Senin, 04 Oktober 2010

Tahun Keempat di Kampus Merah


Alhamdulillah…

Berada di semester tujuh, tahun keempat sebagai seorang mahasiswa membuat saya banyak berpikir. Terlebih lagi pada keadaan yang rasanya cukup terasa berbeda dibandingkan dengan semester-semester selanjutnya. Lalu saya kembali menapak tilas perjalanan saya sejak awal memutuskan akan menujukan diri ke Universitas Hasanuddin, Fakultas Farmasi. Hmm..sepertinya ini akan menjadi tulisan yang panjang…

Berawal dari lepasnya saya dari dunia SMA yang penuh warna itu. Berbagai macam pikiran mulai berkelabat, tentang masa depan, juga berbagai macam mimpi yang ada di dalamnya. Setelah cukup lama sibuk dengan kebingungan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti mandat ibunda untuk melanjutkan pendidikan di tempat saya berada sekarang. Konsekuensinya adalah, menguburkan mimpi-mimpi yang telah begitu lama saya pendam. Juga berbagai macam cerita tentang masa depan yang tak jarang saya risaukan. Terlihat jelas bagaimana berkecamuknya saya saat itu dalam sepotong puisi,

lalu apa lagi yang harus diperjuangkan?

jika sejak awal kita memetik bunga-bunga melalui semua catatan yang ditentukan

pada mimpi sebelum kita terlelap

pada kisah yang tak rampung dituliskan

(Perempuan Bertanya, 1 Juni 2007)

Tapi pada akhirnya, saya toh menguat-nguatkan diri dan mencoba meniatkan ini sebagai sebuah bentuk birrul walidain, berbakti kepada orang tua. Sejak awal saya berada di sini, hingga nanti pada akhirnya.

Selanjutnya, berbagai macam hal saya lakukan untuk bisa memuluskan jalan menuju kampus merah. Ikut bimbingan belajarlah… Ikut try out dimana-manalah.. Yah, seperti umumnya pelajar-pelajar lainnya. Hingga suatu malam, saya malah dilarikan ke rumah sakit karena masalah di lambung yang sudah cukup lama saya idap. Sayangnya, hal itu terjadi menjelang batas akhir pengumpulan formulir pendaftaran universitas.

Maka sehari setelah keluar dari rumah sakit, saya terseok-seok menuju Unhas untuk mengembalikan si formulir yang saya dapatkan lewat jasa bimbingan belajar. Rasa-rasanya saat itu, saya sama sekali tidak berjuang apa-apa dalam proses mendaftarkan diri. Sebab setelah sampai di sana, saya malah menerobos lautan antrian yang sudah kusut masai wajah-wajahnya akibat udara panas dan penantian panjang. Saya malah datang dengan wajah pucat, didampingi seorang kerabat yang punya koneksi dengan ‘orang dalam’ sehingga saya bisa langsung masuk tanpa mengantri sedikit pun. Duh…, sampai saat ini saya masih sering merasa mencekam jika mengingat ekspresi lautan manusia yang saya serobot antriannya. Maaf yah…, saya sedang sakit… ^_^

Masa SPMB pun terlalui dengan caranya. Meski sudah cukup heboh dengan persiapan belajar macam-macam, saya tetap merasa tidak percaya diri dengan hasil jawaban saya saat itu. Apalagi jika membayangkan bahwa saya sedang memperebutkan beberapa puluh kursi dengan ratusan pelajar cerdas. Perasaan pesimis datang seketika sore itu, pada hari kedua sepulangnya saya dari SDN Sudirman, lokasi SPMB saya.

maka ajarkanlah, mentari,

apa yang bawamu kembali ke sini ?

katanya ; “sebab segalanya terus berputar, bukan kita penentu hentinya, maka pantaskah kita padamkan cahaya?”.

(Cerita Senja, Juli 7 ’07)

Potongan puisi di atas saya tulis guna memberi semangat pada diri yang nyaris kehilangan optimis setelah mencocok-cocokkan jawaban saya dengan kunci jawaban yang beredar di Koran.

Lalu waktu terus berputar. Hingga takdir mengantarkan saya menginjakkan kaki di kampus merah. Melewati deretan pepohonan yang meneduhkan sejenak dari sinar matahari. Juga deret gedung yang berdiri angkuh, seolah mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan keras yang membutuhkan banyak perjuangan.

Dan memang begitulah yang terjadi. Berjuang. Menjadi mahasiswa baru dengan berbagai macam tuntutan sempat membuat saya jengah dengan segala intimidasi yang ada. Terlepas dari komunitas masa SMA yang dipenuhi dengan orang-orang berhati cahaya yang tanpa sadar membuat warna hati saya juga ikut berubah. Lalu bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter yang kadang tidak dapat diduga.

Saya sempat merasa sendiri. Merasa terasing. Apalagi dengan pola pikir saya yang mungkin dianggap aneh dan berada pasa posisi minoritas (Baiklah, kalimat yang terakhir memang agak berlebihan ^_^). Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sejak awal saya menjalani ini semua dengan agak-agak setengah hati. Hmm…, maka saya mendapati diri yang ogah-ogahan bangun di subuh hari. Lalu mengakhirinya dengan tampang kusut saat saya tiba di rumah di waktu maghrib. Seingat saya, waktu itu belum musim hujan, tapi bagi saya, musim beku telah datang lebih dahulu.

lalu diserap tanah dan tumbuhkan pohon tanpa bunga, tanpa daun, bahkan yang paling layu sekalipun

waktu musim beku ditengok sebuah ruang, dingin, sunyi, sepi...

apakah itu kau, hati ?

(Waktu Musim Beku, September 20 ‘07 )

Sibuk. Itulah kata yang paling tepat menggambarkan keadaan di awal-awal semester. Memasuki dunia kuliah dengan pelajaran yang njlimet. Kesibukan praktikum yang seolah tak ada habisnya. Datang ke kampus, melalui perjalanan panjang saat matahari masih jingga warnanya. Mengikuti kuliah tidak karuan sambil mencuri-curi mengerjakan laporan atau tugas pendahuluan. Lalu sibuk mendaki lantai demi lantai di siang hari demi menjalani aktivitas laboratorium. Komat-kamit menyiapkan diri untuk responsi, lalu berlari-lari saat nama dipanggil dalam absen.

“Hadir kak…!”

“Tiga…dua…satu… Bintang meko de’!”

Lalu berkutat dengan mencit-mencit, tabung-tabung, si imut E-coli, atau hamparan dedaun hijau hingga matahari terbenam. Keluar dari lab dan menatap langit yang mulai kelam dengan hembusan napas panjang. Sadar bahwa hari akan berganti, dan perjuangan hari ini akan dilanjutkan dengan hal serupa di keesokan harinya.

Bergelut dengan setumpuk laporan yang membuat jari keriting. Diskusi dengan asisten yang membuat otak keriting. Hingga menyiapkan diri untuk ujian lab hingga jiwa pun rasanya ikut keriting. Sayangnya itu semua tidak bisa dituntaskan hanya dengan rebonding. Kecuali dengan kembali berjuang dan mengalahkan mata kantuk serta bersepi-sepi ria di malam hari bersama kerta double folio dan pulpen yang sudah bengkok ujungnya. Ah..

Dan konsekuensi dari semua itu adalah kesadaran bahwa waktu memang tidak bisa terbeli. Segala macam amanah diluar tanggung jawab akademik pun menjadi ternomor duakan.

“Maaf kak, saya tidak bisa ikut, saya ada lab..”

“Lho, ini khan tanggal merah, dek?’

“…”

Yah, tanpa banyak yang perlu tahu, betapa perih terasa saat mendapati diri sibuk terus dengan berbagai aktivitas duniawi dan ditinggal para pejuang-pejuang itu menyusuri jalan yang sepi. Ah…, masa itu saya diliputi kerinduan yang teramat sangat pada mereka, ukhtifillah…

--- tapi taukah kalian?

rindu itu kini sembunyi

lalu kata dan senyum itu, entah dimana lagi kucari

waktu kalian tak lagi di sini

waktu kalian tak lagi di sini

rindu tak habis-habis.

(Rindu Tak Habis-Habis, Oktober 13 ‘07)

Tapi apapun yang terjadi, saya mendapati begitu banyak kawan-kawan seangkatan kala itu yang memilih mundur. Tentu dengan alasan masing-masing, dengan hak mereka masing-masing. Bagaimana pun, orang yang masih bertahan bukan berarti lebih kuat dibandingkan mereka yang berhenti. Setiap orang memiliki takdir masing-masing. Mungkin mereka di sana, dan saya masih di sini. Masih bertahan. Tak peduli sekurus apapun sudah segala aktivitas itu menggerogoti saya. Mendapati bahwa begitu sulit menyatukan pemikiran dalam sebuah team work. Hingga tak jarang gesekan pun terjadi. Air mata tertumpah. Tapi tidak untuk saya. Bukan itu saatnya. Masih banyak hal lain yang perlu saya tangisi tentang berbagai kealpaan diri, dibanding harus mengusap pipi karena laporan yang dibatalkan setelah semalaman diperjuangan. Atau setelah meninggalkan medan lab karena tidak lulus dalam respon.

saat terlewat lagi satu waktu dengan peristiwa

tapi kembali datang lagi pada eskonya

saat tersadarlah

aku harus bertahan

aku harus bertahan

(Bertahan, Okt 6 2007)

Dimalam hari saat saya sibuk melukis huruf membuat laporan, tak jarang saya berpikir pada sebuah kaidah yang saya dapatkan dalam lingkaran majelis. Seseorang akan mengakhiri hidupnya seperti bagaimana ia mejalaninya. Yah, semua orang pasti mendamba husnul khotimah. Sebuah akhir hidup yang indah, misanya meninggal dalam shalat, atau dalam sujud, atau saat bertilawah, atau bahkan dalam medan jihad. Yang paling saya takutkan kala itu adalah, jangan sampai nyawa saya dicabut saat berada ditengah tumpukan laporan. Huhuhu.. Sangat tidak keren sekali rasanya!

diantara malam hening dan detak jarum jam antara pukul tiga

antara laporan biokim dan sintesis obat

antara ayat-ayat al anfal

ada tanya yang menyeruak tiba-tiba

tentang masa depan bagaimanakah ia nantinya ?

(Antara; Oktober30 ’08)

Tahun keempat di kampus merah,

Saya merasa banyak yang berbeda. Tidak ada lagi laboratorium. Jadwal kuliah di sore hari. Jarang lagi berkumpul bersama teman-teman seangkatan. Saya akui bahwa dalam beberapa momen ngumpul-ngumpul saya memang jarang ikut serta –jika tidak dikatakan tidak pernah sama sekali. Bukan karena tidak ingin merasakan kebersamaan, apalagi karena eksklusifitas. Tapi memang keadaan yang terkadang tidak memungkinkan. Maaf yah, teman-teman…

Tapi pada akhirnya saya tidak bisa membohongi diri, bahwa saya mulai merindukan itu semua. Bagaimanapun, saya merasa beruntung dapat bertemu dengan teman-teman seangkatan saya sekarang. Meski mungkin, saya bukanlah teman yang baik untuk mereka. Lebih banyak diam di suatu sudut dan hanya sesekali tertawa menimpali. Mungkin ada diantara mereka yang pernah terjebak dalam suasana kaku bersama saya. Atau saat saya agak-agak tidak nyambung saat bercakap dengan mereka, atau mungkin saya yang minta tolong ini-itu dan macam-macam. Ah, sekali lagi saya minta maaf, Kawan!

Di tahun keempat ini, masing-masing dari kami pasti sedang sibuk meretas jalan untuk mengakhiri perjuangan ini dengan hasil terbaik. Mulai sibuk dengan penelitian dan perencanaan sendiri-sendiri. Atau terbatas pada kelompok yang satu tim. Tapi meskipun begitu, masing-masing kita telah melewati perjuangan sebelum-sebelumnya, khan? Dan pada akhirnya semuanya pun akan terlewati. Suatu saat, insya Allah.

Tahun keempat di kampus merah,

Saya berharap saya telah banyak belajar. Tentang disiplin ilmu saya sendiri. Juga pelajaran tentang kehidupan.Bahwa kita di sini, membuat obat dan segala hal tentangnya, bukan untuk apa-apa. Bukan untuk menyembuhkan siapapun, sebab kesembuhan-sakit-dan ajal adalah rangaian takdir yang bukan hak kita. Kita di sini, untuk memberi harapan, bahwa masih ada jalan untuk berjuang, Untuk hidup dengan lebih baik.

Mari melihat lebih dalam tiap peristiwa yang terlewat. Menengok lebih dalam saat melalui pemulung-pemulung cilik yang memegangi perutnya di salah satu sudut tangga. Atau tentang cleaning service yang cemberut saat kita injak bekas pelnya. Atau saat saya kembali merindukan sekelompok iringan awan yang membentuk formasi indah di langit senja, saat saya berdiri dari beranda Lab Fitokimia. Mereka bertasbih memuji nama Tuhannya; ALLAH.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

suatu saat

saat dipandang langit sore yang jarang kita lihat

mungkin karena kita terlalu lama melukis huruf

atau tak sadar dengan pergantian waktu

saat masa terlewat begitu saja

dan kita tetap sibuk dengan kertas dan pena

apa kabar bumi hari ini ?

tak sadar kita bahwa tak pernah lagi kita jenguk daun-daun yang berguguran

atau angin yang berhembus sepoi, ingatkan bahwa hidup adalah serangkaian permainan

permainan yang entah mengapa kita terlalu banyak tertegun di dalamnya

berapakah tetes air mata yang telah tercurah untuk itu semua ?

berapa malam yang kita lewatkan bersama jemari yang tak ada tidurnya ?

berapa peluh yang kita cucurkan saat harus teraih tingkat paling puncak ?

tapi berapakah sesungguhnya yang telah kita beli

dengan harga mahal, dengan waktu, raga, dan hati ?

adakah semua ini telah dimaknai

moga bukan hanya sekedar sia-sia

dan kelak kita temukan jawaban

untuk apa kita di sana

( april 27’08)

Untuk semua teman-teman Mixtura07, Farmasi Unhas. Keep spirit! Semoga urusan kita dimudahkan!


Makassar,5 Oktober 2010

diantara penulusuran inspirasi buat Skripsweet… ^_^


gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1_B4cgn_vOTpdS28rj-vVeb3Q6yd5Cim9D0mXqlyaq5td4NOROT9ES0JzIuFouhOu5bAg3yM3ECAh__12YeJ4izafRr16KCbc4652thHS4OrwuXQu2DkIh0jJMmSvUj9EiayQNEqWKoi2/s1600/unhas.jpg

Selasa, 28 September 2010

Ambulance dan Saat Saya DIVONIS MATI

http://neilhoja.files.wordpress.com/2009/03/10format-ilustrasi-pusara.jpg


Bismillahrirrahmanirrahim…

Hari itu siang cerah ceria. Nampak berbeda dari siang-siang sebelumnya yang digelayuti awan kelabu, disusul hujan rintik hingga deras. Saya menyusuri salah satu jalan di Kota Makassar saat suara khas itu terdengar dengan jelas. Suara sirene. Pandangan saya seketika mencari sumber suara dan mendapati sebuah mobil putih bergerak cepat diantara kerumunan kendaraan. Beberapa motor mengikut di sampingnya. Bergerak tak kalah cepat.

Sejenak peristiwa itu membuat saya menerka-nerka. Apa gerangan yang sedang terjadi di dalam ambulace itu? Apakah ada yang sedang kritis? Atau bahkan si ambulance sedang menggiring sebuah mayat menuju peristirahatannya yang terakhir? Ah, apapun itu, kejadian tadi tetap mengingatkan saya pada satu kata. MATI.

Saya sudah divonis mati.

Yah, saya tidak sedang bercanda, kawan. Bahkan tangan saya sampai dingin saat mengetik tulisan ini. Ide kalimat di atas mencuat saat membaca tulisan salah satu rekan blogger di MULTIPLY yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa saya pun telah divonis mati. Ya. KITA SEMUA TELAH DIVONIS MATI.

Kematian. Bukankah hal itu merupakan sebuah kepastian diantara berbagai macam ketidakpastian dalam hidup ini. Sayangnya, kebanyakan kita justru lebih sibuk mempersiapkan segala hal yang belum pasti dibandingkan menyiapkan satu hal yang pasti ini. Menyiapkan kematian!

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati…(QS. Ali Imran [3]:185)

Bukan hanya soal menyiapkan liang kubur tempat kita bersemayam nanti. Bukan juga tentang berapa meter kain kafan yang kita butuhkan sebagai pakaian terakhir. Tapi lebih kepada perbekalan untuk menghadapi perjalanan panjang yang melelahkan dan tidak akan ada akhirnya.

Saya selalu mengingat analogi dari seorang ustadz yang saya dengar ceramahnya di TV. Saat itu musimnya Idul Qurban. Dan beliau mengumpakan manusia layaknya hewan kurban. Bukan untuk merendahkan kita yang telah tercipta dengan sebaik-baik penciptaan. Tapi justru untuk mengetuk nurani kita, bahwa terkadang akal yang sangat sering kita agungkan dan kita andalkan ini sangat membutuhkan sentuhan lembut dari bisikan hati kecil yang kadang tak terdengar karena terlalu pikuknya dunia. Kita seperti hewan kurban yang sibuk mengunyah rumput, bahkan saat hewan kurban lainnya digiring ke tempat penyembelihan. Bahkan disembelih didepan mata. Dileher hewan yang disembelih itu ada nomor urut 5. Lalu hewan yang masih sibuk meruput lainnya punya nomor urut 6. Tapi masih saja sibuk memamahbiak sambil sesekali mengembik tak karuan.

Sering kita tertegun dengan kabar kematian seseorang. Tapi sekejap saja, untuk selanjutnya kembali tertawa-tawa. Kembali tenggelam dalam santai dan terus berkelakar; “Mau-mau gue dong!”. Padahal kita tak pernah tahu. Mungkin saja setelah ini, kita berada di urutan selanjutnya untuk mengakhiri hidup.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun [63]:11)

Ah, saya begitu sering mengingat mati. Namun bersamaan dengan itu pula saya malu dengan diri ini. Mengingat mati tapi tetap berkubang dalam maksiat dan kesia-siaan. Berbagai macam kemalasan. Berbagai macam kebodohan dan keluhan yang tiada guna. Sering tak sabaran merawat ibu. Sering tak bisa menjadi contoh adik dan kakak yang baik. Sering lalai dalam berbagai kewajiban. Sering sibuk mengingatkan sementara paling sering pula lupa. Sangat kurang bersyukur dan terus meminta ini-itu. Begitu sedikit ilmu, dari yang sedikit itu, begitu banyak yang belum teramalkan, amal yang belum terdakwahkan, ataupun dakwah yang tidak disertai dengan kesabaran, tidak dengan keikhlasan. Sering merengek dan berbuat seolah-olah sedang tidak disaksikan Allah! Astaghfirullah… Belum lagi begitu banyak aib yang masih ditutupiNya dari mata orang sekitar. Ah…, andai kau tau siapa saya sebenarnya…

Jika kau bertanya mengapa saya senang menulis, itu sebab saya tahu bahwa saya tidak akan abadi. Tapi tulisan ini mungkin bisa lebih lama bertahan daripada umur saya sendiri. Saya memang bukan Imam Bukhari yang keberadaannya masih terasa lewat karya fenomenalnya. Bukan pula ulama-ulama lain yang tinta emasnya memberi pencerahan hingga beratus-ratus tahun setelah ia tiada. Terlalu sedikit ilmu dan cahaya yang bisa saya bagi. Tapi, semoga yang sedikit itu dapat berarti saat saya menuliskannya di sini. Agar yang tersisa dari saya bukan hanya sekedar nama dan keterangan lainnya di batu lisan saya nanti. Tapi juga beberapa tulisan yang dapat mengingatkan, bahwa saya pernah ada. Bahwa saya pernah berbuat sesuatu. Dan kelak, semoga ia bisa menjadi bekal yang tak terputus dikirimkan saat saya nanti akan sangat membutuhkan.

Kawan, kita telah divonis mati.

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al Jumu’ah [62]:8)

(Makassar, 28 September 2010)

--------------------------------------------------------------------------

wasiat

dik, jika nanti aku mati

bukalah tiap lembar sajak untuk ingat pada kakakmu ini

tak banyak memang yang dapat mengerti

sebab sejak awal ia adalah seorang penyimpan rahasia abadi

dik, jika nanti aku mati

bunga-bunga mungkin tak banyak berganti

sebab memang jarang kutengok mereka

rumput di depan rumah pun begitu

sebab mungkin pernah kuinjak mereka dengan angkuh

pun dengan tiap makhluknya yang jarang kusentuh

dik, jika nanti aku mati

sajak-sajak itu rupanya telah bercerita tentang diri

belajarlah dari tiap untai kata yang cipta siluet-siluet kakakmu.

sebab tanpa mereka mungkin telah lama nafasku tersengal

dan hanya dapat memandang bulan sebagai malam

dan mentari adalah siangnya.

(ramadhan 23 1429)


Minggu, 26 September 2010

Menyoal CINTA dan Iklan Kosmetik di TV


Ya, ya, ya! Setelah beberapa lama site multiply saya nelongso dengan QN-QN ndak penting, blogspotnya prihatin tanpa satupun postingan baru, dan FB diberondong dengan notes jadul, hari ini saya mulai nulis lagi. Sebuah tulisan baru yang idenya sebenarnya sudah cukup lama mengendap dikepala. Temanya tidak jauh dari favorit banyak pihak (oh ya?). Yah, tentang cinta!

Tapi kali ini saya mencoba menelaah cinta dari sudut pandang tontonan yang sering nongol di TV kita. Yah, sepakat ataupun tidak, TV memang seolah menjadi barang yang ‘agak’ sulit terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, walaupun saya percaya, pasti tetap ada saja orang-orang yang memilih menjauhkan diri dari si kotak ajaib ini. Tapi, tetap tidak dapat dipungkiri bahwa begitu banyak pemikiran, sudut pandang, bahkan keyakinan mengenai sesuatu yang terinfluence dari apa yang disuguhkan oleh si kotak ajaib ini.
Salah satunya yah tentang itu tadi; cinta! Maka pembahasan ini pun saya kerucutkan pada salah satu bagian dari tayangan TV, yaitu iklannya. Mengapa iklan? Sebab sebagian besar channel TV pasti punya iklan, dan meski penonton pasti langsung refleks mengganti channel saat iklan yang muncul, pasti akan ada celah saat iklan juga ikut disaksikan oleh para penonton (kalau tidak buat apa beriklan?).

Mari kita kerucutkan lagi pada iklan produk dengan jenis kosmetika. Yah, iklan kosmetika-lah ini yang menurut saya sebagian besar mengambil tema besar seputar CINTA. Bungkusannya saja yang bermacam-macam. Sebagian besar menampilkan wanita-wanita cantik yang dipasangkan dengan laki-laki tampan yang selanjutnya diskenariokan dengan suatu alur tertentu.
Tapi apapun ceritanya, kebanyakan dari iklan tersebut menggiring pemahaman penontonnya bahwa CINTA, ‘hanya’ dapat datang kepada cewek-cewek cantik berwajah mulus tanpa jerawat apalagi flek hitam, punya bentuk badan yang bagus, selalu beraroma wangi semerbak, serta punya kulit putih mulus. Nah, cewek yang tidak memenuhi kriteria diatas secara tidak langsung dianggap tidak akan bisa menemukan cinta sejatinya, akan dijauhi oleh kaum adam, dan akan tersisih dari pergaulan!

Wah…wah..wah… Apakah saya yang terlalu lebay dalam menginterpretasikan iklan-iklan itu? Entahlah. Saya juga tidak sedang menganggap bahwa berbagai hal positif seputar kecantikan wanita sebagai sesuatu yang negative. Tidak. Bagaimanapun setiap wanita yang dianugrahi hal-hal itu dari Allah tetap harus mensyukuri dan merawat nikmat tersebut dengan baik. Dan para wanita yang tidak secara alami memilikinya pun tidak berarti tidak boleh berusaha untuk mencapai kondisi ‘cantik’ seperti itu.

Hanya saja, sangat disayangkan jika factor-faktor fisik seperti itu kemudian dianggap/digambarkan sebagai penyebab datangnya rasa cinta oleh iklan-iklan itu. Ataukah sebenarnya iklan-iklan itu tidak sedang ingin menunjukkan tentang cinta? Entahlah.

Saya memang bukan orang yang benar-benar mengerti tentang perasaan manis berwarna merah muda itu. Saya juga salah satu orang yang absolutely tidak percaya pada istilah cinta-pada-pandangan-pertama, bagi saya, hal itu lebih tepat disebut sebagai nafsu-pada-pandangan-pertama. Juga dengan kalimat dari-mata-turun-ke-hati. Jika yang dimaksud ‘turun’ pada kalimat itu adalah ‘nafsu’, yah, saya percaya! Intinya adalah, saya hanya ingin memurnikan makna cinta dari segala alasan-alasan bersifat fisik dan sangat matrealistis itu. Apalagi jika perasaan macam itu yang kemudian ingin diandalkan untuk membangun sebuah keluarga baru, alias menjadikan masalah fisik sebagai alasan untuk memilih pasangan hidup. (Meskipun memang bukan hal yang salah juga, tapi setidaknya tidak menjadi prioritas utama, setidaknya menurut saya lho yah!)

Yah, untuk orang-orang yang memilih ‘belahan jiwa’nya dengan hanya melihat aspek fisiknya yang indah, maka saya ingin katakan : Selamat bermusuhan dengan waktu. Sebab dialah yang akan memperlihatkan bagaimana kerutan dan tubuh yang makin bungkuk mencabut satu demi satu kecantikan pasanganmu! Dan saat alasan untuk mencintainya telah direbut oleh waktu, jangan sampai kau sudah tak lagi sempat mencari alasan lain untuk itu. Hingga berakhirlah segalanya. Hingga berakhirlah cinta. Naudzubillah…

26 September 2010
Diantara flu yang saingan sama hujan

gambar:http://www.vtv.lt/images/kosmetika.jpg

Rabu, 25 Agustus 2010

Kita yang Mengaku Perindu Syurga


masih bisakah kita katakan itu,
saat tidur ternyata telah terlampau lelap
padahal kita mengaku saudara mereka
yang merinding takut oleh desing senapan
atau yang kedinginan di tenda pengungsian

mudah kita mengaku merindukan syurga
padahal berapa banyak ujub yang kita bawa saat bertemu denganNya
berapa banyak sujud yang tak ikhlas
sementara lidah terlalu tergesa mengeja ayat
mengejar setoran

dengan apa kita ingin masuk syurga?
dengan hardikan yang teralamat pada mereka yang masih bersyahadat
dengan tatap mata tajam pada sesama umat Muhammad?
atau dengan saling cerca tak berujung
berakhir dengan debat kusir yang tanpa akhir
sibuk merutuki kelam
padahal hatinya tak kalah temaram

sementara sibuk dengan ruku'nya yang panjang
di belakang,
ayah dan ibu meminta di kuburan
orang-orang tak lagi kenal Tuhan
lalu berharap perubahan
tapi tetap duduk diam

yang mengaku perindu syurga
berjalan terus masanya'
tak ada yang akan menantinya
dan derap-derap waktu terdengar begitu nyata
siap menggilas mereka dan mengantar pada alam selanjutnya
yah, seharusnya ini tidak cukup dengan rasa rindu saja!
(Agustus, 26 '10)

Jumat, 06 Agustus 2010

Ayo Lihat Lebih Dalam!

Dan saya pun memulai tulisan ini dengan hembusan napas panjang…. *tarik napas…hembuskan!* Sebuah tulisan untuk DIRI SAYA SENDIRI.

Baiklah.

Beberapa waktu belakangan ini, berhubung liburan kuliah sedang menerpa, saya jadi punya cukup banyak waktu untuk tidak terlalu tergesa-gesa melewati tiap peristiwa yang saya alami. Jadi ada sedikit jeda bagi saya untuk sejenak berpikir, dan melihat lebih dalam. Meskipun, secara manusiawi dalam banyak hal, terkadang letupan-letupan perasaan bercampur emosi masih kerap saya alami dalam beberapa fragmen.

Dalam kesempatakan yang berlalu itu, saya melihat banyak hal. Saya tertegun saat menyaksikan teman-teman saya, baik yang dari masa lalu maupun yang masih beredar di sekitar saya sekarang, meraih ‘kesuksesan’. Yah, kesuksesan di mata dunia yang tidak jauh dari prestasi akademik dan tepuk tangan serta sorot mata kagum. Lalu, saat saya melihat pada diri saya sendiri, saya selalu seolah ingin berkata, “Hey, kemana saja kamu selama ini? Kamu juga mampu begitu khan?”. Maka selanjutnya adalah, saya kebanyakan melihat mengkambinghitamkan hal-hal lain yang saya alami. Berbagai macam hal yang saya jadikan tersangka atas k’ketidakmampuan’ saya meraih predikat seperti yang teman-teman saya raih. Hmm…, betapa kekanak-kanakannya.

Padahal, bukankan kita tidak pernah benar-benar tahu tentang keadaan orang lain. Ya, tidak akan pernah! Setidaknya bagi saya sendiri, saya selalu menganggap, sebijak apapun seseorang, ia tidak akan pernah bisa benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Sekalipun ia melewati hal yang sama dalam waktu yang sama! Sebab kita baru bisa mengerti tentang seseorang jika kita berubah menjadi orang tersebut seutuhnya, sementara manusia tidak mungkin menjadi manusia lain, bukan?

Dan pemikiran-pemikiran picik saya itupun saya berondong dengan berbagai macam hal. Betapa kesyukuran dan kesabaran memang sudah seharusnya menjadi barang wajib yang kita punya. Membuat kita bisa segera tersadar saat mengkerut meliaht hijaunya rumput tetangga. Apalagi jika hal-hal itu sangat erat dengan perkara dunia.

Mungkin, sebab agama kita mengajarkan untuk menyembunyikan amalan saja, sehingga kita tidak tertunduk malu saat menyaksikan saudara kita yang lain. Jika kita bisa iri dengan sukses dunia yang diraih kawan di sana, maka sudah sepatutnya pula kita pun iri dengan jalan untuk meraih sukses akhirat yang sedang ditempuh oleh saudara kita. Sementara kita? “Lalu dengan apa kita ingin masuk syurga?”

Saat kita melihat sesuatu, cobalah lihat lebih dalam. Wajah-wajah yang penuh senyum itu, belum tentu tidak menyimpan tangis sedih yang ia sembunyikan dalam kornea matanya. Gerak-gerik cuek yang apa adanya itu, bisa jadi selalu hidup malamnya dengan berdua-duanya bersama sang Rabb. Bahkan sekali lagi, saya selalu merinding saat menyaksikan kakek pengemis di depan toko yang bersusah payah mengeja ayat-ayat Allah, ruku dan sujud diantara kerumunan manusia yang sibuk keluar masuk berbelanja, sementara tangannya cacat, sementara ia seolah sangat tak berdaya. Lalu sebelumnya, saat saya menyusuri jalan lain di salah satu sudut kota, seorang tukang becak bersandar pada becak tuanya, mencari semburat cahaya dari toko-toko yang sudah tutup untuk membaca buku wirid, dengan mulut yang terus komat-kamit. Ya, saya sedag berusaha melihat lebih dalam. Lebih dalam lagi!

gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lj9HKtyDMQfK437qXpXW5_fsAhxHCKL6m20bH9pn259Q4i8isyOrhjPspW5506G_Szoxv7d6kFa95uXLJcKs2TCY6xTGGrdq9WB8GNreCKnFTkzYiAuV3oWCkNscNuM2UmuRsBXodPxL/s320/Fall_Dew_page.jp

Jumat, 18 Juni 2010

Waktu, Cepat Berlalu



Akhir-akir ini saya sering terdiam sesaat. Memaknai waktu yang rasanya berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru belum begitu lama saat saya berlari-lari di samping SD IKIP dengan seragam putih merah. Sekarang, saya sudah berada di bawah naungan Universitas Hasanuddin dengan status mahasiswa.



Kadang, saya juga duduk di bangku belakang saat kegiatan praktikum di kampus. Memandang ruangan secara utuh, lengkap dengan teman-teman yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Rasanya, belum lama kami berada di lab yang sama dengan status sebagai mahasiswa semester 2 yang masih megap-megap beradaptasi dengan atmosfer kampus, disembur oleh para asisten karena tidak mengerjakan laporan dengan disiplin , atau stress setengah mati karena tidak bisa menjawab pertanyaan saat respon pintu. Tapi ternyata, kami saat ini adalah mahasiswa yang sebentar lagi memasuki tahun keempat, yang harus segera KKN serta menyelesaikan skripsi.


Suatu saat nanti, jika umur saya masih panjang, mungkin waktu akan dengan cepat lagi berlalu. Dan saat saya membaca tulisan ini lagi, mungkin saya, kamu, dan kita semua sudah berada pada posisi yang sama sekali berbeda dengan hari ini!

Selasa, 11 Mei 2010

It's Life!


Lama rasanya tidak meluangkan waktu untuk kembali menyapa lewat kata. Dan diantara waktu itu ternyata telah berbagai macam hal yang terjadi dalam hidup saya. Yeah, rasanya tidak semuanya bisa dituliskan di sini. Sebab memang terkadang tidak semua hal harus diceritakan, tidak semua cerita harus dipermasalahkan.

Semakin waktu berlalu, semakin bertambah hari dan usia, rasanya masa depan semakin nampak, setidaknya gurat-gurat prediksinya, sebab hidup memang sanga-sangat-sangat unpredictable bagi saya. Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi yang rasanya selalu mengundang gumam, “Kok bisa, yah?”. Baik itu tentang hal-hal yang bisa mengembangkan senyum, maupun yang membuat mata berkaca karena haru atau amarah.


Ala kulli hal, pada beberapa titik yang saya lalui, saya sempat mengalami ‘down’, mungkin ini hal yang wajar, tapi terkadang konsep tentang kewajaran dan ke-manusiawi-an menjadi sangat tipis jaraknya dengan sikap melemahkan diri sendiri, meski telah jelas dikatakan betapa fluktuatifnya kondisi keimanan seseorang. Beberapa penyebabnya mungkin karena tenggelamnya saya dengan aktivitas dunia yang padat dan cukup menumpulkan nurani, intensitas berkumpul dengan akhwat yang jarang, dan beberapa masalah di rumah yang tidak sedang ingin saya bagi di sini.

Hingga saya yang pernah berikrar untuk tetap bertahan dalam hempasan apapun, pada suatu sore, di tengah carut marut pikiran dan jiwa, serta badan yang loyo oleh aktivitas fisik, memperlihatkan betapa lemahnya saya sebagai manusia, hingga kemudian berujar dalam hati, “Belum cukupkah, ya Allah?”. Astaghfirullah…

Dan ditengah kekalutan itu, rupanya Allah menjawab dengan Maha Pemurahnya pada hamba nista yang sangat kurang ajar ini. Bukan dengan hempasan masalah bertubi yang membuat saya makin terpuruk. Tidak juga dengan takdir baik yang menerbitkan senyum lebar. Tapi lewat lisan hambanya yang lain yang membuat saya dapat menangkap sebuah pelajaran hidup, dan mengetuk nurani saya sendiri, “Hey…, kurang apa lagi yang Allah berikan?


Itu terjadi saat seseorang menceritakan perihal seorang nenek pengemis yang rutin dating ke rumah saya tiap hari Jum’at. Nenek tua dengan kantong lusuh yang selalu ia bawa kemana-mana. Suatu hari, setelah mengambil haknya, beliau berkisah tentang anaknya yang cacat. Yah, nenek tua renta yang fakir itu punya seorang, tapi cacat! Bayangan sorot matanya yang penuh syukur saat menerima sedekah langsung hadir di pelupuk saya. Dan sontak membuat saya memandang diri ini, betapa saya begitu kufur dengan nikmat yang banyak ini, dan betapa ujian sedikit saja membuat saya langsung lupa dan seolah tak pernah diberi kesenangan sedikitpun! Astaghfirullah…


Belum selesai saya menekuri pelajaran dari sang nenek pengemis, saya kembali diingatkan lewat lisan seorang kawan yang dating pada saya. Beliau bercerita tentang hidupnya yang seolah terus menerus dirundung duka. Tentang masalah yang datang bertubi-tubi yang seolah tak mampu lagi ia jalani dengan jiwa tabah. Ia merasa telah berada di batasan tertinggi kesanggupannya.
Dan saya, hanya dapat berkata-kata dengan nasihat yang saya comot dari ayatNya. Juga tentang konsep ikhlas, syukur, dan sabar. Ya, saya berkata-kata untuknya, tapi sebenarnya kata-kata saya itu lebih untuk diri saya sendiri. Untuk diri yang lemah dan alpa ini.

Saya kembali diingatkan.

Betapa hidup memang adalah sebuah perjalanan panjang tempat belajar banyak hal. Tiap episodenya adalah susunan yang utuh dan penuh kesempurnaan. Kadang bukan segelas air sejuk yang tersaji saat kita kehausan. Kadang bukan cahaya terang yang langsung bersinar saat kita dalam gelap. Tapi pada akhirnya kita akan meraihnya juga. Dengan cara-cara yang kadang tidak kita duga. Jika kita masih bisa menyediakan hati untuk merenungi. Dan percaya bahwa selalu ada pilihan untuk lebih baik. Semoga. (11/05/10)

Teruntuk; diri saya sendiri… Se-ma-ngat! Allahu akbar!


Selasa, 13 April 2010

Teruntuk; Seorang Kakak, Sebuah Pelita


Sulit untuk saya memulai tulisan ini. Sebagaimana selalu sulit untuk mengucap salam perpisahan ataupun membuat puisi tentangnya. Hingga saat ini, hanya ada satu puisi perpisahan yang saya tulis untuk diberikan kepada beberapa orang terdekat saya yang memutuskan untuk tidak lagi berada di tempat yang sama.

Tapi, perpisahan selalu mengingatkan saya pada perjumpaan. Termasuk perjumpaan pertama denganmu, Kak.

Tidak saya ingat dengan jelas, memang episode apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, saya hanya selalu mengingat sosok seorang kakak, yang seolah tidak pernah jenuh untuk menarik perhatian saya dan teman-teman saya saat itu.

Ingat waktu kakak berjalan menuju pelataran kelas tempat kami nongkrong sambil cekikikan itu. Dan kau tetap bertahan berdiri di sana meski sebagian besar dari kami dengan teganya bersikap cuek dan acuh.

Ingatkah kau saat kami selonjoran di mushalla, dank au dengan ramah dating duduk di samping kami yang sedang berbaring malas. Dan kau berbincang tentang apa saja. Ya, apa saja asalkan kami merasa diperhatikan.

Ijinkan saya untuk sekedar mengenang perjumpaan-perjumpaan awal itu. Sebab segalanya ternyata memang segera akan menjadi kenangan saja, tanpa kau berada dekat di sini lagi.
Kak, sebuah kabar yang sekiranya menjadi berita gembira itu telah sampai kepada saya dengan tiba-tiba. Ada degupan jantung yang saling berburu dan seolah saling berbisik pada organ tubuh saya lainnya, “Sepertinya ada yang salah dengan ini semua!”. Dan tanpa mengetahui segalanya dengan jelas, entah mengapa pikiran saya terus bertanya-tanya, hingga akhirnya menemukan jawaban lewat sebuah tulisan dari saudari kita yang lain.

Hmm…
Mungkin manusia memang kadang terlalu tidak sabar untuk menunggu ‘sesuatu’ yang ingin disampaikanNya lewat sandiwara langit yang terlakon dihadapan kita. Dan masa depan yang akan selalu kita risaukan dengan tiap Tanya tentang apa yang akan terjadi pada diri kita, pada orang-orang di sekeliling kita, dan pada segala sesuatu yang mengitari kita. Betapa sebuah tanda Tanya besar selalu terpahat dengan waktu yang belum tiba masanya.

Kak, saya tidak ingin mengucap nama-nama yang sekarang tidak lagi saya temukan sosoknya di jalan yang sama. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dulu menjadi batu loncatan yang kokoh menahan langkah saya yang terseok hingga dapat sampai di titik ini, saat ini. Dan keberadaanmu di masa lalu juga menempati posisi yang sama dengan mereka. Sebagai pelita yang menerangi jalan yang saya susuri.
Sebuah ketakutan yang besar saat saya menyaksikan pelita-pelita itu meredup, bahkan padam cahayanya satu persatu. Dan ketakutan saya saat ini adalah;

Saat kau pergi, kak. Saya berharap kau akan tetap bersinar, dimanapun langkahmu mengayun. Bolehlah kami mengikhlaskan kepergianmu dari salah satu titik di bumi Allah ini. Tinggalkanlah tempat ini, tapi jangan tinggalkan dakwah! Jangan!

Mungkin akan ada orang yang lebih tepat untuk mengatakan hal itu padamu. Tapi saya hanya berharap, agar perkataan itu juga kau ulang dari bibirmu untuk adikmu ini.
Seperti saat kulihat pancaran matamu pertama kali.

Saat kau kirim pesan nasehat padaku

Saat kau sekedar menanyakan kabar

Atau bertutur tentang dandelion yang kugores di sebuah bukumu

Agar suatu saat, jika Allah mengijinkan kita kembali bertemu, tak peduli seberapa jauh jarak yang pernah membentang. Tapi kita, masih berada di jalan yang sama. Kita masih di sini.

sangat spesial untuk kakakku tersayang,

Kak Aisyah... Uhibbukifillah, kak! gambar:http://www.treehugger.com/wwe_th_blue_flower_staffan_widstrand.jpg