Jumat, 06 Agustus 2010

Ayo Lihat Lebih Dalam!

Dan saya pun memulai tulisan ini dengan hembusan napas panjang…. *tarik napas…hembuskan!* Sebuah tulisan untuk DIRI SAYA SENDIRI.

Baiklah.

Beberapa waktu belakangan ini, berhubung liburan kuliah sedang menerpa, saya jadi punya cukup banyak waktu untuk tidak terlalu tergesa-gesa melewati tiap peristiwa yang saya alami. Jadi ada sedikit jeda bagi saya untuk sejenak berpikir, dan melihat lebih dalam. Meskipun, secara manusiawi dalam banyak hal, terkadang letupan-letupan perasaan bercampur emosi masih kerap saya alami dalam beberapa fragmen.

Dalam kesempatakan yang berlalu itu, saya melihat banyak hal. Saya tertegun saat menyaksikan teman-teman saya, baik yang dari masa lalu maupun yang masih beredar di sekitar saya sekarang, meraih ‘kesuksesan’. Yah, kesuksesan di mata dunia yang tidak jauh dari prestasi akademik dan tepuk tangan serta sorot mata kagum. Lalu, saat saya melihat pada diri saya sendiri, saya selalu seolah ingin berkata, “Hey, kemana saja kamu selama ini? Kamu juga mampu begitu khan?”. Maka selanjutnya adalah, saya kebanyakan melihat mengkambinghitamkan hal-hal lain yang saya alami. Berbagai macam hal yang saya jadikan tersangka atas k’ketidakmampuan’ saya meraih predikat seperti yang teman-teman saya raih. Hmm…, betapa kekanak-kanakannya.

Padahal, bukankan kita tidak pernah benar-benar tahu tentang keadaan orang lain. Ya, tidak akan pernah! Setidaknya bagi saya sendiri, saya selalu menganggap, sebijak apapun seseorang, ia tidak akan pernah bisa benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Sekalipun ia melewati hal yang sama dalam waktu yang sama! Sebab kita baru bisa mengerti tentang seseorang jika kita berubah menjadi orang tersebut seutuhnya, sementara manusia tidak mungkin menjadi manusia lain, bukan?

Dan pemikiran-pemikiran picik saya itupun saya berondong dengan berbagai macam hal. Betapa kesyukuran dan kesabaran memang sudah seharusnya menjadi barang wajib yang kita punya. Membuat kita bisa segera tersadar saat mengkerut meliaht hijaunya rumput tetangga. Apalagi jika hal-hal itu sangat erat dengan perkara dunia.

Mungkin, sebab agama kita mengajarkan untuk menyembunyikan amalan saja, sehingga kita tidak tertunduk malu saat menyaksikan saudara kita yang lain. Jika kita bisa iri dengan sukses dunia yang diraih kawan di sana, maka sudah sepatutnya pula kita pun iri dengan jalan untuk meraih sukses akhirat yang sedang ditempuh oleh saudara kita. Sementara kita? “Lalu dengan apa kita ingin masuk syurga?”

Saat kita melihat sesuatu, cobalah lihat lebih dalam. Wajah-wajah yang penuh senyum itu, belum tentu tidak menyimpan tangis sedih yang ia sembunyikan dalam kornea matanya. Gerak-gerik cuek yang apa adanya itu, bisa jadi selalu hidup malamnya dengan berdua-duanya bersama sang Rabb. Bahkan sekali lagi, saya selalu merinding saat menyaksikan kakek pengemis di depan toko yang bersusah payah mengeja ayat-ayat Allah, ruku dan sujud diantara kerumunan manusia yang sibuk keluar masuk berbelanja, sementara tangannya cacat, sementara ia seolah sangat tak berdaya. Lalu sebelumnya, saat saya menyusuri jalan lain di salah satu sudut kota, seorang tukang becak bersandar pada becak tuanya, mencari semburat cahaya dari toko-toko yang sudah tutup untuk membaca buku wirid, dengan mulut yang terus komat-kamit. Ya, saya sedag berusaha melihat lebih dalam. Lebih dalam lagi!

gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Lj9HKtyDMQfK437qXpXW5_fsAhxHCKL6m20bH9pn259Q4i8isyOrhjPspW5506G_Szoxv7d6kFa95uXLJcKs2TCY6xTGGrdq9WB8GNreCKnFTkzYiAuV3oWCkNscNuM2UmuRsBXodPxL/s320/Fall_Dew_page.jp

Jumat, 18 Juni 2010

Waktu, Cepat Berlalu



Akhir-akir ini saya sering terdiam sesaat. Memaknai waktu yang rasanya berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru belum begitu lama saat saya berlari-lari di samping SD IKIP dengan seragam putih merah. Sekarang, saya sudah berada di bawah naungan Universitas Hasanuddin dengan status mahasiswa.



Kadang, saya juga duduk di bangku belakang saat kegiatan praktikum di kampus. Memandang ruangan secara utuh, lengkap dengan teman-teman yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Rasanya, belum lama kami berada di lab yang sama dengan status sebagai mahasiswa semester 2 yang masih megap-megap beradaptasi dengan atmosfer kampus, disembur oleh para asisten karena tidak mengerjakan laporan dengan disiplin , atau stress setengah mati karena tidak bisa menjawab pertanyaan saat respon pintu. Tapi ternyata, kami saat ini adalah mahasiswa yang sebentar lagi memasuki tahun keempat, yang harus segera KKN serta menyelesaikan skripsi.


Suatu saat nanti, jika umur saya masih panjang, mungkin waktu akan dengan cepat lagi berlalu. Dan saat saya membaca tulisan ini lagi, mungkin saya, kamu, dan kita semua sudah berada pada posisi yang sama sekali berbeda dengan hari ini!

Selasa, 11 Mei 2010

It's Life!


Lama rasanya tidak meluangkan waktu untuk kembali menyapa lewat kata. Dan diantara waktu itu ternyata telah berbagai macam hal yang terjadi dalam hidup saya. Yeah, rasanya tidak semuanya bisa dituliskan di sini. Sebab memang terkadang tidak semua hal harus diceritakan, tidak semua cerita harus dipermasalahkan.

Semakin waktu berlalu, semakin bertambah hari dan usia, rasanya masa depan semakin nampak, setidaknya gurat-gurat prediksinya, sebab hidup memang sanga-sangat-sangat unpredictable bagi saya. Akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi yang rasanya selalu mengundang gumam, “Kok bisa, yah?”. Baik itu tentang hal-hal yang bisa mengembangkan senyum, maupun yang membuat mata berkaca karena haru atau amarah.


Ala kulli hal, pada beberapa titik yang saya lalui, saya sempat mengalami ‘down’, mungkin ini hal yang wajar, tapi terkadang konsep tentang kewajaran dan ke-manusiawi-an menjadi sangat tipis jaraknya dengan sikap melemahkan diri sendiri, meski telah jelas dikatakan betapa fluktuatifnya kondisi keimanan seseorang. Beberapa penyebabnya mungkin karena tenggelamnya saya dengan aktivitas dunia yang padat dan cukup menumpulkan nurani, intensitas berkumpul dengan akhwat yang jarang, dan beberapa masalah di rumah yang tidak sedang ingin saya bagi di sini.

Hingga saya yang pernah berikrar untuk tetap bertahan dalam hempasan apapun, pada suatu sore, di tengah carut marut pikiran dan jiwa, serta badan yang loyo oleh aktivitas fisik, memperlihatkan betapa lemahnya saya sebagai manusia, hingga kemudian berujar dalam hati, “Belum cukupkah, ya Allah?”. Astaghfirullah…

Dan ditengah kekalutan itu, rupanya Allah menjawab dengan Maha Pemurahnya pada hamba nista yang sangat kurang ajar ini. Bukan dengan hempasan masalah bertubi yang membuat saya makin terpuruk. Tidak juga dengan takdir baik yang menerbitkan senyum lebar. Tapi lewat lisan hambanya yang lain yang membuat saya dapat menangkap sebuah pelajaran hidup, dan mengetuk nurani saya sendiri, “Hey…, kurang apa lagi yang Allah berikan?”


Itu terjadi saat seseorang menceritakan perihal seorang nenek pengemis yang rutin dating ke rumah saya tiap hari Jum’at. Nenek tua dengan kantong lusuh yang selalu ia bawa kemana-mana. Suatu hari, setelah mengambil haknya, beliau berkisah tentang anaknya yang cacat. Yah, nenek tua renta yang fakir itu punya seorang, tapi cacat! Bayangan sorot matanya yang penuh syukur saat menerima sedekah langsung hadir di pelupuk saya. Dan sontak membuat saya memandang diri ini, betapa saya begitu kufur dengan nikmat yang banyak ini, dan betapa ujian sedikit saja membuat saya langsung lupa dan seolah tak pernah diberi kesenangan sedikitpun! Astaghfirullah…


Belum selesai saya menekuri pelajaran dari sang nenek pengemis, saya kembali diingatkan lewat lisan seorang kawan yang dating pada saya. Beliau bercerita tentang hidupnya yang seolah terus menerus dirundung duka. Tentang masalah yang datang bertubi-tubi yang seolah tak mampu lagi ia jalani dengan jiwa tabah. Ia merasa telah berada di batasan tertinggi kesanggupannya.
Dan saya, hanya dapat berkata-kata dengan nasihat yang saya comot dari ayatNya. Juga tentang konsep ikhlas, syukur, dan sabar. Ya, saya berkata-kata untuknya, tapi sebenarnya kata-kata saya itu lebih untuk diri saya sendiri. Untuk diri yang lemah dan alpa ini.

Saya kembali diingatkan.

Betapa hidup memang adalah sebuah perjalanan panjang tempat belajar banyak hal. Tiap episodenya adalah susunan yang utuh dan penuh kesempurnaan. Kadang bukan segelas air sejuk yang tersaji saat kita kehausan. Kadang bukan cahaya terang yang langsung bersinar saat kita dalam gelap. Tapi pada akhirnya kita akan meraihnya juga. Dengan cara-cara yang kadang tidak kita duga. Jika kita masih bisa menyediakan hati untuk merenungi. Dan percaya bahwa selalu ada pilihan untuk lebih baik. Semoga. (11/05/10)

Teruntuk; diri saya sendiri… Se-ma-ngat! Allahu akbar!


Selasa, 13 April 2010

Teruntuk; Seorang Kakak, Sebuah Pelita


Sulit untuk saya memulai tulisan ini. Sebagaimana selalu sulit untuk mengucap salam perpisahan ataupun membuat puisi tentangnya. Hingga saat ini, hanya ada satu puisi perpisahan yang saya tulis untuk diberikan kepada beberapa orang terdekat saya yang memutuskan untuk tidak lagi berada di tempat yang sama.

Tapi, perpisahan selalu mengingatkan saya pada perjumpaan. Termasuk perjumpaan pertama denganmu, Kak.

Tidak saya ingat dengan jelas, memang episode apa yang terjadi saat itu. Yang jelas, saya hanya selalu mengingat sosok seorang kakak, yang seolah tidak pernah jenuh untuk menarik perhatian saya dan teman-teman saya saat itu.

Ingat waktu kakak berjalan menuju pelataran kelas tempat kami nongkrong sambil cekikikan itu. Dan kau tetap bertahan berdiri di sana meski sebagian besar dari kami dengan teganya bersikap cuek dan acuh.

Ingatkah kau saat kami selonjoran di mushalla, dank au dengan ramah dating duduk di samping kami yang sedang berbaring malas. Dan kau berbincang tentang apa saja. Ya, apa saja asalkan kami merasa diperhatikan.

Ijinkan saya untuk sekedar mengenang perjumpaan-perjumpaan awal itu. Sebab segalanya ternyata memang segera akan menjadi kenangan saja, tanpa kau berada dekat di sini lagi.
Kak, sebuah kabar yang sekiranya menjadi berita gembira itu telah sampai kepada saya dengan tiba-tiba. Ada degupan jantung yang saling berburu dan seolah saling berbisik pada organ tubuh saya lainnya, “Sepertinya ada yang salah dengan ini semua!”. Dan tanpa mengetahui segalanya dengan jelas, entah mengapa pikiran saya terus bertanya-tanya, hingga akhirnya menemukan jawaban lewat sebuah tulisan dari saudari kita yang lain.

Hmm…
Mungkin manusia memang kadang terlalu tidak sabar untuk menunggu ‘sesuatu’ yang ingin disampaikanNya lewat sandiwara langit yang terlakon dihadapan kita. Dan masa depan yang akan selalu kita risaukan dengan tiap Tanya tentang apa yang akan terjadi pada diri kita, pada orang-orang di sekeliling kita, dan pada segala sesuatu yang mengitari kita. Betapa sebuah tanda Tanya besar selalu terpahat dengan waktu yang belum tiba masanya.

Kak, saya tidak ingin mengucap nama-nama yang sekarang tidak lagi saya temukan sosoknya di jalan yang sama. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dulu menjadi batu loncatan yang kokoh menahan langkah saya yang terseok hingga dapat sampai di titik ini, saat ini. Dan keberadaanmu di masa lalu juga menempati posisi yang sama dengan mereka. Sebagai pelita yang menerangi jalan yang saya susuri.
Sebuah ketakutan yang besar saat saya menyaksikan pelita-pelita itu meredup, bahkan padam cahayanya satu persatu. Dan ketakutan saya saat ini adalah;

Saat kau pergi, kak. Saya berharap kau akan tetap bersinar, dimanapun langkahmu mengayun. Bolehlah kami mengikhlaskan kepergianmu dari salah satu titik di bumi Allah ini. Tinggalkanlah tempat ini, tapi jangan tinggalkan dakwah! Jangan!

Mungkin akan ada orang yang lebih tepat untuk mengatakan hal itu padamu. Tapi saya hanya berharap, agar perkataan itu juga kau ulang dari bibirmu untuk adikmu ini.
Seperti saat kulihat pancaran matamu pertama kali.

Saat kau kirim pesan nasehat padaku

Saat kau sekedar menanyakan kabar

Atau bertutur tentang dandelion yang kugores di sebuah bukumu

Agar suatu saat, jika Allah mengijinkan kita kembali bertemu, tak peduli seberapa jauh jarak yang pernah membentang. Tapi kita, masih berada di jalan yang sama. Kita masih di sini.

sangat spesial untuk kakakku tersayang,

Kak Aisyah... Uhibbukifillah, kak! gambar:http://www.treehugger.com/wwe_th_blue_flower_staffan_widstrand.jpg

Minggu, 28 Februari 2010

Dia Itu, Arai-ku!


Entah dari mana saya harus menulai menulis tentangnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali mereka-reka sosok Arai dalam salah satu kisah nyata favorit saya, Sang Pemimpi. Arai yang digambarkan sebagai seniman kehidupan, yang dalam usia sangat muda harus menerima takdirnya sebagai lone ranger, simpai keramat, manusia terakhir dalam klannya; sebatang kara!

Namun, ditengah takdirnya itu, rupanya ia adalah orang yang justru menghibur Ikal, keluarga jauhnya yang mendapati dirinya dalam keadaan yang menurutnya sangat mengenaskan. Anak kecil yang sendirian. Tapi Arailah yang kemudian membuat Ikal tersenyum saat matanya berkaca menahan haru menyaksikan keadaan anak sekecil itu. Selanjutnya Arai banyak mengajarkan tentang nilai hidup dan cara-cara untuk menghadapinya dengan cantik. Dengan tersenyum.

Sosok itu yang lamat-lamat menjelma nyata di hadapan saya beberapa waktu yang lalu. Saat di siang yang cerah saya dikagetkan dengan sebuah sms yang masuk ke hp saya yang baru reda dari sakitnya yang kadang kambuh –muncul hilangnya sinyal saat saya berada dalam ruangan.

Sms yang membawa kabar berita yang tidak mengenakkan –bahkan sangat tidak mengenakkan itu membuat saya terhenyak. Membuat saya terdiam dalam sunyi, untuk selanjutnya berpikir lama dengan mata berkaca, mencoba menempatkan diri saya dalam posisi yang saat ini dihadapi saudara saya, sahabat kental saya sejak kecil, yang beberapa waktu sebelumnya saya abadikan sosoknya dalam sebuah puisi.

Pesan singkat itu memuat kabar, bahwa ibunya meninggal dunia. Lima tahun setelah sang ayah juga berpulang. Di malam yang sama, di tanggal yang sama. Malam Jum’at, tanggal delapan belas.

Saat Allah Yang Maha Menguasai Kehidupan menakdirkan ayahnya untuk tutup usia, kami masih duduk di bangku SMA. Menikmati masa-masa puncak remaja di kelas dua. Waktu di sebuah malam saya tiba-tiba kaget dengan telepon dari salah satu sobat karib kami yang lain, mengajak saya pergi takziyah ke rumahnya.

Waktu itu, sudah beberapa hari berselang ayahnya pergi, kabar itu baru sampai kepada kami. Dia rupanya terlalu shock untuk berbagi duka itu sebab katanya ia berkali-kali pingsan saat mendengar kabar tersebut. Wajar, sebab ia masih sangat muda kala itu. Dengan empat orang adik yang juga dalam tanggungan yang tak ringan, sementara kakak tertuanya mendapat mandat untuk segera melangsungkan pernikahan atas wasiat sang ayah sebelum wafat. Pernikahan yang berarti akan dibawa pergi suami, meninggalkan adik-adiknya, sekaligus menjadikan kawan saya itu sebagai sulung dari saudaranya yang lain.

Dan dari sanalah kisah ini dimulai. Saat hidup baginya adalah sejatinya perjuangan. Jauh dari saya yang mungkin akan langsung cemberut hanya dengan satu kali gertakan ayah saya. Ia bahkan digertak dengan kehilangan ayah untuk selamanya. Tapi ia bertahan. Ia lewati semuanya dengan kesehatan ibunya yang semakin hari semakin menurun. Keluar masuk rumah sakitnya sang bunda, adik kecilnya yang harus masuk sekolah, adik keduanya yang memulai SMA, dan dirinya yang harus segera menentukan perguruan tinggi. Entah bagaimana caranya ia menghadapi itu semua sambil sesekali menelepon ke rumah saya, menanyakan kabar orang tua saya, lalu berkelakar dengan khasnya dan membuat saya terpingkal! Ya, semuanya ia hadapi dalam waktu bersamaan. Ia, dengan umur yang bahkan lebih muda beberapa bulan dari saya. Dengan postur yang jauh lebih kecil dari saya. Subhanallah…

Dan puncak saya mendapati bayang-bayang Arai adalah hari dimana saya terus berusaha menyembunyikan setitik air mata di sudut mata, dalam perjalanan menuju rumahnya sehari setelah ibunya meninggal. Dalam perjalanan panjang dari kampus ke sana, saya membayangkan akan menghadapi teman masa kecil saya (yang dulu teramat sangat cengeng dan hobi nangis itu) dalam keadaan berlinang air mata. Yang akan sesunggukan di pelukan saya, dan sayapun telah menyiapkan nasihat-nasihat tentang takdir dan doa anak soleh.

Tapi yang saya hadapi ternyata benar-benar sosok Arai. Dia menyambut saya dengan peluk hangat dan mempersilakan saya masuk di rumah mungilnya dengan senyum di sudut bibir. Selanjutnya bercerita bahwa dia akan tinggal di rumah itu sebagai yang tertua, di usianya yang tentunya belum cukup untuk bertanggung jawab atas amanah sebesar itu. Sambil berkelakar, ia menyebutkan bahwa berkali-kali ia mengoceh pada adik-adiknya, dan mengatakan bahwa itu cara paling ampuh untuk menahan tangis.
“Daripada saya menangis, Din. Mending saya marah-marah!” ucapnya

Lalu saat saya menunaikan shalat di rumahnya itu, saya kembali mendengarnya mengoceh pada sepupu kecilnya,
“Jangan nakal, memangnya kamu mau kayak kakak, sudah tidak punya ibu, sudah tidak punya bapak!” katanya dengan santai
Dan sayapun tak dapat membendung air mata itu dalam sujud terakhir saya, dengan beruntai doa agar hidupnya selalu dalam kemudahan. Lalu ba’da shalat saya setengah mati mengusap mata agar ia tidak mendapati saya menangis untuknya, sementara hari itu, tak setetes air matapun yang ia kucurkan di depan saya.
“Mungkin karena Abah sudah lebih dulu, Din. Ibu juga sakit sudah lama, mungkin saya jadi lebih siap” ujarnya sambil menatap ke langit langit ruangan. Dan sayapun hanya dapat memandang sosok mungilnya dengan wajah haru bercampur ketakjuban. Betapa Allah memang hanya menimpkan uji yang berat kepada mereka; survivor kehidupan yang sanggup bertahan.
Wallahu a’alam.

tentang sahabat masa kecilku. Saudariku, semoga Allah selalu memberkahimu!

sumber gambar:http://pixdaus.com/pics/1243252566jCZ2KYQ.jpg




Senin, 01 Februari 2010

Kakek Pengemis di Depan Toko

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-Isra’: 9 )”

Sudah cukup lama keluarga saya menjadikan toko itu sebagai tujuan saat akan belanja bulanan. Sejak jamannya si toko masih berbentuk sangat sederhana, hingga menjelma menjadi supermarket yang ramai pengunjung seperti saat ini. Sejak itu pula, kami selalu mendapati seorang kakek pengemis di depan toko itu.

Kakek itu berkaki buntung. Ia menjadikan karton-karton bekas sebagai alas duduknya, serta sebuah payung reyot yang ia gunakan untuk menghindari terik matahari atau rintik hujan. Di sanalah ia melakukan segala aktifitasnya. Makannya, tidurnya, dan saat ia mencoba meminta haknya yang dititipkan oleh Allah pada orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Usianya sudah sangat uzur. Nampak jelas bahwa tak banyak yang dapat ia lakukan dengan keadaannya itu.

Sudah sejak lama pula kami selalu memperhatikan aktifitas si kakek saat kami berkunjung untuk berbelanja di toko itu. Kadang, kami dapati si kakek sedang sholat duduk di atas tumpukan kartonnya. Pemandangan itu terasa sangat kontras dengan nuansa duniawi yang begitu pekat di sekeliling beliau. Masya Allah…

Sudah sering kami menyaksikan pemandangan saat beliau shalat. Namun, hari ini untuk pertama kalinya saya menyaksikan pemandangan berbeda. Saya mendapati beliau sedang duduk di posisinya dengan keadaan memegang sebuah Al Qur’an berukuran besar yang sudah nampak sobek di sana-sini. Didekatkannya di matanya hingga hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Diejanya tiap hurufnya dengan suara samar namun masih dapat terdengar di telinga saya.

Mata saya langsung berkaca menyaksikan pemandangan itu. Langsung teringat oleh saya majelis Al Qur’an yang sudah beberapa pekan ini tidak saya hadiri karena kesibukan merawat ibu yang sedang sakit. Ada yang rasanya menggelayut di dada tiap mengingat kembali sang kakek pengemis tua yang dengan matanya yang sendu meluangkan waktunya untuk menengadahkan wadah mengemisnya pada lalu lalang orang lewat dan memulai menyibukkan dirinya dengan ayat-ayat Al Qur’an ditengah keterbatasan hidup yang terus menggerogoti tiap jengkal tubuhnya.

Ah…, kakek pengemis… Dimana pula anak-anak dan sanak saudaramu… Saya selalu berharap Allah akan memudahkan hidupmu dan menjadikanmu termasuk hamba-hambaNya yang ikhlas menerima takdir dariNya. Termasuk dalam hamba-hambamu yang memperoleh syafa’at dari kitab suciMu, di hari akhir nanti. Hari dimana tak berguna lagi segala kedudukan di bumi!

`Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَليَهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ .
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia itu menjaganya maka dia bersama para malaikat yang mulya lagi taat dan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia selalu berusaha terus padahal dia mengalami kesulitan maka baginya dua pahala”

Teriring doa untuk Mudarrisahku, juga akhwat se-halaqoh tartilku.
Afwan belum bisa berkumpul dengan kalian…
Aku rindu mengeja ayat suci di majelis itu!

Senin, 25 Januari 2010

Seorang Ibu Bergamis Oranye


(Catatan dari acara Kisah (Kajian Islami Ahad), “Kado Spesial untuk Muslimah”)

Setelah banyak berkelebat dengan dunia dakwah sekolah, kemarin untuk pertama kalinya saya berkesempatan turut ambil bagian dalam sebuah acara ‘ngaji’ yang pesertanya kebanyakan ibu-ibu. Ada perasaan canggung yang tidak biasa yang saya rasakan hari itu. Sebab jika sebelumnya wajah-wajah yang saya hadapi adalah tampang-tampang innocent dengan binar mata penuh rasa ingin tahu dan semangat meletup pencarian jati diri, hari itu orang-orang yang saya hadapi adalah mereka yang seumuran dengan tante-tante saya, beberapa diantaranya nampak tak bisa lepas dari ekornya, anak-anak mereka yang berlarian di sekitar ruangan.


Saat sampai di tempat acara, mata saya tertuju pada sesosok ibu dengan gamis oranye muda. Ia duduk dalam ruangan sambil mengisi lembaran formulir yang diserahkan oleh seorang ukhti di bagian registrasi. Masya Allah, jadi malu rasanya ada peserta yang lebih dulu datang dari saya yang notabene panitia acara tersebut.


Cukup lama sejak ibu itu datang, baru acaranya dimulai. Saya menangkap ada gurat-gurat kebosanan di wajah beberapa peserta yang memang nampak menunggu dari tadi. Ada sedikit kekhawatiran jangan sampai mereka nantinya protes mengingat orang yang lebih dewasa kadang lebih kurang sabar dibandingkan jiwa-jiwa muda yang sudah lebih sering saya ‘tangani’.


Namun, diluar dugaan saya, saat acara dimulai dan sesi ta’aruf mengawalinya, satu per satu peserta memperkenalkan diri. Tiba giliran ibu bergamis oranye tadi, ia memperkenalkan nama dengan santun, lalu melanjutkan perkenalanannya dengan perkataan, “Bagaimanapun, saya tetap merasa sangat beruntung karena dapat diberi kesempatan untuk datang ke sini hari ini. Saya tadi mendengar pembacaan Al Qur’an yang sangat indah di awal acara,hati saya bergetar, dan saya berharap suatu saat juga dapat membacanya seperti itu…” ucapnya dengan aksen yang khas, menunjukkan kesederhanaan dan kejujuran dalam tiap kalimat yang ia ucap. Masya Allah…



Ketakjuban saya berlanjut pada sosok itu saat saya memperhatikan tas tangan yang beliau pangku sedari tadi. Tidak seperti peserta lainnya yang kebanyakan membawa tas kecil, tas ibu itu nampak lebih besar. Tanda tanya dalam pikiran saya terjawab saat materi di mulai dan beliau mengeluarkan benda besar yang memang ia bawa. Sebuah Al Qur’an eksklusif yang lengkap dengan tafsirnya! Masya Allah, kalau tidak salah, mungkin harganya sekitar 200ribuan, rasanya kontras dengan penampilan beliau yang sangat sederhana!


Lalu saat istirahat, saya bercengkrama dengan akhwat panitia yang lain sembari berbincang-bincang dengan yang lainnya. Seorang akhwat menceritakan pengalamannya menjemput ibu bergamis oranye itu. “Kami memang janjian di satu tempat, lalu sama-sama naik angkutan kota ke tempat acara. Tapi, rasanya bukan saya yang mengantarkan beliau, tapi sebaliknya. Sebab saat akan bayar ongkos, beliau dengan sigap langsung berkata, “Tidak usah bayar de, tadi saya sudah bayarkan!”’ kisahnya.


Hmm…, ada sebuah sensasi yang selalu saya rasakan saat melihat orang-orang seperti ibu itu. Orang-orang yang baru saja disapa oleh hidayah, dan kita seolah menyaksikan tiap tetes hidayah itu mengalir ke hati mereka. Subhanallah! Semangat beliau sebagai seseorang yang tidak lagi muda, memiliki kesibukan sebagai ibu rumah tangga, dan seabrek permasalahan hidupnya, namun tetap menyempatkan diri mengikuti majelis ilmu, membuat saya begitu malu dengan diri ini… Juga mengingatkan saya pada sosok saya dulu saat pertama kali pula mengecap manisnya hidayah. Hmm…, apakah saya juga nampak sepertinya saat itu? Entahlah…


sumber gambar: http://www.meredithsonson.com/orange_sunflower_WEB.jpg

Sabtu, 16 Januari 2010

Doamu Tak Terkabulkan? Mungkinkah?


“Berdoalah kepadaKu, niscaya Kukabulkan” (Al Mu’min:60)

Ibu sudah sakit bertahun-tahun. Tahun ini memasuki tahun keseblas untuknya. Setiap sakitnya semakin parah, selalu ia tatap mata anaknya dengan mata berkaca, “Doakan ibu agar segera sehat, Nak..” ucapnya sejak dulu, hingga kini. Sampai tak terasa bahwa permintaan itu telah diulangnya berkali-kali, tak terhitung lagi banyaknya. Sang anakpun hanya menanggapi permintaan itu dengan anggukan sambil menyembunyikan sedih bercampur haru dari kedua matanya. Dalam hati, dia hanya dapat berkata lirih, “Tanpa kau minta, telah kulakukan itu dari dulu, Bu!”

Dan waktu terus berlalu, doapun terus terpanjat, hingga bertahun-tahun lamanya. Terus berulang dan berulang tanpa lelah dan menyerah.


“Mudah bagi Allah untuk menyembuhkanmu dengan segera,
dengan satu kata saja, Bunda! Tapi Ia tak lakukan itu, sebab mungkin ada sebuah
rencana lain yang tentunya adalah yang terbaik untukmu, untukku, dan untuk
semua. Jika kesabaran sanggup terus tertanam, maka semoga kelak, kau akan jumpa denganNya dengan dosa-dosa yang secuil saja. Thaharun, insya
Allah…”
Diulangnya terus kalimat itu untuk menegarkan hatinya dan berlepas
diri dari putus asa kepada rahmat Allah yang tak terkira.


Hingga suatu hari, diantara hari dimana sang Ibu kembali drop kondisinya, di malam yang semakin beranjak menuju tengahnya, dua orang kakak beradik itu masih terjaga,


menunggu sang ayah pulang dari rapat di sebuah tempat.

Terbersit di hati sang adik untuk membuat segelas teh hangat untuk menemani malam dingin yang sesekali dimeriahkan oleh rintikan hujan itu. Saat ia masuk ke dapur, hendak menyalakan kompor untuk membuat air panas, sayup-sayup didengarnya suara aneh, semacam bunyi samar-samar yang panjang, seperti sesuatu yang bocor. Lamat-lamat dirasakannya pula bau aneh serupa gas. Maka diurungkan niatnya untuk menyalakan kompor, dan dicarinya asal bau dan suara aneh itu.

Rupanya, bau dan suara itu berasal dari tabung gas kompornya. Lama kelamaan bunyinya makin keras dan baunya makin pekat. Maka dipanggilnya kakaknya untuk segera ke dapur, tentunya dengan berbisik, untuk menghindari agar ibunya yang rehat dari sakit dengan tidurnya, tidak terjaga.

Sang kakak lalu menelepon ayahnya yang ternyata dalam perjalanan pulang. Setibanya ayahnya dirumah, beliau langsung membereskan gas yang bocor itu, dan menyalakan kipas angin agar gasnya keluar dari rumah dan menghindari ledakan yang dapat terjadi bila tersulut sedikit saja api. Sang ayah mewanti-wanti agar jangan sampai menyalakan kompor, sebab akan menciptakan semburan api besar, sebab aroma gas sudah membaur di seluruh dapur mereka.
Sang adik tertegun,bagaimana jika tadi ia tidak memperhatikan bunyi dan bau itu, lalu ia menyalakan kompornya hingga akan terjadilah apa yang mereka khawatikan tersebut? Mungkin, ceritanya tak akan lagi sama. Mungkin ia akan berakhir, atau paling tidak akan mencipta musibah kebakaran di malam pekat itu.

Sang kakak lalu menatap mata adiknya sambil berucap, “Mungkin, doa kita dikabulkan Allah dalam bentuk penolakan bala. Malam ini, hal itu telah terbukti! ”

Sang adik hanya tersenyum. Ayahnya sujud syukur. Mereka merenda pikiran masing-masing, sambil terus meneguhkan keyakinan, Allah tidak menyia-nyiakan doa mereka. Allah tidak menyia-nyiakan doa mereka.

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.” (HR. Al Hakim)