digiring ke tempat penyembelihan. Bahkan disembelih didepan mata. Dileher hewan yang disembelih itu ada nomor urut 5. Lalu hewan yang masih sibuk meruput lainnya punya nomor urut 6. Tapi masih saja sibuk memamahbiak sambil sesekali mengembik tak karuan.

Sering kita tertegun dengan kabar kematian seseorang. Tapi sekejap saja, untuk selanjutnya kembali tertawa-tawa. Kembali tenggelam dalam santai dan terus berkelakar; “Mau-mau gue dong!”. Padahal kita tak pernah tahu. Mungkin saja setelah ini, kita berada di urutan selanjutnya untuk mengakhiri hidup.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun [63]:11)

Ah, saya begitu sering mengingat mati. Namun bersamaan dengan itu pula saya malu dengan diri ini. Mengingat mati tapi tetap berkubang dalam maksiat dan kesia-siaan. Berbagai macam kemalasan. Berbagai macam kebodohan dan keluhan yang tiada guna. Sering tak sabaran merawat ibu. Sering tak bisa menjadi contoh adik dan kakak yang baik. Sering lalai dalam berbagai kewajiban. Sering sibuk mengingatkan sementara paling sering pula lupa. Sangat kurang bersyukur dan terus meminta ini-itu. Begitu sedikit ilmu, dari yang sedikit itu, begitu banyak yang belum teramalkan, amal yang belum terdakwahkan, ataupun dakwah yang tidak disertai dengan kesabaran, tidak dengan keikhlasan. Sering merengek dan berbuat seolah-olah sedang tidak disaksikan Allah! Astaghfirullah… Belum lagi begitu banyak aib yang masih ditutupiNya dari mata orang sekitar. Ah…, andai kau tau siapa saya sebenarnya…

Jika kau bertanya mengapa saya senang menulis, itu sebab saya tahu bahwa saya tidak akan abadi. Tapi tulisan ini mungkin bisa lebih lama bertahan daripada umur saya sendiri. Saya memang bukan Imam Bukhari yang keberadaannya masih terasa lewat karya fenomenalnya. Bukan pula ulama-ulama lain yang tinta emasnya memberi pencerahan hingga beratus-ratus tahun setelah ia tiada. Terlalu sedikit ilmu dan cahaya yang bisa saya bagi. Tapi, semoga yang sedikit itu dapat berarti saat saya menuliskannya di sini. Agar yang tersisa dari saya bukan hanya sekedar nama dan keterangan lainnya di batu lisan saya nanti. Tapi juga beberapa tulisan yang dapat mengingatkan, bahwa saya pernah ada. Bahwa saya pernah berbuat sesuatu. Dan kelak, semoga ia bisa menjadi bekal yang tak terputus dikirimkan saat saya nanti akan sangat membutuhkan.

Kawan, kita telah divonis mati.

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jumu’ah [62]:8)

(Makassar, 28 September 2010)

--------------------------------------------------------------------------

wasiat

dik, jika nanti aku mati

bukalah tiap lembar sajak untuk ingat pada kakakmu ini

tak banyak memang yang dapat mengerti

sebab sejak awal ia adalah seorang penyimpan rahasia abadi

dik, jika nanti aku mati

bunga-bunga mungkin tak banyak berganti

sebab memang jarang kutengok mereka

rumput di depan rumah pun begitu

sebab mungkin pernah kuinjak mereka dengan angkuh

pun dengan tiap makhluknya yang jarang kusentuh

dik, jika nanti aku mati

sajak-sajak itu rupanya telah bercerita tentang diri

belajarlah dari tiap untai kata yang cipta siluet-siluet kakakmu.

sebab tanpa mereka mungkin telah lama nafasku tersengal

dan hanya dapat memandang bulan sebagai malam

dan mentari adalah siangnya.

(ramadhan 23 1429)


Minggu, 26 September 2010

Menyoal CINTA dan Iklan Kosmetik di TV


Ya, ya, ya! Setelah beberapa lama site multiply saya nelongso dengan QN-QN ndak penting, blogspotnya prihatin tanpa satupun postingan baru, dan FB diberondong dengan notes jadul, hari ini saya mulai nulis lagi. Sebuah tulisan baru yang idenya sebenarnya sudah cukup lama mengendap dikepala. Temanya tidak jauh dari favorit banyak pihak (oh ya?). Yah, tentang cinta!

Tapi kali ini saya mencoba menelaah cinta dari sudut pandang tontonan yang sering nongol di TV kita. Yah, sepakat ataupun tidak, TV memang seolah menjadi barang yang ‘agak’ sulit terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, walaupun saya percaya, pasti tetap ada saja orang-orang yang memilih menjauhkan diri dari si kotak ajaib ini. Tapi, tetap tidak dapat dipungkiri bahwa begitu banyak pemikiran, sudut pandang, bahkan keyakinan mengenai sesuatu yang terinfluence dari apa yang disuguhkan oleh si kotak ajaib ini.
Salah satunya yah tentang itu tadi; cinta! Maka pembahasan ini pun saya kerucutkan pada salah satu bagian dari tayangan TV, yaitu iklannya. Mengapa iklan? Sebab sebagian besar channel TV pasti punya iklan, dan meski penonton pasti langsung refleks mengganti channel saat iklan yang muncul, pasti akan ada celah saat iklan juga ikut disaksikan oleh para penonton (kalau tidak buat apa beriklan?).

Mari kita kerucutkan lagi pada iklan produk dengan jenis kosmetika. Yah, iklan kosmetika-lah ini yang menurut saya sebagian besar mengambil tema besar seputar CINTA. Bungkusannya saja yang bermacam-macam. Sebagian besar menampilkan wanita-wanita cantik yang dipasangkan dengan laki-laki tampan yang selanjutnya diskenariokan dengan suatu alur tertentu.
Tapi apapun ceritanya, kebanyakan dari iklan tersebut menggiring pemahaman penontonnya bahwa CINTA, ‘hanya’ dapat datang kepada cewek-cewek cantik berwajah mulus tanpa jerawat apalagi flek hitam, punya bentuk badan yang bagus, selalu beraroma wangi semerbak, serta punya kulit putih mulus. Nah, cewek yang tidak memenuhi kriteria diatas secara tidak langsung dianggap tidak akan bisa menemukan cinta sejatinya, akan dijauhi oleh kaum adam, dan akan tersisih dari pergaulan!

Wah…wah..wah… Apakah saya yang terlalu lebay dalam menginterpretasikan iklan-iklan itu? Entahlah. Saya juga tidak sedang menganggap bahwa berbagai hal positif seputar kecantikan wanita sebagai sesuatu yang negative. Tidak. Bagaimanapun setiap wanita yang dianugrahi hal-hal itu dari Allah tetap harus mensyukuri dan merawat nikmat tersebut dengan baik. Dan para wanita yang tidak secara alami memilikinya pun tidak berarti tidak boleh berusaha untuk mencapai kondisi ‘cantik’ seperti itu.

Hanya saja, sangat disayangkan jika factor-faktor fisik seperti itu kemudian dianggap/digambarkan sebagai penyebab datangnya rasa cinta oleh iklan-iklan itu. Ataukah sebenarnya iklan-iklan itu tidak sedang ingin menunjukkan tentang cinta? Entahlah.

Saya memang bukan orang yang benar-benar mengerti tentang perasaan manis berwarna merah muda itu. Saya juga salah satu orang yang absolutely tidak percaya pada istilah cinta-pada-pandangan-pertama, bagi saya, hal itu lebih tepat disebut sebagai nafsu-pada-pandangan-pertama. Juga dengan kalimat dari-mata-turun-ke-hati. Jika yang dimaksud ‘turun’ pada kalimat itu adalah ‘nafsu’, yah, saya percaya! Intinya adalah, saya hanya ingin memurnikan makna cinta dari segala alasan-alasan bersifat fisik dan sangat matrealistis itu. Apalagi jika perasaan macam itu yang kemudian ingin diandalkan untuk membangun sebuah keluarga baru, alias menjadikan masalah fisik sebagai alasan untuk memilih pasangan hidup. (Meskipun memang bukan hal yang salah juga, tapi setidaknya tidak menjadi prioritas utama, setidaknya menurut saya lho yah!)

Yah, untuk orang-orang yang memilih ‘belahan jiwa’nya dengan hanya melihat aspek fisiknya yang indah, maka saya ingin katakan : Selamat bermusuhan dengan waktu. Sebab dialah yang akan memperlihatkan bagaimana kerutan dan tubuh yang makin bungkuk mencabut satu demi satu kecantikan pasanganmu! Dan saat alasan untuk mencintainya telah direbut oleh waktu, jangan sampai kau sudah tak lagi sempat mencari alasan lain untuk itu. Hingga berakhirlah segalanya. Hingga berakhirlah cinta. Naudzubillah…

26 September 2010
Diantara flu yang saingan sama hujan

gambar:http://www.vtv.lt/images/kosmetika.jpg

Rabu, 25 Agustus 2010

Kita yang Mengaku Perindu Syurga


masih bisakah kita katakan itu,
saat tidur ternyata telah terlampau lelap
padahal kita mengaku saudara mereka
yang merinding takut oleh desing senapan
atau yang kedinginan di tenda pengungsian

mudah kita mengaku merindukan syurga
padahal berapa banyak ujub yang kita bawa saat bertemu denganNya
berapa banyak sujud yang tak ikhlas
sementara lidah terlalu tergesa mengeja ayat
mengejar setoran

dengan apa kita ingin masuk syurga?
dengan hardikan yang teralamat pada mereka yang masih bersyahadat
dengan tatap mata tajam pada sesama umat Muhammad?
atau dengan saling cerca tak berujung
berakhir dengan debat kusir yang tanpa akhir
sibuk merutuki kelam
padahal hatinya tak kalah temaram

sementara sibuk dengan ruku'nya yang panjang
di belakang,
ayah dan ibu meminta di kuburan
orang-orang tak lagi kenal Tuhan
lalu berharap perubahan
tapi tetap duduk diam

yang mengaku perindu syurga
berjalan terus masanya'
tak ada yang akan menantinya
dan derap-derap waktu terdengar begitu nyata
siap menggilas mereka dan mengantar pada alam selanjutnya
yah, seharusnya ini tidak cukup dengan rasa rindu saja!
(Agustus, 26 '10)

Jumat, 06 Agustus 2010

Ayo Lihat Lebih Dalam!

Dan saya pun memulai tulisan ini dengan hembusan napas panjang…. *tarik napas…hembuskan!* Sebuah tulisan untuk DIRI SAYA SENDIRI.

Baiklah.

Beberapa waktu belakangan ini, berhubung liburan kuliah sedang menerpa, saya jadi punya cukup banyak waktu untuk tidak terlalu tergesa-gesa melewati tiap peristiwa yang saya alami. Jadi ada sedikit jeda bagi saya untuk sejenak berpikir, dan melihat lebih dalam. Meskipun, secara manusiawi dalam banyak hal, terkadang letupan-letupan perasaan bercampur emosi masih kerap saya alami dalam beberapa fragmen.

Dalam kesempatakan yang berlalu itu, saya melihat banyak hal. Saya tertegun saat menyaksikan teman-teman saya, baik yang dari masa lalu maupun yang masih beredar di sekitar saya sekarang, meraih ‘kesuksesan’. Yah, kesuksesan di mata dunia yang tidak jauh dari prestasi akademik dan tepuk tangan serta sorot mata kagum. Lalu, saat saya melihat pada diri saya sendiri, saya selalu seolah ingin berkata, “Hey, kemana saja kamu selama ini? Kamu juga mampu begitu khan?”. Maka selanjutnya adalah, saya kebanyakan melihat mengkambinghitamkan hal-hal lain yang saya alami. Berbagai macam hal yang saya jadikan tersangka atas k’ketidakmampuan’ saya meraih predikat seperti yang teman-teman saya raih. Hmm…, betapa kekanak-kanakannya.

Padahal, bukankan kita tidak pernah benar-benar tahu tentang keadaan orang lain. Ya, tidak akan pernah! Setidaknya bagi saya sendiri, saya selalu menganggap, sebijak apapun seseorang, ia tidak akan pernah bisa benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Sekalipun ia melewati hal yang sama dalam waktu yang sama! Sebab kita baru bisa mengerti tentang seseorang jika kita berubah menjadi orang tersebut seutuhnya, sementara manusia tidak mungkin menjadi manusia lain, bukan?

Dan pemikiran-pemikiran picik saya itupun saya berondong dengan berbagai macam hal. Betapa kesyukuran dan kesabaran memang sudah seharusnya menjadi barang wajib yang kita punya. Membuat kita bisa segera tersadar saat mengkerut meliaht hijaunya rumput tetangga. Apalagi jika hal-hal itu sangat erat dengan perkara dunia.

Mungkin, sebab agama kita mengajarkan untuk menyembunyikan amalan saja, sehingga kita tidak tertunduk malu saat menyaksikan saudara kita yang lain. Jika kita bisa iri dengan sukses dunia yang diraih kawan di sana, maka sudah sepatutnya pula kita pun iri dengan jalan untuk meraih sukses akhirat yang sedang ditempuh oleh saudara kita. Sementara kita? “Lalu dengan apa kita ingin masuk syurga?”

Saat kita melihat sesuatu, cobalah lihat lebih dalam. Wajah-wajah yang penuh senyum itu, belum tentu tidak menyimpan tangis sedih yang ia sembunyikan dalam kornea matanya. Gerak-gerik cuek yang apa adanya itu, bisa jadi selalu hidup malamnya dengan berdua-duanya bersama sang Rabb. Bahkan sekali lagi, saya selalu merinding saat menyaksikan kakek pengemis di depan toko yang bersusah payah mengeja ayat-ayat Allah, ruku dan sujud diantara kerumunan manusia yang sibuk keluar masuk berbelanja, sementara tangannya cacat, sementara ia seolah sangat tak berdaya. Lalu sebelumnya, saat saya menyusuri jalan lain di salah satu sudut kota, seorang tukang becak bersandar pada becak tuanya, mencari semburat cahaya dari toko-toko yang sudah tutup untuk membaca buku wirid, dengan mulut yang terus komat-kamit. Ya, saya sedag berusaha melihat lebih dalam. Lebih dalam lagi!

gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lj9HKtyDMQfK437qXpXW5_fsAhxHCKL6m20bH9pn259Q4i8isyOrhjPspW5506G_Szoxv7d6kFa95uXLJcKs2TCY6xTGGrdq9WB8GNreCKnFTkzYiAuV3oWCkNscNuM2UmuRsBXodPxL/s320/Fall_Dew_page.jp